Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
37.


__ADS_3

" Baiklah pagi ini aku akan memanggil penghulu, unyuk menikahkan aku dan Manda dulu, bagaimana?" tanya Lio lagi.


" Lalu siapa walinya, Joe? Gak mungkin kita jugakan? Ayah bisa marah besar kalau itu terjadi." lanjut Joz dengan nada cemas. Gak ada alasan yang baik tanpa berbohong dengan ayahnya. Dan kembar ga mau membohongi ayah ibunya.


" Tapi aku sudah ga mau berbohong lagi." kata Lio dengan nada tegas,sudah cukup ia mengikuti keinginan Manda dengan menunda keinginannya menikahi Manda eh malah berbuntut panjang seperti ini.


" Sama, kami juga ga mau berbohong, tapi kasihan Manda, pasti ayah akan marah besar kalau sampai ketahuan, sebenernya niat aku sih jangan sampai tahu." kata Joe memikirkan nasib Manda.


" Aku yang akan bertanggung jawab untuk ngomong sama ayah. Aku ga mau lagi membohongi ayah dan ibu." ujar Lio sendu, ia ingat kalau ia sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Sekalipun ayah Langit dan ibu Irsyana sangat menyayangi dirinya dan tidak pernah membedakan dengan Saka tapi ia juga rindu dengan ayah ibunya sendiri.


" Apa kamu sudah bilang dengan orang tua kamu?" tanya Joz.


" Sudah!"


" Mereka tahu kalau Manda...?"


" Ehm mereka ga tau, tapi adikku tahu... hanya dia yng tahu."


" Adik kamu itu yang seharusnya dijebak bersama Manda?"


" Iya."


" Kalau Vella sendiri sekarang ada dimana?" tanya Joz, ia masih geram dengan wanita la×nat itu.


" Joz, kita bicarain ini dulu. Gimana ini? Tetap seperti rencana semula atau gimana? Urusan Vella kita urus belakangan." potong Joe dengan cepat, ia tahu kalau kembarannya masih emosi dengan Vella.


" Vella sudah kita ringkus sehubungan dengan kejahatan pamannya, ia juga melakukan penggelapan dana perusahaan, bekerja sama dengan pamannya. Niatnya adalah ia ingin dinikahi oleh adikku, karena adikku adalah pewaris Perdana corp dan ia tergila gila dengan adikku yang sangat tampan. Padahal adikku itu sudah memiliki istri dan anak." jelas Lio dengan gamblang pada kedua kakak kembar Manda.

__ADS_1


" Jadi bagaimana? Kita jujur sama ayah?" tanya Joe kembali ke topik semula. Ia adalah orang yang rinci. Apapun yang ia lakukan harus berres dan ada hasil yang memuaskan.


" Besok pagi aku yang akan mengatakan segalanya. Biarlah aku yang akan menanggung kemarahan ayah. Jangan sampai ayah memarahi Manda, aku tidak tega. Tapi kalian harus membantuku, supya ayah tetap mengijinkan aku untuk menikahi Manda." kata Lio dengan tegas.


" Baiklah. Kami akan pulang dulu solnya ini sudah dini hari juga. Jam 9, pagi kami tunggu di rumah. Tenang saja, kami akan mengatur semuanya. Kalau bisa dibereskn besok, ada baiknya akadnya besok saja." kata Joe.


" Jangan, takutnya kalau orang menduga yang tidak tidak kalau akadnya sekarang dan resepsinya sebulan lagi. Gini aja kalau menurut aku lebih dipercepat aja pernikahannya,gimana kalau 2 minggu lagi?" potong Joz dengan cepat, kayaknya ia merasa ini adalah hal yang paling baik.


"Hmm bener juga tapi kalau menurut aku tetep 1 bulan lagi aja Joz, akadnya pas itu juga deh. soalnya kalau kecepeten ntar keluarga yang di Solo dan Jogja bisa syak dengan Manda, dikira Manda hamil duluan loh." sanggah Joe lagi. Lio hanya menatap Joe dan Joz bolak balik. Kayaknya di yang akan menikahi Manda tapi mereka yang ribet.


" Sudah sudah, kalian malah yang bingung. Kita putuskn setelah mendengar apa yang akan di perintahkan oleh ayah,dan kita tinggal nurutin aja. Asal jangan disuruh batal nikah sama Manda kalau aku sih ga masalah. " potong Lio, karena perdebatan ini ga akan selesai kalau ga digituin.


