
Sementara di luar ruangan rawat inap VVIP 1, Rangga dan Saka sedang berbincang serius.
" Emngnya kamu ga bisa menyadarkn Lio?" tanya Saka dengan nada dingin.
" Ya ampun Narendra Saka bumi Perdana, kamu kan tahu kalau aku ini sebetulnya dokter spesialis penyakit jantung. Jadi wajar lah kalau aku nggak terlalu bisa menyelesaikan permasalahan ini, karena ini emang bukan ranah aku. Aku butuh pendapat profesional dari dokter neurologi karena emang ini sangat bersangkutan dengan saraf. Aku butuh pendapat dari dokter neurologi nengapa sampai sekarang Lio belum sadarkan diri padahal aku sudah berusaha memompa racun yang ada di dalam darah nya supaya keluar, sehingga diharapkan dia akan cepat sadar. Tapi pada kenyataannya apa? dia belum bisa memberikan respon positif sama sekali." curhat Rangga yang juga merasa sedikit stuck dalam kasusnya Lio.
" Eh kamu juga jangan putus asa. kita harus tetap semangat untuk membuat Lio bisa sadar secepatnya. Arrghhh, sejujurnya aku merasa sangat bersalah kepada dia karena secara tidak langsung aku mengijinkan mereka menjebak Lio. Tapi waktu itu aku pun juga ada di dalam dilema kalau aku tidak mengijinkan Lio masuk di dalam jebakan itu kemungkinan aku nggak bisa menangkap dalang dari semua permasalahan ini." jelas Saka pada Rangga, dan Rangga hanya bisa menepuk-nepuk bahu Saka untuk menenangkannya.
" Jebakan?? Oh jadi ini semua terjadi karena Lio dijebak? Dan kamu yang mengizinkan Lio masuk ke dalam jebakan itu?" tanya ibu dengan suara ketus. Ternyata ayah dan ibu sudah ada di belakang mereka sejak tadi sehingga ibu dan ayah mendengar apa yang dikatakan oleh Saka dengan jelas.
" Iya, bu! Yah! Saka enggak menyangka kalau ini bakal terjadi, padahal niatan Saka hanya menghindarkan Manda dari kesulitan yang lebih besar. Karena dalang dari semua permasalahan ini mengancam kalau rencana ini gagal maka Manda yang akan jadi sasaran berikutnya, dan apakah ayah dan ibu tahu bahwa Manda sedang hamil anaknya Lio. Dalam kasus ini Saka tidak memiliki pilihan lain. Maafkan Saka yah, bu! Saka juga merasa bersalah." jelas Saka dengan gentlemen.
" Apa? Manda hamil? Oalah Yah, kita bakal punya cucu lagi. Alhamdulillah ya Allahhh!!" kata ibu dengan antusias, jelas ibu senang karena berarti dia akan mendapat mainan satu lagi. bagi ibu, menjadi nenek adalah sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. Pertama Genta, kedua Alendra, sekarang anaknya Lio. Wuahhhh ibu bahagia, wajahnya memancarkan sinar yang begitu terang sampai Ayah pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat antusiasme ibu yang begitu luar biasa hanya karena mendengar Manda hamil.
" Ibu masuk ke dalam, Ibu mau menjenguk menantu ibu yang sedang hamil, pasti Alana juga ada di dalam." tapi Saka menahan lengan ibu agar ibu tidak menerobos masuk ke dalam kamar itu.
" Ibu nggak mau mendengar kondisi liyo terlebih dahulu? Manda sudah sadar dan juga Iya sedang diperiksa oleh dokter Clara sebaiknya ibu jangan masuk dulu, tunggu dokter Clara keluar dulu supaya tidak terlalu banyak orang yang ada di dalam ruangan rawat inap itu, karena Lio juga ada di dalam ruang rawat inap yang sama dengan Manda cuman dia belum sadar." jelas Saga sambil menahan ibu yang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam ruang rawat inap Amanda.
" Oh ya, ibu lupa. gimana dengan kondisi Lio? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Jebakan apa yang dipasang oleh orang itu sampai Lio tidak sadarkan diri?" tari ini ayah Bun menyimak apa yang akan dikatakan oleh Saka, karena sejatinya dia sangat marah melihat anak angkatnya diperlakukan seperti ini.
