Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 80


__ADS_3

Selama perjalanan pulang di dalam mobil Ziva pun terus terdiam begitu juga dengan Reyhan dia pun memutuskan untuk diam setelah beberapa kali ucapannya di abaikan oleh Ziva.


Tanpa terasa setelah menempuh beberapa jam perjalanan dengan menggunakan mobil akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Reyhan pun berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah yang sudah bisa di tebak jika rumah tersebut milik keluarga Ziva.


Ziva segera keluar dari dalam mobil di susul oleh Reyhan yang kemudian juga ikut turun untuk mengambilkan koper milik Ziva dari dalam bagasi mobil.


“Ini !” ucap Reyhan sambil menyerahkan koper tersebut kepada Ziva.


“Terima kasih !” ucap Ziva sambil mengambil koper miliknya dari tangan Ardi tanpa melihat ke arah pria tersebut.


“Iya … untuk soal tadi aku ….” Ucap Reyhan terpotong karena setelah Ziva mengambil koper miliknya tanpa berkata apa pun lagi dia melenggang begitu saja meninggalkan Reyhan yang tampak merasa bersalah tersebut.


Reyhan tidak bisa berbuat apa pun dia hanya menatap punggung Ziva hingga menghilang dari balik pintu gerbang, kemudian dia pun segera menutup kembali pintu bagasi dan masuk kembali ke dalam mobil mengemudikannya menjauhi kediaman Ziva.


“Non sudah pulang ?” tanya asisten rumah tangganya saat melihat Ziva masuk ke dalam rumah.


“Iya.” Ucap Ziva singkat menanggapi pertanyaan asisten rumah tangganya tersebut.


“Oh iya bik mama papa sudah pulang ?” tanya Ziva lagi kepada asisten rumah tangganya tersebut.


“Belum non !” ucap asisten rumah tangganya tersebut.


"Ohhh." jawab Ziva singkat.


Ekspresi Ziva saat itu tampak datar saat mendengar keterangan asisten rumah tangganya tersebut jika kedua orang tuanya belum kembali ke rumah, hal tersebut sudah biasa dia alami di saat kedua orang tuanya sibuk mengejar karir dia hanya tinggal di rumah beserta asisten rumah tangga kepercayaan orang tuanya tersebut.


Ziva pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah lantai dua tersebut sedangkan untuk asisten rumah tangganya tersebut menyusul dari belakang sambil menenteng tas koper milik Ziva.


Sesampainya di dalam kamar Ziva spontan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terlihat sangat empuk tersebut.


“Non koper nya mau di taruh di mana ?” tanya sang asisten rumah tangganya tersebut kepada Ziva.


“Taruh di sana saja bik !” ucap Ziva menanggapi ucapan sang asisten rumah tangga sambil menunjuk ke arah sudut lemari yang ada di dalam kamar tersebut.


“Ya non Ziva!” jawab asisten rumah tangganya tersebut sambil tergopoh-gopoh menenteng tas koper tersebut.


Usai meletakkan koper tersebut asisten rumah tangga Ziva pun segera berlalu pergi dari dalam kamar tersebut.


Sepeninggal asisten rumah tangganya Ziva pun bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir ranjang.


“Dih dia pikir gue cewek apaan ?” ucap Ziva sedikit kesal mengingat ucapan Reyhan..


“Apa dia berpikir gue sangat ingin menjadi kekasihnya ?” ucap Ziva berbicara sendiri.


“Lebih dari dia pun kalau gue ingin bisa gue dapatkan !” ucap Ziva percaya diri.

__ADS_1


“Laki-laki brengsek ! gue juga nggak sudi jika pacaran sama lo !” ucap Ziva kesal dengan ucapan Reyhan sebelumnya.


Kemudian Ziva pun melemparkan bantal ke lantai untuk meluapkan emosinya.


…….


Di sisi lain….


Seorang wanita paruh baya tampak sedang sibuk berkutat di dapur ya siapa lagi kalau bukan mama Adelia, namun di tengah kesibukannya tersebut terdengar nada dering ponselnya berbunyi, mendengar hal tersebut mama Adelia pun segera mencuci tangannya kemudian mengeringkannya menggunakan kain bersih.


