
Ayah dan ibu mengikuti dokter Arman dan Rangga yang akan berdiskusi di ruang kerja Rangga. Merka berempat berpapasan dengan Alana dan Saka yang masih ada di depan pintu Lift.
Saka masih coba menenangkan Alana yang tadi tampak stres dengan kondisi Lio dan Manda.
" Eh kalian kok malah di sini?" tanya ibu saat melihat Saka dan Alana yang yang sedang berdiskusi di depan pintu lift.
" Kalian mau kemana?" tanya Saka tanpa menjawab pertanyaan ibu.
" Kami mau membahas tentang kemungkinan-kemungkinan langkah penyembuhan untuk Lio, menurut dokter Arman kemungkinan untuk menjadi sembuh sangatlah besar, karena saat disuntikkan obat penawar tadi reaksi Lio menjadi tenang. jadi kita berdoa saja supaya ya kondisi Lio akan cepat pulih dan bisa melewati malam ini dengan selamat." jelas Rangga dengan nada santai, Karena sejujurnya entah kenapa ia merasa yakin kalau Lio tidak akan kenapa-kenapa.
" Amin ya robbal alamin, mudah-mudahan ya Allah." kata Alana sambil mengusap wajahnya. Yang lainnya pun melakukan hal yang sama, mengaminkan setiap perkataan positif yang diperkatakan oleh Rangga tadi.
" Kalian mau ikut sekalian membahas progres dan langkah selanjutnya untuk kesembuhan Lio juga untuk kesehatan Manda? soalnya Kami berempat Rencananya akan berbincang-bincang di ruangan aku supaya ya bisa lebih enak ngomongnya." kata Rangga sambil menekan tombol lift untuk segera naik ke ruangannya.
" Bagaimana dengan kondisi Leo dan Manda? nggak apa-apa nih mereka ditinggal begitu saja?" tanya Saka dengan nada datar andalannya.
" Biarkan Manda yang menstimulasi Lio sehingga Lio mau bangun dari pingsannya. Mudah-mudahan saja langkah yang kita lakukan ini berhasil." kata Rangga lagi. Sedangkan Ayah Ibu dan dokter Arman hanya mengangguk-angguk tanda mereka setuju.
" Okelah kalau gitu itu kita sekalian ikut keruangan kamu untuk membahas tindakan selanjutnya mengatasi Vella yang belum ketangkap." kata Alana sambil mengikuti mereka berempat yang sudah melangkah masuk kedalam pintu lift yang terbuka.
Sementara di ruang rawat inap Lio dan Manda, hanya ada kesunyian. Manda hanya bisa duduk di samping Lio. Ia tidak peduli dengan kondisinya yang juga masih lemah dan juga kondisi dirinya yang masih hamil, ia tetap berjaga di samping suaminya.
Padahal ibu dan ayah sudah berpesan kalau Manda harus istirahat. Karena ayah ibu Mnda sudah menitipkan Manda kepada mereka. Awalnya ayah ibu Manda ingin pulang ke Jakarta setelah mendengar kabar Lio dan Manda di rumah sakit, tapi ayah Langit menyarankan kalau mereka menunda perjalanannya dari jogja ke Jakarta besok aja. Takut kalau keburu buru malah akan ga baik. Ya, mereka berempat, ada di Jogja karena Eyangnya Manda sakit keras, jadi semua anggota keluarga yang di rumah Manda ke jogja pagi tadi.
__ADS_1
Tadinya ibu dan ayah Langit ingin memesan kamar VIP di samping kamar Manda dan Lio, rencananya mereka ingin bergantian menjaga Manda dan Lio. Tapi Manda berkeras agar ayah dan ibu tidak tidur di rumah sakit, alasannya karena dia tidak ingin merepotkan ibu dan ayah. Karena Manda memaksa, Ibu tidak memaksa untuk tidur di rumah sakit tapi sebelumnya ibu juga sudah memberi wejangan agar Manda tidur di bednya sendiri. Gak boleh begadang dan segudang nasihat lainnya yang akhirnya hanya di masukin ke telinga kanan keluar telinga kiri karena pada kenyataannya Manda hanya mau ada di samping suaminya yang masih belum sadarkan diri.
