Asmara Pernikahan Tak Terduga

Asmara Pernikahan Tak Terduga
Episode 22


__ADS_3

Sari pun seketika mengambil segelas air putih lalu meminumnya dengan segera agar rasa yang memenuhi mulutnya tersebut menghilang.


“Ada apa ?” tanya Sabrina yang tampak khawatir.


“Asin !” ucap Sari lantang.


Sontak tawa sang mama pecah melihat ekspresi Sari sang putri yang tengah menahan rasa asin di mulutnya.


Bu Siti pun tampak kesal mendengar ucapan Sari tersebut yang mengatakan bahwa lauk yang tadi di bawa oleh Sinta tersebut memiliki rasa asin.


“Tidak mungkin !” ucap Bu Siti kemudian dengan buru-buru dia pun ikut mencicipi lauk buatan Sinta tersebut.


Satu dua dan….


“Asin !” ucap Bu Siti sambil mengeluarkan lauk yang tadi telah dimasukkan ke mulutnya.


“Sudah di makan saja tidak baik membuang-buang makanan.” Ucap pak Agus kepada sang istri.


“Ayah ih !” ucap Bu Siti kesal.


Sabrina pun ikut tersenyum tipis melihat ekspresi sang mertua yang sedang kesal, sementara yang lain tertawa seketika.


“Ya sudah kalau memang rasanya asin tidak usah di makan mbak ! tidak baik juga menkonsumsi makanan yang rasanya asin.” Ucap Farida sang adik ipar.


“Tidak mungkin juga masakan Sinta bisa asin begini… tidak… tidak ini pasti ada yang salah.” Ucap Bu Siti masih tidak terima.


“Kamu !” ucap Bu Siti menunjuk ke arah Sabrina.


“Aku ?” jawab Sabrina sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.


“Tidak aku tidak tahu apa-apa Bu.” Ucap Sabrina lagi.


“Aku yakin ini pasti ulahmu kan !” ucap Bu Siti bersikeras.


“Sudah-sudah ini waktunya makan malam.” Ucap pak Agus menengahi.


Bu siti pun akhirnya diam dan melanjutkan makan malamnya dengan hati yang masih dongkol.


Beberapa saat kemudian semua orang pun telah selesai dengan makan malamnya, jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 malam Sabrina tengah berdiri di beranda rumah sambil melipat kedua tangannya, tatapannya menatap jauh ke langit malam yang penuh dengan ribuan bintang.


“Pakai ini ! udara dingin malam tidak baik untuk kesehatan.” Ucap Ardi sambil menutupi tubuh Sabrina dengan kain mirip selendang.


Sabrina hanya memperhatikan Ardi sekilas saat memakaikan selendang untuk menutupi tubuhnya kemudian dia kembali menatap langit malam sambil menghembuskan napas panjangnya.


“Yang tadi bukan aku !” ucap Sabrina tiba-tiba.


“Hah ?” jawab Ardi tidak mengerti.


“Makanan itu !” ucap Sabrina memperjelas maksud dari ucapannya.

__ADS_1


“Yang itu ? iya aku percaya bukan kamu !” ucap Ardi menanggapi ucapan Sabrina.


Sabrina hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Ardi.


“Besok pagi-pagi sekali aku harus pergi.” Ucap Ardi kepada Sabrina.


“Ke mana ? " tanya Sabrina sambil menatap ke arah Ardi.


“Aku harus ke kota !” ucap Ardi lagi menjelaskan.


“Mau ngapain ?” tanya Sabrina lagi sambil mengerutkan keningnya.


“Menjual hasil kebun !” jawab Ardi lagi.


Sabrina pun menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang di katakana oleh Ardi kepadanya.


Sesaat kemudian Sabrina pun tampak tersenyum sambil memikirkan sesuatu.


“Apa aku boleh ikut ?” tanya Sabrina kepada Ardi dengan membuat wajah sok imut.


“Tidak usah ikut kamu di rumah saja !” jawab Ardi singkat.


“Boleh ya aku ikut ?” tanya Sabrina lagi sambil bergayut di lengan Ardi.


“Kamu yakin mau ikut ?” tanya Ardi kepada Sabrina untuk memastikan apakah dia benar-benar ingin ikut dengannya.


“Iya aku yakin ! boleh ya ?” ucap Sabrina lagi sangat berharap agar Ardi mengizinkan dia ikut dengannya.


