
Ardi menatap dalam ke arah manik mata Sabrina mencoba memberi tahukan isi hatinya, Sabrina yang di tatap pun menjadi salah tingkah.
“Kamu mau ngapain ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
“Tatap aku !” ucap Ardi kepada Sabrina.
Mau tidak mau Sabrina pun menuruti perintah Ardi tersebut dengan sedikit rasa canggung Sabrina pun menatap manik mata Ardi.
“Saat ini yang menjadi istriku adalah kamu !” ucap Ardi menegaskan ucapannya.
“Hingga nanti pun aku akan berusaha menerimamu dan pernikahan ini.” Ucap Ardi lagi dengan pasti.
“Kecuali kamu sendiri yang tidak menginginkan dan menjauhiku !” ucap Ardi.
Sabrina pun terdiam mendengar pengakuan pria yang ada di depannya yang saat ini telah berstatus sebagai suaminya tersebut.
“Aku…” ucap Sabrina tercekat.
“Tidak usah di jawab jika kamu sendiri masih bingung dengan semua ini !” ucap Ardi kepada Sabrina kemudian melepaskan kedua tangannya dari lengan Sabrina.
“Udara di sini enak ya.” Ucap Sabrina kepada Ardi berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak canggung.
“Iya… jauh berbeda dengan udara di kota.” Ucap Ardi menanggapi ucapan Sabrina.
“Iya aku setuju.” Ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Ardi.
“Aku sungguh iri dengan orang-orang yang tinggal di desa.” Ucap Sabrina pelan.
Namun karena di tempat mereka berada tersebut sunyi jadi terbebas dari suara-suara kendaraan yang berlalu lalang hanya beberapa suara burung yang berkicau yang terdengar, hal tersebut membuat ucapan Sabrina tersebut terdengar jelas oleh Ardi.
“Kenapa ?” ucap Ardi menanggapi ucapan Sabrina.
“Iya walaupun mereka hidup sederhana tapi mereka saling menyayangi satu sama lain, jauh berbeda dengan kehidupan orang-orang yang tinggal di kota, hidup bergelimang harta tetapi dalam keluarga tidak saling peduli sama halnya seperti kehidupanku.” Ucap Sabrina tanpa sadar.
“Eh ?” ucap Ardi sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh Sabrina.
“Eh maaf aku terlalu banyak bicara.” Ucap Sabrina tersadar jika dia terlalu banyak bicara.
“Tidak masalah ! jika kamu ingin mengurangi beban pikiranmu boleh cerita sama aku.” Ucap Ardi.
Sabrina pun tersenyum ke arah Ardi.
__ADS_1
“Terima kasih.” Ucap Sabrina.
Ardi pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada Sabrina.
Tanpa terasa siang telah berganti menjadi sore, udara di sekitar menjadi sejuk karena matahari telah bergerak menjauh.
“Pulang ?” ucap Ardi sambil berdiri kemudian dia pun mengulurkan tangannya untuk membantu Sabrina berdiri dari duduknya.
“Iya.” Ucap Sabrina menyambut uluran tangan Ardi sang suami.
“Terima kasih.” Ucap Sabrina lagi kepada Ardi.
Kemudian sepasang pengantin baru tersebut pun berjalan beriringan melangkahkan kaki menuju ke rumah.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai di rumah, Sabrina pun bergegas masuk ke dalam rumah lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti karena dia berencana untuk mandi membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket, sementara Ardi di panggil oleh pak Agus sang ayah untuk berbincang membahas sesuatu.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam di kediaman pak Agus mbok Ya tengah menyiapkan makan malam dibantu oleh Sabrina, usai semua menu makan malam di tata di atas meja makan anggota keluarga pun telah menduduki kursi masing-masing begitu juga dengan Sari dan sang ibu.
Sudah menjadi kebiasaan di keluarga pak Agus untuk makan malam sang adik dan juga sang keponakan untuk ikut makan malam bersama keluarga mereka.
Semua orang menyendok kan nasi ke dalam piring masing-masing secara bergantian.
“Mbak !” ucap Sari sambil menyerahkan mangkuk yang berisi nasi kepada Sabrina.
