
Usai mengganti pakaiannya Sabrina pun bergegas ke luar kamar, tidak lupa sebelumnya dia pun mengambil kunci mobil miliknya.
Sesampainya di beranda depan rumah Sabrina pun menyerahkan kunci mobil miliknya kepada Ardi yang tengah duduk di kursi, hal tersebut membuat Ardi mengerutkan dahinya.
“Untuk apa ?” tanya Ardi bingung.
“Iya untuk pergi ke kota lah memangnya untuk apa lagi ?” ucap Sabrina kepada Ardi.
“Tidak usah ! sebentar lagi Joni juga akan sampai.” Jawab Ardi.
“Ya sudah kalau begitu.” Ucap Sabrina enteng lalu menyimpan kembali kunci mobilnya.
“Apa harus sepagi ini ya perginya ?” tanya Sabrina.
“Hmmmm.” Ucap Ardi sambil menganggukkan kepalanya kepada Sabrina.
Tidak butuh waktu lama yang di tunggu akhirnya datang juga, sebuah mobil pick up yang sudah berisi muatan hasil kebun berhenti di depan rumah.
“Mas.” Teriak Joni dari dalam mobil.
Ardi pun menoleh ke arah sumber suara kemudian menganggukkan kepalanya.
“Ayo.” Ucap Ardi sambil berdiri.
“Ha ?” ucap Sabrina bingung.
“Itu mobilnya sudah datang.” Ucap Ardi meyakinkan Sabrina.
“Pakai mobil itu ?” tanya sabrina tidak menyangka.
“Iya.” Jawab Ardi singkat.
“Bertiga ?” tanya Sabrina sedikit kurang yakin.
“Ayo.” Ucap Ardi mengajak Sabrina.
Tanpa banyak bertanya Sabrina pun mengikuti langkah kaki Ardi dari belakang menuju ke arah mobil yang dikemudikan oleh Joni.
Sesampainya di mobil Sabrina memilih masuk lebih dulu ke dalam mobil.
“Eh mau ngapain ?” ucap Ardi kepada Sabrina sambil menarik lengan Sabrina.
“Mau naiklah.” Ucap Sabrina santai.
“Jangan ganjen ! kamu belakangan saja naik nya.” ucap Ardi lagi kepada Sabrina.
Karena sejujurnya dia tidak mau jika Sabrina duduk ditengah-tengah antara dirinya dan juga Joni.
“Ishhhh siapa yang ganjen coba ?” ucap Sabrina tidak terima jika dia dikatakan ganjen oleh Ardi.
Kemudian Sabrina pun mundur dan membiarkan Ardi yang masuk lebih dulu ke dalam mobilnsetelahnya barunlah dia ikut masuk dan duduk di sebelah Ardi.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke kota dengan menggunakan mobil pickup yang dikemudikan oleh Joni pria yang sudah lama bekerja dengan keluarga pak Agus.
__ADS_1
“Mbak Sabrina ya ?” tanya Joni kepada Sabrina saat mobil mulai melaju.
“Oh iya saya Sabrina.” Jawab Sabrina sambil tersenyum ramah kepada Joni.
“Saya Joni mbak.” Ucap Joni kepada Sabrina sambil ikut tersenyum.
“Iya saya akan mengingatnya.” Ujar Sabrina lagi.
“Mas Jon ?” ucap Sabrina memanggil Joni yang sedang fokus mengemudikan mobil.
Seketika Ardi yang duduk di tengah-tengah pun melirik Sabrina melalui ujung matanya.
“Apa dia bilang ? mas Jon ? aku saja suaminya tidak pernah dipanggil begitu !” ucap Ardi di dalam hati.
“Iya mbak ?” jawab Joni.
“Mas sering fitness ya ?” tanya Sabrina lagi kepada Joni.
Karena terlihat sangat jelas postur tubuh Joni lebih atletis.
“Tiap hari malah mbak.” Jawab Joni menanggapi pertanyaan Sabrina.
“Ngomong-ngomong panggil saya Joni saja mbak, mbak kan istrinya mas Ardi.” Ucap Joni kepada Sabrina.
“Apa tidak apa-apa begitu ?” tanya Sabrina lagi.
“Iya.” Ucap Joni sambil menganggukkan kepalanya.
Mobil terus melaju mendekati kota yang akan mereka tuju dengan Joni sebagai pengemudinya.
