Andai Aku Bisa Memilih

Andai Aku Bisa Memilih
90.


__ADS_3

Grakkkk!!! Gubrakkk!! Arggghh!!


Satu persatu preman yang sedang melakukan tindak keji kepada Manda dipukuli habis-habisan oleh anak buah Saka yang sudah datang. Menyusul kemudian Saka dan Alana yang datang kemudian.


Alana langsung membuka blazer panjang yang dipakainya ke kantor tadi dan menutupi tubuh Manda yang sudah hampir tela**ang. Saka yang tadinya memalingkan wajah, langsung dikode Alana untuk segera mengangkat Manda dan membawanya ke rumah sakit. Amarah Saka membuat dirinya kalap melihat Manda dalam kondisi mengenaskan. Sebelum mengangkat Manda ia sempat menendang dan memukuli preman yang didekat situ untuk meluapkan amarahnya, dia sudah tidak lagi melihat apakah preman yang dia pukuli bakal mati di tangannya.


Saka juga tahu tadi di luar apartemen sebelum dia datang, ternyata ada beberapa preman yang sudah dihabisi oleh anak buahnya juga ada anak buahnya yang sebaliknya juga dikalahkan oleh preman yang dikirim oleh Vella. Alana langsung menarik Saka agar segera membawa Manda yang tak sadarkan diri. Alana dan Saka langsung berlari membawa Manda setelah memberi instruksi pada anak buahnya agar ridak membunuh preman preman itu dan segera membersihkan apartemen Lio dan membawa preman itu ke markas mereka dimana Saka dan Lio biasa menginterogasi musuh musuhnya.


5 menit setelah Saka dan Alana pergi, datanglah Lio dengan terburu buru.


Sesampainya di pintu apartemennya Lio hanya bisa membelalak kaget karena dia melihat beberapa tubuh yang tergeletak di sana, entah masih hidup atau mati. Tanda bahwa baru saja terjadi pertempuran atau perkelahian antara 2 belah pihak yang sangat kuat.


Karena anak buah Saka belum selesai membereskan tubuh tubuh yang entah pingsan atau mati, seperti yang disuruhkan oleh Saka tadi. Mereka baru menyelesaikan ruang tamu tempat Manda tadi ditemukan, tiba tiba mendengar teriakan histeris orang yang mereka kenal sebagai tuan muda pertama keluarga Perdana yaitu Lionando Perdana.


" Mandaaa!!!"


" Tuan Lio.." sapa salah satu anak buah Saka yang Lio kenali sebagai, Excel, pengawal pribadi Alana yang mengawal Genta juga Alendra kalau sedang berpergian sendiri.


" Dimana Manda, istriku?" tanya Lio dengan amarah yang ia tahan. Dia memandang kesekeliling tempatnya, Lio masig mendapati kekacauan di apartemennya itu.


" Maaf tuan Lio, istri tuan tadi dibawa tuan Saka dan nyonya Alana ke rumah sakit Perdana." sahut Excel dengan nada hormat sambil menunduk.


" Siapa yang tadi menyentuh istriku?"tanya Lio dengan nada dingin sambil menatap preman yang berbaju hitam dan berwajah seram.

__ADS_1


" Mereka ber 5 ini tuan. Sedangkan 5 lainnya hanya berjaga di lorong pintu depan, tapi mereka yang bertugas di luar sudah kami habisi semua. Maaf kalau kami sedikit terlambat untuk menolong nyonya." sahut Excel masih menundukkan kepalanya, begitu pula dengan 11 orang lainnya, yang merupakan anak buah dari Keluarga Perdana.


" Mereka semua sudah mati?" tanya Lio dingin sambil menunjuk ke 5 orang yang katanya sudah menyentuh Mandanya. Wajah Lio tampak menyeramkan. Ia menahan amarah karena ia ingin tahu kondisi Manda.


" Belum tuan. Karena Tuan Saka ingin mereka hidup hidup dan membawa ke tempat biasa." sahut Excel masih dengan sikap hormatnya. Excel sebenernya juga tahu kalau saat ini Lio menahan amarah yang luar biasa, dan ia juga maklum karena hal ini bukan hal yang mudah untuk dilewati.


