
Setelah Saka dan Alana menutup pintu ruangan VVIP itu, Lio dengan segera menghampiri brankar Manda dan mencium kening Manda penuh perasaan. Air mata Lio merembes keluar tanpa henti. Dia sedari tadi menahan rasa amarah, rasa sedih dan rasa bersalah yang berbaur menjadi satu. PENYESALAN!! Satu kata yang terngiang di otak Lio saat ini adalah Penyesalan.
Andai ia tidak pergi, andai ia tidak mencari Vela, andai ia tidak meninggalkan Manda seorang diri. Pasti Manda tidak kenapa kenapa. Pasti Manda tidak dilecehkan. Pasti ia masih bisa merasakan detak jantung anaknya.
Entah bagaimana anaknya pergi? Lio masih belum tahu persis kondisi Manda. Tangan besar Lio mengenggam erat tangan Manda yang mungil dan lunglai, membuatnya kembali menangis tersedu sedu.
Bahkan ketika papa dan mamanya pergi meninggalkan dirinya beserta adik yang ada di dalam kandungan mamanya, ia merasa kehilangan tapi tidak sesedih ini. Ini rasanya seperti daging dalam tubuhnya dicabik cabik dan hatinya disayat sayat menggunakan pisau kemudian luka lukanya itu disiram menggunakan garam. Perih, sakit, bahkan dadanya sesak yang membuatnya tak lagi bisa bernafas dengan lega. Lio sampai harus memukul mukul dadanya dengan keras supaya bisa setidaknya melegakan dadanya yang sesak.
" Sayang, maafin Mas!! Maaf karena tak bisa menjaga kamu. Maaf karena membuat kamu menjadi seperti ini. Maaf... maaff.. maaaff!!" bisik Lio dengan suara lirih. Melihat kondisi Manda, membuat Lio bisa merasakan rangkaian kekejian yang sudah dilkukan oleh para preman itu.
Air matanya kembali menetes di tangan Manda yang ia genggam dan ia ciumi karena berharap Mnda akan tahu betapa ia menyesal meninggalkannya sendiri.
Karena ia tahu kalau hari esok istrinya ga akan sama lagi. Ga akan ada senyum di wajahnya yang cantik. Ga ada kemanjaan dan bahkan ga akan ada canda tawa.
" Sayang, bangunlah!! Hukum aku saja. Jangan buat diri kamu terpuruk. Salahkan aku, sayang!! Aku akan menuruti semua keinginan kamu. " bisik Lio di telinga istrinya.
Lio menciumi wajah Manda, pipinya, matanya, luka luka lebam dan sudut bibirnya yang tampak darah kering, sambil mengelus punggung tangan Manda dengan sayang.
" Kamu wanita hebat, sayang. Aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu." lanjut Lio dengan sesenggukan.
Tiba tiba Manda terbangun karena air mata Lio yang membasahi wajahnya. Matanya membelalak menatap Lio dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Lio. Entah itu tatapan kosong? Atau tatapan datar karena marah dengannya.
" Sayang kamu sudah sadar?" tanya Lio lembut.
__ADS_1
" Aku panggilin dokter dulu ya?" lanjut Lio sambil menekan tombol help di pinggir meja nakas dekat ranjang Manda.
" Argghhhgghg... Tidakkkkkk!! Jangannn. Tolonggg!! Lepaskan, aku ga mauuu!! Jangannn lebih baik aku mati saja. " teriak Manda histeris sambil menangis dengan kencang. Lio yang terkejut langsung mencoba memeluk istrinya untuk mencoba menenangkannya. Tapi Manda meronta, menendang, mencakar dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Lio.
" Sayang... sayanggg... jangan begitu!! Ini aku, aku suami kamu. Aku Lioo!! Tolong jangan menangis. Hati aku sakit jdinya. Plis sayang." pinta Lio sambil turut menangis. Kini rontaan Manda melemah. Tapi tangisan dan racauannya masih bisa Lio dengar.
" Mas kenapa kamu ga datang. Kenapa kamu ga selametin aku. Kenapa aku kamu tinggalkan.." racauan yang sama terus menerus Manda gunamkan, sambil berada di tengah tengah lolosnya air mata yang mengalir di kedua pipinya.
