Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
71.


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di cafe di mana Manda dan Agni akan bertemu dengan customer LT, suasana malah cukup kondusif, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bahkan Manda sudah menyelesaikan semuanya dengan baik.


" Mbak Agni, berarti semuanya udah selesai ya! jadi aku bisa terus langsung pulang, soalnya mas Lio udah mengirim Pak Joko untuk mengantar aku pulang. Mbak nggak ada titipan berkas buat aku tandatangani atau aku pelajarin?" tanya Manda dengan semangat 45. pada dasarnya Manda ini memang suka belajar, suka membaca, dan suka dengan hal-hal yang baru.


" Demangat banget sih Bu Manda ini. jatah semalam lancar ya?." goda Agni kepada Manda, yang sontak membuat Manda menjadi malu. Memang Agni ini sudah bersuami dan memiliki 1 orang anak, Jadi wajar aja kalau dia perkataannya cukup vulgar.


" Aduh mbak ni ini masak di tempat terbuka seperti ini kok ngomongnya vulgar kan aku jadi malu." kata Manda sambil menepuk lengan Mbak Agni dengan pelan.


" Halah sudah menikah kok masih aja malu-malu, Oh iya ding aku lupa kalian kan baru saja menikah, jadi semangat pengantin baru masih nempel banget, pantesan aja masih malu-malu." goda Mbak Agni lagi.


" Sudah ah, malu kalau Pak Joko juga sampai dengar, soalnya tuh dia udah nyamperin ke sini. Pasti Mas Lio nyuruh Pak Joko untuk segera nganterin aku ke hotel tempat Mas Lio bertemu sama kliennya." kata Manda sambil buru-buru membereskan tas juga berkas-berkas yang harus ia bawa.


" Padahal Bu Manda nih yang udah nggak sabar, ingin segera ketemu sama Pak Lio, mana ketemunya di hotel lagi, bisa-bisa jadi acara ajang temu kangen.Ha ha ha aduhh!" teriak Agni kesakitan karena pinggangnya dicubit oleh Manda. Tapi sekalipun ia merasakan kesakitan, Agni tetap kekeuh untuk menggoda pengantin baru seperti Manda dan Lio.


" Issshhh, udah ah aku mau pulang, Soalnya Mbak Agni lagi mode nyebelin." rajuk Manda dengan nada manja. Kemudian Manda menyerahkan tas dan berkas-berkasnya untuk dibawa oleh Pak Joko. Kemudian Manda berlalu begitu saja meninggalkan Agni yang masih tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah polos Manda yang merah. Tapi Agni tahu kalau Manda tidak mungkin marah hanya karena digoda begitu saja, Agni juga tahu kalau Manda hanya malu karena ucapan vulgarnya.


" Mbak Manda mau diantar ke mana?" tanya Pak Joko dengan sopan.

__ADS_1


" Ke hotel tempat Mas Lio bertemu dengan kliennya, Pak Joko tahu kan?" tanya Manda yang tiba-tiba merasa kan perasaan yang gak enak.


" Iya saya tahu Mbak, itu kan hotel yang diberikan oleh tuan muda Saka kepada mbak Alana." jelas Pak Joko. emang Pak Joko ini sudah ikut Saka puluhan tahun, bahkan sejak Saka masih kecil. Jadi jelas Pak Joko tahu segalanya tentang keluarga Perdana.


" Iya Pak, nggak tahu kenapa perasaan saya nggak enak hari ini. kayak ada sesuatu yang akan terjadi gitu." kata Manda yang memulai curahan hatinya kepada Pak Joko. Karena ia merasa bahwa Pak Joko ini pasti bisa dipercaya.


