
Di kediaman orang tua Ardi Sabrina baru saja selesai membantu mbok Ya menjemur pakaian yang tadi telah di cuci oleh mbok Ya, setelahnya Sabrina pun hendak pergi ke rumah sang bibi yang berada di sebelah namun langkah kakinya berhenti saat mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah sang mertua.
Sabrina pun menghentikan langkah kakinya dan memutar tubuhnya menghadap ke mobil yang baru saja berhenti tersebut.
“Mas Ardi ?” ucap Sabrina sembari melangkahkan kakinya mendekat ke arah mobil tersebut.
Ardi pun keluar dari dalam mobil dan membantu sang Ayah agar sang ibu bisa keluar dari dalam mobil.
Walaupun tampak kesulitan namun perlahan-lahan bu Siti pun berusaha melangkahkan kakinya dengan di papah oleh sang suami dan juga Ardi sang putra.
“Mas ibu ?” ucap Sabrina tampak senang melihat sang mertua sudah bisa melangkahkan kakinya walaupun masih tertatih-tatih.
“Iya.” Ucap Ardi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang istri.
“Oh iya sayang ! tolong siapkan kursi roda ibu.” Ucap Ardi kepada Sabrina.
“Iya !” ucap Sabrina menganggukkan kepalanya sambil bergegas menaiki anak tangga untuk menyiapkan kursi roda untuk sang mertua.
Walaupun di papah oleh suami dan anaknya butuh perjuangan bagi bu Siti agar sampai di teras rumah dan duduk di kursi roda tersebut.
“Dokter bilang apa yah ?” tanya Sabrina kepada sang mertua.
“Kondisi ibu sudah lumayan membaik, jika terus menjaga pola makan dan minum obat yang di berikan oleh dokter serta rajin berlatih bergerak ibu akan sembuh.” Jelas sang mertua.
“Syukurlah kalau begitu !” ucap Sabrina ikut senang.
“Ya sudah kalau begitu ayah akan bawa ibu masuk dulu !” ucap sang ayah kepada Sabrina sambil mendorong kursi roda sang istri.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang mertua.
Ardi yang masih berdiri di dekat Sabrina tampak sedang melihat ke semua arah seperti tengah mencari sesuatu.
“Cari apa mas ?” tanya Sabrina kepada Ardi.
“Ke mana semua orang ?” tanya Ardi kepada sang istri.
“Oh maksud mas Ziva dan juga mas Reyhan ?” tanya Sabrina kepada sang suami.
“Iya ! mereka ke mana ? mobilnya juga sudah tidak ada.” Tanya Ardi kepada sang istri Sabrina.
“Sudah pulang.” Ucap Sabrina menanggapi pertanyaan sang suami.
“Pulang ? kenapa mendadak ? mas pikir dia tidak akan menyerah.” Ucap Ardi lagi.
“Menyerah ? maksud mas ?” tanya Sabrina kepada Sabrina.
“Iya menyerah untuk merebut kamu dari mas.” Ucap Ardi lagi.
“Apa sih mas ! jangan terlalu banyak berpikir ! mas pikir aku wanita apaan.” Ucap Sabrina sewot.
“Eh kenapa mereka pulang mendadak sekali ? seperti jelangkung saja !” Ucap Ardi kepada Sabrina sang istri.
__ADS_1
“Kenapa jelangkung ?” tanya Sabrina lagi.
“Datang tak di undang pulang pun tak pamit.” Ucap Ardi.
Sontak Sabrina tertawa mendengar ucapan Ardi.
“Datang tak di undang pulang tak di antar kali mas.” Ucap Sabrina meralat ucapan sang suami.
“Salah ya ?” tanya Ardi.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi.
“Tadi mas Reyhan dapat telepon mendadak ada sedikit masalah pekerjaan katanya.” Jelas Sabrina.
“Makanya dia harus segera kembali ! tadi dia juga bilang terima kasih sudah di terima di sini dan minta maaf tidak bisa pamit secara langsung.” Ucap Sabrina menjelaskan.
Ardi pun menganggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan sang istri.
“Sayang masak apa hari ini ?” tanya Ardi sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
“Belum tau yang masak kan mbok Ya ! mas kan tahu aku nggak bisa masak !” ucap Sabrina menanggapi ucapan sang suami.