" Huh!! Ya udah .. kalau gitu kami pamit dulu. Asalamualaikum.. maaf untuk itu." kata Joz sambil menunjuk bibir Lio yang terluka akibat bogem mentahnya. Joe malah nyengir kuda, melihat kembarannya salah tingkah gara gara tadi terlalu emosi.


" Its okey, bro. Itu juga yang akan aku lakukan kalau ada keluarga ku yang tersakiti. Jadi aku mengerti dan ga membalas." jelas Lio santai.


" Eh, kalian tahu no telponku dari mana?"


" Dari ponsel Manda lah!" kata Joe sambil menepukk kantongnya yang berisi ponsel Manda yang ia bawa.


" Hmm, tolong kembalikan sama Manda ya, aku takut dia khawatir dan ga bisa tidur sekarang. Karena aku tahu pasti kalau dia pasti memikirkan solusi dari permasalahan ini.


" Iya, pulang dari sini aku akan menyuruh dia menghubungi kamu. Itukan maksudmu?" tanya Joe lagi sambil berdiri dari sofa yang ia Joz dan Lio duduki


" Eh satu lagi, kita lupa membahas masalah Kenan. Dia juga ingin melamar Manda. Gimana dengan solusi buat dia." tanya Joz segera. Ia ingat masalah Manda dan Kenan.


" Besok saja kita bicarakan lagi, .."

__ADS_1


" Tapi kamu kan tahu kalau Kenan menanam saham.di tempat kita, akankah ini berdampak dengan investnya di tempat kita?" tanya Joz lagi.


" Kalau seandainya Kenan melakukan itu, biarlah aku yang akan mengatasinya. Kalian ga perlu khawatir. Kalau perlu aku juga akann menanam modal di perusahaan kalian, tapi nanti investasinya atas nama Manda saja." sahut Lio enteng.


" Baiklah nanti itu akan kita bahas lagi. Yang penting kita mempersiapkan untuk yang besok dulu. Terutama untuk kamu, Yo! Tapi aku yakin ayah bakalan menerima kamu. Tenang saja. Jangan lupa malam ini kamu banyak berdoa dulu, supaya bisa jadi adik ipar kami." lanjut Joe dengan terkekeh geli dengan bayangannya sendiri.


" Sialan kamu!" Lio memukul bahu Joe dengan main main, ia senang sekarang ia amalh tambah akrab dengan kedua kakak Manda.


" Kami pulang, bro!! " pamit mereka dengan Lio sambil berjalan menuju ke pintu keluar.


" Hmm.. becarefull bro!" Lio langsung menutup pintu keluar saat kedua kakak Manda sudah pulang dan menguncinya dengan pasword.


Sebenernya Lio hendak beristirahat, karena setelah berjibaku dengan kedua kakak Manda, raganya lelah. Ia ingin merebahkan badan untuk bersiap jam 9 di rumah Manda.


Membereskan betkas dam laptop yang ada di meja kerjanya, ia lalu mengambil ponsel yang sengaja ia taruh di meja kerjanya pada saat kedua kakak Manda datang.


Lio kaget saat ia melihat ada puluhan misscall dari nomer yang ia tidak kenal. Tapi setelah ia lihat lagi, ia baru sadar bahwa itu nomer rumah pribadi Manda. Dan last calllnya baru beberapa menit yang lalu. Astaga!! Lio melirik ke jam dinding yang ada di ruangan kerjanya. Ia melihat kalau ini bahkan sudah hampir jam 02.30 WIB. Berarti Manda belum tidur? Karena last callnya baru saja. Gimana enaknya? Telpon atau tidak ya? pikir Lio bingung. Gak enak juga kalau menelepon maalam malam begini. Eh ini bahkan sudah dini hari, kalau ditelepon kemudian ayahnya kebangun gimana? Kalau tidak ditelepon pasti Mandanya malah ga bisa tidur. Dilema Lio!!


.


.


.


TBC


** telpon gak telepon gak telepon gak.?? He he he. jangan lupa yang sudah baca klik like dulu ya.. kalau suka boleh kasih votenya... makasihh

__ADS_1


__ADS_2