
Setelah menempuh beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka pun akhirnya sampai di rumah, saat ini Bu Siti tengah duduk menggunakan kursi roda di beranda rumah panggung tersebut di temani oleh Ardi dan juga pak Agus sang suami.
Saat Ardi dan juga sang ayah tengah mengobrol hingga sesekali bercanda untuk menghibur sang ibu tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman rumah mereka, seketika Ardi dan juga sang ayah menoleh untuk melihat siapa yang datang.
“Om Rudi ?” ucap Ardi pelan saat tahu yang datang tersebut adalah Pak Rudi.
“Rudi ?” ucap pak Agus.
Mendengar hal tersebut seketika bu Siti tampak merasa tidak nyaman dan hal tersebut di ketahui oleh Ardi sang putra.
Sabrina yang baru saja selesai mandi dan bersih-bersih tampak berjalan menuju beranda rumah berniat untuk ikut bergabung dengan suami dan juga sang mertua.
Ardi yang melihat kedatangan sang istri pun meminta tolong kepada Sabrina untuk membawa sang ibu ke dalam karena dia merasa cemas jika emosi sang ibu menjadi tidak stabil.
“Siapa mas ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
“Om Rudi ! sayang mas minta tolong… tolong bawa ibu ke dalam sebentar ya !” ucap Ardi kepada Sabrina sang istri.
Tanpa banyak tanya Sabrina pun mendorong kursi roda sang mertua dan membawanya ke dalam rumah menjauh dari beranda rumah tersebut.
Sabrina pun menghentikan langkahnya dan berjalan tepat ke depan sang mertua, dengan perlahan Sabrina pun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang mertua yang saat itu tengah duduk di kursi roda.
“Bu… untuk sementara kita di sini dulu ya !” ucap Sabrina sambil tersenyum lalu dengan lembut menggenggam tangan sang mertua.
Namun bu Siti hanya diam tanpa ekspresi menatap ke arah Sabrina, entah apa yang dipikirkan oleh wanita paruh baya tersebut.
Di beranda rumah…
Pak Agus melangkahkan kakinya menuruni anak tangga rumahnya untuk menyambut kedatangan tamu tersebut.
“Kamu datang ?” tanya pak Agus kepada tamu tersebut dengan sedikit gugup.
“Apa kedatanganku ke sini tidak di inginkan ?” tanya pak Rudi menanggapi ucapan pak Agus.
“Om ?” ucap Ardi yang ikut menyambut kedatangan pak Rudi sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami pak rudi.
Pak Rudi tersenyum sedikit sinis menanggapi Ardi.
__ADS_1
“Bukan seperti itu ! aku hanya kaget kamu tiba-tiba datang tanpa mengabari terlebih dahulu.” Ucap pak Agus menanggapi ucapan pak Rudi.
“Ayo masuk-masuk !” ucap Pak Agus mempersilahkan Pak Rudi masuk ke rumahnya.
Pak Rudi pun berjalan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah panggung tersebut, sedangkan Ardi dan sang ayah menyusul dari belakang.
Ketiga pria tersebut pun duduk di kursi yang ada di beranda rumah tersebut.
“Tidak usah bertele-tele maksud dari kedatanganku ke sini yaitu untuk menagih uang milikku !” ucap pak Rudi langsung ke intinya.
Pak Agus yang mendengar ucapan pak Rudi seketika tampak gugup karena memang dia sama sekali belum memiliki uang untuk mengganti uang pak Rudi yang pernah di pinjamnya ditambah lagi sang istri baru saja masuk rumah sakit.
“Begini Rud aku mohon beri aku waktu sedikit lagi… aku berjanji akan membayar semua hutangku.” Ucap Pak Agus memohon di beri waktu lebih.
“Tidak ada kelonggaran lagi ! jika sebelumnya aku memberi kelonggaran itu karena putri ku menyukai anakmu dan istrimu berjanji akan menjadikan putriku menantunya ! tapi apa ? kalian menghina putriku dan menolaknya ! kesabaran ku sudah habis.” Ucap pak Rudi.
