
Sabrina pun asyik sendiri memperhatikan para wanita yang tengah bekerja di bidangnya masing-masing hingga dia sendiri tidak sadar jika sedari tadi Sari telah memanggilnya, karena Sabrina tidak kunjung merespons akhirnya Sari pun mendekat menghampirinya.
“Mbak !” panggil Sari sambil menepuk pelan bahu Sabrina.
“Eh …” ucap Sabrina sedikit kaget lalu melihat ke arah Sari.
“Pulang yuk ! tadi mama berpesan untuk segera kembali.” Ucap Sari menjelaskan.
“Iya sudah ayo.” Ucap Sabrina mengajak Sari untuk segera kembali ke rumah.
Sari pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Sabrina kemudian keduanya pun bergegas kembali ke rumah.
Keduanya pun melangkahkan kakinya pulang menuju ke rumah yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai Sari pulang menuju ke rumahnya sedangkan Sabrina ke rumah sebelah, perlahan Sabrina melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah tersebut sayup-sayup terdengar suara orang tengah asyik berbincang hingga sesekali di selingi tawa.
Mendengar hal tersebut Sabrina pelan-pelan sedikit mengintip dari balik jendela rumah tersebut.
“Ibu senang kamu datang ! ibu pikir kamu tidak mau datang lagi ke sini !” ucap Bu Siti kepada seorang wanita yang tengah duduk di sampingnya.
“Mana mungkin Sinta seperti itu Bu ! apalagi ada mas Ardi.” Ucap wanita yang bernama Sinta tersebut terus terang sambil tersenyum manis ke arah Ardi.
Deg…. Tiba-tiba jantung Sabrina berdetak lebih cepat saat mendengar wanita tersebut menyebut nama Ardi dan tersenyum genit ke arahnya.
Sabrina pun mengusap dadanya agar detak jantungnya kembali normal.
“Siapa dia ? apa hubungannya dengan Ardi ? jangan-jangan mereka berdua …” ucap Sabrina menebak-nebak.
“Tunggu apa hubungannya denganku jika mereka benar-benar ada hubungan.” Ucap Sabrina lagi berbicara sendiri.
Namun setelah itu dia pun kembali menguping pembicaraan mereka kembali.
“Iya ibu sangat senang jika yang menjadi istri Ardi dan juga menantu ibu.” Ucap Bu Siti tanpa pikir panjang.
Sinta yang mendengar hal tersebut tersenyum bangga karena Bu Siti lebih mendukung dan memilihnya sebagai menantu.
Sedangkan Sabrina yang menguping dari luar merasa hatinya sangat sakit seperti diremas oleh makhluk tidak kasat mata.
“Itu tidak akan terjadi.” Ucap Ardi tiba-tiba bersuara.
“Pasti akan terjadi.” Ucap Bu Siti menegaskan ucapannya.
“Bu …. Aku sudah menikah sekarang jadi tolong berhentilah menjodohkan ku dengan wanita pilihan ibu.” Ucap Ardi kepada Bu Siti.
“Ibu tidak setuju kamu menikah dengannya !” ucap Bu Siti lagi.
“Walau bagaimana pun ibu tidak bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi !” Ucap Ardi dengan tegas lalu berjalan keluar rumah.
__ADS_1
“Bu…” ucap Sinta sedikit merengek meminta dukungan kepada Bu Siti.
Bu siti pun mengusap lengan Sinta seperti memberi dukungan seakan semuanya akan membaik karenanya.
Ardi yang buru-buru berjalan keluar rumah tanpa sengaja melihat Sabrina yang berdiri di samping jendela dengan cepat dia meraih tangan Sabrina lalu membawanya menjauh dari rumah.
Sementara itu Sabrina sendiri yang kaget tiba-tiba saja Ardi membawanya hanya diam tanpa berontak mengikuti ke mana Ardi membawanya.
“Maaf aku tidak berniat menguping !” ucap Sabrina kepada Ardi saat mereka sampai di bawah pohon besar tempat favorit Ardi.
“Kamu mendengar semuanya ?” tanya Ardi kepada Sabrina lalu melepaskan tangan Sabrina yang sedari di pegangnya.
“Uhmmm.” Ucap Sabrina melipat kedua tangannya sambil menatap jauh ke depan.
“Jangan terlalu di pikirkan ! kamu tahu ibuku selalu seperti itu dan aku yakin suatu saat nanti ibuku akan menerimamu sebagai menantunya.” Ucap Ardi kepada Sabrina.
