Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 39


__ADS_3

Tak butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah panggung yang tiangnya saja terbuat dari kayu- kayu besar seperti halnya kebanyakan rumah yang ada di desa tersebut.


“Rumah siapa ?” tanya Sabrina penasaran.


“Rumah kita.” Jawab Ardi yakin.


“Hah ?” tanya Sabrina tidak percaya.


“Dulunya rumah ini di aku bangun jauh sebelum kita bertemu.” Ucap Ardi menjelaskan.


“Hmmmm.” Ucap Sabrina mengangguk paham.


Kemudian Ardi pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga di susul oleh Sabrina dari belakang.


“Ayo masuk.” Ucap Ardi mempersilahkan Sabrina masuk setelah membuka pintu rumah tersebut kemudian dengan langkah cepat Ardi pun masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di dalam rumah tersebut.


Sabrina pun menurut, dia pun dengan pelan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, sekejap Sabrina terpana melihat isi dalam rumah tersebut walaupun terbuat dari kayu namun terlihat sangat mewah dan elegan dengan perabotan sederhana.


Sangat jauh berbeda dengan rumah yang orang tuanya miliki rumah di mana dia di besarkan selama ini, walaupun terlihat sederhana namun suasana rumah tersebut sangat hangat jika di tinggali keluarga kecil.


Tidak berapa lama Ardi pun keluar dengan membawa sebuah handuk lalu menyerahkan handuk tersebut ke pada Sabrina.


“Kamu bisa ganti baju di kamar sana.” Ucap Ardi kepada Sabrina sambil menunjuk ke arah kamar yang tadi dia masuki.


“Iya.” Ucap Sabrina mengangguk.


“Pakaiannya ada di atas ranjang.” Ucap Ardi lagi.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi.


Sesampainya di kamar Sabrina menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam, tidak ingin membuang waktu Sabrina pun mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk yang tadi di berikan oleh Ardi kepadanya.


Saat hendak mengganti pakaiannya Sabrina pun merasa kebingungan karena di sana hanya tersedia sebuah kemeja tanpa ada celana dan juga pakaian dalam.


Sabrina pun merasa bingung dan hendak bertanya kepada Ardi, dia pun memutuskan membuka pintu kamar perlahan dan melihat keadaan sekitar.


“Sudah selesai ?” tanya Ardi saat melihat hanya kepala Sabrina yang muncul dari balik pintu.


“Itu !” ucap Sabrina ragu.


“Ada apa ?” tanya Ardi lagi.


“Apa hanya ada kemeja ?” tanya Sabrina ragu.


“Owh itu aku sudah minta Sari mengantarkan pakaianmu ke sini.” Terang Ardi.


“Sementara ini kamu bisa pakai itu dulu.” Ucap Ardi lagi.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang di ucapkan oleh Ardi, kemudian dia pun segera masuk kembali ke dalam kamar untuk mengenakan kemeja yang sudah di siapkan oleh Ardi tersebut.

__ADS_1


Usai mengenakan kemeja tersebut Sabrina merasa sangat risih dengan penampilannya karena kemeja tersebut hanya menutupi separuh bagian pahanya.


“Bagaimana ini ?” ucap Sabrina kepada dirinya sendiri.


“Apa nanti yang akan di pikirkan olehnya jika aku berpakaian seperti ini ?” tanya Sabrina lagi kepada dirinya sendiri.


“Sayang kamu menggodaku ?” Ucap Ardi tiba-tiba saja sudah memeluk Sabrina dari belakang.


“Eh bu…bukan.” Ucap Sabrina sedikit gugup.


“Aku sangat suka jika kamu benar-benar sedang ingin menggodaku.” Ucap Ardi lagi dengan lembut tepat di telinga Sabrina kemudian Ardi pun mendaratkan kecupan singkat namun terasa manis di area antara bahu dengan leher Sabrina.


Seketika Sabrina menggeliat kan tubuhnya karena dia merasa seolah ada arus listrik yang mengaliri tubuhnya yang tidak terasa sakit namun dia menyukainya.


“Sayang kamu benar-benar menjadi canduku saat ini.” Ucap Ardi sambil mengeratkan pelukannya dengan sesekali dia menghirup aroma sang istri.


Sabrina sangat ingin menjauhkan diri dari Ardi namun sisi dirinya yang lain tidak ingin melakukannya, hingga akhirnya Sabrina pun mengikuti alur magnet yang tercipta antara dirinya dan juga Ardi sang suami.


Untuk yang kedua kalinya hal yang sangat di perbolehkan mereka lakukan kembali terjadi namun kali ini sangat berbeda sangat manis hingga energi keduanya terkuras habis.


“Terima kasih sayang … aku sangat mencintaimu !” ucap Ardi sambil mengecup kening Sabrina sang istri.


Sabrina hanya tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi sang suami.


