
Melihat sikap sang kekasih gadis tersebut pun tidak kuasa menahan air matanya, hatinya sakit melihat sang kekasih seakan tidak mengakui janin yang ada di perutnya tersebut, tidak ingin berlama-lama sang gadis pun segera bangkit dari duduknya berniat ingin pergi dari sana tanpa sepatah kata pun, dia cukup tahu dan mengerti jawaban dari sang kekasih walaupun hanya lewat sikapnya.
Dengan perasaan yang amat sangat kecewa sang gadis pun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke arah pintu keluar apartemen tersebut, dia berniat ingin pergi menjauh dari sang kekasih dan berniat membesarkan dan merawat anak tersebut seorang diri walaupun tanpa ayah dari anak tersebut, namun baru saja sang gadis tersebut hendak menarik gagang pintu tersebut sepasang tangan melingkar di pinggang sang gadis seolah menahan gadis tersebut agar tidak pergi.
“Sayang maafkan aku ! maaf !” ucap sang pemuda tersebut meminta maaf kepada sang kekasih.
Namun sang gadis hanya diam tidak merespons ucapan pemuda tersebut karena hatinya sudah terlanjur sangat kecewa dengan sikap pemuda tersebut.
“Aku sadar seharusnya aku tidak berkata seperti itu kepadamu.” Ucap sang pemuda tersebut menyesal.
“Aku hanya bingung harus bagaimana sedangkan aku belum siap menjadi seorang ayah baik secara mental maupun secara financial ! maaf kan aku !” ucap sang pemuda lagi.
“Lepas mas !” ucap sang gadis tersebut sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulan sang kekasih.
Namun rangkulan pemuda tersebut semakin erat seakan tidak mengizinkan sang gadis pergi dari sana untuk meninggalkannya.
“Semua ini salahku ! semua ini terjadi karena kecerobohanku yang gampang termakan janji manis pria buaya sepertimu mas ! anak ini tidak salah mas ! walaupun kamu tidak mengakuinya aku akan tetap merawat dan mencintainya ! jadi aku mohon lepaskan aku biarkan aku pergi dari sini.” Ucap sang gadis memohon kepada sang pemuda.
“Tidak sayang ! jangan pergi aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu.” Ucap sang pemuda tersebut mencegah sang kekasih agar tidak pergi meninggalkannya.
“Jika kamu hanya menginginkanku dan tidak dengan anak ini lebih baik aku pergi mas, aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.” Ucap sang gadis tersebut masih memberontak meminta agar di lepaskan.
“Tidak sayang jangan pergi aku mohon ! aku tidak bisa hidup tanpamu !” ucap sang pemuda lagi.
“Maaf mas aku harus pergi !” ucap sang gadis kekeh tetap ingin pergi.
Karena sang gadis tetap kekeh ingin pergi akhirnya sang pemuda pun membuat dan menetapkan pilihannya.
“Oke kita akan rawat anak ini sama-sama.” Ucap sang pemuda tersebut berjanji ingin merawat janin yang tengah di kandung sang kekasih.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang kekasih gadis tersebut pun seketika melemah dan berhenti memberontak, kemudian sang gadis pun memutar tubuhnya menghadap ke arah sang kekasih dan menatap dalam ke arah manik mata pemuda tersebut berharap tidak ada kebohongan di sana.
“Iya kita akan rawat anak ini sama-sama.” Ucap sang pemuda yakin sambil menganggukkan kepalanya.
Mendengar hal tersebut sang gadis pun seketika memeluk erat sang kekasih.
“Terima kasih mas…. Terima kasih sudah mau menerimanya.” Ucap sang gadis terharu mendengar ucapan pemuda tersebut.
Sementara itu sang pemuda tidak mampu berkata apa pun selain membalas memeluk gadis tersebut hingga beberapa minggu kemudian keduanya pun akhirnya menikah dan membangun rumah tangga hingga lahirlah si kecil Sabrina.