Saat semua orang tengah sibuk mengambil lauk yang hendak di makan Bu Siti tiba-tiba bersuara.
“Mbok tolong rantang makanan yang tadi di bawa kesini.” Ucap bu siti kepada mbok Ya.
“Baik Bu.” Ucap mbok Ya menanggapi ucapan Bu Siti.
Kemudian mbok Ya berjalan tergopoh-gopoh menuju ke dapur untuk mengambil rantang makanan yang dimaksud oleh Bu Siti tersebut lalu membawanya ke meja makan di mana semua orang tengah berada.
“Taruh di sini mbok.” Ucap Bu Siti kepada mbok Ya.
Mbok Ya pun patuh menuruti ucapan sang majikan lalu menaruh rantang makanan tersebut di atas meja di dekat Bu Siti berada.
Bu Siti pun membuka rantang makanan tersebut satu persatu dan merasa takjub melihat isi di dalam rantang makanan tersebut.
“Wah Sinta memang calon istri dan menantu idaman.” Ucap Bu Siti memuji Sinta di depan semua orang.
“Ardi kamu harus cobain ini ! ini dimasak Sinta khusus untuk kamu !” ucap Bu Siti kepada Ardi.
__ADS_1
Dengan cepat Bu Siti pun menaruh lauk yang tadi dibawa oleh Sinta tersebut ke dalam piring Ardi, karena gerakan Bu Siti secepat kilat Ardi pun tidak bisa mengelak dan membiarkan lauk tersebut mendarat di atas piringnya.
“Ayah juga cobain !” ucap Bu Siti kepada sang suami sambil berusaha menaruh lauk tersebut di piring sang suami.
“Nanti saja ! ini sudah cukup nanti kalau tidak habis membazir jadinya.” Ucap Pak Agus menolak dengan halus.
“Ayo yang lain juga cobain deh.” Ucap Bu Siti kepada Sari dan juga sang ibu sambil menyerahkan rantang tersebut.
Tapi tidak berlaku untuk Sabrina karena Bu Siti tidak menawarkan lauk buatan Sinta tersebut kepada Sabrina sang menantu.
“Nanti saja mbak.” Ucap bibi Farida menanggapi ucapan Bu Siti.
“Iya Bu nanti saja ini sudah cukup kok.” Ucap Sari ikut menanggapi tawaran Bu Siti.
“Ya sudah.” Ucap Bu Siti sambil menarik kembali rantang makanan yang tadi hendak diberikan kepada Sari dan juga sang mama bibi Farida.
Sementara itu Sabrina yang seakan diacuhkan menganggap hal tersebut seperti angin lalu karena di rumah tersebut hanya satu orang yang tidak menyukainya yaitu Bu Siti sang ibu mertua, dia pun memilih segera menikmati hidangan makan malam khas pedesaan tersebut.
"Enak mbak ?” tanya sari kepada Sabrina.
“Iya ini enak.” Ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya.
“Apa aku bilang kalau urusan perut mbok Ya jagonya.” Ucap Sari lagi kepada Sabrina memuji masakan mbok Ya.
Lalu Sari pun melirik ke arah Ardi sang kakak yang terlihat tidak berselera untuk menyantap makanan di dalam piringnya.
“Mas Ardi kenapa ? sakit ?” tanya Sari sedikit khawatir melihat keadaan sang kakak.
“Tidak !” jawab Ardi menggeleng sambil menatap piringnya.
“Kenapa tidak dimakan ?” tanya Sari lagi.
“Sepertinya mulai saat ini aku alergi dengan ini.” Ucap Ardi kepada Sari lalu mengambil lauk yang ada di dalam piringnya dan menaruhnya di atas piring Sari.
Sabrina yang mendengar ucapan Ardi tersebut mengernyitkan dahinya heran begitu juga dengan Sari.
“Kenapa ?” tanya Sari kepada Ardi sang kakak lalu mengambil lauk yang diberikan Ardi tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya.
“Uekkkkk.” Ucap Sari lalu memuntahkan lauk yang tadi sempat dimakannya.
Semua orang seketika berhenti menyantap makanan dan menatap khawatir ke arah Sari.
__ADS_1
Bersambung….