Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
16.


__ADS_3

 “Aku emang ga tau apa


yang kamu rasakan, tapi aku tahu apa yang terjadi pada malam itu.” Kata Kenan


dengan nada lembut sambil memegang bahu Manda dan merengkuhnya dalam


pelukannya.


Manda berusaha menjauhkan badannya dan memandang Kenan


dengan mata bulatnya yang indah. Ia bingung lagi. Apa lagi yang diketahui oleh


laki laki ini? Apa dia tahu kalau ternyata ia sudah tidak perawan lagi? Pikir


Manda dengan cemas. Bagaimana dia tahu? Gawat!! Keluarganya bakalan tahu dan ia


akan semakin terjerat oleh laki laki ini.


“A aapa yang kamu tahu? Apa yang kamu tahu di malam itu?”


tanya  Manda dengan panik. Manda berasa seperti pemain dalam film I know what you did last summer. Jelas ia ketakutan kalau sampai Kenan mengetahui semuanya dan mengatakannya kepada keluarganya.


Bisa runyam urusannya.


Kenan hanya memandang Manda dengan pandangan teduh, Manda


tercekat saat melihat ke dalam mata Kenan yang menghanyutkan. Laki laki ini


benar benar tampan selain kenyataan bahwa ia sangat licik dan gigih dalam


mendapatkan keinginannya. Manda merasakan kalau sesuatu di dalam kantongnya bergetar.


Manda mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang ada di dalam


kantongnya, yang sengaja ia buat dalam mode silent, id caller yang tertera membuat Manda harus menerima panggilan telepon itu di tempat lain, karena Manda


gak mau kalau Kenan mendengar percakapannya. Jangan bilang kalau Kenan tidak


bisa melihat id caller yang menelepon Manda karena ia posisinya sangat dekat


dengan Manda.


Ekspresi wajah Kenan berubah drastis, rahangnya mengeras


tanda ia tidak menyukai orang yang menelepon incaran hatinya, ingin rasanya


Kenan membanting ponsel Manda dan memeluknya saja supaya Manda tidak bisa


menerima panggilan dari orang yang menelepon saat ini.


Di lain pihak Manda melupakan apa yang baru saja terjadi, ia


bahkan lupa kalau orang yang saat ini di hadapannya mungkin mengetahui rahasia


terbesarnya, Manda memang sedang menantikan telepon dari orang ini.


“Kak Kenan, maaf Manda harus menerima telepon dulu. Kalau


kak Ken mau pulang, maaf Manda gak bisa nganterin kakak keluar.” Ijinnya dengan


sopan, Manda hendak segera berlalu, bahkan ia tidak menunggu jawaban dari


Kenan, ia ingin balik ke kamarnya, tapi tangan yang kuat menahan tubuhnya,


bahkan memeluknya dengan posesif.


“Aku .. ehm.. Bisa kamu beri aku beri kesempatan yang sama?


Bahkan kesempatan yang sama besarnya dengan yang menelepon kamu saat ini? Aku


akan menunggu kamu! Walau selama apapun itu.” Tahan Kenan dengan nada memelas.

__ADS_1


Kenan tidak pernah, catat.. tidak pernah sekalipun memohon pada seseorang.


Hanya dengan Amanda Djoyodiningrat sajalah ia memohon.  Ia juga gak ngerti kenapa dengan gadis ini ia


bisa begitu impulsive dan membuang seluruh harga dirinya hanya demi sebuah


kesempatan mendekati gadis dan kesempatan memiliki hati Manda.


“Kak Kenan..” sebenarnya panggilan telepon itu sudah


diterima oleh Manda,ia terburu buru ingin mendengar kabar orang yang di


seberang sana yang sudah lama tidak menghubunginya, dan juga  karena Manda tidak pernah terpikir kalau Kenan


bahkan melakukan hal ini, sehingga penelepon di seberang sana jelas pasti


mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Kenan.


“Aku menunggu kamu, ..” sahut Kenan lirih sambil menunjuk


telepon yang sudah dalam keadaan tersambung, tapi penelepon yang diujung sana


pun hanya diam mendengarkan dengan seksama apa yang sedang di lakukan oleh


Manda, sampai di satu titik Manda tersadar kalau ponselnya sudah tersambung


dengan Lio, orang yang sudah lama ia tunggu.