Flash back Off
Pak Yuda pun tidak bisa berbuat banyak atas kejadian tersebut karena Sabrina pergi meninggalkan rumah juga terjadi karena kesalahannya.
“Bagaimana kondisi Bu Siti ?” tanya sang mama akhirnya.
Mendengar pertanyaan sang mama Sabrina seketika menjadi murung.
Kemudian Ardi pun menceritakan keadaan dan kondisi terkini sang ibu.
“Mama ikut prihatin degan kondisi mama mu ! semoga bu Siti lekas sembuh seperti semula.” Ucap mama Adelia mengusap lengan Ardi.
“Terima kasih ma.” Ucap Ardi tersenyum.
Sang mertua pun membalas senyuman Ardi sambil menganggukkan kepalanya.
“Apa boleh kami menjenguk bu Siti.” Tanya sang mertua.
Sabrina menganggukkan kepalanya sementara Ardi tampak tengha berpikir.
__ADS_1
“Hmmm….” Tampak Ardi ragu untuk menjawabnya.
“Ya sudah mama mengerti ! lain kali mama akan menemui ibumu.” Ucap sang mertua kepada Ardi.
“Terima kasih ma.” Ucap Ardi merasa tidak enak.
“Loh ada apa kenapa ? “ tanya Sabrina merasa heran.
“Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu, titip Sasa ya.” Ucap mama Adelia pamit hendak pulang.
Mama Adelia pun memeluk sang putri erat sebelum pamit pulang begitu juga dengan papa Yuda juga ikut memeluk sang putri sebelum meninggalkan gadis tersebut.
“Titip Sasa ya ! berurusan dengan saya kamu menyakitinya.” ucap papa Yuda sambil menepuk pelan bahu Ardi.
Ardi pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan papa Yuda, usai berpamitan papa Yuda pun mengantar mantan istrinya tersebut kembali pulang ke rumah lalu setelahnya dia pun pergi mencari penginapan terdekat yang ada di desa tersebut untuk dia gunakan bermalam malam ini.
Jam saat ini menunjukkan pukul 11.00 malam Sabrina saat ini tengah tertidur di lantai ruangan tempat sang mertua di rawat beralaskan karpet sedangkan Ardi duduk di kursi yang ada di samping ranjang sang ibu.
Sepasang suami istri tersebut bergantian tidur agar kelak dapat membantu sang ibu jika membutuhkan sesuatu.
Sudah beberapa hari Bu Siti di rawat di rumah sakit, selama itu pula anggota keluarganya bergantian menjaganya di rumah sakit, hingga pada akhirnya siang ini bu Siti pun di perbolehkan oleh dokter untuk pulang ke rumah dengan syarat harus kontrol kembali sesuai jadwal yang sudah di tentukan oleh dokter.
Usai membayar administrasi rumah sakit dan mengemasi barang-barang yang akan di bawa pulang Sabrina pun mendorong sang mertua menggunakan kursi roda sedangkan Ardi dan juga sang ayah menenteng barang-barang yang akan di bawa kembali ke rumah.
Sesuai rencana mereka akan pulang menggunakan mobil milik Sabrina yang akan di kemudikan sendiri oleh Ardi sedangkan sang ayah kembali dengan menggunakan sepeda motor yang di bawanya.
Dengan hati-hati pak Agus pun menggendong sang istri dan mendudukkannya di kursi belakang di temani oleh Sabrina, lalu setelah itu Ardi pun memasukkan barang-barang dan juga kursi roda milik sang ibu ke dalam bagasi mobil di bantu oleh pak Agus sang ayah.
Setelah semua persiapan selesai Ardi pun mengemudikan mobil tersebut meninggalkan rumah sakit diikuti oleh sang ayah yang menggunakan sepeda motor dari belakang, mobil melaju dengan mulus seperti biasa karena memang di sana tidak terlalu ramai oleh kendaraan jadi untuk sampai ke rumah tidak membutuhkan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Bersambung….