Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 33


__ADS_3

Ardi pun membawa dua piring nasi goreng buatannya ke meja makan lalu menaruhnya, Sabrina yang baru saja kembali dari kamar langsung menuju ke meja makan dan duduk di kursi tepat di seberang Ardi.


“Kamu yakin ini bisa di makan ?” tanya Sabrina kepada Ardi sambil menatap sepiring nasi goreng yang ada di depannya.


“Hmmm.” Jawab Ardi sambil menganggukkan kepalanya.


“Oke baiklah.” Ucap Sabrina sambil mengambil sendok.


Dengan sedikit ragu-ragu Sabrina pun mencicipi nasi goreng tersebut, untuk sesaat tidak ada reaksi dari Sabrina usai nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulutnya.


Sedangkan Ardi menatap Sabrina sambil menunggu tanggapan sang istri mengenai nasi goreng buatannya tersebut.


“Enak banget.” Ucap Sabrina spontan sambil terus mengunyah nasi goreng yang telah masuk ke dalam mulutnya tersebut.


Ardi menghembuskan napasnya mendengar ucapan Sabrina, dia merasa lega karena nasi goreng buatannya tersebut di sukai oleh Sabrina.


Namun sesaat kemudian Ardi tersenyum kepada Sabrina yang tengah fokus menyantap nasi goreng tersebut.


“Ayo di makan ! ini enak banget.” Ucap Sabrina kepada Ardi sembari mulutnya terus mengunyah nasi goreng tersebut.


“Aku jadi tidak berselera.” Ucap Ardi kepada Sabrina.


“Loh kenapa ? ini enak banget… kalau kamu tidak mau sini untuk ku saja.” Ucap Sabrina asal kepada Ardi.


Ardi pun mendorong piring nasi goreng miliknya tersebut tepat ke depan Sabrina.


“Beneran tidak mau ?” tanya Sabrina lagi kepada Ardi.


“Ambil saja ! aku jadi tidak sabar.” Ucap Ardi sedikit ambigu.


“Tidak sabar kenapa ?” tanya Sabrina mengerutkan keningnya, lalu dia pun mengambil segelas air putih dan meminumnya.


“Menerima hadiah darimu !” ucap Ardi tersenyum.


“Hadiah apa ? kamu ulang tahun ?” tanya Sabrina lagi.


“Karena nasi gorengnya enak jadi kamu harus menepati janji.” Ucap Ardi sambil menunjuk ke arah pipinya.


“Karena kamu makan dua piring jadi hadiahku juga double kiri dan kanan.” Ucap Ardi lagi.


Spontan tangan Sabrina mendorong kembali piring nasi goreng milik Ardi ke arah suaminya tersebut, wajahnya seketika memerah mendengar ucapan Ardi.


“Jangan bercanda deh.” Ucap Sabrina menjadi salah tingkah.


“Aku tidak bercanda ! aku serius… hadiahnya.” Ucap Ardi sambil mendekatkan wajahnya ke arah Sabrina.


Dengan spontan Sabrina pun menjauhkan wajahnya dari wajah Ardi.


“Duh bagaimana ini ? sebagai wanita bagaimana bisa aku menciumnya ? tidak…tidak… bagaimana ini ?” ucap Sabrina di dalam hati.


“Ayo lah.” Ucap Ardi masih berusaha mendekatkan wajahnya ke arah Sabrina.

__ADS_1


“Ya sudahlah tidak ada pilihan lain.” Ucap Sabrina di dalam hati.


Dan tiba-tiba…


“Cup.” Sebuah ciuman singkat mendarat di pipi Ardi.


Sebuah senyum terbit dari sudut bibir Ardi usai Sabrina mengecup pipinya lalu tanpa sadar Ardi pun menyendokkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.


Usai mengecup pipi sang suami Sabrina buru-buru mengambil air minum dan meminumnya lalu setelahnya dia pun buru-buru keluar rumah.


“Mau ke mana ?” tanya Ardi kepada Sabrina.


“Cari angin ! di sini udaranya terlalu panas.” Ucap Sabrina.


Ardi pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Sabrina pergi karena dia sendiri mengerti bagaimana isi hati Sabrina saat ini, dia memilih melanjutkan sarapannya.


“Apa mungkin ini pertama baginya ?” tanya Ardi kepada dirinya sendiri.


“Apa iya ?” tanya Ardi lagi penasaran.


“Kalau memang benar aku harus membuatnya menjadi milikku.” Ucap Ardi membulatkan tekad.


“Sarapan sendiri mas ?” tanya mbok Ya yang baru saja datang.


“Iya mbok !” ucap Ardi menanggapi ucapan mbok Ya.


