Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
97.


__ADS_3

Tok tok tok.


" Oh Masuklah..." kata Alana mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


" Nyonya, kami mengantar makan pagi buat nyonya muda." kata salah satu perawat dengan nada santun. Perawat yang masuk ini adalah perawat kepercayaan keluarga Perdana. Hanya orang orang tertentu yang bisa melayani keluarga Perdana. Mereka biasanya sudah mengalami seleksi khusus sebelum mereka diijinkan untuk melayani keluarga Perdana dan bisa masuk lantai dimana ruangan daerah terlarang VVIP berada.


Bukan cuma perawat saja, bahkan sekelas dokter adalah dokter-dokter pilihan saja yang sudah melewati seleksi tertentu yang bisa masuk ke area lantai dimana ruang VVIP berada. Lantai dimana ruang VVIP berada di jaga secara khusus oleh pengawal-pengawal keluarga Perdana, mereka benar-benar pengawal yang dipilih langsung oleh ayah Langit.


" Taruh saja makanan itu di nakas. Nanti aku yang akan mengurusnya." perintah Alana dengan nada lembut. Memang sekalipun Alana ini sudah menjadi nyonya besar dari keluarga Perdana, Tetapi dia memang dikenal sebagai orang yang baik hati dan selalu sopan kepada siapapun baik itu dari kalangan atas maupun dari kalangan bawah, jadi tidak heran kalau Alanna sangat disukai oleh para pekerja yang bekerja di rumah atau yang mengelilingi dia di kantor.


" Baiklah nyonya, kalau tidak lagi ada yang dibutuhkan saya pamit undur diri." izin perawat itu dengan nada sopan.


" Silakan!" kata Alana dengan senyum dibibirnya.


Tanpa banyak berkata-kata lagi perawat itu langsung menunduk kemudian berbalik ke arah pintu masuk tadi dan segera meninggalkan mereka berdua sendirian.


" Nah sekarang sudah waktunya kita sarapan. Setelah kamu sarapan, kamu lekas minum obat, sehingga kamu akan cepat sembuh dan bisa beraktifitas seperti semula lagi. Ingat kamu masih ada Lio, kalian harus saling menjaga." nasihat Alana sambil menyuapkan makanan ke Manda.


"Emang kamu sendiri enggak makan, La?" tanya Mnda dengan kening berkerut. Masa ia makan sendirian.


" Aku tadi sudah sarapan bersama Saka di rumah. Nanti kalau aku lapar, aku bisa memesan makanan lagi, tenang aja sekarang kamu makan dulu!" kata Alana sambil masih telaten menyuapi Manda. Manda pun mencoba untuk memakan makanannya dengan segera ealau sebenarnya ia maaih belum selera. Tapi ia ga mau merepotkan Manda lebih lagi. Setelah 5 suap, Manda menolak makanan itu dengan alasana sudah kenyang. Alana pun ga mempermasalahkan sejauh Manda sudah memakan makanannya agar Mnda bisa minum obat.

__ADS_1


" Makasih, La!" kata Manda sambil tersenyum tipis.


Tok tok tok...


" Kamu itu kayak artis deh, Man." goda Alana mendengar suara ketukan di pintu Mnda. Ya emang sekarang Alana manggilnya Mnda saja, karena Amanda risih di panggil kakak.


" Loh kamu disini, Laa?" tanya ibu Irsyana dengan nada kaget.


" Iya, bu. Hari ini Lala jadi suster perawat Manda." goda Alana kepada sang ibu mertua. Kemudian segera mencium tangan ibu mertuanya itu dengan takjim. Manda ingin mengikiti Alana tapi segera dimarahi oleh ibu Irsyana.


" Ealah Mandaa, jangan turun dari ranjang dulu. Udah ga pa pa kamu di ranjang aja, kamu kan masih sakit. Kayak sama siapa aja sih kamu." gerutu ibu Irsyana dengan cemberut. Ia takut mantunya kenapa kenapa. Bisa bisa Lio mengadakan gencatan senjata.


" Iya, Man. Udah kamu bobok cantik aja. Biar kita yang melayani kamu." kata Alana sambil tertawa kecil melihat Manda salah tingkah.


