
Cahaya bulan yang sebelumnya menyinari suasana malam kali ini digantikan oleh Cahaya matahari yang membuat udara pagi yang sangat dingin menjadi lebih hangat, terlihat sepasang suami istri yang tengah tertidur dengan lelap saling rangkul satu sama lain.
Keromantisan tersebut seketika buyar saat terdengar suara pintu kamar di ketuk dengan sangat kasar.
Tok…tok…tok…
“Ardi ! kamu di dalam ?” ucap seseorang dari luar kamar siapa lagi kalau bukan ibunya Ardi yaitu Bu Siti.
Ardi yang saat itu masih tertidur seketika membuka matanya saat samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya, beberapa detik kemudian barulah dia yakin jika ada yang memanggilnya saat nyawanya sudah terkumpul.
Ardi merasakan lengan kirinya terasa sakit dan keram hingga sulit di gerakkan, dia pun menatap ke arah samping kirinya tiba-tiba senyumnya terbit saat melihat wanita cantik sedang terlelap berbantal kan lengannya.
Sementara dari arah luar pintu kamar terus saja diketuk tanpa henti.
“Sayang !” panggil Ardi sembari menepuk dengan lembut pipi sang istri.
“Hmmmm.” Jawab Sabrina dengan mata yang masih tertutup.
“Bangun yuk !” ucap Ardi dengan suara serak khas bangun tidur.
Sabrina pelan-pelan membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya perlahan.
Tok…tok suara ketukan pintu tidak kunjung berhenti.
Mendengar hal itu Sabrina seketika terperanjat dan duduk dengan cepat hingga dia tidak sadar jika tubuhnya tidak di tutupi oleh sehelai benang pun.
Ardi yang melihat hal tersebut seketika tersenyum ke arah Sabrina, Sabrina yang menyadari jika tubuhnya terbuka seketika menarik selimut untuk menutupinya.
“Kenapa di tutup ? padahal aku masih ingin melihatnya !” ucap Ardi sambil tersenyum.
“Apa sih !” ucap Sabrina sambil melempar bantal ke arah Ardi.
Melihat hal tersebut dengan cepat Ardi menghindari bantal yang di lempar kan oleh sang istri.
“Mesum ! ini bagaimana ?” ucap Sabrina lagi sedikit panik sambil menunjuk ke arah pintu.
“Tinggal buka saja gampang !” ucap Ardi sambil hendak bangkit dari ranjang.
“Kita yang begini ? kamu gila !” ucap Sabrina sedikit kesal dengan Ardi.
Mau di taruh di mana wajahnya jika orang-orang melihat keadaan mereka yang tidak siap begitu.
Mendengar ucapan Sabrina Ardi pun mengurungkan niatnya dan mengenakan kembali pakaiannya begitu juga dengan Sabrina.
Beberapa saat kemudian Ardi pun membuka pintu kamar tersebut diikuti oleh Sabrina dari belakang.
“Ngapain sih kalian di dalam buka pintu saja butuh waktu lama !” ucap Bu Siti sedikit kesal.
Ardi pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertanyaan sang ibu sedangkan Sabrina merasa ingin menghilang seketika karena merasa sangat malu dengan pertanyaan sang ibu mertua.
__ADS_1
“Maklumi saja mbak namanya juga pengantin baru !” ujar bibi Farida kepada Bu Siti.
“Buu !” ucap Sinta kepada Bu Siti sambil menghentak kan kakinya ke lantai.
Bu Siti pun mengelus lengan Sinta sambil menganggukkan kepalanya menandakan jika Sinta harus percaya kepadanya.
Tidak terima dengan ucapan sang adik ipar bu Siti pun memaksa masuk ke dalam kamar tersebut untuk melihat keadaan di dalam kamar tersebut, di susul oleh Sinta yang dengan tidak tahu malunya juga ikut mengekor di belakang bu Siti.
“Mbak !” panggil bibi Farida ingin mencegah sang kakak ipar agar tidak masuk ke dalam kamar tersebut.
Namun panggilan sang adik ipar tidak di gubris oleh bu Siti dan terus memaksa masuk.
“Apa ini ?" ucap bu Siti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sabrina tidak berani berkata dan hanya menyikut Ardi agar buka suara.
“Hanya pertempuran kecil agar ibu bisa segera mendapatkan cucu.” Ucap Ardi dengan enteng.
Mendengar hal itu wajah Sabrina menjadi merah menahan malu.
Sedangkan Sari dan juga sang mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Ardi.
Lain hal dengan bu Siti dan juga Sinta menjadi mereka menjadi semakin kesal mendengar jawaban Ardi.
“Dasar wanita tidak tahu malu !” umpat Sinta kesal.
