
Tanpa sadar Sabrina menatap lekat ke arah Ardi yang tengah duduk di sampingnya tersebut, sedangkan untuk Ardi sendiri dia tengah menegadah kan pandangannya ke arah langit malam yang bertaburan dengan ribuan bintang-bintang.
Ardi yang seolah merasa sedang di perhatikan dia pun menatap balik ke arah Sabrina, dengan buru-buru Sabrina pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari tatapan Ardi.
“Apa sekarang kamu sudah mulai mengagumiku ?” tanya Ardi kepada Sabrina dengan percaya diri.
Wajah Sabrina seketika memerah seperti kepiting rebus saat ketahuan oleh Ardi sedang menatapnya.
“Nggak siapa bilang !” ucap Sabrina mengelak.
“Tidak ada yang salah kok kalau iya sekalipun.” Ucap Ardi menggoda Sabrina.
Sabrina pun menjadi salah tingkah dibuatnya, dia tidak tahu harus bagaimana menjawab ucapan Ardi.
“Tau ah !” ucap Sabrina menanggapi ucapan Ardi.
Kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Ardi yang sedang terkekeh melihat tingkah Sabrina.
“Mau ke mana ?” tanya Ardi sebelum Sabrina benar-benar menghilang dari balik pintu.
“Tidur !” ucap Sabrina singkat.
Sepeninggal Sabrina tawa Ardi seketika menghilang, wajahnya berubah sendu seakan tengah memikirkan sesuatu.
Ardi pun melihat ke arah meja di sana terhidang secangkir kopi buatan Sabrina yang tadi belum sempat di seruputnya.
“Kopi pertama !” ucap Ardi sambil tersenyum menatap secangkir kopi tersebut.
“Pasti rasanya enak seperti orang yang membuatnya.” Ucap Ardi sangat antusias mencicipi kopi buatan Sabrina sang istri.
Kemudian dia pun mengangkat cangkir kopi tersebut dan membawanya ke arah mulut dan meneguknya seketika.
“Ueeekk…” ucap Ardi seketika memuntahkan kopi yang tadi di teguknya.
Kemudian Ardi pun segera mengelap mulutnya untuk menghilangkan rasa asin yang masih tertinggal di mulutnya.
__ADS_1
“Apa dia mau menikah lagi ?” ucap Ardi masih menatap secangkir kopi yang mempunyai rasa asin yang sangat tajam tersebut sambil meletakkan kembali secangkir kopi tersebut di atas meja.
“Rasanya seperti di seduh menggunakan air laut.” Ucap Ardi sambil masih berusaha menghilangkan rasa asin tersebut dari dalam mulutnya.
Setelah beberapa saat akhirnya sisa rasa asin kopi tersebut lenyap dari dalam mulutnya, Ardi pun menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil tengah memikirkan sesuatu.
Sekitar lima menit kemudian Ardi pun mengeluarkan ponsel genggam miliknya dari dalam saku celananya dan melihatnya sekilas, lalu dia pun kembali memasukkan ponsel genggam tersebut ke dalam saku celananya.
Waktu terus berlalu udara malam semakin bertambah dingin, Ardi pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah dia pun segera bangkit berdiri tidak lupa sebelum masuk ke dalam rumah dia pun membawa kembali cangkir kopi tersebut ke dalam rumah dan membawanya ke dapur namun seperti biasa dia pun tidak lupa mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
Usai kembali dari dapur Ardi pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar yang dia dan Sabrina tempati, pelan-pelan dia pun membuka pintu kamar tersebut dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Sabrina yang saat itu tengah pura-pura tidur seketika menggeliat kan tubuhnya sekilas, Ardi melangkahkan kakinya menuju ke arah Sabrina, saat sampai dia pun mendudukkan bokongnya di pinggir ranjang sambil memperhatikan Sabrina yang sedang tertidur.
“Aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa.”Ucap Ardi sangat pelan hampir tidak terdengar.
“Aku juga akan menyembuhkan luka yang tengah kamu rasakan.” Ucap Ardi lagi.
Namun kali ini Sabrina bisa mendengar tentang apa yang di ucapkan oleh Ardi tersebut.
“Dia bicara apa ?” ucap Sabrina di dalam hati.
“Luka ?” Tanya Sabrina lagi di dalam hati.
Sabrina merasa sangat penasaran dengan ucapan Ardi yang tadi sempat di dengarnya sekilas, namun karena saat ini Sabrina seolah tengah tertidur dia tidak punya alasan untuk bertanya secara langsung kepada Ardi.