“Beneran ?” tanya Sabrina lagi.


“Hmmmmm “ ucap Ardi menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih.” Ucap Sabrina berbinar tanpa sengaja dia pun seketika memeluk Ardi dari samping.


Ardi seketika kaget karena tanpa aba-aba Sabrina dengan santai memeluknya, Ardi pun hanya diam bagai patung membiarkan Sabrina memeluknya.


Beberapa detik kemudian Sabrina pun tersadar dengan tindakannya yang ceroboh tersebut, dia pun menjadi salah tingkah lalu melepaskan pelukannya.


“Maaf.” Ucap Sabrina kepada Sabrina.


“Tidak masalah ! jika kamu ingin kamu bisa memelukku kembali.” Ucap Ardi santai padahal di dalam hatinya dia juga merasa gugup.


“Dasar cabul !” ucap Sabrina lalu memukul lengan Ardi.


“Aduh aduh.” Ucap Ardi pura-pura merasa kesakitan.


“Tidak usah pura-pura aku yakin tidak terlalu bertenaga memukulmu !” ucap Sabrina kepada Ardi.


“Hahahaha.” Ardi pun seketika terkekeh melihat tingkah Sabrina yang jengkel dengannya.

__ADS_1


Sabrina yang merasa kesal tersebut pun memutuskan untuk segera masuk menuju ke dalam rumah meninggalkan Ardi yang masih tertawa di sana.


“Mau ke mana ?” tanya Ardi yang melihat Sabrina tiba-tiba saja pergi.


“Tau ah !” ucap Sabrina tanpa melihat ke arah Ardi.


Ardi pun masih tertawa sambil menggelengkan kepalanya menatap punggung Sabrina yang lama-lama menghilang di balik pintu.


“Mas ! " ucap seseorang memanggil Ardi.


Ardi yang merasa ada seseorang memanggilnya tersebut pun menoleh ke arah sumber suara.


“Iya ?” ucap Ardi.


Kemudian orang yang memanggil Ardi tersebut pun berjalan mendekat ke arah Ardi.


“Ada apa Jon ?"  tanya Ardi saat pria yang bernama Joni tersebut sampai di dekatnya.


“Bagaimana dengan besok ? apa kita jadi ke kota ?” tanya Joni kepada Ardi.


“Jadi ! nanti kita berangkat pagi-pagi seperti biasa !” ucap Ardi lagi menanggapi ucapan Joni.


“Siap !” ucap Joni.


“Bagaimana ? apa semua persiapan sudah siap ?” tanya Ardi lagi kepada pria yang bernama Joni tersebut.


“Sudah mas ! semua hasil panen yang akan di jual semua sudah naik ke atas mobil.” Jawab Joni.


“Bagus… terima kasih !” ucap Ardi kepada Joni sambil menganggukkan kepalanya.


“Sama-sama mas ! kalau begitu saya permisi dulu.” Ucap Joni lagi kepada Ardi.


“Baiklah ! besok pagi jangan sampai terlambat.” Ucap Ardi lagi sambil mengingatkan Joni kembali agar jangan sampai terlambat besok pagi.


“Iya mas.” Jawab Joni kemudian dia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Ardi seorang diri di sana.


Ardi pun meregangkan otot tubuhnya lalu setelahnya dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, tidak lupa saat sampai di dalam rumah dia pun mengunci kembali pintu rumah agar lebih aman.


Usai mengunci kembali pintu rumah Ardi pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar, saat sampai di depan pintu kamar dengan perlahan dia pun membuka pintu kamar tersebut lalu masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali pintu kamar tersebut.


Dari tempatnya berdiri Ardi menatap ke arah ranjang di sana Sabrina tengah tertidur dengan lelapnya.


“Apa dia benar-benar sudah tidur ?” ucap Ardi di dalam hati.


Kemudian pelan-pelan Ardi pun mendekat ke arah ranjang lalu memeriksa apakah Sabrina benar-benar sudah terlelap.


“Gadis ini !” ucap Ardi menggelengkan kepalanya menatap Sabrina.


“Bisa-bisanya dia tidur secepat ini.” Ucap Ardi lagi.

__ADS_1


Dia merasa heran dengan Sabrina bagaimana bisa dalam waktu sekejap dia bisa tertidur dengan lelapnya.


Bersambung….


__ADS_2