“Siapa ya ?” ucap mama Adelia sambil berjalan dengan terburu-buru mengambil ponselnya yang saat itu sedang berada di atas meja makan.


“Nadia ?” ucap mama Adelia saat nama yang tertera di layar ponselnya adalah Nadia.


“Assalamualaikum !” ucap mama Adelia saat panggilan tersebut sudah tersambung.


“Waalaikumsallam ma.” Jawab Nadia dari seberang telepon.


“Mama apa kabar ?” tanya Nadia lagi.


“Alhamdulillah kabar baik… kamu dan cucu mama bagaimana ? kalian baik-baik saja kan ?” tanya mama  Adelia lagi.


“Baik ma.” Ucap Nadia lagi.


“Ada ma ! sebentar…” ucap Nadia lagi kepada sang mama.


“Zahra !” panggil Nadia.


“Iya ma.” Terdengar suara si kecil Zahra.


“Sini nak ! ini nenek mau bicara !” ucap Nadia lagi.


Hening sesaat beberapa detik kemudian barulah terdengar suara si kecil Zahra menyahut dari seberang telepon.


“Nenek ! ini Ara .” ucap Zahra.


“Aduh cucu nenek apa kabar ? kapan Ara mengunjungi nenek ? nenek sudah sangat merindukanmu !” ucap mama Adelia kepada Zahra.


“Nenek lucu ! tanya satu-satu dong nek Ara jadi bingung harus jawab yang mana dulu !” ucap Zahra dari seberang telepon.


“Hahahahaha.” Sontak mama Adelia seketika tertawa mendengar ucapan sang cucu.


“Nenek…. nenek tahu tidak ?” tanya Zahra antusias kepada sang nenek.


“Tidak tahu ! kan Ara belum kasih tahu nenek.” Ucap mama Adelia ingin menggoda Zahra sang cucu kemudian beliau akhirnya terkekeh sendiri.

__ADS_1


“Nenek ! “ ucap Zahra pura-pura ingin merajuk.


“Memangnya ada apa ? coba katakan nenek akan mendengarkannya !” ucap mama Adelia lagi kepada Zahra.


“Iya makanya nenek dengarkan Ara bicara dulu.” Ucap Zahra lagi.


“Iya nenek akan dengarkan… cepat katakan nenek sungguh ingin tahu.” Ucap mama Adelia lagi.


“Iya… iya ini Ara mau bilang.” Ucap Zahra dengan semangat ingin bercerita kepada sang nenek.


“Nenek tahu tidak ! mama bilang kita akan pergi menginap di rumah nenek !” ucap Zahra dengan semangat menjelaskan kepada sang nenek.


“Bener Ara akan menginap di rumah nenek ?” tanya sang nenek lagi.


“Beneran ! coba nenek tanya sama mama kalau tidak percaya ! beneran kan ma ?” ucap Zahra lagi.


“Iya sayang.” Terdengar suara sang mama Nadia di belakang.


"Wah nenek senang sekali mendengarnya ! nenek jadi tidak sabar.” ucap sang nenek sangat senang mendengar ocehan si kecil Zahra tersebut.


Zahra pun tampak tertawa senang mendengar ucapan sang nenek.


“Mama di mana ? nenek ingin bicara ?” ucap mama Adelia lagi kepada sang cucu.


“Mama ! nenek ingin bicara dengan mama.” Ucap Zahra kepada Nadia sag mama.


Beberapa detik tidak terdengar suara apapun yang terdengar hanya suara krasak krusuk  tidak jelas, hingga akhirnya terdengar kembali suara sang mama Nadia.


“Iya ma ?” ucap Nadia saat ponsel sudah berada di tangannya.


“Benar yang Zahra katakan ? kalian mau ke sini ?” tanya mama Adelia kepada Nadia.


“Iya ma benar !” ucap Nadia membenarkan ucapan Zahra tersebut.


“Kapan kalian datang ?” tanya sang mama lagi kepada Nadia.


“Rencana besok ma !” jawab Nadia menanggapi ucapan sang mama.


“Baiklah kalau begitu kalian hati-hati di jalan !” ucap sang mama kepada Nadia.


“Iya ma.” Ucap Nadia menanggapi ucapan sang mama.


Kemudian mereka pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan telepon tersebut karena sang mama harus kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2