
......
Waktu terus berjalan maju ke depan meninggalkan masa lalu, setiap insan berharap hari esok bahagia akan datang menyapa.
Pagi ini Reyhan tampak mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota yang tampak ramai dengan kendaraan yang lalu lalang, pagi ini sesuai rencana Reyhan akan pergi menemui Sabrina yang saat ini tinggal di debuah desa.
Mobil milik Reyhan berhenti di sebuah rumah yang terdiri dari dua lantai, belum sempat Reyhan hendak keluar dari dalam mobilnya tampak seorang gadis tengah berjalan mendekat ke arah mobilnya sambil membawa sebuah koper.
“Bantuin donk !” ucap gadis tersebut saat melihat Reyhan yang keluar dari dalam mobil.
Reyhan pun mengernyitkan keningnya melihat barang bawaan gadis yang bernama Ziva tersebut.
“Zi kamu berniat pindah rumah ya ? banyak amat barang bawaannya !” ucap Reyhan protes melihat barang bawaan Ziva.
“Sebenarnya ini masih kurang mas ! untung saja mas Rey bilangnya dadakan kalau tidak di mobil ini tidak akan muat !” ucap Ziva menanggapi ucapan Reyhan.
“Ya ya baiklah !” ucap Reyhan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ziva.
Reyhan pun segera memasukkan koper milik Ziva tersebut ke dalam bagasi mobilnya, sementara Ziva sendiri masuk lebih dulu ke dalam mobil.
“Kita berangkat !” ucap Reyhan kemudian sambil menutup kembali pintu mobilnya.
“Apa mas yakin Sabrina tidak akan keberatan jika kita menemuinya ke sana ?” tanya Ziva sedikit ragu.
Karena Ziva sendiri sangat tahu dengan sifat Sabrina yang keras kepala, saat Sabrina menghubunginya terakhir kali bahkan Sabrina sendiri mengatakan jika dia tidak ingin keberadaannya di ketahui bahkan oleh keluarganya.
“Karena itu aku mengajakmu !” ucap Reyhan terkekeh.
“Dasar !” ucap Ziva menanggapi ucapan Reyhan.
Kemudian Reyhan pun fokus mengemudikan mobil menjauhi pusat kota menuju ke desa tempat Sabrina berada saat ini sementara Ziva asyik memainkan ponselnya agar tidak terlalu jenuh di sepanjang perjalanan.
Di tengah perjalanan Ziva meminta Reyhan agar menghentikan mobilnya sebentar tepat di sebuah pom bensin.
“Mas Rey berhenti sebentar di sana !” ucap Ziva kepada Reyhan.
“Ada apa ?” tanya Reyhan kepada Ziva.
“Jangan banyak tanya deh sudah nggak tahan ini !” ucap Ziva sedikit kesal.
Karena dia merasa sudah tidak sanggup jika harus menunda lagi.
“Iya sabar sebentar !” ucap Reyhan mengemudikan mobilnya masuk menuju pom bensin tersebut.
__ADS_1
Baru saja Reyhan menghentikan mobilnya dengan buru-buru Ziva pun segera keluar dan berlari menuju ke toilet yang tersedia di sana.
Sementara Reyhan ikut keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah minimarket yang juga berada di Kawasan pom bensin tersebut hendak membeli sesuatu.
Beberapa saat kemudian Ziva pun keluar dari toilet dan berjalan hendak menuju ke mobil, namun matanya melihat Reyhan yang juga baru keluar dari sebuah minimarket di sana.
“Dari mana mas ?” tanya Ziva saat mereka bertemu.
“Beli rokok !” ucap Reyhan menunjukkan sebungkus rokok yang sedang di pegangnya.
“Hmmmm.” Ucap Ziva menanggapi ucapan Reyhan sambil terus berjalan ke arah mobil.
“Nih !” ucap Reyhan sambil menyerahkan sebuah kantong kresek kepada Ziva.
“Apa ini ?” tanya Ziva sambil menerima kantong kresek yang di serahkan oleh Reyhan kepadanya.
“Minuman dan beberapa camilan agar kamu tidak terlalu bosan di perjalanan.” ucap Reyhan kepada Ziva.
Ziva pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Reyhan.
