Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 35


__ADS_3

Sari baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tepat saat Sabrina tengah kesal sambil memukul-mukul bantal yang ada di sana kemudian dia pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sabrina tersebut.


“Kenapa mbak ?” tanya Sari sembari mendaratkan bokongnya di pinggir ranjang.


“Bukan apa-apa ! hanya saja saat ini aku sedang kesal sampai ingin menghajar seseorang !” ucap Sabrina sambil mengeratkan giginya.


“Mas Ardi lagi ?” tanya Sari kepada Sabrina menebak.


Sabrina pun menghentikan aksinya lalu memutar badannya menghadap ke arah Sari.


“Kenapa dengan mas Ardi ?” tanya Sari kepada Sabrina.


Sabrina pun membuka mulutnya hendak bercerita namun dia pun mengurungkan niatnya.


“Bukan apa-apa !” ucap Sabrina akhirnya.


“Ya sudah kalau mbak belum siap untuk bercerita aku paham dan tidak ingin memaksa mbak untuk bercerita karena itu haknya mbak.” Ucap Sari mengerti.


“Eh itu… ibu sudah pulang ?” tanya Sari kepada Sabrina sambil menunjuk ke arah mobil yang ada di halaman rumah pak Agus sang paman.


“Hmmmm.” Jawab Sabrina sambil menghembuskan napas kasar.


“Oh…” Sari pun menganggukkan kepalanya paham.


……


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam Ardi masih sibuk mengobrol bersama kedua orang tuanya dan juga Sinta tentunya hingga tidak sadar jika Sabrina sang istri ada di sana.


Hingga pukul 09.30 malam Ardi baru sadar jika Sabrina tidak berada di sana saat kedua orang tuanya pamit masuk ke dalam kamar.


“Di mana dia ?” tanya Ardi di dalam hati sambil celingak celinguk mencari keberadaan sang istri.


Kegelisahan Ardi tersebut diketahui oleh Sinta yang masih berada di sana.


“Cari siapa mas ?” tanya Sinta kepada Ardi.


“Istriku !” jawab Ardi singkat.


Ekspresi Sinta seketika berubah menjadi ekspresi tidak suka.


“Kenapa sih mas ada aku di sini tetapi kamu masih mencari wanita itu ! kita itu sudah di jodohkan mas dan akan segera menikah !” ucap Sinta mengingatkan Ardi.


“Apa istimewanya wanita itu hingga mas tidak menganggap keberadaan aku di sini !” ucap Sinta mulai kesal.


Mendengar hal itu Ardi mulai kesal dengan tingkah Sinta.

__ADS_1


“Dengar ya !” ucap Ardi kepada Sinta.


“Saat ini dia istriku ! dan seterusnya dia akan tetap menjadi istriku ! dan kamu tidak berhak mengaturku !” ucap Ardi dengan tegas kepada Sinta.


Wajah Sinta tampak merah padam menahan kesal karena ucapan Ardi kepadanya.


“Mas lupa ! kalau memang mas lupa aku akan ingatkan kembali karena sebentar lagi aku akan pastikan mas akan menceraikannya dan memilihku.” Ucap Sinta dengan tegas kemudian dia pun melangkahkan kakinya berjalan masuk ke arah kamar tamu yang sudah di siapkan untuknya.


Sepeninggal Sinta Ardi segera berjalan menuju ke dalam kamarnya untuk menemui sang istri, sesampainya di depan kamar Ardi segera membuka pintu kamar tersebut dan menelusuri setiap sudut kamar tersebut namun nihil sang istri tidak berada di sana.


“Kamu di mana ?” tanya Ardi di dalam hati lalu menutup kembali pintu kamar tersebut.


Ardi melangkahkan kakinya keluar menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke rumah sang bibi yang berada di samping rumah tersebut.


Bibi Farida yang saat itu hendak mengunci pintu untuk bersiap-siap hendak tidur mengurungkan niatnya saat mendengar Ardi memanggil, kemudian sang bibi pun membuka pintu tersebut agar Ardi bisa masuk ke dalam.


“Bi Sabrina !” ucap Ardi.


Belum sempat Ardi menyelesaikan pertanyaannya sang bibi pun dengan cepat mengerti maksud dari Ardi.


Ardi pun menghembuskan napas lega mendengar ucapan sang bibi, lalu tanpa permisi Ardi pun meninggalkan sang bibi di depan pintu lalu pergi menuju ke arah kamar Sari


sang adik sepupu.