“Yang tidak tahu malu yang bukan siapa-siapa main nyelonong aja ke kamar orang !” Sindir Sari menanggapi ucapan Sinta.
“Sudah-sudah ! rezeki akan menjauh jika ribut terus begini.” lerai bibi Farida.
“Kalian berdua sana bersih-bersih !” ucap bibi Farida kepada Ardi dan juga Sabrina.
“Tapi bi ?” ucap Sabrina merasa tidak enak.
“Sudah sana jika kalian masih di sini mertua mu juga tidak akan berhenti !” ucap bibi Farida lagi.
“Tapi….” Ucap Sabrina.
“Sudah sana serahkan semua sama bibi !” ucap bibi Farida lagi kepada Sabrina.
Kemudian Ardi mengajak Sabrina untuk kembali ke rumah meninggalkan sang ibu yang masih mengomel bersama dengan Sinta.
Sepeninggal sepasang suami istri tersebut bibi Farida dan juga Sari masuk ke dalam kamar menyusul sang kakak ipar Bu Siti dan juga Sinta.
“Sudahlah mbak ! tidak baik di dengar orang toh mereka mau ngapain juga sudah halal tidak ada larangannya ! malahan sebagai orang tua juga akan berdosa jika berusaha memisahkan atau membuat mereka berpisah.” Ujar bibi Farida kepada Bu Siti sang kakak.
“Dari awal sudah aku tegaskan jika aku tidak setuju jika anakku menikah dengan wanita yang tidak jelas begitu ! kamu liat tuh apa mereka tidak malu meninggalkan noda seperti itu !” ucap bu Siti semakin kesal melihat noda yang ada di atas seprai tersebut.
Mendengar hal tersebut bibi Farida seketika ingin tertawa namun hal tersebut dia urungkan.
__ADS_1
“Mbak juga yang salah datang-datang main nyelonong aja !” ucap bibi Farida seketika menutup mulutnya menahan tawa.
Mendengar ucapan sang adik semakin membuat bu Siti semakin kesal dan akhirnya pergi berlalu meninggalkan sang adik dan juga sang keponakan si susul oleh Sinta yang setia menjadi buntutnya di belakang.
Kemudian bibi Farida membuka seprai yang sudah kotor tersebut dan membawanya ke belakang untuk di cuci sedangkan Sari diminta oleh sang mama untuk memasang kembali seprai yang masih bersih.
Beberapa jam kemudian …
Sabrina sedang duduk di gazebo belakang rumah menemani mbok Ya yang sedang memberi makan ikan yang ada di kolam di bawah gazebo tersebut.
“Mbak mau coba ?” tanya mbok Ya kepada Sabrina.
“Mau !” ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya antusias.
“Ini !” ucap mbok Ya sambil menyerahkan ember yang berisi pellet tersebut kepada Sabrina.
Sabrina pun dengan senang hati menirukan cara mbok Ya melemparkan pellet ikan tersebut ke dalam kolam.
“Wah mbok banyak sekali ikannya !” ucap Sabrina kepada mbok Ya saat melihat puluhan ikan muncul ke permukaan air.
“Benar mbak ! dan mbak tahu kalau orang rumah ada yang pengen makan ikan ya tinggal ambil di sini tidak perlu lagi ke tambak yang di kebun sana.” Terang mbok Ya.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mengerti dengan penjelasan mbok Ya sambil terus melemparkan pellet ke dalam kolam.
Saat sedang asyik dengan aktivitasnya tersebut Ardi pun datang memanggil Sabrina.
“Sayang !” panggil Ardi tidak jauh dari tempat Sabrina berdiri dan juga mbok Ya.
Mendengar ada yang memanggilnya Sabrina pun melihat ke arah sumber suara.
“Hmmm ?” ucap Sabrina menanggapi panggilan Ardi.
“Lagi apa ?” tanya Ardi sambil berjalan mendekat ke arah Sabrina.
“Ini !” ucap Sabrina sambil menunjukkan ember yang ada di tangannya.
“Sudah mbak biar bibi yang melanjutkan.” Ucap mbok Ya meminta kembali ember yang berisi pellet ikan tersebut.
“Hmmmm.” Ucap Ardi mengangguk paham.
“Ikut aku yuk !” ucap Ardi sambil memegang tangan Sabrina.
“Ke mana ?” tanya Sabrina mengerutkan keningnya.
“Udah kamu ikut saja !” ucap Ardi lagi.
“Ke mana dulu ? nanti aku dimarahi ibu lagi.” Ucap Sabrina jujur.
“Tidak usah khawatir.” Ucap Ardi.
__ADS_1
Dengan sedikit ragu-ragu akhirnya Sabrina pun menurut dia pun mengikuti langkah kaki Ardi entah ke mana lagi Ardi membawanya kali ini.
Bersambung….