
Rosita menangis sambil berlutut di kaki sang suami memohon untuk tidak menceraikannya serta mengusirnya dari rumah tersebut, begitu juga dengan Renata sang putri dia ikut memohon kepada ayah sambungnya agar tidak mengusir mereka dari sana.
“Mas maafkan aku mas ! jangan usir aku dan juga Renata aku mohon mas.” Isak Nyonya Rosita.
Namun Pak Yuda sama sekali tidak berubah pikiran dan tetap dengan keputusannya.
“Pergi !” ucap pak Yuda dengan suara lantang sembari mengibaskan tangan Nyonya Rosita dari kakinya.
Namun dengan sekuat tenaganya Nyonya Rosita tidak mau melepaskan kaki sang suami.
“Sabrina !” ucap Nyonya Rosita menatap ke arah Sabrina.
Sabrina pun memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wajah Nyonya Rosita.
“Maafkan mama ! jangan usir kami dari sini.” Ucap Nyonya Rosita sedikit memohon.
“Mama ? cih dasar tidak tahu malu.” Ucap Sabrina mengumpat sambil melengos masuk ke dalam kamarnya.
Melihat hal tersebut seketika Renata berdiri dan mencoba menyusul Sabrina dari belakang, namun hal tersebut tidak bisa dia lakukan karena Sabrina mengunci pintu kamarnya dari dalam.
“Dasar tidak punya hati nurani buka pintunya !” ucap Renata menggedor kasar pintu kamar Sabrina.
“Kejam ! lo jahat !” teriak Renata lagi sambil terus menggedor pintu kamar tersebut.
“Sudah cukup !” ucap pak Yuda menghentikan aksi Renata tersebut.
Seketika Renata pun menghentikan aksinya tersebut dan mengepalkan tangannya menahan amarah.
“Bik Ina !” panggil pak Yuda.
“Eh i… Iya pak !” ucap bik Ina kaget lalu menghampiri pak Yuda majikannya tersebut.
“Bantu mereka mengemasi semua barangnya agar lebih cepat ! karena aku tidak ingin melihat mereka lagi di rumah ini.” Ucap Pak Yuda kepada bik Ina.
“Tidak jangan mas ! aku tidak ingin kita bercerai.” Ucap Nyonya Rosita menangisi keputusan sang suami.
“Baik pak !” ucap bik Ina.
Kemudian Pak Yuda pun dengan sedikit kasar menyingkirkan kakinya dari cengkraman Nyonya Rosita dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya yang juga ada di dalam rumah tersebut.
“Mas ! jangan mas.” Ucap Nyonya Rosita memohon kepada sang suami.
__ADS_1
Namun usahanya sia-sia karena pak Yuda mengabaikan tangisannya.
“Nyonya ayo !” ucap bik Ina kepada Nyonya Rosita.
“Jangan ikut campur ! kamu hanya pembantu.” Ucap Nyonya Rosita memarahi bik Ina.
Mendengar hal tersebut bik Ina pun ikutan kesal dibuatnya.
“Heh ! lebih mulia pembantu dari pada pelakor seperti anda !” ucap bik Ina menanggapi ucapan Nyonya Rosita lebih tepatnya mantan majikannya tersebut.
Mendengar ucapan bik Ina seketika Nyonya Rosita langsung berdiri dan menatap bik Ina dengan tatapan mematikan.
“Pembantu tidak tahu diri ! berani kamu sama saya ?” ucap Nyonya Rosita.
“Memangnya anda siapa ? bukankah saat ini status anda hanya mantan istri tuan rumah ini ?” ucap bik Ina tak mau kalah.
“Dasar pembantu kurang ajar.” Ucap Nyonya Rosita hendak menampar bik Ina.
Namun hal tersebut tidak terjadi karena bik Ina lebih dulu menangkis serangan tersebut.
“Ayo jangan banyak drama ! saya bantu mengemasi barang anda !” ucap bik Ina sambil menarik pergelangan tangan Rosita.
“Lepas ! jangan kurang ajar… saya laporin polisi kamu.” Ucap Nyonya Rosita.
“Rena !” panggil Nyonya Rosita.
Sedari tadi Renata hanya diam namun dari raut wajahnya dia tengah menyimpan amarah dengan apa yang dia dan mamanya terima.
