
Manda dan pak Joko, mengikuti pasangan yang sedang berpelukan yang mungkin mengarah ke kamar hotel. Pak Joko melihat ketidak beresan pada Lio dan mengkode Manda untuk memperhatikan. Tapi saat mereka berjalan untuk mengikuti Lio, ada sebuah tangan yang mencegah Manda untuk pergi mengikuti Lio.
" Kalian??" tanya Manda dengan pandangan tak percaya. Pak Joko yang ikut menoleh saat Manda terdiam dan tidak mengikuti langkahnya, jdi berbalik dan mengangguk dengan sopan.
" Tuan Muda, Nyonya... eh mbak!" sapa pak Joko sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, ini efek ia lupa kalau Alana minta dirinya dipnggil mbak aja, Alana ga suka dipanggil nyonya, dengan alasan kalau dirinya masih muda.
" Kalian kenapa disini?" tanya Manda sekali lagi, sambil melirik targetnya yng sudah menghilng dari balik pintu lift.
" Jangan kesana.." kata Saka dengn ambigu, membuat Mand mengernyitkan keningnya karena bingung.
" Maaf, mksudnya? Kalian tahu kan kalau Lio ehm.. mas Lio sedang bersama Najla?" tanya Manda lagi menanti reaksi dari mereka berdua.
Melihat reaksi mereka berdua yang mengangguk membuat Manda kecewa. Jadi, mereka merestui Lio bersama Najla, ketimbang dengan dirinya yang notabene istrinya yang sah. Manda tidak rela kalau tubuh Lio dipeluk dan dipegang oleh Najla, ia kan bukan muhrimnya. Dirinyalah yang berhak memegang dan memeluk Lio. Mengingat hal itu membuat Manda merasakan sesak di dadanya kembali lagi. Wajahnya tampak pucat, Alana menebak rasanya Manda salah paham.
" Kak, kamu jangan nerpikir buruk dulu. Memang kami tahu kalau Lio sedang bersama dengan Najla, mungkin Najla sedang menjebak Lio. Tpi tenang saja karena kami sudah tahu dan kami sedang memasang jebakan balik. Soalnya kami juga menebak kalau ini ada hubungannya dengan Vella." jelas Alana yang tidak mau kalau kakak iparnya yang masih muda itu salah paham.
" Tetapi kalian tidak mengerti, dadaku serasa sesak saat melihat suamiku ada dalam pelukan orang lain. Apa yang bakal kamu lakukan saat kamu melihat hal yang sama denganku,Alana?" tanya Manda dengan suara bergetar menahan tangis.
Alana hanya diam, dia kemudian menarik tubuh Manda dalam pelukannya, di dada Alana kemudian Manda mengeluarkan tangisannya. Alana hanya bisa menepuk nepuk punggung Mnda yang turun naik karena menangis.
Sedangkan Saka dan pak Joko ternyata sudah pergi untuk memantau situasi. Alana menarik tubuh Manda untuk masuk kedalam restoran hotel, ia mendudukkan Manda disana kemudian ia berusaha menjelaskan.
__ADS_1
" Kami sudah tahu kalau meeting pagi ini bakal menjadi saat Lio masuk ke dalam jebakan Vella. " jelas Alana dengan hati-hati.
" Bagaimana kalian tahu tentang itu? Apakah Mas Lio dijebak atau memang dia ingin berhubungan dengan Najla?" katanya Manda yang semakin bingung.
" Kamu lihatkan posisi tubuhnya Lio? Dia sama sekali tidak berdaya, dia bahkan di papah oleh Najla. Dan yang paling penting kami sudah tahu berita tentang Lio bakal dijebak itu dari kemarin, kami sengaja membiarkan Lio dijebak supaya si penjebak akan memperlihatkan diri, barulah saat itu kita akan menangkapnya, karena jujur saja saat ini kita tidak punya bukti-bukti yang kuat. Orang yang memberitahukan kepada kami memohon supaya dirinya jangan sampai ketahuan oleh si penjebak, karena taruhannya adalah kamu!" jelas Alana dengan perlahan. Ia juga tidak menginginkan kalau Manda sampai syok mendengar tentang cerita dibalik jebakan untuk Lio.
