
Bu Siti pun mendekat ke arah Ardi sang putra lalu menghembuskan napas panjangnya sebelum mulai buka suara.
“Jika kamu menikahi Sinta orang tuanya berjanji akan menganggap semua hutang kita menjadi lunas.” Terang Bu siti lagi.
“Aku akan mencari cara untuk bisa mendapatkan uang untuk melunaskan hutang tersebut !” ucap Ardi menanggapi penjelasan sang ibu.
“Apa sebegitu bencinya kamu sama aku mas ? sehingga kamu tidak mau menikahiku ?” tanya Sinta tiba-tiba.
Ardi pun menatap ke arah Sinta lalu buka suara menanggapi ucapan Sinta.
“Aku minta maaf… aku sama sekali tidak membencimu ! aku sudah menikah… aku sangat mencintainya dan aku tidak mau menyakiti istriku ! jadi aku harap kamu bisa mengerti.” ucap Ardi lagi.
“Aku yakin kamu wanita yang baik ! dan aku yakin suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang akan mencintai dan menyayangimu.” Ucap Ardi.
“Tega kamu mas !” ucap Sinta sambil berlari meninggalkan tempat tersebut.
“Sinta ! tunggu nak !” ucap bu Siti berusaha mencegah Sinta untuk pergi.
Namun Sinta mengabaikan panggilan tersebut dan berlari semakin menjauhi tempat tersebut.
“Bagaimana ini ! Ardi kejar Sinta !” perintah bu Siti kepada Ardi.
Namun Ardi tidak bereaksi sama sekali dia hanya diam sambil menatap kepergian Sinta.
“Kamu memang tidak bisa di andalkan semenjak menikahi wanita itu !” ucap bu Siti emosi.
Lalu dengan tergopoh-gopoh dia pun pergi menyusul Sinta berharap semuanya akan baik-baik saja.
“Arghhhh.” Ucap Ardi meluapkan emosinya sambil mengusap kasar belakang lehernya.
Sementara itu….
Sinta baru saja menaiki anak tangga kediaman Pak Agus satu persatu dengan langkah yang terburu-buru, saat sampai di dalam rumah dia pun seketika masuk ke dalam kamar yang selama ini dia tempati.
Sinta pun segera mengambil ponsel genggamnya lalu menghubungi orang tuanya berniat menceritakan jika Ardi telah menolak menikah dengannya, beberapa saat kemudian Sinta pun mematikan sambungan telepon lalu mengambil tas pakaiannya serta mengemasi semua barang bawaannya masuk ke dalam tas pakaian tersebut.
__ADS_1
Saat Sinta tengah sibuk mengemasi barang-barangnya bu Siti pun masuk ke dalam kamar tersebut dengan perasaan cemas.
“Sinta ada apa ini ?” ucap bu Siti sedikit panik melihat Sinta.
“Sudah lah bu ! aku tidak ingin dipermalukan lagi… aku akan pulang saat ini juga !” ucap Sinta menegaskan.
“Jangan terburu-buru semua ini masih bisa kita bicarakan !” ucap Bu Siti berusaha menenangkan Sinta.
“Ibu bilang aku terburu-buru ? apa ibu tidak dengar tadi mas Ardi dengan tegas menolakku ! se umur-umur aku belum pernah di permalukan seperti ini.” Ucap Sinta.
“Dan aku sakit hati !” ucap Sinta lagi.
“Ibu minta maaf nak ! ibu janji akan membuat Ardi menikahimu ! kamu sabar sebentar lagi ya !” ucap bu Siti.
“Mulai sekarang ibu tidak usah repot-repot membuatku mengulur-ngulur waktu lagi ! aku sudah terlanjur sakit hati… oh iya satu hal lagi aku sudah menghubungi papa dan menceritakan semuanya.” Ucap Sinta lagi dengan nada sedikit mengancam.
Usai mengatakan hal tersebut Sinta pun menjinjing tas pakaiannya lalu melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju ke luar rumah dan meninggalkan kediaman pak agus menggunakan becak motor yang sudah di pesannya dari tadi.
