
Ardi telah pergi bekerja memantau serta membantu di perkebunan dan juga di peternakan sapi milik keluarganya sementara Sabrina tengah memikirkan cara agar bisa pergi dari rumah tersebut secepatnya namun hal tersebut menjadi sulit karena Sari selalu berada di dekatnya.
“Sari !” ucap seseorang memanggil Sari.
“Iya ma.” Jawab Sari menanggapi panggilan tersebut.
“Oh ternyata di sini ! ini calon istri mas mu ?” tanya sang mama kepada Sari.
“Iya ma, namanya Sabrina.” Ucap Sari memperkenalkan.
“Farida.” Ucap sang mama kepada Sabrina.
“Sabrina tante.” Ucap Sabrina menyalami Farida.
“Panggil bibi saja.” Ucap Farida sambil tersenyum ramah.
“Iya… bibi.” Ucap Sabrina sedikit kaku.
“Oh iya sampai lupa Sari tolong belikan mama bahan-bahan kue di pasar, ini catatannya !” ucap sang mama sambil menyerahkan secarik kertas dan juga beberapa lembar uang.
“Ajak saja mbak mu, biar dia tidak bosan.” Ucap sang mama kepada Sari.
“Boleh bi ?” tanya Sabrina kepada bibi Farida.
“Ya boleh dong.” Ucap bibi Farida sambil mengusap bahu Sabrina.
“Yes… akhirnya aku bisa pergi dari sini.” Ucap Sabrina dalam hati sambil tersenyum puas.
“Kalian hati-hati ya.” Pesan bibi Farida sebelum dia meninggalkan rumah tersebut untuk pergi ke rumahnya yang berada tepat di sebelah rumah orang tua Ardi.
“Yuk mbak.” Ucap Sari mengajak Sabrina agar segera berangkat.
“Sebentar aku ganti baju dulu, bau soalnya… hehehe !” ucap Sabrina tertawa.
Sari pun mengangguk setuju, kemudian Sabrina pun buru-buru mengambil baju miliknya yang ada di dalam mobil lalu membawanya masuk ke dalam kamar yang dia gunakan tidur semalam untuk menggantinya, usai mengganti baju Sabrina terlihat sedikit lebih segar dari sebelumnya kemudian dia buru-buru membawa kembali pakaian kotornya masuk ke dalam mobil.
“Sari ayok berangkat.” Ucap Sabrina sambil membuka pintu depan mobilnya.
Sari yang saat itu masih duduk di beranda rumah langsung buru-buru turun ke halaman di mana Sabrina berada.
“Pakai sepeda saja mbak ! dekat kok.” Ucap Sari kepada Sabrina.
“Kita pakai mobil saja biar cepat lagian aku nggak bisa naik sepeda.” Ucap Sabrina mencari alasan.
“Ya sudah kalau mbak maunya begitu.” Ucap Sari pasrah.
“Yuk masuk.” Ucap Sabrina kepada Sari lalu buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Sari pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi.
“Wah mbak mobilnya bagus, aku pertama kali naik mobil sebagus ini biasanya mah naik mobil butut paman yang itu tu.” Ucap Sari sambil menunjuk mobil pick up yang terparkir di sebelah.
Sari tampak sangat senang dengan mobil yang dimiliki oleh Sabrina.
__ADS_1
“Hahahaha.” Sabrina pun tertawa melihat tingkah polos Sari.
“Ke arah mana ?” tanya Sabrina kepada Sari sambil mengemudikan mobilnya.
“Kanan mbak.” Ucap Sari semangat.
Sabrina pun mengikuti arahan Sari agar mereka bisa sampai di pasar.
Hanya butuh tiga menit menggunakan mobil akhirnya mereka pun sampai di pasar, Sari pun segera membuka pintu mobil.
“Sar aku tunggu di sini ya.” Ucap Sabrina mencari alasan.
“Eh mbak nggak ikut ? ikut aja mbak nanti aku traktir jajanan pasar deh.” Ucap Sari membujuk Sabrina agar ikut ke dalam pasar.
“Nggak deh aku tunggu di sini aja boleh ya.” Ucap Sabrina memohon.
“Ya sudah kalau begitu, aku belanja dulu ya mbak.” Ucap Sari pasrah.
“Oke… oh iya sebentar.” Ucap Sabrina menghentikan Langkah Sari.
“Kenapa mbak?” tanya Sari menghentikan langkahnya.
“Ini mbak titip jajanan unik ya.” Ucap Sabrina menyerahkan selembar uang ratusan ribu.
“Tidak usah mbak, aku ada kok.” Ucap Sari menolak.
“Udah ambil mbak titip ya.” ucap Sabrina lagi.
“Sudah tidak apa-apa.” Ucap Sabrina lagi.