" Apa hubungannya dengan aku? Mengapa aku yang jadi taruhannya?" cecar Manda kebingungan.
" orang yang memberitahukan tentang rencana penjebakan pada siang hari ini berkata bahwa motif dari penjebakan Leo adalah orang itu ingin membalas dendam kepadamu, dia ingin membuat kamu sakit hati, sengsara, dan terpuruk. Oleh karena itu sekalipun kamu melihat Lio seperti tadi jangan sampai kamu merasa terpuruk, karena ini semua dilakukan demi kita bisa mendapatkan dan menjebak balik si penjebak itu."
" Apakah penjebaknya adalah Vella?"
" Siapa yang memberitahukan kepada kalian tentang rencana penjebakan ini?" Alana berpikir lama sekali, dia ragu antara harus berkata jujur atau tidak. tapi kemudian Allah memilih untuk jujur saja.
" Kenan, dia yang mengungkapkan rencana penjebakan ini, dia dan kami memang sengaja tidak bilang kepada Lio supaya penjebakan ini kesannya nyata. Jadi begini dua atau tiga hari yang lalu Kenan menemui Saka dan juga aku, untuk berbincang-bincang. Awalnya kami juga terkejut, karena kami memang tidak pernah punya hubungan bisnis sama sekali. Terus saat dia bercerita tentang rencana penjebakan itu, dia mengatakan harus merahasiakan ini dari kamu, karena kalau rencana penjebakan ini gagal maka mungkin sasaran selanjutnya adalah kamu. Dia tidak mau mengambil resiko karena takut mereka akan berbuat nekat kepadamu. Terpaksa rencana ini harus terjadi. Maafkan kami. Aku tahu betapa sakitnya posisi kamu saat ini, tapi kalau kami tidak membiarkan ini terjadi maka kamulah yng akan disakiti."
" Rencana apa yang sedang kalian lakukan untuk mengungkapkan pembuatan jebakan ini." tanya Manda dengan suara datar.
" Rekaman CCTV di kamar yang mereka pilih. Kami sudah menyiapkan sebuah kamar penuh dengan kamera CCTV. Jadi kami akan tahu apa yang sedang terjadi di sana dan CCTV itu bakal penting sebagai bukti untuk memutar balikkan rencana penjebakan ini." jelas Alana.
" Bawa aku ke ruang pengawasan CCTV itu, aku mau lihat apa saja yang sudah mereka lakukan." lanjut Manda dengan suara yang lebih dingin. Alana menjadi sangat waspada mendengar suara Manda yang sudah berubah.
__ADS_1
" Apakah kamu yakin Kak? Apa kamu gak mau nunggu di sini aja?" tanya Alana lagi.
" Tidak, aku mau melihat apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar terhadap mas Lio."
" Baiklah aku akan mengajak kamu ke sana. Tapi aku harap kamu bisa menahan diri. Aku yakin apa yang bakal kamu lihat bisa berpotensi menyakiti dirimu sendiri!" saran Alana yang sebenarnya tidak mau mengajak Manda ke sana. tapi kekeras kepalaan Manda membuat dirinya hanya diam, dia tetap menunggu Alana mengantarkannya ke kamar pengawas CCTV, di mana ia akan melihat apa yang sedang Lio dan Najla lakukan di dalam kamar.
Alana pun tahu bahwa keinginan Manda tidak bisa diganggu gugat. Oleh karena itu ia bangkit berdiri dan menuntun Anda untuk pergi ke kamar pengawas CCTV bersama Pak Joko dan juga Saka yang sudah ada di sana.
Sesampainya dikamar pengawas CCTV, Manda memandangi layar yang memuat gambar tentang apa yang sedang Lio dan Najla lakukan. Perasaan Manda semakin tercabik-cabik, ingin rasanya ia menangis tapi tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari sana, ingin Ia juga berteriak sekeras-kerasnya tapi tidak ada satupun suara yang keluar dari lidahnya yang kelu. Perasaan Manda yang tersakiti membuat tubuhnya limbung, dan kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
.
.
.
TBC
*** alert alert, masih area konflikkπ€π»
Jangan lupa untuk memencet tombol like, memberi gifttt dan juga vote sebanyak-banyaknya. Plisssss!!! ππ»ππ»ππ»
__ADS_1