
Sari menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam rumah karena tetangganya tiba-tiba saja memanggil.
“Sari !” ucap wanita tersebut tampak panik.
“Iya mbak Lastri ?” ucap Sari menjawab.
Ya nama salah satu tetangga Sari yang tadi sempat berkenalan dengan Sabrina tersebut bernama Lastri.
“Mas Ardi …” ucap Lastri terputus.
“Kenapa mas Ardi mbak?” tanya Sari ikut cemas.
“Kecelakaan !” ucap Lastri lagi.
Mendengar hal tersebut Sari menjadi panik.
“Mas Ardi kecelakaan ?” tanya Sari memastikan.
“Bukan…!” ucap Lastri mengoreksi.
“Jadi yang kecelakaan siapa mbak ?” tanya Sari lagi.
“Itu calon istri mas Ardi kecelakaan !” ucap Lastri cepat.
Namun kali ini dia dapat mengatakannya dengan benar.
“Mbak Sabrina ?” tanya Sari lagi.
“Iya.” Ucap Lastri menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana keadaannya mbak ? di mana dia sekarang ?” tanya Sari makin panik.
“Sudah di bawa ke rumah sakit.” Ucap Lastri.
Mendengar hal tersebut Sari pun segera mengantar belanjaannya kepada sang ibu.
“Mama… mama !” Ucap Sari berteriak memanggil sang mama.
“Ada apa sih teriak-teriak mama di sini !” ucap sang mama dari arah dapur.
Mendengar hal itu Sari langsung saja menuju ke arah dapur.
“Mama ini ! Aku pergi sebentar !” ucap Sari setelah meletakan pesanan sang mama di atas meja.
“Eh mau ke mana buru-buru ?” tanya sang mama merasa heran melihat Sari yang terburu-buru.
“Iya mau ke mana kamu ?” tanya sang bibi yang juga ada di sana.
“Itu mbak Sabrina katanya kecelakaan.” Ucap Sari lalu buru-buru berlari hendak mengabari sang kakak.
“Ha ?” ucap mama Farida dan juga Bu Siti.
“Dari awal wanita itu buat repot saja !” ucap Bu Siti spontan.
“Hush mbak… tidak baik bicara begitu ! toh juga Ardi yang memilih dia untuk di jadikan istri.” Ucap Farida kepada sang kakak ipar.
Seketika Bu Siti diam mendengar nasihat sang adik ipar namun di hatinya masih tidak terima hal tersebut terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang masam.
__ADS_1
Kemudian Sari segera pergi menemui Ardi yang sedang mengontrol para pekerja yang sedang bekerja membuat pupuk organik.
“Mas… mas Ardi !” panggil Sari dari kejauhan.
Ardi yang mendengar jika ada yang memanggilnya seketika melihat ke arah sumber suara.
“Ada apa ?” tanya Ardi saat melihat sosok Sari yang sedang berlari ke arahnya.
“Mbak Sabrina kecelakaan mas !” ucap Sari.
“Ha ?” ucap Ardi masih belum mengerti
“Mbak Sabrina kecelakaan !” ucap Sari lagi.
“Sabrina ?” ulang Ardi lagi.
“Iya pacar mas Ardi.” Ucap Sari lagi.
Ardi pun buru-buru hendak pergi untuk melihat keadaan Sabrina wanita yang baru saja dikenalnya kemarin.
“Mas mau ke mana ?” tanya Sari saat melihat Ardi yang terburu-buru hendak pergi.
“Di mana dia sekarang ?” tanya Ardi yang saat itu menghentikan langkahnya.
“Tadi mbak Lastri bilang kalau warga membawanya ke rumah sakit.” Ucap Sari menjelaskan.
Ardi pun menganggukkan kepalanya paham dengan ucapan Sari sang adik, dia pun buru-buru berlari menuju rumah untuk mengambil mobil pick up milik sang ayah agar bisa pergi ke rumah sakit dengan cepat.
….
Ardi memarkirkan mobil pick up di parkiran khusus mobil lalu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja resepsionis.
“Iya mas ada yang bisa saya bantu ?” ucap suster yang berjaga di sana.
“Saya mau tanya pasien wanita yang baru saja mengalami kecelakaan di rawat di mana sus ?” tanya Ardi kepada staf yang berjaga di sana.
“Oh ada di ruangan sebelah sana mas !” ucap staf yang berjaga tersebut sambil menunjuk ke salah satu ruangan.
“Terima kasih.” Ucap Ardi lalu buru-buru pergi menuju ke ruangan tersebut.
Baru saja Ardi hendak masuk ke ruangan tersebut tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka, dari sana tampak keluar Sabrina berjalan sambil di papah oleh seorang wanita.
“Bagaimana keadaanmu ?” tanya Ardi saat dia sampai di depan Sabrina.
