Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 13


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi cahaya matahari telah masuk melalui celah-celah dinding kamar yang terbuat dari kayu tersebut, suara burung-burung kecil yang berkicau menambah suasana desa semakin terasa.


Di atas ranjang Sabrina masih enggan untuk bangun dari mimpinya dan masih terjebak di alam mimpi sedangkan untuk Ardi pria tersebut sudah tidak ada di sana, terlihat dari bekas tidurnya semalam sudah tidak ada lagi dan telah dirapikan.


Sementara di dapur bu Siti sang mertua sibuk mengomel sambil masak di bantu oleh mbok Ya.


“Istri macam apa itu jam segini masih tidur !” ucap bu Siti mengomel sambil menyelesaikan masakannya yang sudah hampir matang.


Mbok Ya sendiri tidak berani menanggapi dan hanya diam saja mendengar bu Siti mengomel.


“Aku kasihan sama anakku mendapat istri pemalas seperti itu.” Ucap bu Siti lagi masih mengomel.


“Bagaimana dengan Ardi nanti jika aku sudah tidak ada percuma punya istri jika tidak bisa melakukan apa pun.” Ucap bu Siti lagi.


“Apa perlu saya panggilkan mbak Sabrina nya ?” tanya mbok Ya kepada bu Siti.


“Tidak usah mbok !” cegah bu Siti.


Mbok Ya hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang majikan.


Sementara di dalam kamar Sabrina baru saja bangun dan mendengar suara ribut-ribut di dapur, dengan santainya dia pun keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur di mana dia mendengar suara ribut tadi dengan muka bantalnya.


“Ada apa tante ?” tanya Sabrina dengan polosnya tanpa merasa bersalah.


Sang mertua pun seketika menoleh saat mendengar suara sang menantu.


“Istri macam apa kamu jam segini baru bangun !” ucap bu Siti ketus kepada Sabrina.


“Tunggu kamu panggil apa tadi tante ?” ucap bu Siti lagi saat menyadari sesuatu.


“Iya !” ucap Sabrina masih dengan polosnya.

__ADS_1


“Tuh mbok lihat sendiri kan ? selain pemalas dan tidak tahu diri dia juga tidak punya sopan santun ! bagaimana bisa wanita seperti ini yang menjadi istri anakku ? ibu dari suaminya di panggil dengan sebutan tante.” Ucap Bu Siti kepada mbok Ya dengan kesal.


Mbok Ya hanya diam sambil menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan bu Siti, dia bingung harus bagaimana di satu sisi apa yang diucapkan oleh bu siti ada benarnya disisi lain semua itu bisa dibicarakan baik-baik dan dia yakin  Sabrina wanita yang bisa cepat belajar.


Sementara Sabrina sendiri tersenyum kikuk ke arah mbok Ya ingin rasanya membalas ucapan sang mertua namun niatnya itu dia urungkan karena dia sendiri juga sadar jika apa yang dilakukannya salah.


“Tu cuci semua piring kotor yang ada di sana ! jangan berpikir untu bermalas-malasan tinggal di sini.” Ucap bu Siti kepada Sabrina.


Mendengar perintah tersebut Sabrina seketika menurut dan berjalan mendekat ke arah ember yang berisi piring kotor tersebut.


“Mbok maaf ini di cuci di mana ?” tanya Sabrina karena tidak melihat adanya wastafel untuk mencuci piring di sana.


“Di sana mbak !” ucap mbok Ya sambil menunjuk ke arah luar dapur.


Di sana tampak sebuah sumur manual yang sudah cukup tua.


“Terima kasih mbok !” ucap Sabrina kepada mbok Ya lalu mengangkat ember yang berisi piring kotor tersebut menuju ke arah sumur tersebut.


Sesampainya di sana Sabrina sedikit bingung bagaimana caranya untuk mengambil air karena sumur tersebut cukup dalam dan tidak mungkin bisa di jangkau menggunakan tangan.