" Mas... bangun dong! Jangan gini. Aku takut, aku kan ga bisa punya anak kalau sendiri, aku juga takut kalau kamu ga ada." monolog Manda yang hanya sendirian di dalam ruang rawat inap itu.
Manda terus-menerus meracau memegangi lengan Lio dan sesekali mengguncangnya dengan perlahan, ia berharap dengan perkataannya dengan guncangannya Lio akan terbangun, tapi usahanya nihil, Lio tetap saja tertidur dengan tenang. sampai akhirnya Manda tertidur karena kelelahan.
Tak lama kemudian Lio membuka matanya, ternyata dirinya sedang ada di sebuah tempat tidur yang terletak di ruangan berwarna serba putih. Lengannya digenggam erat oleh sebuah tangan mungil, ternyata tangan seorang wanita yang tertidur di samping tempat tidurnya.
" Amanda sayang." panggilnya lirih.
gerakan tangannya serta panggilan itu membuat Amanda serta merta bangun dari tidurnya.
" Mas, kamu sudah sadar? Ya Allah Alhamdulillah!" katanya sambil mengecup tangan Lio. Sedangkan tangan yang lain menekan tombol help di nakas samping ranjang Lio. Manda memanggil dokter jaga.
" Sabar ya, mas!!"
" Ini rumah sakit?" tanya Lio lagi.
" Iya, mas. Kamu ga inget apa apa?" tanya Amanda dengan nada was was. Amanda khawatir kalau-kalau Lio benar amnesia, tapi ia gak yakin karena Lio ternyata bisa memanggil nama Amanda dengan benar.
" Aku ingat terakhir kali aku ada meeting bersama dengan Najla dan Pamannya, setelah itu...arggh kenapa kepalaku sakit ya, sayang?" tanya Lio sambil memegangi kepalanya, Tak lama kemudian dokter juga suster beserta Rangga masuk ke dalam ruang rawat inap Lio dan Manda. Manda teringat dengan apa yang ia lihat di layar CCTV, saat Lio mengatakan tentang pertemuannya dengan Najla. Berarti Lio ini jujur karena dia tidak menutupi pertemuannya dengan Najla, kemungkinan yang dikatakan oleh Alana dan Saka ada benarnya, posisi Lio saat itu sudah tidak sadarkan diri. Manda menghela nafasnya dengan lega, artinya suami tersayangnya tidak melakukan kecurangan atau perselingkuhan.
" Sudahlah kamu jangan banyak berpikir dulu yang penting sekarang kamu menurut sama dokter ini dulu ya, aku akan balik ke ranjangku di situ supaya dokter bisa memeriksa kamu dengan benar."
__ADS_1
" Hei bro! Kamu sudah sadar? Kamu ingat nggak aku ini siapa?" tanya Rangga dengan senyum smirk yang menghiasi wajahnya yang tampan. Liu hanya memutar bola matanya dengan tatapan kesal.
" Siapa ya kamu? Aku nggak kenal tuh!" kata Lio dengan cuek. Rangga kebingungan apa jangan jangan kemungkinan analisanya tentang Lio amnesia bisa jadi benar.
" Wah Manda ternyata dia lupa ingatan, Nanti bilang saja kalau kamu istriku." kata Rangga mencoba menguji apakah benar Lio hilang ingatan atau tidak. Karena wajah Lio menunjukan yang sebaliknya.
" Enak saja kamu! Kalau kepingin punya istri itu cari sendiri jangan ngembat istri orang lain. Dosa tau nggak!" kata Lio dengan ketus.
" Lah aku pikir dia hilang ingatan, ternyata dia hanya pura-pura lupa! padahal aku sudah senang tuh jadi aku bisa dapat istri cantik yang masih muda ditambah langsung punya anak bayi." kata Rangga sambil manyun.
" Jangan kurang ajar!!!" bentak Lio, keposesifannya keluar meski dengan tubuh yang ga sanggup melawan, karena masih lemas. Tapi Lio sedikit berpikir karena tersemat kata anak bayi di ucapan Rangga.
" Ehhh, sudahlah mas. Aku sudah ketakutan tadi saat kamu kejang kejang tadi, mas!" kata Manda sambil menenangkan Lio yang tampak marah dengan Rangga.
.
.
.
TBC
*** hari ini diusahakan up 2 ya... maaf kmrn hectic banget.. jangan lupa like, gift dan vote yaaaa thank you
__ADS_1