
“Baiklah, sementara kamu ikuti apa yang ia inginkan, aku
sudah kirim orang untuk menjaga kamu dari jauh, kamu jangan kuatir, bahkan aku
juga tahu apa yang kamu lakukan dalam beberapa waktu ini. Kamu gak usah kuatir,
aku akan segera melamar kamu.” Kata Lio tanpa ada nada romantis disana. Membuat
Manda seperti dilempar dari atas pohon toge. Apa apaan nih, orang melamar kok
kayak orang ngomong sama bawahannya kalau besok akan diadakan cuti bersama.
Datar, arogan dan tanpa ekspresi. Manda hanya bisa memutar bola matanya dengan
malas.
" Whats?" satu kata untuk mengimbangin perkataan Lio yang bagi Manda sangat ga masuk akal. Helllooow, ayahnya tuh masih kekeuh dengan pak raden. Manda serius lupa dengan nama orang yang hendak dijodohkan dengan dirinya itu.
" Percaya saja sama aku, okey?" lanjut Lio kini dengan nada yang lebih lembut. Tapi mana bisa Manda percaya? Ayahnya itu kalau sudah punya rencana tak akan tergoyahkan. Manda aja gak kepikir bagaimana cara Lio melamarnya, ayahnya ga akan semudah itu dengan Lio.
" Hmmh." Manda hanya memhiyakan. Ia terlalu malas mendebat dua manusia yang diktatoris macam Kenan dan Lio.
" Maaf, kalau aku ga menghubungi kamu. Keluarga aku kena musibah. Adik ipar aku koma dan sedang di rawat di Singapura. Jadi ayah dan ibu angkatku gak akan bisa melamar kamu. Kamu mau sabar menunggu aku kan? Percayalah, aku gak akan lari dari tanggung jawabku." lanjut Lio dengan lembut. Nada datar emang masih ada, tapi kayaknya ia berusaha keras untuk melembutkan suaranya. Manda mengerti itu, tak mudah bagi seorang yang emang dingin dari sononya menjadi hangat secara tiba tiba.
__ADS_1
" Kok bisa sih, mas? Tapi kondisi adik ipar kamu gimana?" tanya Manda dengan nada khawatir.
" Ini ada kaitannya sama Vella juga. Oh ya, kemarin dia juga mengklaim kalau ia yang tidur dengan adik aku sesuai skenario waktu di klub itu. Kalau masalah adik ipar aku, nanti waktu kita ketemu aja akan kujelasin dengan jelas." jelas Lio dengan singkat.
" Tapi kamu gak apa apa kan mas?" tanya Manda lagi.
" Kamu gak usah khawatir,aku gak apa apa. Tapi ya jelas peristiwa ini membuat langkah aku ke kamu jadi agak lebih lama aja. Kamu sabar kan?" tanya Lio lagi.
" Mas, aku cuman takut kalau keluarga aku tahu kalau..." ujar Manda lirih.
" Kamu hamil Man?" tanya Lio dengan nada antusias. Kok malah kayaknya Lio seneng kalau Manda hamil, ga tau apa kalau Manda udah ketakutan setengah hidup kalau sampai dirinya hamil?
" Aduh, mas. Jangan nakutin aku dong! Aku bisa digantung ayah aku kalau aku sampai mempermalukan keluarga Djoyodiningrat." kata Manda dengan cepat.
" Mas, jangan salah sangka dulu. Aku bukannya ingin menggugurkan kandungan. Cuman aku juga belum tahu hamil atau tidak, jadi untuk sementara jangan mikir kearah sana dulu. Lagian kalau aku beneran hamil ya ga mungkin aku membunuh anakku sendiri." ralat Manda dengan cepat, ia tahu Lio salah paham dengan apa yang ia katakan barusan.
" Oke, aku akan terus mengawasi Kenan juga. Aku pikir,dia ada motivasi tersendiri untuk mendekati kamu. Kamu juga tahu itukan?" lanjut Lio masih dengan nada dingin. Kayaknya Lio ini dingin untuk mencegah Manda memgetahui bahwa sejujurnya ia marah karena saat ini masih belum bisa berbuat apa apa. Alana sedang dalam posisi koma. Ia belum bisa mengajak ayah Langit untuk melamar Manda. Paling tidak untuk mengikat Manda menjadi tunangannya dulu.
