
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 malam semua keluarga tengah berkumpul di kediaman pak Agus sambil menunggu mbok Ya selesai menyiapkan makan malam kecuali Sabrina dia masih berada di dalam kamar bersama dengan Sari.
“Ayah dengar Sabrina tadi sempat kecelakaan ?" tanya Pak Agus kepada Ardi.
“Iya yah.” Ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
“Lantas bagaimana keadaannya ?” tanya sang Ayah lagi.
“Hanya luka ringan… palingan beberapa hari sudah pulih.” Jelas Ardi lagi.
“Syukurlah kalau begitu !” ucap pak Agus menganggukkan kepalanya.
“Apa kamu tidak bisa mencari wanita yang lebih baik lagi ? kenapa harus wanita itu ? kalau kamu tidak bisa mencari sendiri ibu akan dengan senang hati mencarikannya untukmu !” ucap Bu Siti kepada sang putra.
“Masih banyak wanita yang lebih baik dari dia ! Sinta putri pak Rudi contohnya siapa yang tidak mengenal dia sudah cantik baik hati terpelajar lagi !” ucap bu Siti lagi kepada sang putra.
Ardi hanya diam tidak menanggapi ucapan sang ibu, dia bingung harus menjawab apa karena sebelumnya dia sudah mengatakan yang sebenarnya namun tidak ada yang percaya dengan ucapannya, mereka lebih memilih percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Sudah lah mbak ! biarkan Ardi yang memilih pasangannya sendiri, sebagai orang tua kita hanya perlu memberikan restu dan mendoakan yang terbaik untuk mereka !” ucap Farida sang kakak ipar.
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku, jangan sampai dia salah dalam memilih istri.” Ucap bu Siti lagi masih tidak setuju dengan keputusan sang suami.
“Bu sudahlah ! Ayah sudah buat keputusan, sekarang waktunya makan.” Ucap Pak Agus kepada bu Siti sang istri.
Mendengar ucapan sang suami seketika bu Siti pun langsung diam tak bersuara namun dari ekspresi wajahnya terlihat dengan jelas dia jengkel dengan keputusan sang suami.
Setelah mbok ya selesai menghidangkan malam malam di atas meja makan beliau pun diminta oleh tuan rumah untuk memanggil Sabrina dan juga Sari sang keponakan.
Usai kedatangan mbok Ya ke dalam kamar Sari pun keluar dari dalam kamar diikuti oleh Sabrina yang berjalan pelan dari belakang.
“Ayo nak ajak mbak mu duduk.” Ucap Farida kepada Sari sang anak lalu tersenyum ke arah Sabrina.
“Duduk mbak.” Ucap Sari mempersilahkan Sabrina duduk di sebelahnya.
Sabrina hanya mengangguk pelan lalu menunduk tidak berani menatap ke arah orang tua Ardi, sedangkan Ardi dia hanya meliriknya sekilas dengan sudut matanya.
__ADS_1
Semua orang telah selesai menyendok kan nasi dan lauk ke dalam piring kecuali Sabrina , dengan sedikit merasa tidak enak Sabrina pun pelan-pelan menyendok kan nasi ke dalam piringnya.
Usai mengambil nasi Sabrina melirik ke atas piring yang berada di depan bu Siti, di sana terlihat Ayam balado yang cukup menggugah selera dengan sedikit hati-hati dia bermaksud untuk mengambil lauk tersebut sayangnya bu Siti dengan cepat meraih piring yang berisi ayam balado tersebut seketika Sabrina pun dengan malu menarik kembali tangannya.
Tak sampai di situ Sabrina pun mengambil piring yang berisi lauk lain hal yang sama pun terulang kembali dengan cepat bu Siti kembali mengambil piring lauk yang hendak di ambil oleh Sabrina tersebut.
Kejadian tersebut pun tak luput dari pandangan yang lain bibi Farida menggelengkan kepalanya melihat sikap sang kakak ipar tersebut, sedang kan untuk Ardi dia memilih memberikan lauk yang ada di dalam piringnya kepada Sabrina, seketika Sabrina tersenyum saat melihat lauk incarannya berada di dalam piringnya.