“Baiklah, aku menerima telepon ini di tempat lain dulu,


kakak tunggu disini, okey?” kata Manda dengan pasrah, ia tahu Kenan gak akan


berhenti sampai ia berhasil mendapatkan keinginannya, karena rahasia Manda


sudah Kenan pegang, Manda juga tidak bisa berbuat banyak selain menuruti


keinginan Kenan saat ini.


“Hu um” sahutnya pendek, Manda bergegas mencari tempat lain


Lio.


Di ruang tengah, Manda memastikan bahwa ruangan itu aman


untuk dia bisa berbincang dengan Lio tanpa adanya gangguan.


“Iya mas.” Buka Manda dengan Lio setelah sesaat lamanya


sambungan teepon itu ia gantung.


“Siapa?” tanya Lio dengan nada datar tanpa adanya emosi sama


sekali.


“Kak Kenan. Mas, kok gak ngehubungi Manda?” tanya Manda


ingin segera bisa menyelesaikan masalahnya dengan Lio juga. Ia berhari hari ini


tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ia kepikiran dengan solusi apa yang ia


harus ambil Ia juga belum tahu apakah dengan hubungan satu malamnya membuahkan


sesuatu di dalam perutnya, Manda bahkan juga belum berani untuk periksa, ia


sudah sangat ketakutan menghadapi hari harinya tanpa kabar dari Lio.


“Kenan Louis Avendra? Kenapa dia bersama kamu?” tanya Lio


tanpa menjawab pertanyaan Manda, yang jujur membuat Manda menjadi kesal. Sudah


lama gak menghubungi, kalau ngomong flat dan datar kayak jalan tol, eh ditanya

__ADS_1


malah balik nanya.


“Ehm dia kenal gitu sama keluarga aku, dan mau invest di


tempat keluarga aku, selain itu ia juga tahu kalau aku kemarin pergi ke klub tanpa


ijin sama keluarga aku dan menjadikannya senjata untuk aku mengikuti kehendaknya


agar aku kerja di tempatnya dia sebagai asisten pribadinya gitu deh. Aku juga


takut dengan kemungkinan kalau ia tahu tentang apa yang terjadi sama aku di


malam itu.” Jelas Manda dengan jujur. Manda emang orang yang polos dan jujur,


makanya seringkali ia ditipu oleh teman temannya karena kebaikan dan


kepolosannya itu.


Lio mendesah dengan suara yang cukup keras dan kemudian


berkata.


“Manda, kamu sudah menerima surat panggilan kerja dari


Perdana Corp? “ tanya Lio lagi.


“iya, tapi ayah gak setuju. Ia gak mengijinkan aku buat


kerja disana. Eh by the way, kok kamu bisa tau?” tanya Manda dengan nada heran.


“Iya aku yang menyuruh bawahan aku untuk menghubungi kamu.” Jelas


Lio lagi masih dengan nada kebanggannya, tanpa ekspresi.


“Jadi kamu pemilik Persana Corp?” tanya Manda sambil menutup


mulutnya dengan tangan kanannya.


“Bukan, itu perusahaan milik keluarga kok. Aku pikir itu


sangat sesuai dengan ijasah dan pendidikan kamu. Kenan menawari kamu tempat di


perusahaannya?” tanya Lio lagi, Lio bukan orang yang bodoh, ia tahu pasti apa


yang menjadi motivasi Kenan mendekati Manda.


“Iya, seperti yang aku bilang tadi, ia pengin aku jadi


asisten pribadinya. Tapi ia memaksa aku menerimanya atau ia akan membeberkan


apa yang aku lakukan di klub kepada keluargaku.”keluh Manda dengan suara lirih,


ia takut kalau ada yang mendengar percakapannya dengan Lio.


“Baiklah, sementara kamu ikuti apa yang ia inginkan, aku


sudah kirim orang untuk menjaga kamu dari jauh, kamu jangan kuatir, bahkan aku


juga tahu apa yang kamu lakukan dalam beberapa waktu ini. Kamu gak usah cemas, aku pasti tepati janji aku, dan aku akan segera melamar kamu.” Kata Lio tanpa ada nada romantic disana. Membuat


Manda seperti dilempar dari atas pohon toge. Apa apaan nih, orang melamar kok


kayak orang ngomong sama bawahannya kalau besok akan diadakan cuti bersama.


Datar, arogan dan tanpa ekspresi. Manda hanya bisa memutar bola matanya dengan


malas.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2