
Sabrina masih saja menutup kedua matanya menggunakan tangannya agar pemandangan langka tersebut tidak menodai penglihatannya.
“Cepat pakai bajumu !” ucap Sabrina kepada Ardi sambil berjalan ke arah Sabrina.
“Apa kamu yakin tidak ingin melihat tubuh suamimu ini ?” ucap Ardi menggoda Sabrina.
“Melihat apa tidak ada bagusnya juga !” tolak Sabrina.
“Yakin tidak ingin melihat ?” goda Ardi lagi.
“Tidak !” ucap Sabrina yakin.
Tanpa di duga Ardi pun menarik kedua tangan Sabrina yang tengah menutupi matanya, seketika mata Sabrina dengan sangat jelas menatap ke arah dada bidang Ardi sang suami.
Hanya beberapa detik Sabrina terpana melihat pemandangan tersebut, sesaat kemudian Sabrina pun tersadar dengan situasi tersebut.
“Aaaaaa.” Teriak Sabrina.
Spontan lututnya menghantam benda pusaka milik sang suami.
“Awwww...” ucap Ardi sambil memegangi pusaka miliknya yang terasa sakit akibat hantaman lutut Sabrina.
Dari raut wajahnya Ardi benar-benar tengah merasa kesakitan, tidak ada kepura-puraan di sana.
“Rasain !” ucap Sabrina kesal.
Namun Ardi tidak menanggapi ucapan Sabrina, karena dia benar-benar merasa kesakitan.
Hal tersebut membuat Sabrina akhirnya merasa kasihan.
“Apa benar-benar sakit ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
Ardi hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Sabrina tersebut.
“Maaf aku tidak sengaja... lagian kamu juga sih siapa suruh cabul begitu !” ucap Sabrina membela diri.
“Apa kamu tidak berniat untuk mengobatinya ?” tanya Ardi dengan wajah serius.
“Caranya ?” tanya Sabrina penasaran.
Karena dia juga merasa kasihan melihat Ardi dan itu juga di sebabkan oleh dirinya, namun sesat kemudian Sabrina tersadar.
“Gila kamu !” ucap Sabrina lagi kemudian bergegas keluar dari kamar tersebut.
Ardi sontak tertawa kembali melihat Sabrina yang bergegas keluar dari kamar tersebut sambil mengomel.
Sabrina tengah berdiri di beranda rumah sambil menatap jauh ke langit, suasana siang ini sangat cerah tampak burung-burung kecil beterbangan bebas di udara.
__ADS_1
“Mama... aku harus ke mana agar bisa bertemu denganmu ?” ucap Sabrina pelan berbicara dengan dirinya sendiri.
“Apa aku bisa bertemu denganmu ? sedangkan aku tidak tahu mama di mana sekarang.” Ucap Sabrina pelan.
“Oh iya foto itu !” ucap Sabrina sambil mengeluarkan ponselnya.
Kemudian Sabrina pun mengotak atik layar ponselnya agar bisa menemukan foto yang tadi dia maksud.
“Apa bisa aku bertemu mama hanya dengan photo ini ?” ucap Sabrina lagi.
“Huuuuh ku harus cari mama ke mana ?” ucap Sabrina sambil menghembuskan napasnya kasar.
“Mbak... !” ucap seseorang kepada Sabrina yang tengah berdiri di beranda rumah.
Karena merasa seseorang memanggilnya Sabrina pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Sari ?” ucap Sabrina karena melihat Sari yang tengah menatap ke arahnya.
“Iya kenapa ?” tanya Sabrina kepada Sari.
“Mbak ngapain di sana ? ayo sini !” ucap Sari kepada Sabrina.
“Iya .” jawab Sabrina mengangguk.
Kemudian Sabrina pun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga rumah tersebut menuju ke tempat di mana Sari berada.
“Mau ke mana ?” tanya Sabrina penasaran.
“Sudah mbak ikut saja.” Ucap Sari.
Sabrina pun mengikuti arah langkah Sari tanpa banyak bertanya.
“Di sini mbak.” Ucap Sari saat mereka sampai di tempat yang dimaksud.
Tidak terlalu jauh dari rumah hanya berjarak beberapa meter tetapi masih di lahan milik pak Agus orang tua dari Ardi.
“Ini tempat apa ?” tanya Sabrina kepada Sari saat mereka sampai.
Di sana banyak para ibu-ibu yang sedang fokus bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.
