
Untuk sesaat Sabrina tidak ada reaksi atas perlakuan Ardi kepadanya hingga saat nyawanya terkumpul sempurna dan menyadari hal yang baru saja terjadi dia pun seketika berusaha menjauhkan tubuhnya dari Ardi.
“Kamu ! apa yang kamu lakukan ?” tanya Sabrina kaget.
“Apalagi kalau bukan memberikan kecupan selamat pagi!” ucap Ardi sambil tersenyum manis kepada Sabrina.
“Apa sih kenapa tiba-tiba menciumku ! kenapa kamu melanggar janji yang kamu ucapkan semalam ? atau jangan-jangan kamu…?” ucap Sabrina sambil menyilangkan kedua tangannya tepat di dadanya.
“Kamu istriku ! sudah sewajarnya aku dan kamu… kita melakukan…” ucap Ardi menjeda ucapannya sambil tersenyum nakal ke arah Sabrina.
Mendengar hal itu Sabrina seketika bangkit dari tidurnya wajahnya menjadi merah padam, seketika dia merasa Ardi telah membohonginya.
“Brengsek ! dasar mesum !” ucap Sabrina sambil mengambil bantal lalu dengan kekuatan penuh memukul Ardi menggunakan bantal tersebut.
Ardi tertawa melihat tingkah Sabrina sambil berusaha menghindari pukulan istrinya tersebut, melihat respon Ardi Sabrina pun semakin emosi dan makin menggebu memukul pria yang sudah menjadi suaminya tersebut.
“Laki-lakicabul ! pembohong.” Ucap Sabrina masih berusaha memukul Ardi.
Ardi sendiri sangat lihai menghindar dari serangan Sabrina hingga Sabrina sendiri pun berhenti memukuli Ardi karena tenaganya sudah habis terkuras.
Sabrina pun duduk lemas di atas ranjang sambil matanya berkaca-kaca.
“Pembohong !” ucap Sabrina menatap Ardi.
Ardi pun menghentikan tawanya lalu menatap ke arah Sabrina, hatinya seketika merasa terenyuh melihat raut wajah Sabrina.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang ? setelah semua ini tidak akan ada lagi laki-laki yang mau denganku ! aku sudah tidak…” ucap Sabrina menghentikan ucapannya.
Sabrina menggelengkan kepala sambil kedua tangannya memegangi kepalanya sambil terus meracau tidak jelas.
Melihat hal tersebut Ardi seketika menyadari jika Sabrina terlalu jauh berpikir tentang ucapannya barusan.
Pelan-pelan Ardi mendekat ke arah Sabrina yang seperti hilang kendali lalu kedua tangannya memegangi lengan Sabrina.
“Hei lihat aku.” Ucap Ardi sambil menatap Sabrina dengan lembut.
“Kamu brengsek.” Ucap Sabrina membalas tatapan Ardi.
Dari sudut mata Sabrina mengalir begitu saja cairan bening tanpa dapat di bendung, hati Ardi semakin terenyuh saat melihat air mata Sabrina jatuh begitu saja tepat di depan matanya.
Semenjak dari dulu Ardi sangat tidak tahan melihat wanita menangis, melihat Sabrina Ardi semakin merasa bersalah terhadap wanita tersebut karena membiarkannya salah memahami maksud dari ucapannya.
“Kamu salah paham !” ucap Ardi menatap lekat ke arah Sabrina.
“Setelah apa yang kamu lakukan kamu bilang aku salah paham ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
__ADS_1
“Aku bukan wanita bodoh yang tidak bisa mengerti maksud dari ucapanmu tadi.” Jawab Sabrina.
Ardi menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“Ini semua tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu ! aku tidak se bajingan itu untuk melakukan hal tersebut tanpa persetujuanmu lebih dulu, kamu bisa pegang ucapanku.” Terang Ardi lagi sambil menatap dalam mata Sabrina.
Sabrina pun tidak bereaksi apa pun mendengar ucapan Ardi, yang dilakukannya hanyalah menatap mata Ardi sambil berusaha mencari kebohongan lewat mata sang suami tersebut.
“Dan mengenai ucapanmu tadi… aku ini suamimu dan kamu istriku ! ini sudah cukup, kamu tidak perlu lagi mencari laki-laki lain yang mau menerima dan mencintaimu karena aku tidak akan mengizinkan hal itu, aku tidak ingin menyerahkan istriku kepada orang lain.” Ucap Ardi kepada Sabrina mempertegas ucapannya.
