
Beberapa saat kemudian Ardi pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sabrina yang saat itu berdiri tidak jauh dari rumah kebun tersebut.
“Sayang !” ucap Ardi memanggil Sabrina.
“Hmmm.” Ucap Sabrina sambil menoleh ke arah sumber suara.
“Apa kamu kesulitan untuk sampai ke sini ?” tanya Ardi.
“Tidak juga ! oh iya bekalnya ada di sana !” ucap Sabrina kepada Ardi.
“Iya… ayo ke sana.” Ucap Ardi kepada Sabrina.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang suami kemudian dia pun mengikuti langkah kaki Ardi dari belakang menuju ke rumah kebun tersebut.
“Apa semua ini milik mu ?” tanya Sabrina penasaran.
Karena memang kebun tersebut sangat luas.
“Sayang apa kamu lupa bagaimana cara memanggil suamimu ini ?” tanya Ardi.
“Eh ?” ucap Sabrina mengerutkan keningnya sedikit bingung.
Sesaat kemudian Sabrina pun sadar dan paham dengan apa yang dimaksud oleh sang suami.
“Aku merasa sedikit aneh dan tidak terbiasa.” Jawab Sabrina jujur.
Karena memang dia merasa seperti itu dan sedikit kaku.
“Nanti juga akan terbiasa.” Ucap Ardi lagi.
“Atau kamu ingin aku cium dulu baru mau memanggilku seperti itu ?” tanya Ardi sambil berusaha mendekatkan wajahnya ke arah wajah Sabrina.
Spontan Sabrina pun menjauhkan wajahnya dari sang suami.
“Apaan sih mas ! diliatin orang tuh !” jawab Sabrina was-was.
“Itu bisa… lain kali tetap seperti itu kalau tidak ingin mas menciummu di depan orang.” Ucap Ardi tersenyum.
“Hmmmm.” Ucap Sabrina mengerucutkan bibirnya.
“Dulunya kebun ini milik mendiang kakek dan setelah kakek meninggal semuanya di ambil alih oleh ayah dan bibi Farida, karena bibi tidak paham dalam mengelola semua ini semuanya di kelola oleh Ayah.” Jawab Ardi menjelaskan.
“Hmmmm.” Ucap Sabrina mengangguk paham menanggapi penjelasan Ardi.
Keduanya pun sampai di beranda rumah kebun tersebut, Ardi pun duduk lesehan di atas karpet yang ada di sana diikuti oleh Sabrina yang duduk tepat di depan sang suami.
__ADS_1
Sabrina pun menyerahkan rantang makanan yang tadi di bawanya lalu menaruhnya di depan sang suami.
“Ini kenapa ?” tanya Ardi sambil memegang jari Sabrina yang saat itu di balut menggunakan hansaplast.
“Bukan apa-apa ! hanya sedikit tergores.” Jawab Sabrina.
“Kamu yakin ?” tanya Ardi memastikan.
“Iya aku yakin lagi pula ini tidak akan membuatku mati kok.” Ucap Sabrina asal sambil tersenyum ke pada Ardi lalu kemudian Sabrina pun menarik kembali tangannya.
“Sayang jangan berkata seperti itu lagi !” ucap Ardi menempelkan jari telunjuknya di bibir Sabrina.
Sabrina seketika diam sambil menatap ke arah manik mata sang suami.
“Lain kali hati-hati ya ! mas tidak ingin melihatmu terluka.” Ucap Ardi menegaskan lagi kepada sabrina.
“Iya.” Ucap Sabrina seketika menganggukkan kepalanya patuh.
Jauh di dalam lubuk hati Sabrina ada perasaan bahagia dan juga terharu melihat Ardi begitu peduli padanya.
Ardi pun membuka satu persatu rantang bekal yang yang di bawa oleh Sabrina tersebut dan menatanya di atas karpet setelah itu dia pun mengambilkan makanan untuk Sabrina lalu baru setelahnya untuk dirinya sendiri.
Mbok Ya pagi ini memasak aneka jenis lauk, ada belut goreng sambal matah, telur dadar serta tumis bunga papaya dan juga camilan pencuci mulut seperti pudding jagung.
“Sayang mau makan pakai apa ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Tidak mau coba yang ini ?” tanya Ardi sambil menunjuk rantang yang berisi goreng belut sambal matah.