Sabrina mempertajam pendengarannya agar bisa mendengar lebih banyak lagi apa yang di ucapkan oleh Ardi namun nihil beberapa detik kemudian tidak ada ucapan yang keluar dari dalam mulut Ardi.
Deg… jantung Sabrina seketika berdetak tidak beraturan saat merasakan dari arah samping ada pergerakan seseorang yang sedang menarik selimut.
“Di sini lebih enak dari pada tidur di lantai.” Ucap Ardi dengan pelan.
Namun Sabrina bisa mendengar ucapan Ardi dengan sangat jelas karena memang dia sendiri dari tadi hanya pura-pura tertidur.
Seketika Sabrina berusaha hendak bangun dari tidurnya namun gerakannya kalah cepat dari gerakan Ardi sang suami, dengan kekuatannya Ardi pun seketika memeluk Sabrina dari arah belakang untuk menahan Sabrina agar tetap berada di posisinya semula.
__ADS_1
“Sudah tidur saja.” Ucap Ardi tepat di di belakang tengkuk Sabrina.
Karena jarak mereka satu sama lain sangat dekat bahkan hampir tidak memiliki jarak akibatnya Sabrina dapat merasakan hembusan napas Ardi, hal itu membuat Sabrina merasakan seperti ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya membuat wajahnya memerah seketika.
“Iya tapi tidak seperti ini juga.” Ucap Sabrina berusaha melepaskan pelukan Ardi.
Namun karena kekuatan mereka tidak sebanding Sabrina tidak berhasil melepaskan pelukan Ardi walaupun dia sudah berusaha dengan keras.
“Dari pada membuang-buang tenaga lebih baik sekarang kamu tidur.” Ucap Ardi sambil mengeratkan pelukannya.
“Tapi ini membuat dada ku sesak.” Ucap Sabrina lagi kepada Ardi sang suami.
Mendengar hal itu Ardi melonggarkan sedikit pelukannya agar Sabrina merasa nyaman.
“Aku janji hanya seperti ini .” ucap Ardi lagi kepada Sabrina.
Mendengar hal itu Sabrina pun tidak lagi berontak dan membiarkan Ardi tidur di sebelah sambil memeluknya, walaupun jauh dari lubuk hatinya ada sedikit rasa was-was jika Ardi nantinya akan berbuat aneh-aneh kepadanya.
Ya walaupun sekarang mereka sudah di perbolehkan untuk berbuat lebih namun sebagai wanita dia masih diliputi oleh rasa was-was karena pernikahan mereka terjadi begitu saja tanpa ada rasa cinta satu sama lain.
Beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran halus dari pria yang ada di sebelahnya, itu berarti Ardi sang suami sudah lebih dulu tidur dan pergi ke alam mimpi sedangkan Sabrina sendiri masih belum bisa tertidur karena ini pertama kali baginya ada orang lain tidur memeluknya.
Waktu terus berlalu tanpa bisa di cegah akhirnya Sabrina pun tertidur dengan posisi Ardi masih setia memeluknya dari belakang.
…..
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar melalui ventilasi udara kamar tersebut, Ardi pun membuka matanya sambil tangan kirinya mengucek-mengucek matanya.
Usai nyawanya terkumpul kembali Ardi pun berencana hendak bangkit dari tidurnya namun dia merasakan tubuh serta lengan kanannya terasa sangat berat, Ardi pun menatap ke arah dadanya di sana terlihat sebuah lengan tangan memeluknya dia pun mengedarkan pandangannya ke arah lengan kanannya yang terasa berat.
Senyum Ardi terbit saat melihat sosok wanita yang tengah terlelap tidur dengan beralaskan lengannya, Ardi pun memperbaiki posisinya menghadap ke arah Sabrina dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
Beberapa detik Ardi memperhatikan wajah Sabrina hingga sesaat kemudian dia pun merapikan anak rambut Sabrina agar dia bisa melihat wajah Sabrina dengan jelas.
Sabrina merasa ada sebuah sentuhan yang mengenai pipinya dia pun membuka matanya perlahan namun aksinya tersebut dia urungkan saat merasakan hembusan napas seseorang mengenai wajahnya.
__ADS_1
Ardi tersenyum melihat tingkah gemas Sabrina yang berpura-pura masih tidur tersebut, hingga pada akhirnya Ardi pun memberikan ciuman singkat di kening Sabrina hal itu sontak membuat Sabrina membuka matanya lebar-lebar.
Bersambung…