Bu Siti yang tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah kepergian Sinta hanya bisa mengamuk sambil melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya.
“Mbak ada apa ini ?” tanya bibi Farida cemas melihat barang-barang yang ada di kamar yang biasa di tempati oleh Sinta berserakan.
“Semua gara-gara wanita itu ! Ardi berani membantahku.” Ucap bu Siti hendak menyerang Sabrina.
Namun hal tersebut dihalangi oleh Farida sang adik ipar.
Sabrina yang merasa tidak melakukan apa pun seketika mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
“Mbak sabar ! semua bisa di selesaikan secara baik-baik.” Ucap bibi Farida berusaha menenangkan bu Siti sambil mengelus dada sang kakak.
“Apa yang terjadi ?” tanya bibi Farida lagi kepada bu Siti.
“Sinta telah pergi !” ucap bu Siti kepada sang adik ipar.
“Kalau begitu kabar baik dong mba !” ucap bibi Farida tersenyum antusias.
__ADS_1
Hal tersebut membuat bu Siti mendengus kesal sambil menatap tajam ke arah Sabrina.
“Dan kamu tidak mengerti masalah apa yang akan timbul jika Sinta pergi dengan tidak membawa kabar baik.” Ucap bu Siti lagi.
“Memangnya apa yang akan terjadi ?” tanya sang adik tidak mengerti.
“Separuh kebun peninggalan ayah akan di sita oleh orang tua Sinta jika kita bisa membayar hutang.” Ucap bu Siti menatap sang adik ipar.
Usai mengatakan hal itu karena tidak bisa terlalu banyak berpikir tiba-tiba bu Siti pun merasakan kepala nya sangat pusing dan di sekelilingnya terasa berputar, akibatnya karena tidak bisa menahan keseimbangan bu Siti pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.
“Mbak…mbak !” ucap bibi Farida berusaha membangunkan sang kakak.
Sari, mbok Ya serta Sabrina pun ikut panik dan berusaha membuat bu Siti kembali tersadar.
Setelah berusaha membuat bu Siti tersadar namun tidak membuahkan hasil akhirnya Sabrina pun mengusulkan untuk membawa sang ibu mertua ke rumah sakit terdekat.
“Bantu aku membawa ibu ke mobil !” ucap Sabrina berusaha membopong sang mertua.
Semua orang pun ikut membantu Sabrina memapah bu Siti menuju ke mobil milik Sabrina yang terparkir cantik di halaman rumah.
Beberapa saat kemudian bu Siti pun sudah berada di dalam mobil di temani oleh sang adik ipar yaitu bibi Farida sementara Sabrina duduk di depan kursi kemudi.
“Sar tolong kabari Ayah dan juga mas Ardi.” Ucap Sabrina sesaat sebelum menghidupkan mesin mobil tersebut.
“Iya mbak !” ucap Sari menganggukkan kepala lalu berlari ke rumah untuk mengambil ponsel genggam miliknya untuk menghubungi Ardi.
Sementara itu Sabrina mengemudikan mobil tersebut menuju ke rumah sakit sesuai dengan arahan sang bibi yang juga ikut bersama mobil tersebut duduk di kursi belakang menemani sang mertua.
Sabrina pun menambah kecepatan mobilnya sedikit lebih kencang dengan tujuan agar lebih cepat sampai agar sang mertua bisa secepatnya mendapat pertolongan dan di tangani oleh dokter.
“Hati-hati sayang.” Ucap bibi Farida memperingatkan Sabrina.
“Iya bi.” Ucap Sabrina sambil terus fokus mengemudikan mobilnya membelah jalanan desa yang cukup sepi oleh lalu lalang kendaraan.
Beberapa menit kemudian akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Sabrina berhenti di depan rumah sakit, Sabrina pun dengan terburu-buru keluar dari dalam mobil dan meminta pertolongan kepada petugas yang berjaga untuk membawa bu Siti agar bisa secepatnya di tangani oleh dokter.
__ADS_1
Bersambung….