Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 55


__ADS_3

….


Sesuai janjinya tepat saat sore hari Ardi pun datang ke kediaman pak Rudi di temani oleh Sabrina setelah sebelumnya mereka sempat pergi ke kota untuk mengambil uang di bank yang akan dia gunakan untuk menebus surat-surat tanah yang sebelumnya sempat di jadikan jaminan oleh sang ayah.


Setelah urusannya selesai Ardi pun segera mengemudikan mobil menuju ke rumah karena sebentar lagi sore akan berganti menjadi malam.


Sepasang suami istri tersebut pun sampai di rumah tepat pukul 07.00 malam, Sabrina melangkahkan kaki menaiki anak tangga sambil membawa surat tanah yang baru saja d tebus tersebut sedangkan Ardi menyusul dari arah belakang.


Di depan pintu sudah menunggu pak agus sang mertua dan juga bu Siti yang sedang duduk di kursi roda miliknya.


“Kalian sudah sampai ?” tanya pak Agus kepada Sabrina.


“Iya yah !” jawab Sabrina menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan surat tanah tersebut kepada sang mertua.


“Apa  semuanya berjalan lancar ?” tanya pak Agus lagi.


Kali ini Ardi yang menjawab pertanyaan sang Ayah sedangkan Sabrina berjalan ke arah bu Siti.


“Iya.” Jawab Ardi menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan sang ayah


 “Lebih baik surat ini istrimu yang pegang !” ucap sang ayah kepada Ardi.


Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang ayah sembari menerima surat tanah tersebut.


“Tidak usah yah ! lebih baik ayah yang pegang.” Ucap Sabrina menolak memegang surat tersebut.


“Kenapa ?” tanya sang mertua lagi.


“Tidak apa-apa ! aku rasa lebih baik ayah saja yang pegang seperti sebelumnya.” Jawab Sabrina.


“Hmmm baiklah kalau begitu… kalau begitu surat ini ayah pegang jika nanti kalian membutuhkan jangan segan-segan untuk memintanya.” Ucap sang Ayah.


“Terima kasih nak ! karena bersedia membantu keluarga ini.” Ucap pak Agus sambil menepuk pelan pundak Sabrina.


Sabrina pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang ayah mertua.

__ADS_1


“Apa ibu sudah makan ?” tanya Sabrina kepada sang ibu mertua sambil berjongkok men sejajarkan posisinya.


Sang mertua hanya diam sambil menatap Sabrina tanpa ekspresi.


“Belum kita belum makan malam karena menunggu kalian lebih dulu.” Jawab sang ayah mertua.


“Hmmmm… baiklah kalau begitu ayo makan malam ! mbok Ya masak apa ya hari ini ?” ucap Sabrina bertanya-tanya  sambil mendorong kursi roda sang mertua menuju ke meja makan.


Ardi dan juga sang ayah tersenyum melihat perlakuan Sabrina kepada ibu mertuanya tersebut.


“Selain cantik istrimu juga baik hati !” ucap pak Agus lalu menepuk pelan pundak sang putra.


Ardi pun tersenyum menanggapi ucapan sang ayah.


Seperti sebelumnya Sabrina pun membantu menyuapi serta merawat sang mertua tanpa menyimpan dendam sedikit pun atas perlakuan sang mertua kepadanya, mereka pun akhirnya menikmati makan malam dengan sedikit perasaan lega di dada karena sudah mendapatkan surat tanah tersebut kembali, namun saat ini sikap bu Siti tampak berbeda jika sebelumnya dia menatap Sabrina tanpa ekspresi namun kali ini walaupun tidak berkata sepatah kata pun dari tatapan matanya seolah bu Siti sudah mulai membuka hati untuk bisa menerima Sabrina sebagai menantu dan juga istri dari Ardi putranya.


Beberapa saat kemudian akhirnya mereka pun selesai makan malam, Sabrina pun membantu mbok Ya merapikan kembali meja makan dan membawa piring serta gelas kotor ke belakang, sedangkan sang ibu mertua di bawa oleh Ardi dan juga pak Agus menuju ke kamar agar bisa beristirahat.


Baru saja Sabrina melangkahkan kakinya menuju ke arah beranda tiba-tiba terdengar suara Sari berteriak memanggilnya.


Sabrina pun buru-buru menoleh ke arah sumber suara.


“Ada apa ?” tanya Sabrina kepada Sari saat gadis tersebut sampai di beranda rumah.


“Ayo mbak ke rumah sakit !” ucap Sari kepada Sabrina.


“Rumah sakit ? siapa yang sakit ?” tanya Sabrina bingung.


Ardi yang mendengar suara ribut di luar segera berjalan ke beranda rumah tersebut.


“Mas ayo ke rumah sakit !” ucap Sari saat melihat Ardi keluar.


“Siapa yang sakit ?” tanya Ardi penasaran.


“Mbak Endah mas ! dia habis di pukul mas Yanto ! ayo tidak banyak waktu kasihan mbak Endah harus segera di bawa ke rumah sakit.” Ucap Sari lagi sambil menarik tangan Ardi.

__ADS_1


“Oh ya mbak pinjam mobilnya ?” ucap Sari kepada Sabrina.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sari lalu dia buru-buru berlari ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil miliknya dan buru-buru menyerahkannya kepada sang suami.


Endah merupakan tetangga yang rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman mereka, Endah menikah dengan suaminya yang bernama Yanto dan mereka di karuniai seorang anak Perempuan yang masih berusia 10 tahun.


Endah memilih bekerja di ladang milik keluarga Ardi demi memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan Yanto hanya laki-laki pemalas yang tidak mau bekerja untuk menafkahi anak dan istrinya, Jika siang hari Yanto menghabiskan waktu untuk tidur sedangkan pada malam hari dia gunakan untuk mabuk-mabuk kan serta berjudi.


Jika sang istri tidak memberinya uang maka terjadi lah KDRT yang dilakukan Yanto kepada sang istri, sebenarnya kejadian tersebut sudah berulang kali terjadi namun Endah tetap bertahan demi sang putri agar mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang utuh seperti anak-anak yang lain.


Ardi pun menerima kunci yang di serahkan oleh sang istri lalu mengemudikan mobil tersebut menuju ke rumah mbak Endah sedangkan Sari berlari kecil menyusul diikuti juga oleh Sabrina dari arah belakang.


Dari jauh sudah tampak beberapa orang sedang memapah Endah yang terkulai tidak berdaya, Ardi pun segera membukakan pintu mobil agar orang-orang bisa membantu Endah naik ke dalam mobil.


“Mama…” panggil Intan sambil menangis melihat kondisi sang mama.


Ya Intan merupakan anak dari mbak Endah dan suaminya Yanto.


Ardi pun masuk ke dalam mobil lalu menutup kembali pintu mobil tersebut.


“Sayang tolong jaga Intan !” ucap Ardi kepada Sabrina sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi sang suami.


Kemudian Ardi pun mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat agar Endah bisa mendapatkan perawatan secepatnya.


Sabrina merengkuh pundak Intan untuk memberinya kekuatan.


“Sayang kamu ikut tante dulu ya.” Ucap Sabrina kepada Intan.


Intan hanya diam sambil terus menangis memanggil-manggil sang mama.


Sementara Sari menutup serta mengunci pintu rumah mbak Endah.


Sabrina banyak mendengar ucapan-ucapan yang tidak membenarkan sikap Yanto suami dari mbak Endah, setelah berusaha membujuk Intan agar mau ikut dengannya akhirnya gadis kecil tersebut mau ikut bersama dengan Sabrina dan juga Sari walaupun dengan tangis yang masih terisak-isak.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2