Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
79.


__ADS_3

" Ehhh, sudahlah mas. Aku sudah ketakutan tadi saat kamu kejang kejang tadi, mas!" kata Manda sambil menenangkan Lio yang tampak marah dengan Rangga.


" Apa maksud kamu? Aku kejang kenapa? Rangga jelaskan!!" tanya Lio kepada dengan suara menuntut.


Rangga hanya bisa mendesah karena berarti dia harus menceritakan kembali apa yang sudah terjadi tadi.


*Flashback*


Brakkkk!! pintu di ruangan rawat inap Amanda serta Lio terbuka dengan lebar, ternyata Alana yang keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.


" Ada apa, La?" tanya Saka dengan wajah semakin pucat karena ia melihat wajah istrinya yang cemas dengan air mata yang mengalir.


" Lio... mana sih Rangga? Aku sudah pencet tombol sampai .."


" Kenapa Lio?" Saka belum mendengar Alana yang menjelaskan sudah menerobos masuk ke dalam ruangan rawat inap bersama ayah dan ibu yang tambah kelihatan cemasnya.


Saka yang menerobos masuk melihat kondisi Lio yang sedang ditenangkan oleh dokter Clara. Karena dokter Clara adalah spesialis obgyn otomatis dia tidak bisa menolong banyak kondisi Lio yang sedang kejang-kejang, Manda histeris dan menangis, membuat suasana di ruangan itu semakin mencekam. Saka yang sudah dihinggapi oleh rasa bersalah, semakin merasa bersalah.


Dia berlari keluar seperti orang gila, dia ingin mencari kemanakah Rangga dan juga Dokter neurologi yang dijanjikan Rangga untuk memeriksa Lio.


Di persimpangan selasar pembatas antara ruangan VIP dan lift dia menemukan Rangga yang sedang membawa seorang dokter paruh baya dan sedang berbincang-bincang mengenai salah satu kondisi. Saka yang tidak sabar langsung menghardik Rangga.


" Kamu ke mana saja sih? Kondisinya semakin gawat! Saat ini Lio sedang kejang-kejang dan tidak ada satu orang pun dokter yang datang membantu." teriak Saka dengan nada emosi.


" Sabar Sak ! Ini adalah dokter Arman, dia adalah dokter yang akan mencoba membantu kondisi Lio. " kata Rangga mencoba menenangkan Saka. Tetapi Saka yang sudah gelap mata langsung menarik lengan Rangga dan mempercepat langkah mereka untuk menemui Lio. Sedangkan beberapa dokter dan suster keluar dari pintu lift dan bergegas datang untuk melihat kondisi si Lio, karena ternyata Ayah juga menelepon ke asisten kepercayaannya untuk mencarikan dokter agar menangani kondisi Lio secepatnya.

__ADS_1


Mereka semua melihat ke dalam untuk memastikan kondisi Lio yang sebenarnya, sehingga ruang rawat inap itu menjadi penuh dengan dokter juga suster. Rangga langsung memutuskan agar dokter dan suster lain yang ikut masuk ke dalam, untuk segera keluar dan membiarkan dokter Arman serta dirinya yang menangani Lio.


Setelah dokter Arman memeriksa kondisi serta menyuntikkan obat di dalam aliran infus yang masuk ke dalam tubuh Lio, beberapa menit kemudian tubuh Lio yang tadinya kejang-kejang jadi mulai tenang.


" Gimana dok dengan kondisi anak saya? " tanya ayah kepada dokter Arman dengan suara berat, sejujurnya Ayah sedang menahan emosinya, bagaimanapun juga Lio adalah anak yang sudah ia dan istrinya rawat semenjak Ia memutuskan untuk mengangkat Lio menjadi anaknya.


" Saya tadi tidak memberikan obat penenang tetapi saya berusaha menawarkan reaksi yang ditimbulkan oleh obat antidepresan yang dikonsumsi oleh pasien. sepertinya dosis yang diberikan oleh orang yang memasukkan antidepresan itu sangatlah tinggi, setelah saya meneliti hasil lab yang tadi sudah dilakukan saat pasien di UGD, membuktikan bahwa ada racun di dalam darah pasien. Kemungkinan ini juga termasuk reaksi negatif yang ditimbulkan oleh obat antidepresan yang ditolak oleh pasien di tubuhnya. Kalau seandainya dia bisa melewati malam ini, maka saya pastikan ia akan sembuh. Perbanyaklah berdoa! Karena untuk kasus semacam ini, berdoa saat dibutuhkan. Kadang keajaiban bisa menolong kondisi pasien." jelas dokter Arman dengan bijaksana. Ayah sudah tidak lagi bisa berkata kata. Ia hnya menunduk mendengar perkataan dokter Arman. Sedangkan ibu memeluk Manda dan Alana untuk menguatkan Manda. Sedangkan Mnda yang mendengar itu hnya bisa menangis. Dan lagi lagi, tubuhnya meluruh seperti kehilangan tenaga, kalau saja ia tidak ditopang oleh ibu dan Alana, maka sudah dapat dipastikan kalau tubuhnya bakal terjatuh di lantai rumah sakit yang dingin.