“Aku juga tidak yakin pernikahan kita akan bertahan lama ! untuk itu aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan.” Ucap Sabrina dengan santai.
“Maksud kamu !” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Tidak ada jaminannya pernikahan ini akan bertahan ! kita berdua tahu jika pernikahan ini terjadi begitu saja tanpa ada cinta di antara kita lagi pula dari yang aku tangkap wanita itu sangat mengagumimu !” ucap Sabrina kepada Ardi.
“Di tambah orang tuamu juga sangat mendukung jika dia yang menjadi istrimu.” Terang Sabrina lagi kepada Ardi.
“Tapi tidak denganku !” ucap Ardi menegaskan.
“Atau jangan-jangan kamu … cemburu ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Hah cemburu ? aku ? siapa bilang ! aku tidak cemburu !” ucap Sabrina membela diri lalu memalingkan wajahnya menghindari tatapan Ardi.
“Tidak usah di sembunyikan… jika kamu cemburu katakan saja aku sangat senang berarti kamu sudah ada rasa sama aku walau hanya sedikit.” Ucap Ardi tersenyum kepada Sabrina.
“Aku tidak cemburu.” Ucap Sabrina lagi.
“Iya percaya deh ! lagian mana mungkin wanita kota seperti kamu mau sama pria desa seperti aku ini.” Ucap Ardi kepada Sabrina lagi kemudian mendaratkan pantatnya duduk di atas rumput di bawah pohon besar.
Sabrina hanya diam tidak merespons lalu dia pun ikut mendaratkan pantatnya duduk di atas rumput di samping Ardi.
“Aku minta maaf atas ucapan ibuku tadi.” Ucap Ardi kepada Sabrina.
“Aku tidak terlalu memikirkannya.” Jawab Sabrina lagi.
“Tapi tetap saja aku harus meminta maaf atas nama ibuku !” ucap Ardi lagi.
“Iya.” Jawab Sabrina lalu menganggukkan kepalanya.
“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan tadi ?” tanya Ardi tiba-tiba.
__ADS_1
“Yang mana ?” tanya Sabrina tidak mengerti.
“Pernikahan ini.” Ucap Ardi menjelaskan.
“Kamu sendiri bagaimana ?” tanya Sabrina balik.
“Aku ?” ucap Ardi menunjuk dirinya sendiri.
“Iya bagaimana denganmu ?” ucap Sabrina menganggukkan kepalanya.
“Apa yang akan kamu lakukan ke depannya?” tanya Sabrina kepada Ardi.
Ardi pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
“Bagiku pernikahan bukan sesuatu yang bisa di permainkan, jika sudah menikah aku akan berusaha mempertahankannya.” Ucap Ardi kepada Sabrina.
“Walaupun menikah bukan dengan wanita yang kamu cintai ?” tanya Sabrina penasaran.
“Iya walaupun menikah bukan dengan wanita yang aku cintai.” Ucap Ardi menganggukkan kepalanya menjelaskan.
“Kenapa ?” tanya Sabrina lagi.
“Apa harus ada alasan ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Tidak juga… aku hanya ingin tahu kenapa kamu bisa berpikir seperti itu ?” tanya Sabrina lagi.
“Tidak ada jaminan bahwa orang yang kita cintai tersebut merupakan jodoh kita, bahkan mungkin orang yang tidak kita cintai tersebutlah yang merupakan jodoh kita karena cinta bisa tumbuh seiring dengan berjalan nya waktu !” terang Ardi kepada Sabrina.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Ardi.
“Lantas bagaimana denganmu ?” tanya Ardi balik kepada Sabrina.
“Aku tidak tahu !” ucap Sabrina.
“Berarti kamu tidak ingin mencoba mempertahankan dan menerima pernikahan ini !” tanya Ardi kepada Sabrina.
“Seharusnya pertanyaan itu untukmu !” jawab Sabrina ketus.
“Kenapa untukku ? kamu sendiri sudah mendengar jawabanku dan aku akan mencoba mempertahankan pernikahan kita.” Jelas Ardi.
“Aku tidak yakin dengan apa yang kamu katakan ! bagaimana dengan wanita itu ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
“Kamu cemburu ?” tanya Ardi lagi.
“Tidak !” jawab Sabrina.
Ardi menarik napas dalam lalu menghembuskan napasnya perlahan lalu Ardi pun membalikkan tubuh Sabrina menghadap ke arahnya dengan memegangi kedua lengan Sabrina.
__ADS_1
Bersambung….