
Seorang wanita paruh baya tengah fokus menyirami tanaman bunga yang ada di teras rumahnya.
“Kenapa aku merasa wanita muda tadi tampak tidak asing ?” ucap Wanita paruh baya tersebut sambil terus menyirami tanaman bunga tersebut.
Tiba-tiba dia seketika dia menghentikan aktivitasnya tersebut sambil berusaha berpikir keras mengingat sesuatu.
“Seakan aku sudah pernah bertemu dengan wanita tersebut sebelumnya ?” ucap wanita tersebut berbicara sendiri.
“Ah mungkin hanya perasaanku saja !” ucap wanita tersebut menggelengkan kepalanya merasa tidak yakin.
Kemudian wanita tersebut kembali melanjutkan aktivitasnya menyirami bunga-bunga kesayangannya, tiba-tiba tampak sebuah becak berhenti di depan rumahnya hal tersebut membuat senyum wanita paruh baya tersebut merekah melihat siapa yang datang.
“Nenek…!” panggil seorang bocah perempuan sembari berlari ke arah wanita yang dipanggilnya nenek tersebut.
“Ara ? cucu nenek.” Ucap wanita paruh baya tersebut membungkuk sambil membentangkan tangannya agar bisa memeluk sang cucu.
Zahra pun langsung memeluk erat sang nenek begitu dia sampai tepat di depan sang nenek.
“Ara rindu nenek ! apa nenek juga rindu Ara ?” tanya Zahra dengan polosnya kepada wanita paruh baya tersebut.
“Nenek sangat merindukanmu !” ucap wanita paruh baya tersebut sambil mencubit lembut pipi Zahra gemas.
Kemudian wanita paruh baya tersebut kembali membawa Zahra ke dalam pelukannya untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini terpendam karena sudah lama tidak bertemu.
“Mama apa kabar ?” tanya seorang yang bernama Nadia kepada wanita paruh baya tersebut lalu memeluk erat sang mama saat dia sampai di depan sang mama.
“Mama baik… kamu sendiri ? kenapa tidak mengabari mama lebih dulu jika kalian ingin pulang agar mama bisa memasak masakan kesukaan kalian ?” ucap wanita yang di panggil Nadia mama tersebut penasaran.
“Karena Zahra sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan neneknya !” ucap Nadia kepada sang mama sambil tersenyum.
“Oh jadi begitu rupanya ? ternyata cucu nenek benar-benar merindukan nenek ya.” Ucap sang mama kepada Zahra kemudian membawa sang cucu ke dalam gendongannya lalu menciumi pipi Zahra hingga dia merasa geli sendiri.
“Hehehehe… nenek stop Ara geli… sudah nek sudah.” Ucap Zahra kepada sang nenek berusaha menghindar.
Sang nenek pun tertawa melihat tingkah lucu Zahra lalu segera menghentikan aksinya dan menurunkan Zahra dari gendongannya.
“Ayo… ayo… masuk.” Ucap sang nenek sambil menggandeng tangan mungil Zahra.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nadia dari belakang.
“Ya sudah Ara sama mama dulu ya ! nenek ke dapur dulu mau masak sesuatu dulu untuk kalian.” Ucap sang nenek kepada sang cucu.
Si kecil Zahra pun mengangguk patuh mendengar ucapan sang nenek.
__ADS_1
“Mama ke dapur dulu kamu istirahat saja di kamar sama Zahra, kalian pasti capek habis dari perjalanan.” Ucap sang mama kepada Nadia sang putri sambil tersenyum.
“Ma ? boleh aku ngomong sesuatu sama mama ?” ucap Nadia kepada sang mama sebelum wanita paruh baya tersebut menuju ke dapur.
“Iya ada apa ?” tanya sang mama menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang putri.
Nadia pun berlutut sambil menyamakan tingginya dengan tinggi Zahra sang putri.
“Sayang ? Ara tunggu mama dikamar dulu ya ? mama mau bicara sama nenek sebentar !” ucap Nadia kepada Zahra memberi pengertian.
“Iya ma.” Ucap Zahra patuh sambil menganggukkan kepalanya.
“Anak pintar.” Ucap Nadia sambil menangkup kedua pipi putrinya dengan tangannya.
“Ya sudah kalau begitu tunggu mama di kamar ya nak.” Ucap Nadia lagi kepada Zahra.
