
" Good morning, baby!! Can I have my morning kiss now?" kata Lio dengan suara serak.
" Kamu sudah bangun dari tadi kah mas?" tanya Manda, sambil menggeliat seluruh tubuhnya serasa kaku. Tidak terhitung berapa kali laundry yang dilakukan oleh Lio kepada Manda tadi malam, kayaknya Lio tidak pernah puas kalau cuman sekali. Untung saja Manda bisa mengimbanginya.
" Yup, dari sejak subuh tadi. Mas lagi memandangi anugerah Tuhan yang diciptakan khusus buat mas!" rayu Lio lagi sambil membelai tubuh Manda yang masih polos.
" Ck kamu ini mas. Kenapa kamu nggak bangunin aku Mas? Jadi kan kita bisa salat subuh bareng.
" Nggak papa. Mas gak tega bangunin kamu, kayaknya kamu capek banget."
" Ya jelas aja capek toh mas. habisnya kamu itu kalau minta jatah nggak kira kira. " rajuk Manda sambil memanyunkan bibirnya.
" He he he habisnya tubuh kamu itu mengandung candu, kayaknya Mas nggak akan pernah puas. Pinginnya masuk lagi lagi dan lagi.
" Emang sekarang sudah jam berapa?" tanya Manda sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, dia juga segera mencepol rambutnya yang panjang agar ia bisa segera melakukan aktivitas nya pagi itu.
" Masih jam 6 pagi, masih cukup waktunya kalau kamu mau kasih Mas jatah satu lagi." goda Lio yang membuat mata Manda melotot kesal.
" Jangan macam-macam deh Mas, Ini sudah waktunya kita siap-siap. Katanya kamu mau pergi kerja lebih pagi, dan kamu kan harus nyamperin aku dulu ke kantor LT." kata Manda sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sebelum ia masuk kedalam kamar mandi. Seperti biasa tingkahnya itu membuat Lio semakin geli, karena dengan begitu tubuh Lio menjadi terekspos, untung saja tadi ia sempat pakai baju dan celana selepas sholat subuh tadi.
" Jangan lama-lama mandinya Sayang, mas akan ke bawah dulu untuk bikin sarapan buat kita." teriak Lio sambil segera keluar dari kamar menuju ke dapur.
" Iya!" balas Manda singkat dari dalam kamar mandi.
***
__ADS_1
sesudah sarapan dan membereskan semua barang yang akan mereka bawa, Manda dan Leo langsung keluar dari apartemen mereka untuk segera berangkat ke kantor. tadinya Manda ingin berangkat sendiri ke kantor LTE, namun kemudian Rio memutuskan untuk mengantar Manda dulu sebelum ia berangkat ke kantor Perdana.
" Kamu yakin kalau kamu nggak butuh Bodyguard buat ngawal kamu hari ini?" tanya Lio sekali lagi, entah kenapa ia merasakan sebuah perasaan aneh yang tidak dapat ia gambar kan.
" Nope, nanti sesudah aku berberes berkas di kantor, kamu langsung kirim aja sopir, untuk mengantar aku dan Mbak Agni ke cafe yang akan kita tuju." kata Manda ingin menenangkan Lio. Karena sebenarnya Manda Bisa nyetir sendiri, dia cuma tidak mau Lio menjadi khawatir. Dengan adanya supir pribadi yang dikirim oleh Lio paling tidak membuatku sedikit kekawatiran Lio menjadi hilang.
" Baiklah nanti aku akan menyuruh Pak Joko, sopir pribadi ibu untuk membantu kamu. soalnya sekarang ibu jarang pergi pergi kemana-mana. Lagian paling tidak Pak Joko itu memiliki keahlian bela diri, jadi kupikir Pak Joko nanti bisa menjadi Bodyguard kamu sementara."
" Oke bos. Kalau aku sih nurut aja sama kamu. Yang penting kamu jangan khawatir lagi ya! Aku akan berusaha untuk tetap hati-hati." lalu Manda mengecup pipi Lio dengan mesra, juga meraih tangannya untuk dicium, dan Lio pun membalas dengan mencium kening istrinya cukup lama seakan tidak rela untuk meninggalkan istrinya bekerja sendiri.