“Sarapan dulu mbok tadi aku bikin nasi goreng lebih.” Ucap Ardi menawari  mbok Ya untuk sarapan.


“Kalau mbok perhatikan pagi ini wajah mas Ardi sangat berbeda.” Ucap mbok Ya tersenyum.


“Berbeda ? maksud mbok bagaimana ?” tanya Ardi sedikit bingung.


“Iya seperti orang lagi jatuh cinta.” Ucap mbok Ya tanpa rem.


Mendengar ucapan mbok Ya tersebut seketika membuat Ardi tersedak.


“Minum mas!” ucap mbok Ya sambil mendorongkan gelas yang berisi air putih ke arah Ardi.


Buru-buru Ardi pun mengangkat gelas yang berisi air putih tersebut ke arah mulutnya dan meminum air putih tersebut sampai habis.


“Bapak dan ibu belum kembali mas ?” tanya mbok Ya buru-buru mengalihkan topik pembicaraan agar Ardi merasa nyaman.


“Belum mbok.” Ucap Ardi singkat.


“Ya sudah kalau begitu mbok ke belakang dulu ya.” Ucap mbok Ya berpamitan dengan Ardi.


Ardi pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan mbok Ya.


“Jatuh cinta ? apa iya aku jatuh cinta.” Tanya Ardi di dalam hati.


“Tidak ada yang salah bukan kalau misalnya aku jatuh cinta dengan istriku sendiri.” Ucap Ardi di dalam hati.

__ADS_1


Tidak mau ambil pusing Ardi pun memilih melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.


Sementara itu di sisi lain Sabrina pun menikmati udara pagi yang terasa sangat segar sepanjang jalan ke mana kakinya melangkah, seperti sudah menjadi kebiasaan oleh warga setempat untuk mulai mencari nafkah pagi-pagi sekali.


Tanpa Sabrina sadari akhirnya dia menghentikan langkahnya tepat di sebuah rumah yang sebelumnya pernah dia kunjungi.


“Bagaimana bisa aku bisa sampai ke sini ?” ucap Sabrina pelan.


Seolah ada kekuatan yang menariknya ke sana.


“Tidak boleh ! aku harus kembali.” Ucap Sabrina sambil berbalik badan untuk melangkah pergi dari rumah tersebut.


“Sabrina ?” panggil wanita paruh baya tersebut saat melihat Sabrina hendak pergi.


Mendengar ada yang memanggilnya sabrina pun membalikkan badannya ke arah sumber suara sambil tersenyum nyengir.


“Eh tante.” Ucap Sabrina kikuk.


“Kenapa tidak masuk ?” tanya tante Adelia kepadanya.


Sabrina pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dia sendiri juga bingung kenapa tiba-iba dia sudah ada di sana.


“Ya sudah tidak perlu di jawab, tidak ada alasan untuk kamu tidak boleh datang ke sini, rumah tante terbuka jika kamu ingin berkunjung.” Ucap tante Adelia kepadaSabrina.


Sabrina pun tersenyum menanggapi ucapan tante Adelia kepadanya.


“Tapi maaf tante harus ke pasar sekarang, jika kamu mau kamu boleh kok menunggu di dalam.” Ucap tante Adelia kepada Sabrina sambil menunjuk ke rumahnya.


“Tidak usah tante.” ucap Sabrina menolak.


“Hmmmm kalau kamu tidak keberatan bagaimana kalau kamu ikut tante saja ke pasar biar tante ada temannya juga.” Ucap tante Adelia kepada Sabrina.


“Boleh ?” tanya Sabrina kepada tante Adelia.


“Boleh dong malahan tante senang ada temannya, dulu Nadia yang sering menemani tante ke pasar.” Ucap tante Adelia curhat.


“Eh tapi kalau tante boleh tanya kamu ke sini sudah ijin belum ?” tanya tante Adelia kepada Sabrina.


“Sudah.” Ucap Sabrina menanggapi.


“Mertuamu mengizinkan ?” tanya tante Adelia lagi.


“Ayah ibu sedang tidak ada di rumah.” Jawab Sabrina menjelaskan.


“Ya sudah kalau begitu ayo !” ucap tante Adelia mengajak Sabrina ke pasar.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ajakan tante Adelia.


Mereka pun berangkat menggunakan ojek becak motor langganan tante Adelia seperti biasa, di atas becak motor sepanjang perjalanan kedua wanita yang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh tersebut menikmati perjalanan sambil mengobrol satu sama lain.


Sesekali Sabrina pun menanyakan sesuatu yang belum pernah dilihatnya di sepanjang perjalanan kepada tante Adelia seperti biasa dengan penuh semangat tante Adelia pun menjelaskan sesuatu yang sebelumnya di tanya oleh Sabrina kepadanya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2