" Sayang, maaaff, maaaafff, mas yang salah.. ini kesalahan mas karena ga bisa jagain kamu. Maafkan mas, sayang!! Pukul mas, karena terlambat menyelamatkan kamu." kata Lio sambil melepaskan pelukannya untuk bisa memandang wajah istrinya yang sayu dan mengenaskan karena penuh luka luka bekas kekerasan, membuat Lio ta tega memandangnya. Lio mencium kening Manda dengan rasa sayang, dan dengan begitu hati hati, seakan takut kalau barang yang ia sedang cium akan rapuh dan hancur.
" Lepas Mas, aku sudah kotor!! Lepaskan aku!!" kata Manda lirih dan meronta walau tenaganya tampak sudah lemah.
" Tidakkk!! Aku tidak akan melepaskanmu. Apapun yang terjadi jangan tinggalkan Mas. Kamu istriku, dan kamu harta mas yang paling berharga. Jangan tinggalin mas, sayang. Mas bisa hancur tanpa kamu." Manda menatap air mata yang menetes di lengannya, lalu ia mendongak menatap suaminya yang menangis dengan raut kacau, dengan baju kemarin yang sudah lecek karena belum Lio ganti.Manda berusaha mencari kebohongan di netra Lio yang masih basah karena air mata dan ia tidak menemukan kebohongan, hanya ada jejujuran disana. Hati Manda teriris pilu, karena melihat suaminya yang memperhatikannya tanpa memperhatikan kondisinya sendiri.
Tok tok tok..
Lalu pintu terbuka tanpa menunggu dipersilahkan masuk. Tampak dokter Rangga, juga dokter Clara, dan 2 orang suster masuk ke dalam dengan senyum, walau sejujurnya senyum itu tidak sampai ke mata mereka. Lio dan Manda yang menatap kedatangan mereka pun hanya diam.
" Hallo Manda, gimana kondisi kamu?"
" Mana anakku?" tanya Manda dengan lirih.
" Ehm.. mari aku periksa dulu." kata Clara dengan sabar ketika ia melihat Manda menatapnya dengan wajah yang tak terbaca, sedangkan Lio hanya bisa berdiri sambil menyugar rambutnya kebelakang denga sedikut frustasi. Ia takut, sangat takut kalau istrinya akan lebih terpuruk saat mendengar kepergian anaknya
__ADS_1
" Manda, kamu harus sabar ya..mungkin Allah lebih mengasihi anak kamu, kamu mengalami pendarahan saat itu, Saka dan Alana sudah berusaha mengantarkan kamu lebih cepat, tapi benturan pada rahim yang terjadi sebelumnya membuat dia yang emang sudah lemah tak bisa bertahan lagi jadi..." Clara berusaha menjelaskan dengan nada lirih.
"Tidakkkkkkkkk!!! Gak mauuuu... gak mungkin.." teriak Manda histeris. Lio langsung dengan sigap memeluk Manda dan mencoba menenangkannya.
" Sayang... sayanggg. Ingat masih ada aku. Jangan tinggalkan aku!! " kata Lio sambil mengeratkan pelukannya.
Clara dan Rangga langsung ikut memegang Manda hendak kembali menyuntikan obat penenang.
" Jangannn... jangan sentuh istriku." bentak Lio sambil menepis Rangga dan Clara.
" Tapi Lioo, Manda..."
" Pergi, tinggalkan kami sendiri! Biar aku yang akan mengurus istriku. " teriak Lio lagi sambil memeluk Manda lebih erat lagi, ia selayaknya induk ayam yang sedang melindungi anak ayam yang dia lahirkan.
Rangga dan Clara mengangkat tangannya dengan segera tanda mereka menyerah dan mengijinkan Lio melakukan apa yang ingin Lio lakukan. Dan mereka semua termasuk 2 suster itu mundur perlahan dan segera keluar dari ruangan Lio itu. Manda masih terisak dengan lemah, dalam pelukan suaminya. Dan entah kenapa Manda merasa nyaman dan tenang tak memberontak lagi saat menghidu aroma musk maskulin suaminya.
.
.
.
TBC
__ADS_1
***maaf hari ini up 1 dulu ya... asam lambung kumat lgi hiks hiks... diusahakan besok up2 lagi. Jangan lupa untuk tetap like, gift dan vote ya...