
Ardi merebahkan kepala sang istri agar bersandar di bahunya sesaat sebelum bicara Ardi menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan.
“Kamu tahu ?“ tanya Ardi kepada Sabrina.
“Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu saja belum mengatakannya.” Jawab Sabrina.
Ardi pun terkekeh sambil mencubit gemas hidung Sabrina.
“Jika aku boleh jujur memang bukan kamu yang pertama namun saat ini kamulah satu-satunya dan yang terakhir yang akan mengisi hatiku, menua bersama sambil merawat dan membesarkan anak-anak kita nantinya hingga menemaniku sampai ajal menjemputku.” Ucap Ardi sambil matanya menatap tetesan air hujan yang menimpa dedaunan.
Sabrina pun terdiam mendengar pengakuan Ardi, ada rasa terharu yang bersemayam di dalam lubuk hatinya hingga dia tidak tahu harus berkata apa tetapi yang jelas tidak ada kebohongan atas apa yang di ungkapkan oleh sang suami kepadanya.
“Bagaimana denganmu ?” tanya Ardi kemudian.
“Apanya ?” jawab Sabrina tidak mengerti.
“Aku rasa kamu sudah tahu seluk beluk tentang kehidupanku sedangkan kamu aku sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupanmu sebelumnya.” Tanya Ardi sedikit penasaran.
“Aku ? apa perlu ?” tanya Sabrina balik.
“Kita berdua sudah sampai pada titik ini ! ya aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus di sembunyikan atau di tutup-tutupi bukan ?” tanya Ardi lagi sambil menatap manik mata Sabrina sang istri.
Sabrina pun terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu.
“A…aku “ ucap Sabrina sedikit ragu.
Melihat reaksi Sabrina seolah enggan untuk bercerita mengenai kehidupannya Ardi pun akhirnya pasrah.
“Sudah lupakan saja !” ucap Ardi akhirnya.
“Tidak ! kamu benar ! seharusnya kamu juga tahu bagaimana kehidupanku saat sebelum kita bertemu.” Ucap Sabrina akhirnya.
“Kamu yakin ?” tanya Ardi lagi memastikan jika Sabrina benar-benar siap untuk bercerita.
“Iya aku yakin.” Jawab Sabrina.
Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sabrina.
Sabrina pun memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah Ardi.
“Orang tuaku bercerai saat aku masih kecil, pada saat itu aku masih berada di sekolah dasar, mereka berpisah dan mama pergi meninggalkan rumah sementara aku tetap tinggal di rumah bersama dengan papa.” Ucap Sabrina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kamu tahu bagaimana hancurnya hati gadis kecil yang sebelumnya memiliki keluarga yang utuh ? dengan tiba-tiba saja istana kecilnya menjadi puing-puing yang menyebabkan goresan luka yang begitu dalam dan membekas.” Jelas Sabrina.
“Hal yang paling membuat mentalku hancur di saat aku baru saja kehilangan sosok ibu di saat itu pula papaku membawa istri baru dan juga anak tirinya.” Terang Sabrina lagi.
__ADS_1
“Papa yang biasa selalu memanjakanku tiba-tiba saja berubah dan lebih menyayangi anak tirinya tersebut dan kamu tahu bagaimana nasibku ? aku di tuntut untuk selalu mengalah jika itu sudah berkaitan dengan adik tiriku itu.” Ucap Sabrina lagi.
“Kehidupanku berbanding terbalik yang dari awalnya selalu di prioritaskan ! hingga mereka muncul di rumah bagaikan neraka setiap hari selalu ada masalah.” Jelas sabrina lagi.
“Bahkan papa tidak mau mendengarkan penjelasanku dan untuk pertama kalinya papa menamparku demi membela anak dari istrinya itu ! hehehehe miris bukan ?” ucap Sabrina sambil tertawa namun tanpa bisa di bendung air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
Ardi yang melihat hal tersebut seketika menghapus air mata Sabrina lalu membawa sang istri ke dalam pelukannya agar Sabrina merasa dia tidak sendiri, masih ada sang suami bersamanya yang akan menjaga dan menyayanginya.
“Sayang kamu yang sabar ya aku akan selalu bersamamu !” ucap Ardi sambil mengelus punggung sang istri.
