
“Aku emang ga tau apa
yang kamu rasakan, tapi aku tahu apa yang terjadi pada malam itu.” Kata Kenan
dengan nada lembut sambil memegang bahu Manda dan merengkuhnya dalam
pelukannya.
Manda berusaha menjauhkan badannya dan memandang Kenan
dengan mata bulatnya yang indah. Ia bingung lagi. Apa lagi yang diketahui oleh
laki laki ini? Apa dia tahu kalau ternyata ia sudah tidak perawan lagi? Pikir
Manda dengan cemas. Bagaimana dia tahu? Gawat!! Keluarganya bakalan tahu dan ia
akan semakin terjerat oleh laki laki ini.
“A aapa yang kamu tahu? Apa yang kamu tahu di malam itu?”
tanya Manda dengan panik. Manda berasa seperti pemain dalam film I know what you did last summer. Jelas ia ketakutan kalau sampai Kenan mengetahui semuanya dan mengatakannya kepada keluarganya.
Bisa runyam urusannya.
Kenan hanya memandang Manda dengan pandangan teduh, Manda
tercekat saat melihat ke dalam mata Kenan yang menghanyutkan. Laki laki ini
benar benar tampan selain kenyataan bahwa ia sangat licik dan gigih dalam
mendapatkan keinginannya. Manda merasakan kalau sesuatu di dalam kantongnya bergetar.
Manda mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang ada di dalam
kantongnya, yang sengaja ia buat dalam mode silent, id caller yang tertera membuat Manda harus menerima panggilan telepon itu di tempat lain, karena Manda
gak mau kalau Kenan mendengar percakapannya. Jangan bilang kalau Kenan tidak
bisa melihat id caller yang menelepon Manda karena ia posisinya sangat dekat
dengan Manda.
Ekspresi wajah Kenan berubah drastis, rahangnya mengeras
tanda ia tidak menyukai orang yang menelepon incaran hatinya, ingin rasanya
Kenan membanting ponsel Manda dan memeluknya saja supaya Manda tidak bisa
menerima panggilan dari orang yang menelepon saat ini.
Di lain pihak Manda melupakan apa yang baru saja terjadi, ia
bahkan lupa kalau orang yang saat ini di hadapannya mungkin mengetahui rahasia
terbesarnya, Manda memang sedang menantikan telepon dari orang ini.
“Kak Kenan, maaf Manda harus menerima telepon dulu. Kalau
kak Ken mau pulang, maaf Manda gak bisa nganterin kakak keluar.” Ijinnya dengan
sopan, Manda hendak segera berlalu, bahkan ia tidak menunggu jawaban dari
Kenan, ia ingin balik ke kamarnya, tapi tangan yang kuat menahan tubuhnya,
bahkan memeluknya dengan posesif.
“Aku .. ehm.. Bisa kamu beri aku beri kesempatan yang sama?
Bahkan kesempatan yang sama besarnya dengan yang menelepon kamu saat ini? Aku
akan menunggu kamu! Walau selama apapun itu.” Tahan Kenan dengan nada memelas.
__ADS_1
Kenan tidak pernah, catat.. tidak pernah sekalipun memohon pada seseorang.
Hanya dengan Amanda Djoyodiningrat sajalah ia memohon. Ia juga gak ngerti kenapa dengan gadis ini ia
bisa begitu impulsive dan membuang seluruh harga dirinya hanya demi sebuah
kesempatan mendekati gadis dan kesempatan memiliki hati Manda.
“Kak Kenan..” sebenarnya panggilan telepon itu sudah
diterima oleh Manda,ia terburu buru ingin mendengar kabar orang yang di
seberang sana yang sudah lama tidak menghubunginya, dan juga karena Manda tidak pernah terpikir kalau Kenan
bahkan melakukan hal ini, sehingga penelepon di seberang sana jelas pasti
mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Kenan.
“Aku menunggu kamu, ..” sahut Kenan lirih sambil menunjuk
telepon yang sudah dalam keadaan tersambung, tapi penelepon yang diujung sana
pun hanya diam mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di lakukan oleh
Manda, sampai di satu titik Manda tersadar kalau ponselnya sudah tersambung
dengan Lio, orang yang sudah lama ia tunggu.