“Dia ? bagaimana ini ?” ucap Sabrina dalam hati saat dia kaget melihat Ardi yang tiba-tiba saja sudah berada di depannya.
“Eh ? tidak begitu parah.” Ucap Sabrina menanggapi pertanyaan Ardi.
“Kalian kenal ?” tanya wanita tersebut saat melihat Ardi dan Sabrina berinteraksi.
“Iya tante.” Ucap Sabrina mengangguk.
“Iya...” Jawab Ardi kepada wanita tersebut sambil menganggukkan kepalanya.
Wanita tersebut tersenyum ramah ke arah Sabrina namun berbeda saat melihat ke arah Ardi dia malah memilih membuang muka saat Ardi menatapnya.
“Ya sudah kalau begitu tante permisi dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi tante saja semoga kamu cepat pulih ya.” Ucap wanita tersebut kepada Sabrina.
__ADS_1
Kemudian wanita tersebut berjalan lebih dulu dan meninggalkan Sabrina dengan Ardi di sana, Ardi hanya diam sambil menatap sendu punggung wanita paruh baya tersebut.
“Kamu yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Aku baik-baik saja, bagaimana kamu tahu aku di sini ?” tanya Sabrina.
“Kamu lupa jika saat ini kamu ada di wilayahku ?” ucap Ardi.
“Ya ya ya.” ucap Sabrina dengan nada sedikit mengejek.
“Ayo pulang ?” ucap Ardi ingin menuntun langkah Sabrina.
“Bagaimana ini ?” ucap Sabrina cemas dalam hati.
Namun dia seolah menahan Langkah kakinya seakan memberi tahu Ardi jika dia tidak ingin pergi.
“Ada apa ?” tanya Ardi heran.
“Jika aku tidak ikut dengannya aku harus pergi ke mana ? aku tidak mau kembali ke rumah papa jika wanita- wanita ular itu masih ada di sana.” Ucap Sabrina dalam hati.
“Mama ! iya aku harus menemukan mama aku tidak ingin kembal ke rumah papa !” ucap Sabrina dalam hati.
“Ayo !” ucap Ardi lagi.
Akhirnya Sabrina pun tidak punya pilihan, mau tidak mau dia pun memilih untuk ikut dengan Ardi karena dengan begitu dia bisa menemukan sang mama yang tinggal di desa tersebut.
Ardi pun membantu Sabrina masuk ke dalam mobil pickup butut milik keluarga Ardi.
“Aku naik taksi saja !” ucap Sabrina tiba-tiba.
“Di sini hanya desa kecil ! tidak ada taksi di sini.” Ucap Ardi menegaskan.
“Aku tidak mau naik mobil butut ini.” Ucap Sabrina menolak pulang dengan mobil tersebut.
“Lantas kamu mau pulang naik apa ?” tanya Ardi mulai kesal.
“Terserah asal jangan naik mobil ini.” Ucap Sabrina kekeh tidak mau naik mobil tersebut.
“Ya sudah kalau kamu pulang naik mobil itu saja !” ucap Ardi saat melihat mobil ambulance yang sedang parkir tidak jauh dari mereka.
“Nggak mau !” ucap Sabrina bergidik ngeri.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau buruan naik !” ucap Ardi sedikit memaksa.
Akhirnya dengan terpaksa Sabrina masuk ke dalam mobil tersebut, setelah memastikan Sabrina duduk dengan nyaman Ardi pun menutup kembali pintu mobil dan berjalan memutar mobil untuk membuka pintu di sisi kemudi lalu masuk dan menutup kembali pintu mobil tersebut.
Ardi mengemudikan mobil tersebut menjauh meninggalkan rumah sakit menuju ke desa di mana rumahnya berada.
“Aku tidak ingin kita menikah !” ucap Sabrina tiba-tiba saja saat Ardi tengah fokus mengemudikan mobil.
“Bagaimana bisa kita harus menikah mendadak begini padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya, bagaimana bisa aku harus menghabiskan hidupku untuk hidup bersama orang sepertimu ! iiiii… aku nggak mau !” ucap Sabrina menggelengkan kepalanya menatap sosok Ardi.
“Memangnya aku kenapa ? bukannya semalam kamu yang tidak ingin aku tinggalkan ?” ucap Ardi membela diri karena dia merasa seolah Sabrina tengah meremehkan dirinya.
“Jangan ngarang ! bagaimana mungkin aku seperti itu.” Ucap Sabrina tidak terima.
“Apa aku perlu menceritakan bagaimana kamu memohon dan memintaku untuk tidak meninggalkanmu ? kamu memegangi tanganku hingga aku tidak bisa bergerak dan pada akhirnya aku harus tidur sambil…” terang Ardi dengan sedikit melebih-lebihkan cerita.
__ADS_1
Seketika Sabrina menutup mulut Ardi agar tidak melanjutkan omongannya wajahnya memerah menahan malu akibat ucapan Ardi.
Bersambung….