Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 43


__ADS_3

Sabrina pun berusaha melepaskan diri dari Ardi sekuat tenaga, namun apalah daya kekuatannya untuk memberontak tidak sebanding dengan kekuatan sang suami pada saat menahannya.


“Biar kan seperti ini sebentar !” ucap Ardi lembut tepat di dekat telinga Sabrina.


Sabrina pun menghentikan aksinya untuk melepaskan diri dari sang suami.


“Sayang mulai saat ini aku ingin kamu memanggilku dengan panggilan selain kamu.” Pinta Ardi kepada Sabrina.


“Hah?” ucap Sabrina spontan.


“Iya ! bolehkan ?” pinta Ardi lagi.


“Lantas aku harus memanggilmu bagaimana ?” tanya Sabrina.


“Bisa memanggilku dengan kata sayang… atau mas juga boleh !” ucap Ardi lagi.


“Apa aku harus ?” tanya Sabrina.


“Hmmmm.” Jawab Ardi mengeratkan pelukannya.


“Mas ?” ucap Sabrina.


“Ya.” Jawab Ardi.


“Terasa sedikit aneh.” Ucap Sabrina


“Nanti juga akan menjadi terbiasa.” Ucap Ardi lagi.


“Hmmmm.” Ucap Sabrina menanggapi.


“Terima kasih.” Ucap Ardi lalu mengecup pucuk kepala Sabrina.


“Udah ah katanya mau balik sekarang.” Ucap Sabrina berusaha buru-buru turun dari ranjang.


Kemudian Sabrina pun pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan setelahnya baru di susul oleh Ardi sang suami.


Beberapa saat kemudian di kediaman Pak Agus….


Ardi menggandeng tangan Sabrina sang istri sambil menaiki anak tangga rumah bertepatan di saat sang Ayah pak Agus baru saja keluar dan mereka berpapasan di beranda rumah.


“Pagi yah !” ucap Ardi menyapa sang ayah.


“Pagi.” Ucap pak Agus tersenyum.


“Kalian baru pulang ?” tanya pak Agus lagi.


Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan sang ayah sedangkan Sabrina tersenyum canggung ke arah sang mertua.


“Tidak apa-apa !” ucap pak Agus kepada Sabrina.


Sabrina pun merasa sedikit lega karena tidak semua orang menentang hubungannya dengan Ardi, setidaknya masih ada ayah mertua, sang bibi dan juga Sari yang menerimanya.


“Oh iya sampai lupa ! Ardi kamu ikut ayah sekarang ! hari ini kita akan melihat perkembangan tanaman yang sebelumnya menggunakan pupuk olahan kita !” ucap pak Agus kepada Ardi.

__ADS_1


Ardi pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang ayah.


Setelah itu Pak Agus pun pergi melangkahkan kakinya terlebih dahulu sementara Ardi tampak ingin berpamitan dengan Sabrina.


“Sayang ! mas pergi kerja dulu ya… kamu tunggu mas di rumah oke !” ucap Ardi sambil memegang kedua bahu Sabrina.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi.


“Tapi apa kamu tidak sarapan dulu ?” tanya Sabrina.


“Tapi apa ?” tanya Ardi lagi.


“Tapi apa mas tidak sarapan dulu ?” ulang Sabrina memperbaiki kalimatnya.


Ardi pun tersenyum mendengar ucapan Sabrina.


“Tidak usah nanti saja !” ucap Ardi lagi.


“Ya sudah kalau begitu mas pergi ya ! sayang jangan lupa sarapan ya !” ucap Ardi sambil mengecup kening sang istri untuk berpamitan.


Sabrina memejamkan matanya saat kecupan sang suami mendarat di keningnya, setelah itu Ardi pun pergi menyusul sang mertua sementara itu Sabrina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Suasana pagi ini terlihat cukup sepi Sabrina memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke dapur karena saat ini indra penciumannya mencium bau yang cukup membuat perut menjadi sangat lapar.


“Pagi mbok... lagi masak apa mbok ?” ucap Sabrina menyapa mbok Ya saat dia sampai di dapur.


Di sana mbok Ya tampak tengah sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya.


“Eh mbak ! ini lagi masak buat sarapan pagi ini.” Ucap mbok Ya.


“Tidak usah mbak duduk saja.” Tolak mbok Ya.


“Tidak apa-apa mbok aku bisa bantu kok ! lagian kan bisa sekalian belajar juga !” ucap Sabrina masih kekeh ingin membantu mbok Ya.


