
Mbok Ya tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi dan menatanya di atas meja makan, satu persatu penghuni rumah berdatangan ke meja makan untuk sarapan pagi begitu juga dengan Sabrina gadis yang baru saja menjadi menantu dari keluarga tersebut.
Sedangkan untuk Ardi sendiri tidak menampakkan puncak hidungnya di sana, semenjak bangun tidur Sabrina sudah tidak melihat pria tersebut.
“Suamimu ada di mana ?” tanya pak Agus kepada Sabrina.
Sabrina yang ditanya menjadi sedikit gugup karena dia juga tidak tahu pria tersebut ada di mana.
“Tidak tahu om !” jawab Sabrina.
“Ha…..?” bu Siti menggelengkan kepalanya melihat Sabrina.
Sedangkan pak Agus sendiri hanya tersenyum ke arah Sabrina.
“Ayah lihat istri macam apa yang tidak tahu suaminya berada di mana ! lagi pula dia sudah menikah dengan putra kita apa tidak ada yang mengajarkannya cara memanggil orang tua dari suaminya dengan baik !” Sindir bu Siti.
“Bu sudahlah !” ucap Pak Agus kepada sang istri.
“Karena kamu sudah menikah dengan Ardi kamu boleh memanggil kami sama dengan suamimu memanggil kami.” Ucap Pak Agus menjelaskan.
“Iya om ! eh iya yah.” Ucap Sabrina sedikit ragu sambil menganggukkan kepalanya paham.
“Seperti itu lebih baik.” Ucap Pak Agus tersenyum ke arah Sabrina.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti ke arah pak Agus.
“Mbok Ya Ardi di mana ?” tanya bu Siti kepada mbok Ya.
“Eh iya saya hampir lupa mengatakan jika mas Ardi tadi sudah pergi ke kebun karena ada sedikit masalah di sana Bu.” Terang mbok Ya kepada sang majikan.
“Oh…ya sudah.” Ucap bu Siti mengangguk mendengar penjelasan mbok Ya.
“Ya sudah kalau begitu lebih baik kita sarapan lebih dulu.” Ucap pak Agus kepada bu Siti sang istri.
Bu Siti pun mengangguk mendengar ucapan sang suami.
“Eh mbok tolong siapkan bekal untuk Ardi nanti tolong sekalian di antarkan ya.” Ucap Bu Siti lagi kepada mbok Ya.
“Baik bu.” Ucap mbok Ya mengangguk paham.
“Biarkan istrinya yang melakukannya.” Ucap pak Agus ikut menyela.
“Aku ?” tanya Sabrina yang kaget saat mendengar ucapan pak Agus.
“Iya kamu !” ucap pak Agus santai.
__ADS_1
“Iya .” ucap Sabrina pasrah tidak bisa menolak.
“Mbok tolong di siapkan dulu ya!” ucap pak Agus kepada mbok Ya.
“Iya pak.” Ucap mbok Ya menanggapi ucapan sang majikan.
Sementara bu Siti tampak tidak senang dengan ide sang suami yang meminta Sabrina untuk mengantarkan bekal untuk sang putra.
Pagi ini mereka sarapan dengan tenang, tidak seperti sebelumnya bu Siti memilih untuk diam saat ini karena dia sangat malas jika terus di salahkan oleh sang suami, dia merasa sang suami berubah dari sebelumnya jika sebelumnya dia bersikap cukup tegas entah kenapa saat ini seolah sang suami seperti telah menerima Sabrina di keluarga ini hal tersebut membuat bu Siti menjadi sangat kesal dengan Sabrina.
Beberapa saat kemudian mereka pun telah selesai sarapan, mbok Ya datang dengan membawa kotak bekal untu Ardi dan menyerahkannya kepada Sabrina.
“Ini mbak sarapan untuk mas Ardi.” Ucap mbok Ya kepada Sabrina.
“Mbok saja deh yang mengantarkan !” ucap Sabrina menolak mengantarkan kotak bekal tersebut.
“Mbok bisa saja mengantarkan ini ke mas Ardi hanya saja jika ketahuan bapak mbok akan dimarahi mbak.” Ucap mbok Ya kepada Sabrina.
