Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
75.


__ADS_3

Rangga pun pamit untuk pergi setelah mendengar rangkuman cerita Saka. Ia juga tidak bisa menyalahkan Saka. Tapi kemungkinan ibu dan ayah bakal marah, Rangga tahu itu. Rangga bergegas pergi untuk mengurus Manda yang ternyata sudah dipindah ke ruang VVIP 1, tempat eksklusif milik keluarga Perdana saja. Saka tadi juga mengusulkan kepada Rangga, kalau Lio dan Manda biar ada di satu ruangan saja. Jadi Rangga juga mengurus Lio yang masih ada di ruangan UGD.


" Keluarga pak Lio?" tanya seorang suster, yang langsung ditanggapi dengan Alana dan Saka, karena hanya mereka yang ada di dekat ruangan UGD rumah sakit.


" Iya kami adik adiknya." sahut Alana dengan tegas saat suster hanya bengong melihat mereka berdua.


" Maaf Bu, pasien akan segera dipindahkan ke ruangan biasa. Apakah ibu dan bapak sudah mengurus segala administrasinya?" tanya Suster itu dengan sopan, pertanyaannya jujur membuat Saka dan Alana bertanya-tanya, mungkin suster ini adalah orang baru di sini karena tidak mengenali salah 2 pemilik Rumah Sakit ini. Soalnya kalau salah satu kan cuman satu, karena ini orang dua jadi nyebutnya salah 2.


" Iya sus, kayaknya tadi sudah diurus oleh dokter Rangga. Langsung dibawa ke ruangan VVIP satu aja. Kayaknya akan jadi satu dengan istrinya yang juga dirawat di sini." kata Alana memberikan info, sedangkan Saka hanya diam saja dan memberikan tatapan yang dingin serta datar.


" Mohon ditunggu ya Pak Bu, kami akan segera membawa pasien ke ruangan VVIP 1." balas Suster itu dengan sopan. Lalu setelah mengangguk Suster itu menghilang dari balik pintu ruangan UGD.


" Ayo kita segera ke ruangan VVIP satu. Kita harus memantau apakah mereka sudah sadar atau belum. Aku hanya berharap supaya mereka cepat sadar, Bby!" kata Alana dengan raut wajah yang tertekan.


" Bagaimana reaksi Ibu tadi, sayang?" tanya Saka kepada Alana yang masih terlihat cemas.


" Aku menuruti apa yang kamu bilang tadi, Bby! Aku enggak menceritakan secara detil apa yang terjadi, aku hanya bilang garis besarnya kalau Manda dan Lio sedang dirawat di Rumah Sakit Perdana." jelas Alana masih dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


" Tapi pasti Ibu sudah menduga kalau ada hal yang tidak baik di balik keberadaan Lio dan Manda di rumah sakit."

__ADS_1


" Huum, tebakan kamu benar sekali! Ibu terdengar sangat syok, mudah-mudahan Ibu bisa menjelaskan kepada ayah juga kepada besan mereka." raut sedih dari Alana tidak dapat ia sembunyikan, Dia sangat khawatir dengan kondisi Lio juga Amanda. Seharusnya tadi dia tidak mengizinkan Manda untuk melihat apapun di CCTV.


" Sudahlah kamu tidak usah menyesali apa yang sudah terjadi, ini salah kita berdua. Nanti kalau Ibu bertanya jelaskanlah seperti itu. Kita tidak bisa mengambil resiko untuk mengorbankan Manda, karena Manda adalah perempuan, aku juga sangat yakin, kalau Lio bakal setuju 100% dengan rencana kita. Dia pasti lebih memilih untuk berkorban daripada Manda yang dikorbankan." jelas Saka yang rupanya bisa membaca ke khawatiran apa yang sedang ada di dalam pikiran istrinya.


" Huum, kamu selalu bisa baca semua yang ada di dalam pikiranku. Dulu kamu pasti pernah belajar jadi Paranormal ya?" canda Alana sembari menyangkal semua pikiran-pikiran buruk yang melanda pikirannya saat ini.


" Ayo kita langsung ke ruangan VVIP satu saja, kamu sudah beri tahu ibu kan di mana kita akan tempatkan Lio dan Manda?" lanjut Saka sambil menggandeng lengan Alana dan mengajaknya ke ruangan VIP 1 di mana Manda dan Lio ditempatkan.