" Mbak, menurut pengalaman saya perasaan wanita itu sangat tajam, bisa jadi memang akan ada sesuatu, tapi kalau saya boleh menyarankan sama Mbak Manda, apapun nanti yang akan terjadi Mbak Manda harus sabar soalnya menurut pengalaman saya biasanya memang akan terjadi sesuatu, tapi kesabaran juga dibutuhkan supaya kita bisa tahu siapa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan itu. Maaf lho Mbak kalau saya kesannya menggurui, maklum saya ini udah tua, sudah banyak pengalaman bahkan dulu Ibu Irsyana itu juga begitu. Maklum keluarga Perdana itu banyak banget musuhnya. Jadi Mbak Manda harus sabar menelaaah setiap permasalahan dengan pikiran yang dingin, belajarlah dari pengalaman Ibu Irsyana." jelas pak Joko dengan sabar dan telaten, Manda menyukai cara Pak Joko menjelaskan kepadanya, sangat kebapakan, kesannya mengayomi dan todak berat sebelah.


" Gitu ya Pak Joko? Nanti antar saya ke hotel tempat Mas Lio ketemuan ama kliennya ya, maksud saya nanti pak Joko ikut masuk gitu. soalnya kemarin mas Lio udah memperingatkn berulang kali agar saya berhati-hati, mungkin ini juga bagian dari kehati-hatian saya, kan katanya Pak Joko bisa beladiri, jadi nanti tolong bantu saya ya." kata Manda sambil memandang keluar jendela mobil, hatinya seakan diremas-remas. Manda memang nggak tahu kenapa dia begini. Dia hanya mencoba menentramkan hati dengan dzikir dan berdoa.


" Beres mbak!! Perintah tuan Lio tadi ya emang disuruh mengawasi mbak Manda, bahkan kalau mbak Mnda mau ke toilet juga saya harus jaga di depan pintu." kata pak Joko dengan lugas. Perkataan pak Joko itu sontak membuat Manda menoleh dan tertawa, karena dalam kondisi seperti inipun Lio tetaplah Lio yang posesif.


" Iya, pak!! Saya tahu kalau pak Joko ga mungkin boong." kata Manda dengan sisa sisa tawa yang masih mengiringi.


" Nah gitu dong mbak.. jangan muram aja. Semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Tenang, pokoknya saya akan bantu Mbak Manda." kata Pak Joko dengan gayanya yang menenangkan. Membuat Manda mengangguk dan langsung kembali menekuri pemandangan di luar jendela mobil dan kembali berdoa dalam hati serta berdzikir. Ia mempersiapkan hatinya untuk segala kemungkinan terburuk.


" Nah kita sudah sampai, mbak!! Ayo saya antar sampai ketemu dengan tuan Lio." kata pak Joko sambil melepas seatbeltnya. Sedangkan Manda hanya membawa dirinya dan menyampirkan di pundak, tas clutchnya yang berisi ponsel dan dompetnya saja.

__ADS_1


Manda menunggu pak Joko membuka pintu tempat di duduk. Lalu turun serta berjalan bersisian dengan Pak Joko untuk masuk ke lobby dan ingin bertanya ke reception,dimana lokasi meeting Lio?


Rencana Manda ia akan memberi kejutan kepada suaminya, tapi apa daya, yang ia dan pak Joko lihat saat memasuki lobby terlebih membuat dirinya dan pak Joko terkejut berjaamaah.


Pak Joko dan Manda hanya bisa berpandangan. Terutama Manda yang sudah tidak bisa berkata kata. Ternyata inilah yang membuat perasaan dan hati nya terasa teremas, dan sakit dari tadi.


Mereka hanya bisa membiarkan pemandangn itu berlalu, dengan inisiatif untuk mengikutinya dari belakang.


Jujur, terlalu sakit bagi Manda saat ia melihat suaminya sedang dalam pelukan seorang wanita cantik yang membuat dirinya dan suaminya itu berselisih. Tapi pak Joko memberinya tanda agar ia sabar dahulu dan membuatnya mengingat cerita pak Joko tadi bahwa ibu pun menimbang semua hal dulu sebelum marah marah atau membuat keputusan yang akan merugikan semua pihak.


Manda dan pak Joko, mengikuti pasangan yang sedang berpelukan yang mungkin mengarah ke kamar hotel. Pak Joko melihat ketidak beresan pada Lio dan mengkode Manda untuk memperhatikan. Tapi saat mereka berjalan untuk mengikuti Lio, ada sebuah tangan yang mencegah Manda untuk pergi mengikuti Lio.


" Kalian??"


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2