“Ya sudah kalau begitu biar aku saja mbok yang mengantarkan ini.” Ucap Sabrina kepada mbok Ya.
“Iya mbak.” Ucap mbok Ya kepada Sabrina.
“Tapi mbok kebunnya ada di mana ?” tanya Sabrina bingung karena dia sendiri tidak tahu Ardi berada di mana.
“Iya mbok.” Ucap Sabrina paham.
Kemudian dia pun bergegas mengantarkan bekal sarapan untuk Ardi pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya tersebut.
Satu persatu Sabrina melangkahkan kakinya menuruni anak tangga rumah panggung tersebut hingga sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana mbak ?” tanya seseorang kepadanya.
“Sari ? ini mau mengantarkan sarapan untuk masmu.” Jelas Sabrina kepada Sari.
“Oh…” ucap Sari mengangguk paham.
“Aku ingin menemani mbak tapi saat ini aku sedang ada pekerjaan.” Ucap Sari kepada Sabrina.
“Tidak apa-apa, biar aku saja.” Ucap Sabrina tersenyum.
Sari pun ikut membalas senyum Sabrina, kemudian Sabrina pun pamit kepada Sari agar bisa segera mengantarkan sarapan untuk Ardi.
Sepanjang jalan Sabrina sangat menikmati keindahan di desa tersebut udara yang masih terasa segar dikelilingi oleh sawah dan juga kebun serta orang-orang yang sedang bekerja mencari nafkah sungguh pemandangan yang baru pertama dilihat oleh Sabrina.
__ADS_1
Rasa ikhlas terpancar dari wajah orang-orang yang sedang bekerja tersebut walaupun menurut Sabrina pekerjaan tersebut sangat berat tetapi mereka menjalaninya dengan lapang dada, hal tersebut membuat Sabrina sangat kagum dengan orang-orang yang tinggal di desa tersebut.
“Permisi pak.” Ucap Sabrina kepada seorang pria paruh baya yang sedang bekerja.
“Iya mbak ?” jawab pria paruh baya tersebut sedikit mengerutkan dahinya seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Bos Ardi ?” tanya pria paruh baya tersebut kepada Sabrina.
“Bos Ardi ?” tanya Sabrina sambil mengerutkan dahinya.
“Iya mbak istri bos Ardi ?” tanya pria tersebut.
“Bukan… saya cari Ardi bukan bos Ardi.” Ucap Sabrina lagi.
“Mbak menantu pak Agus dan bu Siti kan?” tanya pria tersebut lagi.
Sabrina hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan pria paruh baya tersebut.
“Iya bos Ardi ! beliau ada di ujung sana mbak.” Terang pria tersebut kepada Sabrina.
Sabrina pun tampak bingung dahinya mengkerut seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Terima kasih pak.” Ucap Sabrina tersenyum.
“Sama-sama.” Ucap pria tersebut kepada Sabrina kemudian beliau kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Pak saya mau tanya ?” ucap Sabrina lagi.
Sontak pria tersebut menghentikan pekerjaannya lagi.
“Iya ?” ucap pria tersebut sambil menatap ke arah Sabrina.
“Boleh saya tahu kenapa bapak memanggilnya bos Ardi ?” tanya Sabrina sedikit ragu-ragu.
“Oh mbak tidak tahu ? kalau separuh kebun dan sawah di sini milik keluarga bos Ardi ?” terang pria tersebut kepada Sabrina.
Mendengar penjelasan pria paruh baya tersebut Sabrina seketika hanya bisa tersenyum cengengesan.
“Terima kasih pak.” Ucap Sabrina lagi karena pria tersebut sudah menjawab rasa penasarannya.
“Sama-sama.” Ucap pria tersebut.
Kemudian Sabrina pun melangkahkan kakinya melewati jalan setapak menuju ke tempat Ardi berada, butuh usaha ekstra bagi Sabrina melewati jalan tersebut karena jalannya sedikit becek dan berlumpur karena semalam baru saja hujan.
__ADS_1
Bersambung....