“Nggak deh.” Ucap Sabrina sambil mengerdikkan bahunya sedikit geli.
“Ini enak banget.” Ucap Ardi.
“Nggak deh.” Jawab sabrina sambil menggelengkan kepalanya.
Ardi pun menganggukkan kepalanya mengerti.
“Mau apa lagi ? ini mau ?” tanya Ardi kepada Sabrina sambil menunjuk tumis bunga pepaya.
“Itu apa ? enak nggak ?” tanya Sabrina lagi.
“Tumis bunga pepaya… enak.” Ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
“Boleh deh sedikit saja.” Jawab Sabrina.
Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sabrina lalu dia pun menyendokkan tumis pepaya tersebut ke atas piring milik Sabrina yang sudah ada sedikit nasi dan sepotong telur dadar.
__ADS_1
Usai dengan Sabrina Ardi pun mengambil nasi dan juga beberapa lauk dan menaruhnya di dalam piring miliknya, setelah itu Ardi pun mulai menikmati bekal yang tadi di bawa oleh Sabrina.
“Apa seenak itu ?” tanya Sabrina lagi kepada Ardi karena dia melihat pria tersebut sangat lahap memakan belut goreng tersebut.
“Enak ! sayang mau ?” ucap Ardi lalu kembali mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya sambil tangan kanannya menyodorkan sepotong belut goreng ke mulut Sabrina.
“Nggak deh !” ucap Sabrina menolak.
Adi pun menganggukkan kepalanya mengerti dan terus melanjutkan menikmati makanan yang ada di dalam piringnya tersebut.
Setelah beberapa lama akhirnya bekal yang di bawa oleh Sabrina tersebut pun ludes sampai tetes terakhir, setelah beristirahat sambil mengobrol Ardi pun pamit kepada sang istri untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan untuk Sabrina Ardi memintanya kembali pulang ke rumah.
“Mas Ardi !” ucap Sinta memanggil Ardi.
Sabrina yang mendengar suara Sinta tersebut seketika menoleh ke arah sumber suara.
Di sana muncullah bu Siti sang mertua dan juga Sinta yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ada apa bu ?” tanya Ardi yang kaget saat melihat sang ibu juga ada di sana.
“Ibu ada perlu sama kamu !” jawab Bu Siti.
“Iya ada apa bu ?” ucap Ardi menanggapi ucapan sang ibu.
“Begini !” ucap sang ibu sedikit ragu untuk mengatakan maksud dan tujuannya sambil melirik ke arah Sabrina.
Menyadari hal itu Sabrina pun paham dan mengerti jika sang mertua tengah keberatan jika dia mendengar ucapannya, karena itu Sabrina pun memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu kepada Ardi, sang mertua dan juga Sinta.
“Hati-hati sayang.” Ucap Ardi kepada Sabrina saat hendak melangkahkan kakinya.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang suami lalu melangkahkan kakinya menjauhi tempat tersebut.
Sementara itu di beranda rumah kebun Ardi dan juga bu Siti tampak sedang mengobrolkan sesuatu yang cukup serius.
“Ada apa bu ?” tanya Ardi kepada sang ibu.
“Seperti yang kita bicarakan sebelumnya kapan kamu akan menikahi Sinta ?” tanya bu Siti terang-terangan.
“Aku sudah pernah katakan ! aku tidak akan menikah dengannya ! ibu tahu sendiri aku sudah menikah dan memiliki istri… itu tidak akan mungkin.” Jawab Ardi menanggapi ucapan sang ibu.
Sementara itu Sinta seketika meredam amarahnya mendengar ucapan Ardi yang terang-terangan menolaknya.
“Tapi ini semua di luar kendali ibu nak ! kamu tahu sendiri jika kita memiliki hutang yang cukup banyak kepada orang tua Sinta dan sampai saat ini kita belum bisa melunaskannya ! kamu tahu sendiri hasil kebun kita mengalami penurunan, belum lagi untuk upah para pekerja kita dapat uang dari mana agar bisa melunaskannya !” ucap bu Siti menekan Ardi.
Hal tersebut membuat Ardi menjadi kesal dan Ardi pun seketika mengusap kasar wajahnya meluapkan emosinya.
__ADS_1
Bersambung….