" Manda kamu harus kuat, demi suami dan anakmu, bertahanlah ada kami yang selalu men-support kamu." bisik Alana ditelinga Manda dan mencoba menguatkan Manda.


Ibu hanya mengusap-usap punggung Manda berharap Manda bisa mengerti support dirinya atas kejadian ini, dirinya bahkan tidak sanggup untuk mengungkapkan dengan kata-kata saking sedihnya. bagaimanapun, kedekatannya dengan Lio semenjak Lio ia angkat menjadi anaknya, dia membuat dirinya pun tidak sanggup menahan rasa sedih di hatinya.


Manda hanya bisa diam sembari sesekali ia menyeka kedua matanya yang yang berair, air matanya jatuh tanpa dia bisa kendalikan. Manda ketakutan, Ia takut kalau Lio kenapa-kenapa. bayangan Lio bersama Najla di CCTV tadi udah hilang dari pikirannya, dia geram dengan Vela, kalau Leo sampai kenapa-kenapa, mungkin Manda yang baik hati akan berubah menjadi seseorang yang lain.


" Kuatkan hatimu nak, ibu yakin kalau Lio pasti akan sembuh." kata ibu sambil masih memeluk mantunya itu.


" Ini semua gara gara kamu,Bby!!"


" Lho kok aku sih sayang?"


" Karena dia naksir kamu,jadinya begini."


" Dia ga naksir aku sayang. Dia ingin kekayaan aku."


" Salah satunya emang itu,tapi kan dia ngejar kamu juga."

__ADS_1


" Ya karena aku ganteng, perkasa di ranjang, juga tokcer!!" sahut Saka tidak tahu malu.


" Ohhhh, tau darimana dia kalau kanu perkasa di ranjang? Jadi kamu pernah sama..."


" Hush, ngarang!!! Sekarang fokus ke penjeblosan Vella dan antek anteknya ke penjara aja sayang." alih Saka, karena Saka takut kalau Alana bakal mencabut jatah hariannya.


" Segera!!"


" Sudah langsung dilaksanakan ibu bos."


" Aku kesallll,aku marah, Narendra Sakabumi. Aku kasihan sama Lio dan Manda, aku merasa bersalah karena mengijinkan Lio dibeginikan, dengan dalih supaya mereka percaya. Aku...." teriak Alana putus asa di dekat pintu Lift, kemudian ia menangis di pelukan suaminya. Untunv saja area VVIP itu emang diperuntukkan khusus keluarga Saka, jadi tidak ada orang yang bisa masuk kesini.


" Lio pasti sembuh, aku yakin itu!! Sudah kamu jangan nangis! Gak biasa biasanya kamu mellow." kata Saka sambil mengelus pundak Alana. Ia juga sama seperti Alana, ia merasa bersalah. Tapi bagaikan makan buah simalakama, kalau Lio lolos bisa jadi mereka menyerang Mnda.


" Aku juga nggak tahu kenapa aku merasa sedih banget, mudah-mudahan benar kata kamu kalau Lio tetap kuat dan bisa sembuh, Aku nggak mau kalau sampai kenapa-kenapa." kata Alana.


" Sudahlah, yang penting kita berdoa, salat, berharap mukjizat itu terjadi. Karena aku yakin sebetulnya Lio hanya kaget saja tubuhnya. Tapi dia pasti bisa mengatasi. Dia juga pernah belajar beladiri kan? jadi pasti ketahanan tubuhnya bagus. Dia pasti bisa melawan obat-obatan yang bereaksi di dalam tubuhnya." kata Saka sambil terus menguatkan Alana. Alana hanya bisa mengangguk lesu, berharap keajaiban terjadi.


* flashback lanjut di episode selanjutnya.*


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2