“Aduh apa sih yang dia bisa !” ucap Bu Siti menggelengkan kepala melihat ke arah Sabrina.


“Iya mbak sebentar mbok ke sana !” ucap mbok Ya sambil tergopoh-gopoh berjalan ke arah Sabrina.


Saat sampai d sana mbok Ya pun mengajarkan Sabrina bagaimana caranya untuk menimba air dari dalam sumur tersebut.


“Masukkan embernya pelan-pelan sambil talinya terus di pegangi jangan sampai dilepas talinya, saat air sudah masuk ke dalam embernya lalu tarik kembali ke atas, jika tidak kuat embernya jangan sampai penuh agar gampang mengangkat ke atas.” Ucap mbok Ya menjelaskan kepada Sabrina.


“Iya aku paham mbok.” Ucap Sabrina mengangguk tanda dia mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh mbok Ya kepada Sabrina.


Kemudian Sabrina pun mencoba menimba air tersebut sendiri sambil di perhatikan oleh mbok Ya.

__ADS_1


“Aduh mbok berat !” ucap Sabrina sedikit kewalahan mengangkat air tersebut.


“Tidak usah sampai penuh mbak.” Ucap mbok Ya lagi.


Kemudian mbok Ya pun menggantikan Sabrina mengangkat air tersebut.


“Biar dia sendiri yang melakukannya mbok.” Teriak bu Siti dari dalam dapur.


Mbok Ya merasa tidak enak meninggalkan Sabrina sendiri di sana namun dia juga tidak bisa menolak ucapan sang majikan.


”Sudah mbok biar aku saja.” Ucap Sabrina tersenyum ke arah mbok ya sambil mengambil tali yang di pegang oleh mbok Ya.


“Tidak apa-apa mbak ?” tanya mbok Ya lagi.


“Tidak apa-apa mbok aku bisa.” Ucap Sabrina mengangguk yakin.


Mbok Ya pun menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Sabrina lalu dia pun memutuskan untuk masuk ke dapur kembali membantu bu Siti.


Sedangkan Sabrina mencoba  untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang mertua kepadanya walaupun dengan sedikit kesal namun dia tetap berusaha untuk menyelesaikan semuanya.


“Apa selamanya aku akan terjebak di sini ? menikah dengan pria yang baru aku kenal, mempunyai mertua yang sangat cerewet dan bawel apalagi setiap ucapan yang keluar dari mulutnya tidak ada filter dan dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku saat mendengar ucapannya, aku kan juga punya hati !” Ucap Sabrina berbicara dengan pelan mengungkapkan isi hatinya.


“Mama aku merindukanmu mama ada di mana sekarang ?” ucap Sabrina pelan berbicara dengan dirinya sendiri.


Tanpa bisa di tahan air matanya jatuh membasahi pipinya, Sabrina tidak bisa menahan perasaannya jika berkaitan dengan sang mama dia sungguh sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


Usai emosinya mereda Sabrina pun menyeka air matanya dan melanjutkan kembali pekerjaannya tersebut hingga  beberapa saat kemudian semua piring kotor tersebut telah selesai di cuci olehnya, sabrina pun membawa kembali ember yang telah berisi piring bersih tersebut kembali ke dalam dapur.


“Mbok ini sudah selesai !” ucap Sabrina kepada mbok Ya sambil menyerahkan ember yang berisi piring yang sudah bersih tersebut sedangkan sang mertua sudah tidak berada di sana.


“Iya mbak taruh di situ saja nanti biar mbok yang merapikan.” Ucap mbok Ya kepada Sabrina.

__ADS_1


Sabrina pun meletakkan ember tersebut di tempat di mana yang di maksud oleh mbok Ya dengan hati-hati kemudian dia memutuskan untuk bersih-bersih karena saat bangun tidur tadi tidak sempat melakukannya.


Bersambung…


__ADS_2