Zahra pun menganggukkan kepalanya mengerti lalu berjalan menuju ke arah kamar yang biasa mereka tempati jika mereka sedang berkunjung ke sana.
Nadia pun tersenyum ketir menatap punggung sang putri.
“Ada apa ?” tanya sang mama penasaran kepada Nadia saat Zahra sudah masuk ke dalam kamar.
“Ma apa boleh aku minta tolong sama mama ?” tanya Nadia kepada sang mama dengan wajah sendu.
“Aku harus pergi ke luar kota untuk beberapa hari ! kalau mama tidak keberatan apa boleh Zahra aku titip mama di sini.” Ucap Nadia ragu-ragu.
“Bagaimana bisa mama keberatan untuk menjaga cucu mama ! mama sangat senang jika Zahra di sini, mama juga ada temannya kalau dia di sini !” ucap sang mama kepada Nadia.
“Terima kasih banyak ya ma ! mama sudah sangat baik sama aku.” Ucap Nadia sambil memeluk sang mama.
Tanpa terasa air matanya menetes, dia merasa sangat terharu atas kebaikan sang mama selama ini dia juga merasa sangat beruntung mempunyai ibu seperti sang mama.
“Tidak perlu berterima kasih ! sudah seharusnya seorang ibu baik dan peduli terhadap anaknya.” Ucap sang mama sambil mengusap punggung Nadia lembut.
“Berangkat kapan ?” tanya sang mama lagi.
Nadia pun menghapus air matanya lalu melepaskan pelukannya.
“Berangkatnya besok ma ! hari ini juga aku harus kembali karena ada sesuatu juga yang harus aku persiapkan.” Ucap Nadia menjelaskan.
“Sekarang ?” tanya sang mama kaget.
“Iya ma…” ucap Nadia lagi.
__ADS_1
“Jadi tidak makan dulu di sini ?” tanya sang mama lagi.
“Tidak akan sempat ma.” Ucap Nadia.
“Zahra aku tinggal ya ma.” Ucap Nadia lagi.
Sang mama pun mengangguk menanggapi ucapan Nadia.
“Nad ?” ucap sang mama ragu.
“Iya ma ?” jawab Nadia.
“Mama rasa kamu harus mengetahui tentang sesuatu sebelum kamu pergi ?” ucap sang mama dengan mimik wajah yang serius.
“Tentang apa ma ?” tanya Nadia penasaran.
“Ardi !” jawab sang mama.
“Kenapa dengan Ardi ?” tanya Nadia lagi semakin penasaran.
“Apa kamu tahu dia akan menikah !” tanya sang mama.
“Ha ?” ucap Nadia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Dia akan menikah !” ucap sang mama menegaskan lagi ucapannya.
“Aku baru tahu dari mama, kemarin kita bertemu tapi dia tidak mengatakan apa-apa !” jawab Nadia .
“Apa kamu baik-baik saja ?” tanya sang mama lagi mulai khawatir dengan kondisi sang putri.
“Hehehe itu kabar baik ma, aku ikut senang dia akhirnya menikah !” jawab Nadia enteng tanpa merasa terbebani dengan kabar yang baru saja di dengarnya.
“Apa kamu tidak masalah dengan itu ?” tanya sang mama memastikan lagi jika Nadia benar-benar tidak masalah dengan hal tersebut.
“Aku sama sekali tidak masalah ma, aku sangat senang jika pada akhirnya dia akan menikah karena dia laki-laki yang sangat baik aku sangat beruntung bisa bertemu dengannya.” Jelas Nadia dengan yakin kepada sang mama.
“Baiklah kalau memang seperti itu keputusanmu.” Ucap sang mama pasrah.
“Ya sudah ma aku pamitan sama Zahra sebentar ya.” Ucap Nadia sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sang mama hanya mengangguk menanggapi ucapan Nadia, sebenarnya dia merasa iba melihat Nadia seorang diri berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup dan demi masa depan Zahra sang cucu namun dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung keputusan Nadia tersebut.
Sebagai seorang ibu dia telah menawarkan bantuan untuk Nadia membuka usaha sendiri atau ikut membantu mengelola usaha sang mama di desa tersebut, namun Nadia lebih memilih meninggalkan desa dan pergi ke kota untuk mencari peruntungan nasibnya.
__ADS_1
Bersambung…