" Bagus!!! Aku ingin mereka habis ditanganku. Ini gps last locationnya Vella. Kalian selidiki ini. Sampaikan ke Alex, biar dia yang mengurus sisanya." Lio belum tahu kondisi Manda sekarang. Kata kata sedikit terlambat dari muout Excel, membuat hati Lio bak teriris pisau tajam. Ia tahu bahwa itu berarti ada sesuatu terjadi pada Manda sekalipun nyawanya masih selamat. Ingin Lio meraung meratapi nasibnya. Tapi ia tidak mampu. Seakan air matanya habis tak bersisa. Dalam hatinya hanya satu keinginannya. Mencari Vella dan membalaskan apa yang dilakukan Vella kepada Manda secepatnya.


" Antar aku sekarang ke rumah sakit." perintah Lio dengan wajah keruh penuh amarah. Menyesali kebodohannya, kenapa ia menuruti hawa nafsunya untuk membekuk Vella dengan cepat, malah terpancing meninggalkan Amanda.


" Baik tuan." lalu Excel menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Lio ke rumah sakit dimana Manda di rawat.


Sesampainya Lio ke rumah sakit, dia langsung turun dan berlari mencari Amanda. Dia tahu, pasti Amanda akan dibawa ke ruang perawatan VVIP di lantai khusus untuk keluarga Perdana dan tidak bisa diakses sembarangan.


Lio ragu untuk masuk ke dalam tapi ia harus menguatkan hati untuk melihat kondisi istrinya.


Cekrek..


Pintu yang terbuka membuat Saka dan Alana yang ada didalam menoleh ke pintu. Dan saat melihat Lio yang masuk dengan wajah dan baju yang berantakan membuat mereka mengerti kalau kondisi Lio secara pribadi juga tidak baik baik saja. Saka langsung menghampiri Lio untuk mencoba menenangkan Lio. Tapi Lio menepis pelukan Saka karena ia ingin segera melihat kondisi Manda, istrinya.


" Apa yang telah mereka lakukan kepada Manda?" tanya Lio saat melihat Manda yang tertidur dengan luka lebam di wajahnya dan tubuhnya, bahkan sudut bibirnya ada darah kering.


Saka dan Alana hanya bisa terdiam. Mereka tak tega mengatakan yang sebenernya.

__ADS_1


" Jawab La!! Aku butuh jawaban." desis Lio dengan suara penuh intimidasi.


" Ehm, saat kami datang, mereka sudah hampir melakukannya kepada Manda. Tapi menurut dokter Clara yang tadi melakukan visum, tidak ada kekerasan se**ual yang diterima Manda. Sekalipun ehm... pakaiannya robek. Dan karena Manda mungkin melawan mereka maka kekerasan fisik diterima Manda sehingga... ehm.." Alana tidak sanggup menceritakan kejadian sesungguhnya, dia tahu ini bisa membuat Lio sedih dan marah.


" Sehingga apa, La?" tanya Lio dengan nada dingin.


" Ehm sehingga... anak kalian ga bisa bertahan..." kata Alana sambil menahan isak tangisnya yang kembali pecah, saat menceritakan hal itu kepada Lio.


Saka menatap Lio yang tak bereaksi apa apa. Ini membahayakan karena saat emosi Lio tidak tercurah, maka Lio akan menjadi orang yang paling menakutkan.


" Yo, ..." Saka tidak meneruskan ucapannya karena tangan Lio merentang, tanda ia tidak ingin mendengar apa apa lagi dari mereka.


" Bisa tinggalkan aku sendiri dengan Manda, istriku?" tanya Lio dengan datar. Tatapan matanya kosong dan wajahnya sarat dengan emosi yang hendak meledak. Alana menatap Saka dan Saka mengangguk lemah tanda bahwa Alana dan dirinya harus mengikuti keinginan Lio yang ingin sendiri dulu bersama Manda. Lalu mereka berdua beranjak keluar tanpa mengatakan apa apa kepada Lio. Karena mereka juga tahu Lio lagi dalam posisi ga ingin mendengar apapun dari mereka.


.


.


.


TBC


*** ada yang bilang kasihan Manda ya.. yah itulah kenapa judul cerita ini adalah andai aku bisa memilih. Kalau kita bisa memilih nasib kita, pasti ingin nya yang baik baik saja yang terjadi. Karena nasib dan takdir tidak bisa dipilih, maka yang ada hanyalah menerima dan menjalankan dengn bijaksana. Tor harap kalian bisa mengerti pesan dari cerita ini. Jangan lupa untuk sisipkan waktu kalian untuk memberi Like, vote dan gift ya. Apalagi kalau ada yang mau share cerita ini di sosmed kalian. Terimakasihhh🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2