Setelah sampai di mobil Reyhan pun kembali mengemudikan mobilnya menuju ke tempat tujuan sementara Ziva tengah menikmati camilan yang tadi di beli oleh Reyhan.
“Mas mau ?” tanya Ziva sambil menyodorkan sepotong keripik kentang ke arah Reyhan.
Ziva menjadi bingung sendiri saat tatapan mereka bertemu, kemudian dia menarik kembali tangannya dan memasukkan kembali sepotong keripik kentang tersebut ke dalam mulutnya sendiri.
“Hmmmm.” Ucap Reyhan berusaha mengendalikan suasana.
Mobil terus melaju menjauh dari pusat kota, tidak lama lagi mereka akan memasuki desa di mana Sabrina saat ini berada.
“Apakah Sabrina ada di sini ?” tanya Ziva kepada Reyhan.
“Hmmm.” Ucap Reyhan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ziva.
“Jika aku tahu tempatnya akan sebagus ini tadi aku akan membawa barang-barang lebih banyak !” ucap Ziva antusis melihat pemandangan di sepanjang jalan.
Sepanjang jalan mereka menemui perbukitan yang hijau, area persawahan yang saat ini sudah menguning pertanda sebentar lagi akan datang musim panen dan perkebunan dengan aneka jenis tanaman.
Ziva pun membuka kaca jendela mobil tersebut menikmati pemandangan tersebut.
“Wah indah sekali pemandangan di sini !” ucap Ziva berbicara sendiri.
Reyhan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ziva yang menurutnya terlalu berlebihan.
__ADS_1
“Awas saja jika nanti bertemu Sabrina aku akan memarahinya ! bagaimana bisa dia menemukan tempat seindah ini dan tidak mengajakku !” ucap Ziva lagi tiba-tiba mengomel sendiri.
“Eh tunggu dulu ! mas Rey tahu dari mana Sabrina ada disini ?” tanya Ziva kepada Reyhan tiba-tiba.
“Tidak ada yang tidak bisa aku cari tahu !” ucap Reyhan sedikit membanggakan dirinya di depan Ziva.
“Dasar ! baru segitu saja sudah sombong !” ucap Ziva tiba-tiba kesal mendengar ucapan Reyhan yang menurutnya sedikit songong.
“Lah kan memang benar !” ucap Reyhan sambil terkekeh melihat Ziva sedikit kesal mendengar ucapannya.
“Ya ya ya.” ucap Ziva mengejek Reyhan.
Dia tidak ingin lebih lama lagi mendengar Reyhan yang membanggakan dirinya sendiri.
“Apa masih jauh ?” tanya Ziva lagi kepada Reyhan.
“Seharusnya tidak ! sebentar aku akan menanyakannya dulu kepada warga sekitar !” ucap Reyhan kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Setelah mobil berhenti Reyhan pun segera keluar dari mobil dan bertanya kepada warga setempat apakah benar Sabrina ada di desa tersebut.
“Permisi pak !” ucap Reyhan kepada sekelompok petani yang sedang beristirahat di bawah pohon yang tidak jauh dari jalan.
Para petani tersebut pun seketika menoleh ke arah Reyhan yang saat itu berdiri tepat di belakang mereka.
“Ada yang bisa kami bantu ?” tanya salah seorang wanita yang sudah cukup tua di antara semuanya.
“Saya mau tanya ? apakah ibu pernah melihat wanita ini di sini ?” tanya Reyhan lagi kepada wanita tua tersebut.
Kemudian wanita tua tersebut tampak memperhatikan sosok Reyhan dengan seksama.
“Mohon maaf apakah ibu pernah melihatnya ?” tanya Reyhan lagi.
Tampak para ibu-ibu petani tersebut berbisik satu sama lain.
Melihat hal tersebut Reyhan buru-buru memperkenalkan dirinya.
“Saya Reyhan bu dan teman saya Ziva.” Ucap Reyhan memperkenalkan dirinya sambil memperkenalkan Ziva yang berdiri di dekat mobil.
“Kalian berdua siapanya gadis yang ada di foto itu ?” tanya salah satu wanita yang tampak lebih muda dari yang sebelumnya penasaran.
“Kami temannya !” ucap Reyhan menjelaskan.
Kemudian ibu-ibu petani pun menganggukkan kepalanya mengerti mendengar penjelasan Reyhan.
__ADS_1
Bersambung….