Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 47


__ADS_3

Ardi yang mendapat kabar dari Sari jika sang ibu tidak sadarkan diri segera pulang ke rumah setelah mengabari sang ayah, saat sampai di rumah dengan terburu-buru Ardi pun mengambil sepeda motor miliknya lalu segera menyusul sang ibu ke rumah sakit.


Dengan pikiran yang tidak menentu Ardi tetap fokus mengemudikan sepeda motornya agar bisa secepat mungkin sampai di rumah sakit untuk mengetahui kondisi sang ibu.


Sementara itu di rumah sakit Bu Siti tengah di tangani oleh dokter sementara itu Sabrina dan juga sang bibi tengah duduk di kursi tunggu untuk menunggu kabar dari dokter.


Dari ujung Lorong Ardi tampak berlari kecil mendekat ke arah Sabrina dan juga bibi Farida.


“Bi !” panggil Ardi saat sampai di kursi yang di duduki oleh sang bibi dan juga Sabrina.


“Ardi ?” ucap bibi Farida saat melihat Ardi sudah berdiri di depan mereka.


“Mas.” Gumam Sabrina.


Seketika bibi Farida dan juga Sabrina pun sontak bangkit dari duduknya.


“Bagaimana kondisi ibu bi ?” tanya Ardi kepada sang bibi.


Bibi Farida pun menggelengkan kepalanya.


“Belum ada kabar ! sedang di tangani oleh dokter !” ucap bibi Farida.


Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang bibi sedangkan Sabrina hanya diam sambil menundukkan kepalanya menatap ke arah lantai.


Ardi yang melihat ekspresi Sabrina seketika mengelus lengan sang istri sambil berkata.


“Ibu pasti baik-baik saja.” Ucap Ardi menenangkan sang istri.


Mendengar hal itu Sabrina pun tersenyum walaupun di dalam hati dia merasa tidak nyaman karena merasa menjadi penyebab semua ini terjadi.


“Ada masalah apa antara kamu dan ibumu ?” tanya bibi Farida di sela-sela menunggu kabar dari dokter.


Ardi pun menghembuskan napas kasar kemudian dia pun menceritakan kejadian di rumah kebun sebelumnya.


Sang bibi pun mengangguk paham sementara Sabrina hanya diam mendengar penjelasan sang suami.


Dalam hatinya Sabrina merasa senang karena Ardi memperjuangkannya disisi lain dia merasa sangat bersalah karena hal tersebut membuat sang mertua masuk rumah sakit.


“Apa benar ayahmu meminjam uang dengan jumlah yang tidak sedikit ?” tanya sang bibi memastikan.


“Hmmm” jawab Ardi.


“Dan sampai sekarang belum lunas.” Tanya bibi Farida lagi.


Ardi pun menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan sang bibi.


“Apa yang dipikirkan ayahmu ? masalah sebesar ini tidak dibicarakan dengan keluarga!” ucap bibi Farida sedikit geram.

__ADS_1


“Ayah tidak ingin bibi direpotkan karena masalah ini !” jawab Ardi.


 “Lalu ini ? apakah ini tidak merepotkan ?” tanya sang bibi.


Ardi pun hanya diam tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan sang bibi karena apa yang dikatakannya tersebut memang benar.


Suasana seketika hening bertepatan pada saat itu sang ayah Pak Agus datang dan tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Ardi.


“Bagaimana dengan ibumu ?” tanya pak Agus.


“Sedang di tangani oleh dokter yah !” jawab Ardi.


Beberapa detik kemudian pintu ruangan di mana bu Siti di tangani pun terbuka, dari balik pintu keluarlah seorang pria paruh baya menggunakan jas berwarna putih dengan di temani oleh seorang perawat wanita.


“Keluarga bu Siti !” panggil dokter.


Sontak mereka pun berdiri dan mendekat ke arah sang dokter.


“Bagaimana kondisi istri saya dok ?” tanya pak Agus kepada sang dokter tersebut.


“Alhamdulillah istri bapak sudah sadar, dan untuk kondisinya saat ini istri bapak mengalami kelumpuhan akibat tekanan darah tinggi yang di deritanya.” Ucap dokter memberikan penjelasan.