“Ini tempat mengolah hasil panen mbak, di sini banyak warga setempat yang ikut bekerja.” Ucap Sari menjelaskan kepada Sabrina.
“Ohhh begitu.” Jawab Sabrina menganggukkan kepalanya mengerti dengan penjelasan Sari.
“Apa saja yang biasanya di olah di sini ?” tanya Sabrina kepada Sari.
“Banyak mbak ! semua hasil kebun paman di olah di sini hingga nanti siap di jual di kota.” Ucap Sari lagi.
__ADS_1
“Ayo !” ucap Sari kepada Sabrina.
Kemudian saat mereka sampai Sari pun memanggil semua orang untuk menikmati camilan yang tadi dia bawa dari rumah.
Ya sudah menjadi kebiasaan di sana setiap hari akan di bagikan camilan gratis untuk orang-orang yang bekerja di sana agar mereka pun semangat untuk bekerja dan setiap hari menu dari camilan yang di bagikan tersebut akan berbeda-beda.
Namun kali ini untuk pertama kalinya Sabrina merasa kagum melihat perlakuan keluarga suaminya terhadap orang-orang yang bekerja dengan mereka, karena setiap orang yang menerima camilan tersebut wajahnya di hiasi dengan senyuman.
“Ini istrinya mas Ardi ?” tanya seorang ibu-ibu kepada Sari.
“Iya bu !” ucap Sari menanggapi pertanyaan ibu-ibu tersebut.
“Cantik ya istri mas Ardi seperti yang orang-orang katakan.” Jawab ibu-ibu tersebut.
Sabrina yang mendengar ibu-ibu tersebut memuji dirinya seketika wajahnya memerah.
“Ibu juga tidak kalah cantik.” Ucap Sabrina ikut memberikan pujian kepada ibu-ibu tersebut.
“Benar kan ? dulu saat masih muda saya juga cantik hingga saya di juluki kembang desa.” Ucap ibu-ibu tersebut tersenyum.
“Tapi itu sudah lama berbeda dengan saat ini semuanya sudah keriput !” ucap ibu-ibu tersebut terkekeh.
Sontak Sabrina dan juga Sari pun ikut tertawa mendengar ucapan ibu-ibu tersebut.
“Ngomong-ngomong selamat ya mbak atas pernikahannya ! saya doakan pernikahannya langgeng hingga maut memisahkan dan juga segera di beri momongan.” Ucap ibu-ibu tersebut kepada Sabrina.
Deg... jantung Sabrina seketika berdetak lebih cepat dari biasanya wajahnya memerah seperti udang rebus saat mendengar ucapan doa dari ibu-ibu tersebut agar dia segera di berikan momongan karena dia tidak sempat berpikir sampai sejauh itu.
“Terima kasih bu.” Ucap Sabrina akhirnya.
Ibu-ibu tersebut pun tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari Sabrina.
“Bagaimana keadaan Resi bu ? apakah sudah sehat ?” tanya Sari kepada ibu-ibu tersebut.
“Sudah lebih baik mbak... saya suruh istirahat di rumah.” Jelas ibu-ibu yang bernama Yati tersebut.
“Syukurlah kalau begitu.” Ucap Sari ikut merasa lega mendengar ucapan bu Yati.
“Kalau boleh tahu ada apa dengan anak ibu ?” tanya Sabrina agak sedikit ragu.
“Sebelumnya dia bekerja di kota sebagai asisten rumah tangga... dua minggu yang lalu saya mendapat kabar jika anak saya ada di rumah sakit, hal tersebut membuat hati saya sakit saat melihat Resi terbaring lemah di rumah sakit dan saya juga melihat sekujur tubuhnya terdapat banyak luka lebam, hingga saat ini saya tanya dia tidak mau menjawab dan memberitahu apa sebenarnya yang terjadi.” Ucap bu Yati murung.
“Aku rasa untuk saat ini ibu tidak usah bertanya banyak dulu, aku yakin nanti saat anak ibu sudah siap dia akan dengan sendirinya memberitahu ibu apa yang terjadi kepadanya... untuk saat ini biarkan pikirannya tenang dulu.” Ucap Sabrina kepada bu Yati.
“Aku setuju sama mbak biarkan dia pulih dan pikirannya tenang dulu.” Ucap Sari ikut nimbrung.
Bu Yati pun mengangguk kan kepalanya mendengar ucapan Sabrina, menurutnya apa yang di katakan oleh Sabrina tersebut ada baiknya untuk kesehatan sang putri.
__ADS_1
Bersambung...