Saat sampai di depan pintu kamar Sari Ardi bersiap hendak mengetuk pintu kamar tersebut namun dia mengurungkan niatnya saat pintu terbuka dan Sari keluar sambil menguap.


“Terbangun karena mendengar suara mas.” Ucap Sari jujur.


“Hahahaha… maaf ya.” Ucap Ardi sambil mencubit pipi Sari dengan gemas.


“Aduh sakit.” ucap Sari berusaha melepaskan cubitan Ardi dari pipinya.


Ardi pun melepaskan cubitannya seketika.


“Mbak mu ?” tanya Ardi sangat pelan kepada Sari.


“Tuh ! lagi tidur.” Ucap Sari kepada Ardi sambil menunjuk ke dalam kamar.


Ardi menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Sari.


“Ehmmm mas boleh minta tolong nggak !” ucap Ardi kepada Sari sang adik.


“Apa ?” tanya Sari sambil mengkerut kan keningnya.


“Malam ini kamu tidur di kamar tamu dulu ya ?” ucap Ardi setengah memohon agar Sari mengerti maksudnya.

__ADS_1


“Iya… iya…tapi nanti ada syaratnya ya.” Jawab Sari lagi.


“Iya nanti mas bagi uang jajan deh.” Ucap Ardi sudah hapal dengan persyaratan Sari setiap Ardi membutuhkan bantuannya.


“Good !” jawab Sari lalu meninggalkan Ardi berjalan menuju ke kamar tamu yang ada di rumah tersebut.


Sepeninggal sang adik sepupu Ardi pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang sedang di gunakan oleh Sabrina tersebut.


Saat sudah berada di dalam kamar tersebut Ardi melihat sang istri sudah meringkuk tertidur lelap di atas ranjang milik Sari seorang diri, rasa iba terbit dari dalam hati Ardi melihat Sabrina yang sedang tertidur mengingat semenjak kejadian tadi siang Sabrina solah menjaga jarak darinya.


Bahkan setelah makan malam tadi dia sendiri tidak menyadari jika Sabrina tidak berada di dekatnya dan lebih memilih untuk tidur di rumah sang bibi.


Ardi melangkah pelan mendekati ranjang tersebut dan dengan sedikit hati-hati Ardi pun menaiki ranjang agar Sabrina tidak terbangun karena aksinya tersebut.


“Maaf !” ucap Ardi sangat pelan sambil tidur memeluk Sabrina yang tidur membelakanginya tersebut.


Beberapa saat kemudian terdengar suara napas Ardi yang sudah beraturan menandakan jika dia juga ikut terbang ke alam mimpi.


Merasa ada yang memeluknya dengan erat Sabrina pun terbangun dan melihat ke arah tangan yang melingkar memeluknya erat tersebut.


Sabrina pun berusaha melepaskan tangan yang memeluknya tersebut namun usahanya sia-sia karena pelukan tersebut semakin erat.


“Sar lepas dong ! nggak bisa napas ni !” ucap Sabrina dengan mata  yang masih setengah terpejam.


Lagi-lagi tangan tersebut semakin bertambah erat memeluknya.


“Biar seperti ini dulu !” ucap suara yang tidak asing di telinga Sabrina.


Mendengar suara tersebut seketika kesadaran Sabrina kembali utuh dengan sekuat tenaga dia pun berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pria yang sudah berstatus suaminya tersebut.


“Lepas nggak !” ucap Sabrina tegas.


“Tidak akan !” jawab Ardi kekeh tidak ingin melepaskan pelukannya.


“Aku bilang lepas ! kalau tidak ingin aku teriak !” ancam Sabrina.


“Silah kan ! kalau kamu ingin semua orang datang ke sini silah kan teriak !” jawab Ardi cuek.


Sabrina pun akhirnya menghentikan aksinya berontak karena percuma juga karena Ardi tidak kunjung melepaskan pelukannya.


“Tidak perlu memberi kenyamanan jika pada akhirnya kamu sendiri merenggutnya !” ucap Sabrina tiba-tiba.


Mendengar hal itu Ardi pun melonggarkan pelukannya dan memutar tubuh Sabrina menghadap ke arahnya.


“Sayang lihat aku !” ucap Ardi sambil menatap mata Sabrina.

__ADS_1


Namun Sabrina seolah enggan untuk menatap mata dan berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain, tetapi Ardi sendiri tidak menyerah  dan berusaha membuat Sabrina mengerti dan mau menatap ke arah matanya.


Bersambung….


__ADS_2