Masalah pak raden yang dikatakan sebagai calon suami Manda Lio sudah menemukan cara untuk menghancurkannya. Bagi Lio tidak sulit untuk melakukan hal itu kepada orang biasa. Tapi ia juga curiga dengan Kenan. Kayaknya Kenan juga menaruh hati kepada calon istrinya itu.
Khusus Kenan, ia membutuhkan lebih banyak usaha karena Lio juga tahu kalau Kenan licik dan saat ia menginginkan sesuatu ia harus mendapatkan. Kenan mungkin bisa jadi sebuah penghalang yang cukup merepotkan bagi Lio. Tapi Lio pasti tetap akan berusaha mrnjatuhkan saingannya dengan cara yang paling menyakitkan karena sudah menginginkan miliknya.
" Iya, dia minta aku memberinya kesempatan yang adil. Itu yang ia katakan tadi. Lalu gimana? Aku kerja disana gak apa?" tanya Manda sekali lagi untuk meyakinkan.
__ADS_1
" Hmm, aku akan aturkan supaya ia sibuk untuk sementara. Kalau ia tetap ingin kamu kerja sebagai asisten pribadinya pun, gak ada masalah. Asal kamu jangan berikan hati kamu sama dia. Karena hati kamu itu sepenuhnya milikku." sahut Lio dengan santai. Tapi efek dari ucapan Lio tadi jelas tidak ringan bagi Manda. Ia berdebar debar, merona, juga ada dorongan ingin melompat lompat. Manda ga ngerti kenapa euforianya begitu besar saat mendengar kata kata yang sederhana, bahkan diperkatakan dengan nada datar yang ga ada romantis romantisnya sama sekali. Duhhh !! Apalagi kalau berhadapan dan pake nada lembut, mungkin Manda bisa tremors dadakan.
" Masss, apaan sih!" balas Manda dengan malu malu.
" Bener kan? Bukan hanya hati kamu, bahkan aku jadi pria pertama yang tidur sama kamu. " tambah Lio lagi dengan percaya diri.
" Masss, ga usah dijelasin juga kali!" sanggah Manda tambah malu.
" Baiklah aku tutup dulu teleponnya. Aku juga tahu kalau Kenan masih menunggumu. Aku membebaskannya kali ini. Tapi gak untuk yang lainnya lagi. " kata Lio sambil menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Manda.
" Isshh, males banget. Belum juga dijawab sudah di tutup aja sambungan teleponnya." monolog Manda sambil memandangi telepon genggamnya yang sudah mati layarnya karena panggilan yang sudah terputus. Manda sebel tapi juga ga bisa mengacuhkan pria dongin itu. Kenapa coba? Bahkan Manda bisa berdingin ria dengan Kenan, tapi ia malah ga bisa abai dengan Lio yang jelas jelas kayak kulkas.
Mandaa teringat kalau ia masih menggantung Kenan yang tadi ia suruh tunggu di taman belakang. Ia sebenernya malas untuk menghadapi Kenan, orang yang sama diktatornya dengan Lio. Tapi apa boleh buat, Kenan memegang sebagian besar dari rahasianya. Untuk saat ini ia harus sabar.
" Masih nunggu ya, kak Ken? Sebenernya kalau kak Kenan mau pulang bisa saja toh? Aku kan gak ngiket kakak di kursi taman ini." Manda membuka percakapannya ketika ia masih melihat Kenan duduk dengan manis di tempat dimana ia tadi ditinggalkan. Ucapan Manda cukup sarkas di telinga Kenan. Tapi Kenan memilih untuk tidak terpancing dengan emosi. Kenan tetap memandang Manda dengan pandangan sayang. Ia tidak bisa marah walau Manda memprovokasi dirinya. Kenan menunggu, menunggu jawaban Manda akan sebuah kesempatan yang sama dengan para rivalnya. Untuk itu ia tetap bertahan.
.
.
.
TBC
__ADS_1