Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 61


__ADS_3

Sesampainya di depan pintu kamar Sabrina melihat sang mama tengah duduk di pinggir ranjang sedang membuka sebuah kotak berwarna coklat caramel yang memiliki ukiran yang sangat indah.


“Ma ?” ucap Sabrina sambil berdiri di depan pintu tersebut.


“Sasa ? sini sayang !” ucap sang mama sambil melambaikan tangannya kepada Sabrina.


“Iya ma.” Ucap Sabrina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Sabrina pun melangkahkan kakinya berjalan masuk mendekat ke arah sang mama.


“Ayo duduk di sini !” ucap sang mama sambil menepuk-nepuk pinggir ranjang tersebut.


Sabrina pun menurut dia pun duduk di pinggir ranjang tersebut.


“Sayang cincin ini sudah lama mama simpan ! dulunya ini cincin punya mama dan saat ini mama akan memberikannya kepadamu.” Ucap sang mama tersenyum sambil menyerahkan cincin tersebut kepada Sabrina.


“Indah sekali !” ucap Sabrina sembari mengambil cincin tersebut.


“Sekarang cincin ini menjadi milikmu !” ucap sang mama sambil memegang kedua bahu sang putri.


“Hanya ini yang bisa mama berikan dan mama minta maaf karena tidak bisa merawat, mendidik dan melihat tumbuh kembangmu seperti halnya yang di lakukan oleh seorang ibu kepada anaknya… maafkan mama sayang !” ucap sang mama tiba-tiba suasana menjadi sedih.


“Mama…” ucap Sabrina langsung memeluk sang mama.


“Mama jangan minta maaf ! mama sama sekali tidak bersalah… keadaanlah yang membuat kita terpisah.” Ucap Sabrina seketika menjadi terisak.


“Mama senang kamu bisa memahami keadaan mama… terima kasih sayang.” Ucap sang mama menambah erat pelukannya hingga Sabrina menjadi kesulitan bernapas.


“Mama !” ucap Sabrina pelan.


“Hmmmm.” Jawab sang mama merespons.


“Aku jadi tidak bisa bernapas.” Ucap Sabrina kepada sang mama.


“Maaf sayang.” Ucap sang mama seketika melepaskan pelukannya.


Sontak keduanya seketika menjadi tertawa.


Kemudian sang mama membelai pipi Sabrina sang putri.


“Mama tidak sangka bayi yang dulunya mungil kini sudah dewasa dan menjadi istri seseorang.” Ucap sang mama.


“Mama.” Ucap Sabrina hendak memeluk sang mama kembali.


“Sudah ah tidak boleh sedih-sedih lagi ! coba di pakai cincinnya apakah sesuai ?” tanya sang mama seketika semangat.

__ADS_1


“Iya .” ucap Sabrina menganggukkan kepalanya.


Sabrina pun mengenakan cincin tersebut pada jari manis tangan kirinya.


“Cantik sekali.” Ucap Sabrina saat cincin pemberian sang mama terpasang manis di tangannya.


“Kamu suka ?” tanya sang mama kepada Sabrina.


“Iya aku suka ini sangat indah.” Ucap Sabrina membulak-balik kan tangannya melihat keindahan cincin tersebut dari berbagai sudut.


“Mama senang kamu menyukainya.” Ucap sang mama tersenyum.


“Terima kasih ma.” Ucap Sabrina memeluk sang mama seketika.


“Iya sayang.” Ucap sang mama mengelus lembut punggung sang putri.


“Ya sudah kalau begitu ayo kita ke dapur ! mama akan mengajari mu memasak.” Ucap sang mama melepaskan pelukannya.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang mama, kemudian mama Adelia pun mengemas kembali kotak tempat dia menyimpan cincin tersebut dan meletakkannya di dalam laci lemari, setelah itu ibu dan anak tersebut melangkahkan kaki menuju ke arah dapur.


“Sayang kamu mau makan dulu ?” tanya sang mama.


Ucap Sabrina menanggapi pertanyaan sang mama.


“Kamu tahu sayang ? sebagai seorang istri sudah menjadi tradisi dan keharusan pandai memasak agar suami betah di rumah.” Ucap sang mama.


Sabrina hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang mama.