“Aku juga mau yang itu !” ucap Sabrina kepada Ardi sambil menunjuk ke arah piring yang ada di depan bu Siti.
Ardi pun kemudian mengambilkan lauk yang dimaksud oleh Sabrina.
“Cie kalian romantis sekali !” ucap Sari yang sedari tadi memperhatikan mereka sambil tersenyum.
“Romantis apanya ? itu lebih ke tidak tahu diri namanya.” Sindir bu Siti ketus.
“Bu !” ucap Ardi menanggapi ucapan sang ibu yang dengan terang-terangan membicarakan Sabrina.
“Mbak !” ucap Farida sang adik ipar pelan sambil menggelengkan kepalanya ke arah bu Siti.
Bu Siti pun akhirnya memilih diam saat melihat tatapan sang suami yang tajam seolah menyuruhnya untuk tidak berbicara.
Beberapa menit kemudian semuanya sudah selesai menikmati makan dalam dan saat ini semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga.
“Bagaimana keadaanmu ?” tanya pak Agus
“Jauh lebih baik om ! hanya cedera ringan.” Ucap Sabrina menanggapi pertanyaan pak Agus.
“Syukurlah kalau begitu ! besok bawa saya menemui orang tuamu ! atau minta orang tua mu datang kesini.” Ucap pak Agus lagi cukup tegas kepada Sabrina.
Mendengar ucapan pak Agus seketika jantung Sabrina berdegup lebih kencang dari biasanya.
“Bagaimana ini ?” ucap Sabrina dalam hati.
Terlihat dengan jelas wajah Sabrina tampak cukup panik mendengar ucapan pak Agus, dia hanya diam karena bingung bagaimana harus menjawab.
__ADS_1
“Nak ?” ucap bibi Farida mengelus bahu Sabrina.
“Eh bi ?” ucap Sabrina kaget sambil menatap bibi Farida.
Bibi Farida pun mengangguk sambil menatap dalam ke arah mata Sabrina.
“Apa yang harus aku katakan ? papa pasti akan marah mendengar ini ! sedangkan mama aku tidak tahu ada mama di mana.” ucap Sabrina dalam hati.
“Aku tidak tahu mereka ada di mana!” ucap Sabrina tiba-tiba.
“Ha ?” ucap bibi Farida kaget dengan apa yang di dengarnya.
“Apa ibu bilang dia bukan wanita yang baik untuk anak kita.” Ucap bu Siti mengompori.
“Mbak ?” ucap Farida sang adik ipar menghentikan ucapan bu Siti.
“Coba ceritakan tentang keluargamu !" ucap pak Agus kepada Sabrina.
“Aku tidak tahu orang tuaku ada di mana !” ucap Sabrina menunduk.
Sabrina tidak sepenuhnya berbohong tentang keluarganya karena memang dia tidak tahu ibu kandungnya ada di mana sedangkan sang papa dia tidak yakin akan peduli kepadanya karena dia lebih percaya dengan istrinya dibanding dirinya.
“Yang sabar ya !” ucap bibi Farida sambil memeluk Sabrina.
Begitu juga dengan Sari dia juga merasa kasihan dan prihatin dengan Sabrina lalu dia pun ikut memeluk calon istri kakak sepupunya tersebut.
Seketika wajah tegas pak Agus berubah menjadi lembut dia merasa bersalah atas ucapannya tersebut, Ardi yang duduk tidak jauh dari sana pun dengan jelas mendengar apa yang Sabrina katakan tentang orang tuanya dia merasa sedikit kasihan melihat Sabrina, berbeda dengan bu Siti dia semakin merasa jika Sabrina bukan wanita baik-baik.
“Om minta maaf atas ucapan om barusan.” Ucap Pak Agus berubah 180 derajat.
“Iya .” ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan pak Agus.
“Ya sudah kalau begitu tidak usah dipikirkan, kamu persiapkan saja dirimu semuanya biar kami yang urus.” Ucap pak Agus kepada Sabrina.
“Ha ?” ucap Sabrina kaget mendengar ucapan pak Agus.
__ADS_1
Mendengar hal itu Sabrina menjadi ketakutan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, pikiran menjadi panik tak menentu, dia bingung harus bagaimana menghadapi situasi saat ini.
Bersambung…