“Baiklah, aku menerima telepon ini di tempat lain dulu,
kakak tunggu disini, okey?” kata Manda dengan pasrah, ia tahu Kenan gak akan
berhenti sampai ia berhasil mendapatkan keinginannya, karena rahasia Manda
sudah Kenan pegang, Manda juga tidak bisa berbuat banyak selain menuruti
keinginan Kenan saat ini.
“Hu um” sahutnya pendek, Manda bergegas mencari tempat lain
Lio.
Di ruang tengah, Manda memastikan bahwa ruangan itu aman
untuk dia bisa berbincang dengan Lio tanpa adanya gangguan.
“Iya mas.” Buka Manda dengan Lio setelah sesaat lamanya
sambungan teepon itu ia gantung.
“Siapa?” tanya Lio dengan nada datar tanpa adanya emosi sama
sekali.
“Kak Kenan. Mas, kok gak ngehubungi Manda?” tanya Manda
ingin segera bisa menyelesaikan masalahnya dengan Lio juga. Ia berhari hari ini
tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ia kepikiran dengan solusi apa yang ia
harus ambil Ia juga belum tahu apakah dengan hubungan satu malamnya membuahkan
sesuatu di dalam perutnya, Manda bahkan juga belum berani untuk periksa, ia
sudah sangat ketakutan menghadapi hari harinya tanpa kabar dari Lio.
“Kenan Louis Avendra? Kenapa dia bersama kamu?” tanya Lio
tanpa menjawab pertanyaan Manda, yang jujur membuat Manda menjadi kesal. Sudah
lama gak menghubungi, kalau ngomong flat dan datar kayak jalan tol, eh ditanya
__ADS_1
malah balik nanya.
“Ehm dia kenal gitu sama keluarga aku, dan mau invest di
tempat keluarga aku, selain itu ia juga tahu kalau aku kemarin pergi ke klub tanpa
ijin sama keluarga aku dan menjadikannya senjata untuk aku mengikuti kehendaknya
agar aku kerja di tempatnya dia sebagai asisten pribadinya gitu deh. Aku juga
takut dengan kemungkinan kalau ia tahu tentang apa yang terjadi sama aku di
malam itu.” Jelas Manda dengan jujur. Manda emang orang yang polos dan jujur,
makanya seringkali ia ditipu oleh teman temannya karena kebaikan dan
kepolosannya itu.
Lio mendesah dengan suara yang cukup keras dan kemudian
berkata.
“Manda, kamu sudah menerima surat panggilan kerja dari
Perdana Corp? “ tanya Lio lagi.
“iya, tapi ayah gak setuju. Ia gak mengijinkan aku buat
kerja disana. Eh by the way, kok kamu bisa tau?” tanya Manda dengan nada heran.
“Iya aku yang menyuruh bawahan aku untuk menghubungi kamu.” Jelas
Lio lagi masih dengan nada kebanggannya, tanpa ekspresi.
“Jadi kamu pemilik Persana Corp?” tanya Manda sambil menutup
mulutnya dengan tangan kanannya.
“Bukan, itu perusahaan milik keluarga kok. Aku pikir itu
sangat sesuai dengan ijasah dan pendidikan kamu. Kenan menawari kamu tempat di
perusahaannya?” tanya Lio lagi, Lio bukan orang yang bodoh, ia tahu pasti apa
yang menjadi motivasi Kenan mendekati Manda.
“Iya, seperti yang aku bilang tadi, ia pengin aku jadi
asisten pribadinya. Tapi ia memaksa aku menerimanya atau ia akan membeberkan
apa yang aku lakukan di klub kepada keluargaku.”keluh Manda dengan suara lirih,
ia takut kalau ada yang mendengar percakapannya dengan Lio.
“Baiklah, sementara kamu ikuti apa yang ia inginkan, aku
sudah kirim orang untuk menjaga kamu dari jauh, kamu jangan kuatir, bahkan aku
juga tahu apa yang kamu lakukan dalam beberapa waktu ini. Kamu gak usah cemas, aku pasti tepati janji aku, dan aku akan segera melamar kamu.” Kata Lio tanpa ada nada romantic disana. Membuat
Manda seperti dilempar dari atas pohon toge. Apa apaan nih, orang melamar kok
kayak orang ngomong sama bawahannya kalau besok akan diadakan cuti bersama.
Datar, arogan dan tanpa ekspresi. Manda hanya bisa memutar bola matanya dengan
malas.
.
.
__ADS_1
.
TBC