Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
94.


__ADS_3

Drrrtt... drrrttt...


" Ini tengah malam, for God sake!! Telepon sialannnn !! " geram Saka yang masih ngantuk berat, karena habis bertempur dengan Alana.


" Hmmmh, Bby! Siapa yang telepon tengah malam begini sih?" tanya Alana dengan suara serak khas orang yang sedang bangun tidur. Alana juga menguap pertanda matanya masih ngantuk. Tapi mereka berdua terganggu dengan adanya telepon di dini hari seperti ini.


" Better be important phone call!! Kalau ga, akan ku bejek bejek yang telepon dini hari kayak gini." gerutu Saka sambil menyibak selimut menuju nakas samping kasurnya. Tapi rupanya Saka lupa kalau dia belum berpakaian semenjak pertempuran bersama Alana tadi, jadi ia turun dri tempat tidur kayak bayi yang baru lahir, kemudian Alana mengingatkan Saka.


" Bby, pakai dulu baju dan celana kamu dong. Masa kamu kayak tarzan gitu." keluh Alana sambil menguap sekali lagi. Matanya masih antara terpejam karena masih sangat mengantuk. Tapi ia kemudian terbelalak gara gara Saka turun dari tempat tidur dengan posisi polos.


Alana pun berusaha membuka matanya untuk melihat jam yang ada di samping tempat tidurnya yang masih menunjukan jam 2 dini hari.


" Ha ha ha gak mau ah. Nanti sekalian saja karena udah terbangun ya bisa langsung di sambung aja pertempuran kita yang tadi. Kita bisa main satu ronde lagi atu mau berapa ronde??" goda Saka tanpa menghiraukan nasihat Alana untuk memakai terlebih dahulu baju dan celananya. Malah ia dengan percaya diri berjalan.


" Issh, Bby!! Kamu itu ya, nggak ada capek-capeknya sama sekali. Emang kamu tadi nggak itung udah berapa kali kita mainnya?" cebik Alana yng mengertkan selimut yang membungkus tubuhnya yang kondisinya tak jauh beda dengan Saka.


" Kayak gitu itu nggak perlu dihitung berapa kalinya, karena itu hanya dirasakan, diresapi, dan dinikmati." kata Saka sambil meraih ponselnya yang ia taruh di meja nakas samping tempat tidurnya dengan gayanya yang kembali membuat Alana kesal.

__ADS_1


" Emang paling males kalau berdebat sama kamu masalah begituan. Pasti kamu deh yang menang. By the way, itu telepon dari siapa, Bby?" tanya Alana sambil menguap untuk yang ketiga kalinya, sebelum Saka mengangkat sambungan teleponnya karena masih melihat id caller peneleponnya.


" Ssttt, ini telepon dari Alex!" jelas Saka sebelum dia mengangkat sambungan telepon dari Alex.


" Lex, better be important and be a good news, if you are calling in the middle of my rest." Saka tidak lagi basa-basi untuk menyambut atau mengangkat telepon dari Alex. Dia langsung saja to the point mengatakan apa yang dia pikirkan saat ini.


"..."


" Ehm, very good job, Lex. jadi kamu sudah menangkap Vella dan membawanya ke markas kita? Apa kamu juga sudah memberitahu Lio tentang hal ini? Aku harap kamu belum mengatakan apa-apa kepadanya. Soalnya kondisi nya masih sangat labil." Saka mengacungkan jempolnya kepada Alana, tanda berita baik lah yang ia terima. Dan Alana hanya mendengerkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Alex kepada Saka. Dia juga sekaligus merasa lega karena Vella sudah ditemukan. Jujur Alana gemas kepada Vela yang sangat kejam. Bahkan tega dan kejam pada sahabatnya sendiri.


"..."


"..."


" Bagus, pagi pagi sekali aku akan langsung meluncur kesana untuk mengeksekusi Vella. Atau kalau tidak aku akan mengajak Lio, dari rumah sakit kita akan langsung ke markas. Jadi besok aku saja yang kasih tahu Lio. Istirahatkah sekarang. Pagi!!" sahut Saka lagi sambil kemudian menutup sambungan ponselnya sebelum Alex menjawab kata kata Saka. Dan Saka langsung meletakkannya kembali ponselnya ke nakas, kemudian dengan kngkah penuh percaya diri ia berbalik ke tempat tidur yang ia tempati bersama Alana. Gaya Saka yang itu sudah ditangkap oleh Alana sebagai kode untuk meminta jatah kembali, Alana masih berusah untuk mengalihkan perhatian Saka. Tapi jelas itu tidak mungkin. Junio itu sudah konsisten kalau masalah masuk sarang.


" Vella tertangkap ya, Bby?" tanya Alana yang ingin mengalihkan perhatian, bahkan sekarang dia sudah duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur mereka sambil mengeratkan selimut sampai menutupi dadanya. Tapi Saka langsung membuka selimut di samping Alana kemudian menyuruk ke dalamnya dan memeluk pinggang serta mengelus perut datar Alana.

__ADS_1


" Hu um. Ini kok belum jadi-jadi ya princess-nya." tanya Saka lebih kepada dirinya sendiri. Pertanyaan Saka ini membuat Alana memutar bola matanya dengan kesal karena pengalihannya gagal.


" Tuan Narendra Sakabumi. Anak kamu itu sudah 2, dan Alendra itu baru saja lahir, belum genap setahun, masa kamu masih mau bikin adiknya Alendra?" tanya Alana dengan kesal, karena sabar selalu mengulang-ulang permintaan anak yang sangat menginginkan anak perempuan. Saka makin mengeratkan pelukannya di perut Alana bahkan sekarang ia masuk ke dalam selimut mereka dan bergerilya di tubuh polos Alana, yang jelas membuat Alana kegelian. Saka jelas ga peduli karena junionya bahkan udah menegang karena kedekatannya dengan Alana. Bagi Saka, Alana itu bagaikan candu. Alana bukan lagi pemenuh kebutuhannya, tapi sudah oksigennya. Tanpa Alana ia bukanlah manusia seutuhnya.


" Kita harus bekerja lebih keras nih, mommy Alana. Supaya princess segera hadir." Kata Saka sambil tangannya masih betah menggoda Alana.


" Hubbyyyy!!! Astagaa, kamu ini lapar kok ga kenyang kenyang sih." rengek Alana dengan nada manja, yang membuat Saka menjadi semakin hype. Tanpa peduli Alana yang tadi sudah melayaninya berkali kali sampai jatuh tertidur karena kelelahan, sekarang Saka memulai ajang pertempuran yang entah sudah keberapa kali nya.


" Sayangggg, kamu arrgghh!!" Saka membuat Alana melayang untuk kesekian kalinya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


** Readers, kalau ada time sleek dengan Terjerat Cinta Alana, tolong maafkan ya!! Spin off ini bener bener dibuat terpisah soalnya. Saka dan Alana hanya sebagai figuran ha ha ha... Jangan lupa untuk vote ya pleaseee!!! Like dan gift juga ditunggu. Bagi yang baca langsung aja likenya ya. Makasihh.


__ADS_2