“Hahahaha ! aku terlalu kekanak-kanakan ya.” Ucap Sabrina tertawa sambil berusaha menghapus air matanya.
“Tidak juga ! malahan menangis sesekali sangat bagus untuk menumpahkan emosi dan memperbaiki suasana hati.” Ucap Ardi.
“Bagaimana rasanya setelah menangis ? lega bukan ?” tanya Ardi lagi.
“Iya !” ucap Sabrina menganggukkan kepalanya.
“Boleh aku bertanya ?” tanya Ardi lagi kepada Sabrina.
“Hmmmm !” ucap Sabrina.
“Berarti kedua orang tuamu masih ada ?” tanya Ardi lagi.
“Hmmmm.” Jawab Sabrina menanggapi.
“Untuk mama aku tidak tahu mama di mana sekarang karena semenjak pergi dari rumah aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.” Jawab Sabrina.
“Dan papa ? aku belum siap !” jelas Sabrina lagi.
“Baiklah aku harap aku bisa segera bertemu dengan kedua orang tuamu dan memintamu serta meminta restu dari kedua orang tuamu.” Ucap Ardi lagi.
“Dan untuk mama aku akan membantumu menemukannya.” Ucap Ardi lagi.
“Hmmm … terima kasih.” Ucap Sabrina tersenyum tipis.
“Sayang apa kamu pernah pacaran ?” tanya Ardi tiba-tiba.
“Hah ? pacaran ?” tanya Sabrina mengerutkan dahinya.
“Iya !” jawab Ardi.
“Aku tidak pernah pacaran.” Jawab Sabrina jujur.
“Kenapa ?” tanya Ardi.
__ADS_1
“Kenapa apanya ?” tanya Sabrina balik.
“Iya kenapa kamu tidak pernah pacaran ? sangat mustahil anak anak kota tidak pernah pacaran.” Ucap Ardi.
“Pacaran sangat melelahkan tidak boleh ini tidak boleh itu toh pada akhirnya juga tidak berjodoh dan buang-buang waktu saja.” Ucap Sabrina.
“Bahkan orang tuaku yang saling mencintai juga akhirnya mereka berpisah.” Ucap Sabrina lagi.
“Terus kenapa kamu mau menikah denganku ?” tanya ardi penasaran.
“Karena di paksa ! mau kabur juga tidak bisa !” ucap Sabrina jujur.
“Emang kamu ada niat untuk kabur ?” tanya Ardi lagi.
“Ada sewaktu aku kecelakaan itu.” Jawab Sabrina.
“Hahahahaha.” Sontak Ardi pun tertawa mendengar pengakuan Sabrina.
“Puas kamu ?” tanya Sabrina sedikit kesal karena Ardi menertawakannya.
“Hahahaha itu tandanya kamu mencoba melawan takdir, sedangkan kamu sudah di takdirkan untukku !” ucap Ardi puas hati.
“Terpaksa.” Ucap Sabrina.
“Yakin ni terpaksa ?” tanya Ardi sambil mengecup gemas pipi sang istri.
“Hahahha.” Sabrina pun seketika tertawa melihat perlakuan Ardi kepadanya.
Jam sudah semakin larut hujan tak kunjung berhenti sedangkan udara semakin dingin hingga menusuk sampai ke tulang sepasang suami istri tersebut pun memutuskan untuk segera tidur karena besok pagi mereka pun harus kembali pulang ke rumah karena ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Ardi.
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa pagi datang menyambut, suara kicauan burung-burung kecil yang bertengger di dahan pohon terdengar saling bersahutan, cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding kamar yang terbuat dari kayu tersebut, Sabrina menggeliat kan tubuhnya yang sudah terasa kaku.
“Sudah bangun ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Hmmmm “ jawab Sabrina dengan suara serak khas bangun tidur.
“Apa tidurmu nyenyak ?” tanya Ardi lagi.
“Hmmm.” Jawab Sabrina lagi.
“Sayang apa aku boleh meminta sesuatu ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Asal jangan yang aneh-aneh !” jawab Sabrina berusaha hendak bangkit dari tempat tidur.
Namun Ardi malah menahannya dan membawa Sabrina kembali ke pelukannya.
__ADS_1
Bersambung….