“Kapan-kapan aku boleh ikut nggak fitness bareng kamu ? soalnya aku sudah lama tidak berolahraga semua ototku sudah terasa kaku.” Ucap Sabrina kepada Joni dengan semangat.
“Hahahahaha.” Joni sontak tertawa mendengar ucapan istri dari majikannya tersebut.
“Mbak mbak bagaimana mungkin mbak ikut fitness bareng saya.” Ucap Joni menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa tidak ? dulu aku sering kok ke tempat fitness kalau ingin olahraga.” Ucap Sabrina lagi.
“Dengan tubuh kecil mungil begini ?” ucap Ardi tertawa seketika mengejek Sabrina.
Mendengar ucapan Ardi Sabrina pun seketika menatap sinis ke arahnya namun tidak begitu lama Sabrina pun memilih mengabaikan Ardi dan berbincang kembali dengan Joni yang masih sibuk dengan setir mobilnya.
“Boleh ya ?” pinta Sabrina kepada Joni.
“Saya akan di pecat mas Ardi jika mengizinkan mbak ikut fitness mbak.” Jelas Joni kepada Sabrina.
“Loh apa segitu kejamnya bosmu ini ?” tanya Sabrina kepada Joni sembari memperhatikan Ardi hingga kepala.
“Hahahahaha bagaimana mungkin mas bos mengizinkan istrinya yang cantik seperti mbak mengangkat berkarung-karung hasil panen yang beratnya puluhan kilo.” Ucap Joni sambil tertawa.
Sabrina yang mendengar penjelasan Joni pun sontak tertawa sedangkan untuk Ardi wajahnya seketika memerah saat mendengar Joni memuji kecantikan Sabrina.
“Apa perjalanannya masih lama ?” ucap Ardi kepada Joni yang tiba-tiba buka suara.
__ADS_1
“Eh maaf mas masih sekitar lima belas menit lagi.” Jelas Joni kepada Ardi.
Setelahnya Joni memilih diam saat menyadari jika bosnya tersebut terlihat kurang nyaman.
“Baguslah kalau sedang mengemudi lebih baik fokus ke jalanan karena kita tidak tahu di depan akan ada apa !” ucap Ardi lagi kepada Joni.
“Baik mas.” Jawab Joni patuh menanggapi ucapan Ardi.
Sementara itu Sabrina pun ikut diam saat mendengar Ardi berbicara dengan Joni dengan nada suara yang sedikit di tekankan.
Termasuk Ardi usai memperingatkan Joni agar lebih fokus mengemudi setelahnya dia pun ikut diam, hanya suara klakson dan mesin mobil yang terdengar sepanjang jalan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka pun sampai di kota, mobil pun berhenti di depan bangunan yang cukup besar di sanalah dia akan menjual hasil kebun yang siap di pasarkan.
Namun mereka harus menunggu lebih dulu karena jam kerja kerja di sana baru buka sekitar pukul 08.00 pagi.
“Apa kamu lapar ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Iya !” ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Jon kamu lapar ?” tanya Ardi kepada Joni yang saat itu sudah lebih dulu keluar dari mobil.
“Titip gorengan saja mas seperti biasa.” Jawab Joni menanggapi ucapan Ardi.
“Baiklah.” Ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
“Turun !” ucap Ardi kepada Sabrina.
Sabrina pun menurut dengan apa yang di ucapkan oleh Ardi, dia pun membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobil tersebut, setelahnya Ardi pun ikut turun dari mobil mengikuti Sabrina.
“Mau makan apa ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Terserah sih.” Jawab Sabrina singkat.
“Ketupat sayur mau ?” tanya Ardi lagi.
“Boleh deh.” Jawab Sabrina.
Ardi pun menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Sabrina.
Tanpa diduga Ardi pun menggandeng tangan Sabrina, Sabrina yang tidak menyangka Ardi
melakukan hal tersebut pun kaget serta menarik tangannya dari genggaman Ardi.
“Kenapa ?” tanya Ardi kepada Sabrina sambil mengerutkan keningnya heran.
Sabrina pun menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ardi, dadanya bergemuruh jantungnya berdetak tak beraturan wajahnya terasa panas dan merona.
“Ayo !” ucap Ardi lagi sambil menautkan jemarinya ke jemari Sabrina.
Dengan santainya Ardi menggandeng kembali Sabrina di sisinya, Sabrina pun menurut perlahan dia menyeimbangkan langkah Ardi agar bisa berjalan beriringan.
Bersambung…
__ADS_1