Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
68.


__ADS_3

"Ingat kalau kamu sekarang sudah istri orang, jadi kamu jangan tebar pesona dengan laki laki lain." kata Lio lagi. Perkataan Lio yang ini membuat mood Manda jatuh. Ia kesal dengan suaminya yang super posesif.


" Astaganaga, Mass!" teriak Mnda smbil menarik tangan yang ada dalam gengaman Lio.


" Cuman ngingetin doang loo!" kata Lio dengan santai.


" Emang mas pernah lihat Manda tebar pesona sama laki laki lain?" seru Manda kesal.


" E engga sih."


" Nah itu tahu." kata Manda sambil turun dari mobil tanpa menunggu Lio, saat mobil Lio sudah sampai di parkiran.


" Hei, sayang!! Jangan tinggalin mas dong!!" kata Lio yang melihat Manda sudah turun dari mobil dan bergegas masuk ke lift yang terbuka tanpa menunggu Lio. Manda yang masih kesal langsung menutup pintu lift tanpa basa basi. Tapi melihat tingkah Manda yang seperti itu, Lio bukannya marah. Ia malah tersenyum,sebiah senyum yang langka. Lio dengan santai kembali memencet tombol lift yang akan membawanya keatas. Dan wa laaa... pintu lift langsung terbuka lagi. Manda yang menyaksikan pintu lift kembali terbuka, dengan senyum di wajah Lio yang menghiasi, membuat buat Manda semakin kesal. Usahanya untuk lari dari Lio tidak membuahkan hasil yang baik, karena ternyata Lio tetap bisa mengejarnya. Manda membuang wajahnya ke samping agar ia tidak memandangi Lio. Tetapi kebalikannya dari itu, Lio memandang tingkah laku Manda yang kekanakan dengan senyum.


" Masih marah?" tanya Lio dengan nada lembut, sambil memegang bahu Manda yang masih saja tidak mau menatap ke arahnya.


" Enggak!!!" ujar Manda dengan suara ketus.


" Baiklah, Mas minta maaf." kata Lio sambil menarik bahu Manda sehingga tubuh Manda jatuh ke dalam pelukannya.

__ADS_1


" Makanya jadi orang jangan suka cemburuan gitu, Mas!!" rajuk Manda dalam pelukan Lio, memang ada di dalam pelukan suami itu adalah tempat yang ternyaman bagi Manda.


" Iya nggak bakalan gitu lagi." kata Lio sambil mengusap punggung Manda dengan sayang.


" Janji ya!" kata Manda sambil menyodorkan kelingkingnya seperti anak kecil yang membuat janji.


" Nggak janji kalau nggak bakal cemburu tapi mas nyoba untuk tidak terlalu posesif." kata Lio sambil menyambut jari kelingking Manda. Manda hanya mengangguk kecil ia sadar dirinya pun mungkin akan berlaku sama ketika cemburu melanda, Jadi ia membiarkan itu asal tidak terlalu kebangetan.


" Huum." selebihnya Manda hanya diam, Ia sedang menikmati ada di dalam pelukan suaminya yang selalu nyaman dan hanya bagi dirinya, sampai akhirnya lift membawa mereka ke lantai yang mereka tuju. Mereka langsung ke lantai 9 di mana meeting akan digelar. Saat lift sampai ke lantai yang mereka tuju, Manda langsung menarik tubuhnya dari pelukan Lio, dan memberi jarak sebelum pintu lift terbuka.


" Aduh, kayak bukan muhrim aja sih kamu. Padahal kan kita berdekatan, berpelukan, bahkan berciuman pun sah kita lakukan!"gerutu Lio saat melihat Manda menjauh dari dirinya.


" Hish, itu kan hanya bentuk profesionalitas kerja aja to, mas!" elak Manda sambil tersenyum kecil.


" Bisa lah Mas! Tapi tadi mestinya kamu bilang dulu supaya aku bener-bener menghafalkannya. Aku hanya takut lupa karena tadi aku nggak terlalu serius untuk menghafalkannya nya." kata Manda.