“Apa kamu tidak ingin memanjakan lidah suami mu ini ?” tanya Ardi kepada sang istri.
Mendengar ucapan Ardi sang suami seketika wajah Sabrina langsung merah merekah menahan malu.
“Apa sih mas ! siang-siang begini sudah mesum begitu !” jawab Sabrina.
“Sini !” ucap Ardi kepada Sabrina agar sang istri mendekat.
Tanpa rasa curiga sedikit pun Sabrina pun mendekat ke arah sang suami, tiba-tiba Ardi pun menyentil pelan kening sang istri.
“Jangan suka berpikir mesum !” ucap Ardi meledek sang istri.
“Awww…siapa suruh berbicara ambigu seperti itu !” Ucap Sabrina membela diri tidak terima dikatakan oleh Ardi seperi itu.
Ardi pun sontak tertawa mendengar jawaban sang istri tersebut.
Ardi pun mengurungkan niatnya menuju ke dapur dia malah melangkah menuju ke kamar.
“Loh katanya mas mau makan ?” tanya Sabrina kepada Ardi sang suami.
“Nanti saja mas mau mandi dulu ! gerah soalnya.” Jawab Ardi menanggapi ucapan sang istri.
“Baiklah !” ucap Sabrina menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Ardi sang suami.
Baru saja Sabrina hendak melangkahkan kakinya tampak Pak Agus sang mertua baru saja keluar dari kamar.
“Ayah mau ke mana ?” tanya Sabrina kepada sang mertua.
“Oh ini… ibu katanya lapar ! jadi ayah mau ke dapur untuk mengambil makanan.” Jawab sang mertua.
__ADS_1
“Ayah temani ibu saja ! biar aku yang ambilkan.” Ucap Sabrina menanggapi ucapan sang mertua.
“Kamu yakin ?” tanya pak Agus lagi.
“Iya ! ayah temani ibu saja.” Ucap Sabrina hendak melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
“Nak !” ucappak Agus.
Mendengar hal tersebut Sabrina mengurungkan langkah kakinya dan melihat ke arah sang mertua.
“Ayah memanggilku ?” tanya Sabrina kepada sang mertua.
“Iya !” jawab pak Agus menganggukkan kepalanya.
“Ada apa yah ?” tanya Sabrina lagi.
“Terima kasih !” ucap pak Agus.
Seketika Sabrina pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang mertua kemudian Sabrina pun segera melangkahkan kakinya menuju ke dapur meninggalkan sang mertua yang menatapnya dengan tatapan sendu.
“Semoga saja Siti melihat kebaikanmu dan menerima wanita sepertimu menjadi menantunya istri dari putranya.” Ucap pak Agus kemudian menghembuskan napas panjangnya.
Pak Agus pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar di mana sang istri berada.
Sementara itu Ardi keluar dari dalam kamar sambil membawa sebuah handuk yang dia kalungkan di lehernya sambil berjalan melewati dapur.
“Sayang untuk siapa ?” tanya Ardi kepada sang istri.
“Untuk ibu !” jawab Sabrina.
Ardi pun tersenyum menanggapi ucapan sang isti, Sabrina yang melihat Ardi senyum senyum sendiri seketika mengerutkan keningnya.
“Mas apa ? mas ketempelan ?” tanya Sabrina kepada sang suami.
“Hush !” ucap Ardi menghentikan ucapan sang istri.
“Habisnya mas senyum-senyum tidak jelas begitu.” Ucap Sabrina.
“Mas tersenyum karena mas merasa sangat bahagia dan beruntung memilikimu sebagai istri mas.” Ucap Ardi.
“Beruntung kenapa ?” tanya Sabrina.
“Iya beruntung ! kamu istri yang cantik… pintar… baik hati… dan juga mau bersabar dengan ibu .” ucap Ardi lagi.
“Walaupun banyak kurangnya tapi mas bisa terima !” ucap Ardi lalu tertawa dan kemudian buru-buru pergi dari sana.
“Mas.” Panggil Sabrina namun Ardi pura-pura tidak mendengarnya.
Seketika Sabrina pun mengerucutkan mulutnya dia merasa kesal karena Ardi sudah pergi sebelum memberinya penjelasan.
Bersambung….
__ADS_1