***
" Sialan ternyata Saka dan Alana bakal terlambat untuk meeting pagi ini. Mudah-mudahan saja klien hari ini tidak rumit dan bikin susah. Sudah gitu mintanya harus ada aku disini. Padahal kan pemegang saham terbesar dan CEOnya kan Saka. Sedangkan aku kan hanya CFO, asisten, atau bisa dibilang wakil Saka aja." monolog Lio dalam hati, seakan ada perasaan tidak tenang saat ia menunggu klien, di ruangan meeting hotel All 4 Rose, yang sebenernya masih anak cabang dari hotel Perdana.
" Paa pagi." jawab Lio tergagap, bukan karena gugup tapi lebih karena terkejut.
" Kok mukanya kaget seperti itu sih?" tanya wanita cantik yang menangkap keterkejutan di wajah Lio.
" Bukannya kamu, Najla? Kamu kan pemilik butik dan beauty shop?" tanya Lio dengan heran.
" Ya betul sekali, cuman aku ingin memanfaatkan uangku untuk berinvestasi di bidang properti juga. dan pilihannya aku ingin bergabung dengan Perdana corp. Mestinya kamu senang dong kalau ada klien yang ingin menanamkan atau menginvestasikan uangnya di tempat kamu, kok malah kamu kesannya curiga." kata Najla dengan suara sedih.
" Oh Sorry Bukan begitu maksud aku, aku cuman kaget aja. Tapi kamu benar-benar udah memantapkan ingin berinvestasi dan join di tempat kita kan? Tentu saja keuntungannya akan lumayan kalau kamu join di bidang properti saat ini. Jadi uang kamu akan berlipat ganda dibandingkan kalau kamu hanya menyimpannya di bank saja." kata Lio menjelaskan.
" Tentu saja, aku percaya kok dengan kamu. Oh ya kenal kan ini om aku, dia yang mengajarkan aku dan memaksa aku untuk join bersama kamu. Ya aku pikir boleh lah, daripada uang hanya ditaruh di bank dan tidak diinvestasikan untuk apa-apa." lanjut Najla dengan suara yakin. Sedangkan Om yang dikenalkan oleh Najla itu hanya tersenyum tanpa memperkenalkan diri, tapi Lio tidak ambil pusing karena memang yang akan menandatangani MOU adalah Saka dan Najla,karena Saka belum datang, jadi itu akan diwakilkan oleh dirinya.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu jadi kita bisa menandatangani kesepakatannya sekarang?" tanya Lio lagi.
" Ha ha ha, kamu kok kayaknya enggak sabar, Mungkin kita bisa cicipin dulu makanan yang tersedia di sini bukan?" tanya Najla dengan harapan ia masih bisa melihat Nando nya lebih lama.
" Maaf kalau aku kesannya kurang sopan, mungkin karena aku hari ini memiliki jadwal yang sangat penuh jadi aku kesannya terburu-buru. Baiklah mari kita mencicipi snack juga minuman yang sudah di sediakan disini." kata Lio sambil mempersilahkan tamunya untuk makan. Sementara dirinya juga menyempatkan diri untuk mengecek ponsel apakah ada panggilan atau pesan dari Manda ataupun Saka.
Lio pun turut menikmati makanan yang tersedia tanpa memandang ke arah Najla yang sedari tadi memperhatikan keberadaannya. Najla hnya mendesah karena pria yang ia kagumi selalu bersikap dingin saat bersamanya.
Tiba tiba, Najla melihat Lio yang memegang kepalanya, kemudian ambruk begitu saja tanpa kata. Najla kelihatan panik, tapi pria paruh baya yang notabene adalah pamannya itu hanya tersenyum penuh misteri.
Najla sontak maju untuk menolong Lio, dia memeluk, menyandarkan Lio di dadanya dan mencoba menyadarkannya. Bahkan Najla membuka jas Lio serta mengendurkan dasinya supaya Lio dapat bernafas. Kemudian.si om menyuruh Najla untuk memapah Lio dan membawanya masuk ke kamar yang akan ia pesan.
Akan tetapi ada sepasang manusia yang menatap kejadian itu sambil saling pandang, dan mencoba mengikuti permainan yang tersaji di depannya.
Arggghhhh
.
.
.
TBC
*** Jangan lupa untuk tetap dukung tor dengn like setiap kali membaca 1 chapter, gift di semua bab, dan vote setiap minggu. Makasiiiiđź’‹
__ADS_1