“Terima kasih dok !” ucap pak Agus menanggapi.


“Sama-sama pak ! baiklah kalau begitu saya permisi.” Ucap dokter kepada pak Agus.


“Sus apa boleh kami …!” tanya pak Agus kepada sang perawat sang bersama dokter tadi.


“Iya silahkan pak !” jawab sang perawat tersebut.


“Terima kasih sus!” ucap Sabrina kepada wanita tersebut.


Sang perawat pun tersenyum menanggapi ucapan Sabrina lalu melangkahkan kakinya meninggalkan keluarga pak Agus.


Sepeninggal sang perawat keluarga besar pak Agus pun masuk ke dalam ruangan tempat bu Siti di rawat, di sana tampak wanita paruh paya tersebut sedang terbaring lemah dengan  selang infus yang terpasang di tangannya.


“Bu !” panggil pak Agus sambil memegang jemari sang istri.


Perlahan mata bu Siti pun terbuka, tampak bu Siti seperti kesusahan untuk membuka mulutnya.


“Sudah jangan di paksa.” Ucap pak Agus menanggapi sang istri yang tampak kesulitan berbicara.


Ardi pun mendekat ke arah sang ibu namun di luar dugaan bu Siti memalingkan matanya tidak ingin menatap ke arah Ardi sang putra.


Melihat respons sang kakak bibi Farida pun menarik lengan Ardi agar menjauh terlebih dahulu karena tidak ingin emosi sang kakak kembali terpancing karena jika terjadi akan berakibat fatal bagi Kesehatan sang kakak ipar.


Ardi menggandeng tangan Sabrina dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menyusuri Lorong rumah sakit hingga akhirnya mereka berhenti dan duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana.

__ADS_1


“Terima kasih sayang.” Ucap Ardi kepada Sabrina.


“Untuk apa ?” tanya Sabrina.


“Kamu sudah mengantarkan ibuku ke sini hingga bisa di tangani lebih cepat, walaupun ibu memperlakukanmu dengan buruk.” Ucap Ardi.


“Ibumu juga ibuku mas ! sudah kewajibanku berbuat baik kepadanya.” Jawab Sabrina.


“Terima kasih sayang !” ucap Ardi sambil merangkul Sabrina.


Sabrina hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


“Mas apa aku boleh tanya sesuatu ?” tanya Sabrina sedikit ragu.


“Mau tanya apa ?” ucap Ardi melepaskan rangkulan tangannya dari sang istri.


“Janji jangan marah !” ucap Sabrina lagi.


“Iya ada apa ?” tanya Ardi penasaran.


“Apa aku bo…leh tahu hu…tang yang dimaksud oleh ibumu ?” tanya Sabrina sedikit hati-hati.


Karena dia tidak ingin Ardi menjadi tersinggung karena pertanyaannya.


“Tidak usah di pikirkan ! aku akan cari cara agar bisa membayarnya.” Ucap Ardi merespons  pertanyaan sang istri sambil tersenyum.


“Bukan begitu mas ! jika boleh aku hanya ingin membantu mu!” jawab Sabrina.


“Apa aku sebegitu menyedihkan hingga kamu sebagai istri ikut memikirkan semua ini !” ucap Ardi sedikit tersinggung dengan niat baik Sabrina.


“Bukan seperti itu mas ! sebagai istri aku hanya ingin membantu meringankan beban keluarga suamiku apa aku salah ?” tanya Sabrina.


“Apa mas menganggap aku orang lain ? sehingga jika aku membantu mas itu akan menurunkan harga diri mas sendiri ?” ucap Sabrina.


“Bukan begitu !” jawab Ardi.


“Terus apa ?” tanya Sabrina.


“Apa mas tidak kasihan sama ibu ?”tanya Sabrina lagi.


“Mas akan cari jalan keluarnya.” Ucap Ardi kekeh tidak ingin menerima bantuan sang istri.


“Aku sudah membantu mas mencari jalan keluarnya ! semua keputusan ada di tangan mas sekarang !” ucap Sabrina lagi.


Ardi pun terdiam mendengar ucapan sang istri.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2