“Ayo kemasi barang-barangmu ! kita sudah tidak di butuhkan lagi di sini.” Ucap sang mama menarik tangan sang putri.
Renata pun menuruti ucapan sang mama dan mereka pun segera mengemasi semua barang-barang mereka sesuai dengan perintah pemilik rumah di bantu oleh bik Ina.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam jam makan malam sudah lama terlewatkan namun majikannya tidak kunjung keluar dari dalam kamar baik pak Yuda maupun Sabrina, bik Ina berdiri sambil menatap meja makan yang penuh dengan makanan namun makanan tersebut sama sekali tak tersentuh.
“Sudah pukul 09.00.” ucap bik Ina lirih sambil menatap ke arah jam dinding.
“Apa aku panggil saja ?” tanya bik Ina kepada dirinya sendiri.
“Lebih baik ini semua aku simpan kembali toh jika mereka ingin makan bisa di panaskan kembali.” Ucap bik Ina membuat keputusan.
Kemudian bik Ina pun dengan telaten menyimpan kembali makanan yang tadi sudah dia tata di atas meja makan tersebut.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain Rosita dan juga putrinya tengah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi.
“Ini semua gara-gara mama !” ucap Renata menyalahkan sang mama.
“Kamu nyalahin mama ?” tanya Rosita kepada putrinya.
“Jika bukan karena mama kita tidak akan di usir seperti ini, jika bukan karena mama bertemu dengan laki-laki bajingan itu kita tidak akan di sini sekarang !” ucap Renata.
“Dia papa kandungmu !” jawab Rosita kepada sang putri.
“Tidak ! dia bukan papaku… aku tidak punya papa yang membuat hidupku hancur begini.” Ucap Renata.
“Rena !” ucap Rosita.
“Jika bukan karena dia kita tidak akan berada di sini sekarang.” Ucap Renata lagi kesal.
Rosita pun menghembuskan napas kasar menahan amarah yang memuncak di dalam dadanya sambil memegang koper miliknya.
…..
Di sisi lain Ardi tengah mengemudikan sepeda motornya di tengah lebatnya hujan di pinggiran kota, dengan tekad yang kuat Ardi memutuskan untuk menyusul sang istri setelah sebelumnya dia sempat mendapatkan alamat rumah Sabrina dari mama mertuanya.
Walaupun sang mertua dengan keras melarang Ardi agar menemui Sabrina esok hari saat sudah terang namun Ardi tetap bersikukuh untuk menemui Sabrina malam ini, dia ingin segera menemui sang istri saat ini juga.
“Sayang tunggu aku.” Ucap Ardi sembari menambah laju sepeda motornya.
Hujan semakin lebat membasahi bumi di tambah dengan kilat petir yang menyambar namun hal tersebut tidak menyurutkan niat Ardi agar bisa bertemu dengan sang istri, beruntung karena hujan lebat jalanan cukup sepi jadi tidak ada kemacetan yang bisa membuat perjalanannya membutuhkan waktu lama.
Tanpa terasa Ardi pun menghentikan sepeda motornya tepat di depan sebuah rumah yang memiliki dua lantai, Ardi membaca alat rumah yang tertera di pagar rumah tersebut dan menyamakan Alamat tersebut dengan Alamat yang dia dapat sebelumnya dari mama Adelia.
“Benar !” ucap Ardi tersenyum saat tahu jika Alamat rumah tersebut sesuai dengan yang ada di kertas yang dia bawa.
Ardi pun melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Sudah cukup larut !” ucap Ardi sambil menggosokkan kedua tangannya agar terasa lebih hangat.
Kemudian Ardi berdiri sambil bersandar di pagar rumah tersebut sambil berpikir apa yang harus dia lakukan.
Krekkk…. Tiba-tiba pintu pagar rumah tersebut di buka dari dalam tampak seorang wanita paruh baya keluar sambil menenteng kantung plastic berwarna hitam.
Melihat hal tersebut Ardi buru-buru memperbaiki posisinya menghadap ke arah wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
Bersambung….
Hai hai pembaca setia Asmara pernikahan tak terduga author minta pendapatnya dong, hanya tinggal beberapa episode lagi rencananya author ingin membuat novel ini tamat saat setelah semua konflik terselesaikan, bagaimana menurut pembaca semua ? silahkan berikan komentar ya...