“Baiklah kalau mbak ingin belajar !” ucap Mbok Ya pasrah dan membiarkan Sabrina membantunya.


Sabrina pun tersenyum senang karena di izinkan oleh mbok Ya membantunya memasak.


“Mau di bantu apa mbok ?” tanya Sabrina kepada mbok Ya.


“Mbak potong-potong sayur yang ada di keranjang sana aja !” terang mbok Ya kepada Sabrina sambil menunjuk ke arah keranjang yang terletak di atas meja.


“Baiklah.” Ucap Sabrina semangat.


Kemudian Sabrina pun mengambil keranjang yang berisi sayuran tersebut dan mulai memotong-motong sayuran yang dimaksud mbok Ya tersebut.


“Oh iya mbok yang lain pada ke mana ?” tanya Sabrina kepada mbok Ya.


“Oh bapak sepertinya sudah pergi ke ladang… ibu sepertinya masih di kamar.” Jelas mbok Ya.


“Ohhh… wanita itu ?” tanya Sabrina sedikit pelan dan hati-hati takut jika nanti ada yang mendengar.


“Masih tidur !” ucap mbok Ya juga ikut memelankan suaranya.

__ADS_1


“Oh….” Ucap Sabrina menganggukkan kepalanya paham.


Saat tengah asyik memotong-motong sayuran tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Sabrina.


“Dari mana saja kamu ?” tanya Bu Siti yang tiba-tiba muncul.


Karena kaget tanpa sengaja pisau yang di gunakan oleh Sabrina untuk memotong sayuran mengenai jarinya.


“Aduh !” ucap Sabrina sambil menekan jarinya yang terluka tersebut agar tidak keluar banyak darah.


Mbok Ya yang mendengar suara Sabrina spontan mendekat ke arah Sabrina untuk melihat apakah wanita tersebut baik-baik saja.


“Alah alasan ! jangan pikir aku tidak tahu niatmu itu ! kamu sengaja melukai jarimu agar aku melupakan masalah kemarin bukan ? kamu sengaja menjauhkan Ardi dari ibunya agar kamu bisa mempengaruhi pikirannya kan ?” ucap Bu Siti.


Sabrina menggelengkan kepalanya berusaha membantah apa yang dituduhkan oleh mertuanya tersebut ke padanya.


“Tunggu sebentar mbak ! mbok akan ambilkan obat.” Ucap mbok Ya kepada Sabrina.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan mbok Ya.


“Apa yang kamu berikan pada anakku hingga dia berani melawan keinginanku ha ?” tanya bu Siti lagi masih dengan emosi.


“Aku tidak melakukan apa pun ! ibu pasti salah paham !” jawab Sabrina tidak ingin di salahkan.


“Oh jadi kamu menyalahkanku ?” tanya bu Siti.


“Tidak ! bukan seperti itu !” ucap Sabrina lagi.


Seketika Sinta pun muncul dan berdiri di samping bu Siti dan ikut-ikutan menyalahkan Sabrina.


Mendengar suara ribut-ribut di kediaman sang kakak, Farida sang adik ipar pun datang bersama dengan Sari sang putri.


“Ada apa ini mbak ribut-ribut ? tidak baik mbak tetangga pada dengar !” ucap bibi Farida kepada Bu Siti.


Lalu bibi Farida melihat ke arah Sabrina yang sedang memegangi jarinya yang terluka.


“Kamu terluka ?” tanya bibi Farida tampak mengkhawatirkan Sabrina.


Sabrina hanya menggelengkan kepalanya menatap bibi Farida.


“Sari bawa mbak mu dan obati lukanya !” ucap bibi Farida.


Sari pun memapah Sabrina kemudian mbok Ya datang membawa obat serta perban lalu menyerahkannya kepada Sari dan Sari pun mengajak Sabrina menjauh dari sana.


“Sudah lah mbak ! malu di dengar orang !” ucap bibi Farida kepada bu Siti.


“Aku sangat membencinya ! karena dia putra ku Ardi berani menantangku!” ucap Bu Siti terus terang.


“Pasti mas Ardi sudah di guna-guna sama wanita itu !” ucap Sinta ikut mengompori.


“Kamu diam kalau orang tua sedang bicara ! ini malah membuat suasana menjadi semakin panas.” Ucap bibi Farida yang geram melihat tingkah Sinta.


Seketika Sinta pun langsung terdiam mendengar ucapan bibi Farida.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2