" Gimana sayang kondisi kamu sekarang? Hmm? Ibu harap kamu bisa kuat menghadapi semua. Allah selalu memberikan ujian kepada umatnya seturut kekuatannya. Jadi ibu yakin kalau kamu pasti bisa ya!!" kata ibu sambil meraih bahu ringkih menantunya itu.


" Ibu tahu?" mata Manda sudah kembali berkaca kaca. Taoi ibu langsung menghapus air mata Amnada.


" Anak ibu pasti kuat, ibu percaya itu. Kita penopang penopang laki laki keluarga Perdana emang ditakdirkan untuk menjadi wanita wanita kuat dan tegar. Jangan menyerah. Lio akan hancur kalau kamu menyerah, sayang!" nasihat yang sama dilontarkan ibu kepada Amanda, membuat dirinya bersemangat untuk bangkit dari keterpurukan. Amanda tidak melihat Ayah Langit, ia yakin pasti ayah ingin kalau para wanita aja yang saling curhat supaya saling menguatkan.


" Makasih ibu." Manda kembali terisak gara-gara terharu melihat perhatian ibu Irsa na yang lebih daripada ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


" Eh lho kok nangis lagi sih!" goda ibu dengan tersenyum kecil.


" Nah si Lio nya kemana tuh, La? Kok enggak ada di sini. " tanya ibu sambil celingak-celinguk kesana kemari melihat Apakah jangan-jangan Lio sedang mandi di kamar mandi. Alana jadi kebingungan dia nggak mungkin toh jujur kalau Lio dan Saka sedang ada di markas karena Vela sudah ditemukan, akhirnya Alana memutuskan untuk mengatakan seperti yang dia katakan tadi sama Amanda.


" Lio saat ini sedang bersama Saka, biasalah Bu, mereka sedang mengurus pekerjaan ya nggak bisa ditinggalkan oleh mereka, jadi hari ini Alana disewa oleh Lio untuk menjadi perawat yang merawat Amanda secara eksklusif." kata Alana sambil mengedipkan matanya dengan genit, ekspresinya membuat ibu dan Manda tersenyum. Alana emang paling bisa kalau untuk mencairkan suasana. Melihat ibu tidak lagi bertanya tentang Lio, hati Alana sedikit lega. Padahal biasanya dia tidak pernah berbohong dengan ibu mertuanya itu, tapi apalah daya dia kan juga harus menjaga perasaan Manda.


" Ibu sangat senang Manda kalau kamu sudah bisa tersenyum dan bisa bangkit dari keterpurukan kamu. Kamu pasti bisa melewati segala sesuatunya. Ingatlah kalau anak itu adalah titipan, kamu tidak usah sedih dan banyak-banyaklah berdoa, Insya Allah, pasti akan ada ada gantinya." kata ibu menasehati dengan lembut. Manda mengangguk, dia ingin segera keluar dari rumah sakit, rasanya dia sudah bosan di sana, dia juga ingin menyenangkan suaminya, dia kasihan kalau suaminya harus selalu menjaganya.


" Aku kepingin segera pulang dari rumah sakit,La. Apakah bisa?" tanya Amanda kepada kedua wanita yang duduk di depannya itu. ibu dan Alana saling berpandangan, mereka juga tidak bisa memutuskan Apakah Amanda bisa langsung pulang atau tidak, namun setahu Alana sebenarnya Amanda tidak ada sakit apa apa kecuali luka luka luar yang hanya butuh perawatan ringan dan luka hati alias psikis nya yang sedikit terganggu pasca pelecehan itu.


" Aku akan tanyakan sama bang Rangga deh, kalau kulihat sekarang sih, kayaknya kamu sudah cukup sehat untuk di bawa pulang sih." kata Alana sambil terkekeh, soalnya dia jadi merasa seakan dirinya adalah dokter yang bisa menentukan Manda bisa pulang atau tidak.


" Sok tau ah kamu, La!" dengus ibu mertuanya yang disambut oleh tawa Alana yang juga merasa kalau dirinya emang sok tau.


.


.


.


TBC

__ADS_1


** hbs ini sesi Vella... apa yang akan terjadi ya.? Maafkan thor yang bbrp hari ini ga up. Banyak kerjaan banget di dunia nyata. Cape bangetttt!! Jangan lupa kasi like, vote dan giftnya yaaaa... thank you. Happy reading.


__ADS_2