" Nggak usah terlalu serius. Kamu share aja garis besarnya, tadi aku juga sudah info ke Lita melalui WhatsApp agar ia mengcopy seluruh berkas itu, hingga saat kamu presentasi nanti mereka juga bisa membaca berkas di tangan mereka. Yang penting kamu bisa menjelaskan poin-poin yang perlu mereka ketahui atau garis bawahi." jelas Leo sambil membuka pintu ruangan meeting. Ternyata semua peserta meeting sore hari itu sudah siap di sana. Jadi Lio dan Manda adalah peserta meeting yang terakhir, sebenarnya belum terlambat sih, mungkin peserta meeting yang lain emang sudah mempersiapkan diri sebelum jam meeting dimulai.


Meeting langsung dimulai oleh Lio dan kemudian ia menyerahkan kepada Manda agar Manda bisa langsung mempresentasikan berdasarkan file yang sudah ia pelajari sebelumnya. Semua peserta meeting yang kebanyakan laki-laki, menatap Manda dengan antusias. Tidak dapat dipungkiri Manda memang sangat cerdas, ia bisa merangkumkan berkas yang ia pelajari tadi dengan sangat detail dan jelas. Selain itu jelas karena yang mempresentasikan file itu adalah seorang wanita cantik yang belum pernah mereka lihat dan mereka kenal. Tiba-tiba wanita cantik itu yang disuruh mempresentasikan padahal biasanya yang melakukan itu adalah Lio sendiri. Dan yang lebih mengherankan, tampaknya si Bos lebih memperhatikan orang yang mempresentasikan berkas itu daripada isi daripada berkas itu. Padahal sebelumnya si Bos itu orang yang tatapannya datar dan dingin, ngomongnya irit, serta pendiam. Sekarang tatapan si Bos kelihatan lebih seperti memuja dan juga lebih hangat.

__ADS_1


" Jadi apakah ada dari kalian terutama para investor yang ingin bertanya?" kata Lio melemparkan pertanyaan kepada seluruh peserta meeting yang lain yang kelihatannya hanya bisa tertegun melihat penjelasan dari Manda.


Mereka semua tampak menggeleng dengan ragu tapi kemudian ada seseorang yang kira-kira umurnya sebaya dengan Lio mengajukan pertanyaan yang kemudian membuat Lio jadi bete.


" Pak saya mau tanya, sebenarnya wanita yang tadi menjelaskan file ini itu siapa? Karena kami belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Apakah ada relevansi antara wanita tersebut dengan file yang kita bahas saat ini?" dan laki-laki itu bernama Andres. Dia adalah salah satu tangan kanan investor dari PT. Karya Guna. dan Lio rasa pertanyaan itu adalah suruhan dari Andres yaitu Adikarya.


" Baiklah mungkin saya perlu jelaskan bahwa wanita yang tadi baru saja mempresentasikan berkas yang anda juga sudah terima copyannya adalah asisten pribadi saya. Bukan bermaksud tidak profesional, tetapi saya terlebih ingin menguji asisten pribadi saya sendiri. Karena nantinya asisten pribadi ini akan saya tempatkan di LT. Maaf kalau itu membuat anda semua tidak nyaman. Tapi saya harap penjelasan asisten pribadi saya yang bernama Amanda itu cukup jelas." jelas Lio dengan nada datar dan dingin.


" Baiklah Pak! Terima kasih atas penjelasannya." jawab Andres dengan nada santun.


" Gimana? Apakah masih ada pertanyaan seputar yang akan kita bahas di rapat ini?" tanya Lio lagi, sedangkan sebenarnya Manda sudah berkeringat dingin saat ditanya keberadaannya di situ. Rupanya tadi ia salah strategi, mestinya ia memperkenalkan diri dahulu sebelum panjang lebar menjelaskan tentang berkas. Yapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, sebenernya ia agak malu dengan suaminya. Karena penjabarannya tadi di terlalu sederhana dan kurang konseptual.


Yah, namanya juga fresh graduated, jadi ya mestinya suaminya harap maklum dong. Masih harus banyak belajar. Batin Manda dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


TBC


*** akhirnya bisa up, walau ditengah jalan. Jangan lupa like dan gift juga votenya yaaaa.... terimakasih dukungannya.


__ADS_2