Lalu Saka menceritakan secara detil apa yang dialami oleh Lio dan bagaimana dia bisa mengetahui bahwa Lio akan dijebak oleh seseorang. Serta ancaman-ancaman yang diberikan kepada orang yang mengetahui itu bahwa kalau sampai rencana mereka gagal maka target selanjutnya adalah Amanda.
__ADS_1
" Siapakah sebenarnya orang yang menjadi dalang dari semua ini?" tanya ayah dengan nada datar, karena sedang menahan amarahnya supaya tidak membuat khawatir ibu.
" Vella!"
" Lalu kenapa Najla dan omnya bisa ditahan?" tanya Ayah tidak mengerti apa hubungannya.
Lalu Saka menceritakan secara detil hubungan Omnya Najla, adalah sebagai sugar dadynya Vella, sedang Najla dimanfaatkan omnya karena si om tahu perasaan Najla kepada Lio sejak SMA dulu.
" Astagfirullah, Ya ampun, apakah benar apa yang sedang kamu ceritakan kepada Ibu ini?" ibu mengelus dadanya yang tiba tiba sesak karena rasanya ingin menumpahkannya dalam tangisan.
Ayah hanya bisa menggeram dalm diam. Ia harus meredam emosinya dihadapn ibu. Tapi nanti ia akan mengkoordinir Saka untuk menghancurkan orang yang sudah berani menyakiti keluarganya.
" Lio masih belum sadarkan diri, yah. Tetapi Rangga sudah memanggil seorang dokter neurolog yang berpengalaman. Dokternya sedang dalam perjalanan kemari karena kebetulan hari ini dia memang tidak ada praktek. Mungkin saat ini dia sudah datang, Yah!" jelas Rangga kepada ayah.
" Kamu cari dokternya sekarang, Ngga!! Jangan biarkan Lio tidak sadar-sadar. Kalo perlu kamu carikan lagi dokter spesialis yang lain yang kira-kira bisa mengetahui kenapa Lio belum sadar." perintah ayah dengan geram.
" Baiklah yah, Rangga pamit dulu! Assalamualaikum." kami terakhir kepada ayah dan ibu tidak lupa Ia juga mencium tangan mereka.
Tinggallah sekarang Ayah Ibu dan Saka saja, sebenarnya ayah marah dengan Saka karena sebetulnya tanpa Lio harus masuk ke dalam jebakan dan meminum obat penenang dalam dosis tinggi, mestinya Saka bisa memperingatkan Lio, sehingga seenggaknya, Lio tidak mengkonsumsi obat itu dalam dosis tinggi.
"Kamu kan juga tahu Lio, seumur dia ikut sama Ayah dia tidak pernah sakit sehingga dia juga enggak pernah minum obat. Tentunya dia jadi sangat rentan dengan obat-obatan seperti itu" desah ayah menyesali kelakuan Saka.
__ADS_1
Dan Saka cukup sadar diri kalau dia salah. Dia mempertaruhkan nyawa keluarganya sendiri. Mengingat akan hal itu Saka jadi semakin merasa bersalah, bahkan di hadapan ayah, Saka hanya bisa menunduk.
" Sudahlah, ayah! semuanya sudah terjadi, kita tidak lagi bisa menyalahkan Saka seratus persen, karena taruhannya adalah Amanda serta cucu kita. Kita hanya bisa berdoa dan berharap kalau dokter neurolog yang dipakai oleh Rangga bakal bisa menemukan cara supaya ya Lio bisa cepat sadar, aminnnnn!!" doa ibu sambil mengusap wajahnya.
Brakkkk!! pintu di ruangan rawat inap Amanda serta Liu terbuka dengan lebar, ternyata Alana yang keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.
" Ada apa, La?" tanya Saka dengan wajah semakin pucat karena ia melihat wajah istrinya yang cemas dengan air mata yang mengalir.
" Lio... mana sih Rangga? Aku sudah pencet tombol sampai .."
" Kenapa Lio?" Saka belum mendengar Alana yang menjelaskan sudah menerobos masuk ke dalam ruangan rawat inap bersama ayah dan ibu yang tambah kelihatan cemasnya.
.
.
.
TBC
*** jangan hujat otor apapun yang terjadi ya... wk wk wk .. jangan lupa kasi vote, gift dan likenya. Tulis komen kalian setelah kasi vote, gift dan pencet Likenya. Happy reading.
__ADS_1