“Jika putriku di sakiti sebagai ayah aku orang pertama yang akan melindunginya.” Ucap pak Rudi lagi.
Pak Rudi tampak sangat emosi saat mengungkapkan kekesalannya.
“Mohon maaf om ! jika aku boleh bicara … aku sama sekali tidak pernah menghina putri om, aku hanya mengatakan jika aku sudah menikah dan tidak akan mungkin aku menikah dengannya.” Ucap Ardi membela diri karena memang dia sama sekali tidak pernah menghina seperti yang di katakan oleh pak Rudi tersebut.
Sementara itu pak Agus tidak tahu akan berkata apa lagi, di satu sisi memang hutang harus di bayar dan di sisi lain sang putra juga sudah menikah dan tidak akan mungkin bisa menikahi putri temannya tersebut.
“Saat ini juga aku tegaskan jika hutang tersebut tidak di lunaskan kebun yang sudah di jadikan jaminan untung hutang tersebut akan aku ambil alih.” Ucap pak Rudi menegaskan.
“Baik om kalau begitu hutang tersebut akan segera kami lunaskan.” Ucap Ardi yakin.
“Ardi !” ucap pak Agus yang kaget mendengar ucapan sang putra.
“Ayah tenang saja aku sudah menemukan jalan keluarnya.” Jawab Ardi dengan yakin.
“Apa boleh aku minta waktu lagi om ? paling lama besok sore aku akan antarkan uangnya.” Ucap Ardi meminta waktu lagi.
“Baik ! aku akan beri waktu sampai besok sore jika tidak aku tidak akan bisa mentolerir lagi dan akan mengambil alih kebun tersebut !” ucap pak Rudi lagi.
“Terima kasih om !” ucap Ardi kepada pak Rudi karena bersedia memberinya waktu tenggang hingga besok sore.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama pak Rudi pun akhirnya pulang sekarang tinggallah Ardi dan juga sang ayah, tampak sang ayah memijit pelipisnya yang saat itu tiba-tiba berdenyut.
“Ayah baik-baik saja ?” tanya Ardi saat melihat sang ayah memijit pelipisnya.
Pak Agus pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ardi.
“Hanya sedikit pusing.” Jawab pak Agus kemudian.
“Ayah tidak usah terlalu memikirkannya ! aku punya sedikit tabungan di tambah lagi istriku bersedia membantu !” ucap Ardi menjelaskan.
“Istrimu ?” tanya pak Agus.
“Iya.” ujar Ardi menganggukkan kepalanya.
“Apa itu tidak masalah ? apalagi hutang tersebut cukup besar.” Ucap sang ayah.
“Untuk sementara yah… dan aku akan menggantinya kembali !” jawab Ardi lagi.
“Baiklah kalau begitu ! ayah setuju kita harus mengganti uang istrimu kembali.” Ucap pak Agus.
“Sudah ayah tidak usah terlalu banyak berpikir ! itu hanya akan memperburuk kesehatan ayah !” ucap Ardi kepada sang ayah.
Sang ayah pun hanya tersenyum mendengar ucapan sang putra.
Ardi pun masuk ke dalam rumah di dekat meja makan dia melihat sang istri sedang menyuapi sang ibu.
“Nah begitu dong bu makan yang banyak biar ibu bisa cepat pulih !” ucap Ardi saat melihat sang ibu tengah disuapi bubur.
“Sepertinya ibu sudah tidak sabar agar cepat pulih… nih mas lihat sudah hampir habis buburnya !” ucap Sabrina menunjukkan mangkok tersebut.
“Iya ! sayang kamu harus siap-siap nih !” ucap Ardi kepada Sabrina.
“Siap-siap apa ?” tanya Sabrina mengerutkan keningnya.
“Siap-siap melarikan diri jika ibu pulih.” Ucap Ardi sontak tertawa.
Ya karena seperti yang diketahui selama ini sang ibu sangat tidak menyukai Sabrina, dan selalu mencari-cari kesalahan wanita tersebut secara terang-terangan.
__ADS_1
Bersambung