Seolah ada yang menghipnotis, keduanya pun kembali tertidur dengan lengan Ardi yang menjadi bantal untuk Sabrina.


Beberapa saat kemudian Sari menghentikan sepedanya tepat di depan rumah, dia pun segera menaiki anak tangga dan masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak di kunci oleh Ardi, Sari pun mengerutkan keningnya karena di dalam rumah sangat sunyi seperti tidak ada orang namun di atas rak sepatu tampak jelas jika dua pasang sendal tersusun rapi di sana.


Beberapa saat kemudian ….


Suasana langit sudah berubah menjadi jingga itu berarti sebentar lagi hari mulai gelap, Ardi yang merasa lengannya terasa kaku kemudian dengan perlahan dia bangkit dari tidur lalu melepaskan lengannya dari kepala sang istri.


Perlahan dia mengenakan kembali pakaiannya kemudian menutup kembali jendela kayu kamar tersebut dan menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas di samping ranjang, setelah itu Ardi pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan melihat barang pesanannya sudah di antar oleh sang adik, Ardi pun segera menutup jendela rumah serta pintu kemudian menyalakan lampu agar tidak gelap.


Ardi melihat layar ponselnya, di sana sudah banyak panggilan tidak terjawab dari sang ibu dan juga Sinta, setelah itu Ardi pun masuk kembali ke dalam kamar dan berniat membangunkan  Sabrina.


“Sayang !” ucap Ardi sambil mengelus pipi Sabrina.


“Hmmm” respon Sabrina saat merasa ada yang mengelus pipinya.


“Ayo bangun !” ucap Ardi lagi kepada Sabrina.


“Jam berapa ?” ucap Sabrina sambil mengucek-ngucek matanya.


“Jam 06.00 sore.” Ucap Ardi sambil melihat jam weker yang terletak di atas meja nakas.


“Bersih-bersih dulu sana !” ucap Ardi lagi.


“Kamu sendiri ?” tanya Sabrina dengan suara serak khas bangun tidur.

__ADS_1


“Aku belakangan saja… kamu duluan saja ! aku mau masak untuk makan malam sebentar habis itu aku baru bersih-bersih.” Terang Ardi.


“Hmmm.” Jawab Sabrina sambil menganggukkan kepalanya.


Kemudian Sabrina pun bangkit dari ranjang dan mengambil handuk yang terletak di atas kursi kayu.


“Mau mandi di mana ?” tanya Sabrina sebelum keluar dari dalam kamar.


Ardi pun melangkahkan kakinya menyusul Sabrina untuk menunjukkan di mana letak kamar mandi di rumah tersebut.


“Oh iya sayang pakaianmu ada di atas kursi yang ada di ruang tamu.” jelas Ardi.


“Kapan kamu mengambilnya.” Tanya Sabrina heran.


“Sari yang mengantarnya.” Ucap Ardi lagi.


“Owh…” ujar Sabrina.


“Di sini.” Ucap Ardi kepada Sabrina saat sampai di kamar mandi yang di maksud.


“Hah ?” ucap Sabrina sampai melongo melihat suasana kamar mandi tersebut.


“Kenapa ?” tanya Ardi heran melihat respons Sabrina.


“Kamu bercanda ? bagaimana aku bisa mandi di sini ? jika ada yang mengintip bagaimana ?” ucap Sabrina lagi.


Ya kamar mandi tersebut bisa di bilang sangat terbuka di sana hanya ada sebuah kendi besar yang di jadikan untuk menampung air yang berasal dari sebuah bambu yang di jadikan untuk mengaliri air.


“Tidak ada yang akan mengintip selain aku !” ucap Ardi tersenyum.


Siapa yang mau mengintip di sana hanya ada satu rumah yaitu rumah yang sekarang mereka tempati sisanya hanya pepohonan Semak.


“Aku tidak mau mandi di sini.” Ucap Sabrina menolak untuk mandi di sana.


“Atau kamu mau kita pulang ke rumah sekarang ?” tawar Ardi kepada Sabrina.


“Iya iya aku akan mandi di sini !” ucap Sabrina buru-buru setuju untuk mandi di sana.


Karena dia merasa malas untuk kembali ke rumah bertemu dengan Sinta wanita yang selalu mengekor ke mana Ardi pergi.


“Awas ya jangan mengintip !” ucap Sabrina memperingatkan Ardi sambil mendorong sang suami agar menjauh dari sana.


“Apa kita mandi berdua saja ?” tanya Ardi mulai menggoda Sabrina sambil tersenyum.


Sabrina pun memamerkan gumpalan tangannya yang berbentuk tinju guna memperingatkan Ardi agar tidak macam-macam.


“Hahahahha.” Ardi pun tertawa melihat tingkah gemas Sabrina.


Kemudian Ardi pun meninggalkan Sabrina di sana sendiri dan menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka makan nanti.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2