“Tadi mama sudah siapkan bahan-bahan yang akan kita masak !” ucap sang mama sambil menunjukkan bahan-bahan yang akan mereka olah nanti.” Ucap sang mama


“Apa kamu tahu nama-nama bahan masakan ini ?” tanya sang mama sambil menunjuk bahan masakan yang tadi sudah dia siapkan tersebut.


Sabrina pun menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan sang mama.


“Ya sudah tidak apa-apa ! mama akan mengenalkannya satu persatu.” Ucap sang mama kepada Sabrina.


Kemudian sang mama pun mulai mengenalkan bahan serta bumbu yang akan mereka gunakan untuk memasak seperti bawang merah bawang putih dan bahan lainnya, Sabrina pun mendengarkan penjelasan sang mama dengan seksama.


“Apa Ardi memperlakukan mu dengan baik ?” tanya sang mama di sela-sela menjelaskan aneka bahan dan bumbu yang akan mereka gunakan untuk memasak tersebut.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang mama.


“Mama senang mendengarnya.” Ucap sang mama tersenyum kepada Sabrina.


“Selama ini dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.” Ucap Sabrina.

__ADS_1


“Hanya saja ibunya tidak menyukaiku!” ucap Sabrina seketika menjadi murung.


Sang mama pun mengelus bahu sang putri untuk memberinya semangat serta dukungan.


“Kamu tahu sayang ? dulunya orang tua papa nenek dan kakekmu juga tidak menyukai mama.” Ucap sang mama kepada Sabrina.


“Apa iya ? bukannya nenek dan kakek sangat menyayangi mama ?” tanya Sabrina tidak percaya dengan ucapan sang mama.


“Iya.” Ucap sang mama menganggukkan kepalanya membenarkan ucapannya.


“Kenapa nenek dan kakek bisa tidak menyukai mama ?” tanya Sabrina lagi.


“Karena menurut mereka mama menghancurkan masa depan papamu.” Ucap sang mama.


“Menghancurkan bagaimana ?” tanya Sabrina lagi.


“Karena kami memutuskan menikah saat usia kami terlalu muda.” Ucap sang mama tidak menjelaskan detailnya.


“Lalu ?” tanya Sabrina lagi.


“Sambil mama cerita tolong kamu kupas bawangnya ya ?” ucap sang mama lagi.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang mama, lalu Sabrina pun mengambil pisau agar memudahkannya untuk mengupas bawang seperti perintah sang mama.


“Beberapa bulan pernikahan mama rasa tidak akan sanggup untuk terus melanjutkan semuanya karena perlakuan nenek dan kakekmu tapi mama mencoba bertahan karena kamu membuat mama menjadi semangat menjalaninya.” Terang sang mama.


“Bagaimana pun perlakuan orang tua papamu terhadap mama sekalipun mama tidak pernah membalas mereka dan mama selalu menghormati mereka layaknya orang tua mama sendiri, hingga pada akhirnya mereka sendiri menyadari jika apa yang mereka lakukan tersebut adalah salah dan mau menerima mama sebagai menantu mereka.” ucap sang mama.


“Saat mama dan papamu berpisah neneklah orang yang pertama kali menentang keputusan papamu.” Ucap sang mama lagi  menjelaskan kepada Sabrina.


“Mama tahu ? jika nenek datang ke rumah nenek tidak akan pernah lupa menceritakan tentang mama ke padaku dan nenek mengatakan jika nenek sangat merindukan mama.” Ucap Sabrina kepada sang mama.


“Bagaimana kabar nenekmu ?” tanya sang mama kepada Sabrina sang putri.


“Semenjak di sini aku tidak pernah bertemu dan berkomunikasi dengan nenek.” Jawab Sabrina jujur karena memang semenjak dia kabur dari rumah sudah tidak ada lagi berkomunikasi dengan sang papa atau pun keluarga lainnya.


“Ma tunggu sebentar !” ucap Sabrina sambil mengambil ponsel miliknya dari dalam tas selempang kecil yang tadi di bawanya.


“Ada apa ?” tanya sang mama mengerutkan dahinya bingung.


“Apa mama mengenal laki-laki ini ?” tanya Sabrina sambil memutar video yang ada di ponselnya tersebut.


Sang mama pun menatap layar ponsel milik Sabrina tersebut untuk mengetahui laki-laki yang dimaksud Sabrina.


Bersambung…..

__ADS_1


__ADS_2