" Sudah, ibu bahkan sudah menebaknya sebelum Aku mengatakan dimana Lio Manda ditaruh." mereka berjalan bersisian menuju ruangan Lio dan Manda yaitu ruangan VVIP 1 dan ruangan itu terletak di paling atas bangunan rumah sakit elit itu, dan seperti layaknya kamar bintang 5, begitulah kira kira interior dalam ruangan rawat inap yang dibuat untuk Lio dan Manda.


Sesampainya Saka dan Alana di ruangan VVIP 1, mereka Langsung masuk dan mendapati Manda serta Lio udah ditempatkan di sana. Dan mereka berdua sama-sama belum sadarkan diri. Seorang suster masih mencatat beberapa catatan sebelum meninggalkan pasangan yang dirawat di ruangan VVIP satu itu, bersama Saka dan Alana.


" Bby, kayaknya kita harus konsultasi dengan Rangga deh. Aku nggak tega melihat Manda juga Leo dalam kondisi seperti ini." kata Alana dengan sedih. Wajah Alana muram begitu pula dengan Saka.


" Ehrrggh..."


" Bby, Manda bergerak. Kak Manda... kak... sadarlah!!" kata Alana sambil menggenggam tangan Manda yang sudah bergerak, sedangkan Saka yang tadinya ada di sisi Lio langsung beranjak mendekati Alana dan memegang bahu Alana supaya Alana tidak terlalu terbawa perasaan, karena Saka melihat Alana sudah menangis.


" Aku di mana?" tanya Manda, masih belum membuka matanya, Ia hanya memegang dahinya karena tiba-tiba Manda pusing.

__ADS_1


" Di rumah sakit, Kak. Apakah masih ada yang sakit ,Kak? Apa perlu aku panggilin dokter lagi?" tanya Alana bertubi tubi, dirinya merasa bahagia karena Manda sudah sadar.


Manda mulai mengingat potongan-potongan gambar yang terlintas di kepalanya sebelum ia jatuh dan tidak sadarkan diri. Dia masih belum membuka matanya. Dia lagi merangkai potongan-potongan gambar yang terlintas di kepalanya itu, reaksi yang kemudian timbul adalah menangis! Manda menangis dengan sangat histeris. Alana dan Saka sangat kebingungan, Mereka kemudian memencet tombol help di nakas dekat ranjang rawat inap Amanda. Dan 5 menit kemudian, Rangga masuk pesawat suster dengan tergesa-gesa.


" Ngga, Amanda sudah sadar, tapi kemudian dia menangis dengan sangat histeris. Gimana ini?" adu Alana dengan suara cemas. Sedangkan Manda masih terisak-isak dan tangisannya pun belum berhenti. Rangga hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar kemudian dia meraih tangan Manda lalu ia mengecek denyut nadinya.


" Manda, ini aku Rangga. Kamu jangan kuatir ya. Ada kami yang selalu men-support kamu. Sekarang, buka mata kamu dulu! Aku ingin bertanya sama kamu,boleh?" tanya Rangga dengan suara yang sangat lembut, bahkan Alana tidak pernah mengira bahwa Rangga bisa berkata-kata dengan begitu lembut.


Perlahan namun pasti Manda membuka matanya, pertama-tama dia memandang wajah Rangga yang mirip orang India itu. Kemudian Manda mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu dan dia menangkap ada Alana juga Saka. Manda memang belum melihat tubuh Lio yang saat itu ketutupan tubuh besar Saka.


Tapi dengan terlihatnya Saka dan Alana, memori Manda kembali ke rekaman CCTV yang ia lihat sebelum ia jatuh pingsan. Manda kembali berteriak histeris dan menangis. Hatinya kembali sakit saat ia mengingat peristiwa itu. Rangga hanya bisa menghela nafasnya karena ia tahu kalau Amanda masih tertekan saat mengingat peristiwa yang membuatnya pingsan.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Hai readers, Thor masih update satu hari dua kali. Jangan lupa untuk tetap like, vote dan juga memberikan gift buat Thor ya. Happy readinggggg


__ADS_2