Sari pun pasrah dia pun mengangguk menanggapi Sabrina lalu dia pun meninggalkan Sabrina dan buru-buru masuk ke dalam pasar.
Setelah Sari menghilang di balik kerumunan orang Sabrina pun menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikannya menjauhi area pasar tersebut.
“Aku harus ambil jalan yang mana ?” ucap Sabrina saat mobilnya sudah menjauh sekitar satu kilometer dari area pasar.
“Oh iya aku harus lihat maps.” Ucap Sabrina sambil mengeluarkan ponselnya.
“Tidak ada jaringan lagi.” Ucap Sabrina sambil menggoyangkan ponselnya agar mendapat sinyal.
Sementara itu mobilnya masih tetap melaju, tiba-tiba seseorang berteriak hal itu membuat Sabrina kaget dan membanting stir ke arah kiri jalan dan brukkkk…
Mobil yang dikemudikan oleh Sabrina menabrak pembatas jalan, nasib baik saat itu mobilnya melaju dengan pelan, beruntung orang yang tadi berteriak selamat dari insiden tersebut.
Sabrina merasakan kepalanya sangat sakit akibat terbentur dengan stir mobil.
“Awww…“ucap Sabrina memegangi kepalanya.
Tiba-tiba orang-orang berdatangan untuk melihat keadaan Sabrina, melihat hal tersebut dengan kekuatan yang tersisa dia pun membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
“Ayo bawa ke rumah sakit !” ucap orang-orang yang ada di sana saat melihat Sabrina keluar dengan menahan sakit.
“Terima kasih… bagaimana dengan wanita itu ?” tanya Sabrina kepada semua orang.
__ADS_1
“Saya tidak apa-apa mbak.” Ucap wanita yang tadi hampir menjadi korban.
“Syukurlah.” Ucap Sabrina tersenyum sambil di paksakan.
Wanita tersebut pun membalas senyuman Sabrina, namun dari ekspresi wajahnya dia terlihat cukup khawatir dengan keadaan Sabrina.
Di sisi lain…
“Ada apa di sana ?” ucap seorang wanita kepada sang suami saat melihat ada keramaian di pinggir jalan.
“Tidak tahu.” Jawab sang suami sambil terus mengemudikan sepeda motornya.
“Berhenti mas… berhenti.” Ucap wanita tersebut sambil menepuk-nepuk pundak sang suami dari arah belakang.
Seketika sang suami segera menepikan sepeda motornya di pinggir jalan.
“Ada apa mas ?” tanya wanita tersebut bertanya kepada salah satu orang yang berada di sana.
“Ada mobil kecelakaan.” Jawab pria tersebut.
Kemudian wanita tersebut memasuki kerumunan orang banyak tersebut untuk melihat pengemudi mobil tersebut.
“Permisi…permisi.” Ucap wanita tersebut sambil menyibak kerumunan orang.
“Wanita ini !” ucap wanita tersebut saat melihat Sabrina ada di sana.
“Ibu kenal dengan pemilik mobil ini ?” tanya orang-orang yang ada di sana kepada wanita tersebut.
“Iya… mbak nya calon istri mas Ardi anaknya kepala desa.” Ucap wanita tersebut.
“Oh calon menantu pak Agus.” Ucap yang lain mengangguk paham.
Setelah itu wanita tersebut di bawa oleh beberapa orang warga ke rumah sakit terdekat yang ada di desa tersebut.
“Mas ayo mas kita harus mengabari mas Ardi.” Ucap wanita tersebut kepada sang suami agar segera menyalakan motornya kembali.
“Apa hubungannya dengan mas Ardi ?” ucap sang suami bingung.
“Yang kecelakaan calon istri mas Ardi.” Ucap wanita tersebut kepada sang suami.
“Ha ?” sang suami melongo tidak percaya namun dia segera menghidupkan sepeda motor dan melajukan nya menuju ke kediaman Ardi.
Sementara itu Sari yang baru saja selesai berbelanja di pasar mengerutkan dahinya saat tidak melihat ada mobil Sabrina di tempat dia tinggalkan sebelumnya.
“Loh mbak Sabrina ke mana ?” ucap Sari bertanya-tanya.
“Apa sudah pulang lebih dulu ? tapi kenapa tidak menungguku lebih dulu ?” ucap Sari tidak mengerti.
“Ya sudahlah lebih baik aku pulang dulu.” Ucap Sari lalu pulang dengan menyewa becak.
Karena jarak dari pasar menuju rumah cukup dekat hanya butuh beberapa menit akhirnya Sari pun sampai di rumah, usai membayar ongkos becak Sari pun menenteng barang belanjaannya masuk menuju rumah.
Bersambung…
__ADS_1