“Dan kamu jangan sekali-kali berpikir untuk mencari pria lain karena jika nanti itu terjadi aku tidak akan segan-segan membuatnya menyesal seumur hidup.” Ucap Ardi lagi.
Seketika bulu kuduk Sabrina berdiri mendengar ucapan Ardi yang terdengar sedikit mengerikan.
“Mengerti ?” tanya Ardi kepada Sabrina.
Seperti dihipnotis Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ardi.
“Gadis pintar !” ucap Ardi tersenyum manis sambil mengacak rambut Sabrina.
Sabrina mengerutkan dahinya melihat perubahan sikap Ardi yang dari sebelumnya menjadi sosok tegas dan serius hingga menjadi pria yang sangat manis.
“Apa benar kamu tidak melakukan… ?” tanya Sabrina sedikit ragu.
“Aku rasa pujian ku barusan menjadi tidak berguna.” Ucap Ardi menggelengkan kepalanya.
“Maksudnya ?” tanya Sabrina sambil mengerutkan keningnya.
“Apa mungkin aku melakukannya dengan pakaian utuh begini ?” ucap Ardi bertanya kepada Sabrina sambil menunjuk ke arah Sabrina.
Sabrina pun memperhatikan pakaian yang dia kenakan semalam masih utuh dan tidak ada yang kurang.
“Hehehehe…” ucap Sabrina tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Atau jangan-jangan kamu menginginkan aku melakukannya sekarang ?” ucap Ardi menggoda Sabrina.
Mendengar hal itu Sabrina buru-buru bangkit dan berlari keluar dari kamar.
“Dasar gila !” ucap Sabrina sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
“Hahahaha.” Ardi tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sabrina yang menggemaskan menurutnya.
…..
Sabrina baru saja kembali dari kamar mandi wajahnya tampak terlihat lebih segar dari sebelumnya menambah kecantikannya berkali lipat terpancar, saat kakinya melangkah masuk ke dapur di sana dia melihat Ardi tengah sibuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
“Ummm wangi.” Ucap Sabrina singkat.
“Lagi apa ?” tanya Sabrina mendekat sambil melihat apa yang di masak oleh sang suami.
“Membuat sarapan.” Jawab Ardi singkat sambil tangannya fokus mengaduk nasi goreng tersebut agar tidak gosong.
“Kamu bisa ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
“Ini sudah hampir matang.” Ucap Ardi menanggapi pertanyaan Sabrina.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ardi.
“Apa ini enak ?” tanya Sabrina lagi.
“Mau taruhan ?” tanya Ardi.
“Apa ?” jawab Sabrina.
“Jika nasi goreng ini enak kamu yang cium aku dan jika tidak enak aku yang akan menciummu !” terang Ardi.
“Itu tidak adil karena di sini hanya kamu yang di untungkan.” Ucap Sabrina.
“Kenapa tidak berani ?” tanya Ardi.
“Berani… siapa takut !” ucap Sabrina tidak mau kalah.
“Deal ?” tanya Ardi sambil mengulurkan tangannya kepada sabrina.
‘Deal !” jawab Sabrina sambil menyambut uluran tangan Ardi dan mereka pun bersalaman membuat kesepakatan.
“Ya sudah tolong ambilkan piring di sana.” Ucap Ardi kepada Sabrina sambil menunjuk ke arah rak piring berada.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ardi dan bergegas mengambilkan piring yang tadi diminta oleh sang suami.
“Ini !” ucap Sabrina sambil menyerahkan piring yang tadi diambilnya.
“Terima kasih.” Ucap Ardi kepada Sabrina sambil mengambil piring tersebut dari tangan Sabrina.
“Hmmm.” Ucap Sabrina menanggapi ucapan dari sang suami.
Ardi pun menaruh nasi goreng tersebut ke dalam piring dengan hati-hati karena masih sangat panas.
Usai menaruh nasi tersebut ke dalam piring Ardi pun menaruh telur ceplok serta irisan tomat segar di masing-masing piring yang sudah berisi nasi goreng tersebut sebagai bahan pelengkapnya.
Bersambung…..
__ADS_1