
Sesaat kemudian Sabrina menghela napas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
“Gue minta tolong sama lo Zi cek keadaan papa gue di rumah.” Ucap Sabrina kepada Ziva.
“Ada apa sih sebenarnya Sa kenapa lo nggak pulang saja biar bisa lihat sendiri keadaan bokap lo !” ucap Ziva.
“Gue mohon sama lo Zi ! nanti gue akan ceritakan semuanya sama lo !” ucap Sabrina lagi memohon kepada Ziva.
“Iya deh iya demi lo ! ntar gue ke sana deh.” Jawab Ziva.
“Thanks ya Zi ! oh iya jangan bilang papa gue kalau gue menghubungi lo ya Zi.” Pinta Sabrina lagi.
“Iya gue nggak akan bilang!” jawab Ziva.
“Thanks ya Zizi.” Ucap Sabrina terkekeh.
“Hmmm.” Jawab Ziva dari seberang telepon.
“Eh gue sampai lupa bagaimana kabar lo ?” tanya Sabrina kemudian.
Belum sempat Ziva menjawab pertanyaan Sabrina Ardi muncul dari balik pintu dengan rambut yang setengah basah sembari mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
“Sayang telpon siapa ?” tanya Ardi tiba-tiba saat melihat Sabrina sedang berbicara lewat telepon.
Mendengar pertanyaan Ardi buru-buru Sabrina meletakkan jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar Ardi tidak bersuara.
Ardi pun menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang di maksud oleh Sabrina, kemudian Ardi berjalan ke depan lemari dan mengambil satu stel pakaiannya lengkap beserta pakaian dalamnya dan dengan santainya Ardi melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya lalu hendak mengenakan pakaiannya tepat di depan Sabrina.
Melihat pemandangan tersebut spontan Sabrina berteriak.
“Aaaa !” ucap Sabrina sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya lalu dengan cepat Sabrina pun berlari keluar dari dalam kamar tersebut.
Melihat reaksi Sabrina Ardi pun spontan mengambil handuknya kembali lalu memakainya lalu dia pun mengerutkan dahinya melihat Sabrina yang buru-buru keluar dari kamar seperti baru saja melihat setan.
“Kenapa Sa lo baik-baik aja kan ?” panggil Ziva dari seberang telepon.
“Eh iya Zi gue baik-baik aja.” Jawab Sabrina sambil mengelus dadanya.
“Bener nih ?” tanya Ziva memastikan lagi keadaan Sabrina.
“Iya Zizi gue baik-baik saja.” Jawab Sabrina lagi.
“Eh tunggu-tunggu ! lo lagi sama cowok ?” tanya Ziva lagi penasaran.
“Hah ?” ucap Sabrina pura-pura tidak mendengar pertanyaan Ziva tersebut.
“Nggak usah pura-pura nggak dengar deh ! gue sangat jelas tadi dengar suara cowok dekat lo.” Ucap Ziva lagi.
“Iya deh iya ! tebakan lo benar.” Jawab Sabrina akhirnya mengaku.
“Lo serius ? lo jadian sama Reyhan ?” tanya Ziva antusias.
“Ya nggak lah bukan dia !” jawab Sabrina.
“Terus sama siapa ?” tanya Ziva lagi.
“Nanti deh gue ceritain ! kapan-kapan gue hubungi lo lagi oke !” ucap Sabrina buru-buru memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1
Usai sambungan telepon terputus Sabrina meletakkan ponselnya di atas meja kayu lalu menghembuskan napasnya sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Dia siapa ?” tanya Ardi yang sudah berdiri tepat di belakang Sabrina.
“Eh itu temen aku !” jawab Sabrina.
“Hmmm” ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Sabrina terperanjat saat gemuruh datang tanpa permisi.
“Sayang kamu baik-baik saja ?” tanya Ardi khawatir melihat Sabrina terperanjat.
“Iya aku baik-baik saja.” Ucap Sabrina mengelus dadanya.
“Sepertinya malam ini akan turun hujan.” Ucap Ardi lagi.
“Hmmm.” Jawab Sabrina menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita makan malam.” Ajak Ardi kepada Sabrina.
Sabrina pun mengikuti langkah kaki Ardi menuju ke meja makan, Sabrina pun kemudian duduk di kursi tepat di depan Ardi.
“Hanya ini ?” tanya Sabrina kepada Ardi saat melihat menu makan malam mereka.
“Iya .” ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
“Ini kan tidak sehat !” jawab Sabrina.
“Apa kamu mau makan yang lain ?” tanya Ardi lagi kepada Sabrina.
“Hmmmm.” Ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah kalau begitu ayo.” Ucap Ardi sambil berdiri.
“Hah mau ke mana ?” tanya Sabrina heran.
“Pulang ke rumah ! karena di sini hanya ada ini.” Jawab Ardi.
Mendengar hal itu Sabrina pun berusaha menahan gengsinya.
“Ya sudah kita makan malam dengan ini saja !” ucap Sabrina pasrah.
“Apa kamu yakin ?” tanya Ardi memastikan jika Sabrina bersedia makan malam dengan mie instan tersebut.
“Iya .” jawab Sabrina pasrah.
Ardi pun kembali mendaratkan pantatnya di atas kursi.
“Baiklah.” Ucap Ardi.
Ardi pun kemudian menyendokkan mie tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan lahap.
Sementara itu Sabrina hanya memperhatikan Ardi yang tengah menyantap hidangan makan malam mereka tersebut belum berani memakannya.
“Enak ya ?” tanya Sabrina sambil menelan air liurnya.
“Enak !” ucap Ardi semakin lahap meyeruput mie tersebut.
__ADS_1
Karena sudah mulai lapar mau tidak mau akhirnya Sabrina pun dengan sedikit agak ragu menyendok sedikit mie tersebut lalu memasukkan ke dalam mulutnya, beberapa detik kemudian Sabrina pun menyendokkan kembali mie tersebut ke dalam mulutnya.
“Bagaimana ? kamu suka ?” tanya Ardi sambil mengerutkan keningnya melihat Sabrina yang tengah menikmati semangkuk mie tersebut.
“Enak parah !” ucap Sabrina spontan sambil terus melahap mie buatan Ardi tersebut.
Ardi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.
Tanpa terasa dua mangkuk mie instan tersebut pun habis tak bersisa baik oleh Ardi maupun Sabrina, usai meminum air putih Sabrina pun membantu Ardi membawa mangkuk serta gelas kotor tersebut ke dapur.
Hujan semakin lebat membasahi bumi membuat udara menjadi semakin dingin , saat ini Sabrina tengah duduk di balkon rumah panggung tersebut sambil menggosok kedua lengannya menggunakan tangan kiri dan kanan.
“Sayang pakai ini !” ucap Ardi sembari menyelimuti Sabrina menggunakan selimut kecil yang dia bawa.
“Terima kasih.” Ucap Sabrina sambil tersenyum.
Kemudian Sabrina menatap jauh seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Apa ada yang ingin kamu ceritakan ? aku siap untuk menjadi pendengar setiamu.” Ucap Ardi yang menyadari kegundahan sang istri.
“Tidak ! hanya saja kali ini aku tidak ingin hujan ini berhenti.” Ucap Sabrina tiba-tiba.
“Kenapa ?" tanya Ardi lagi.
“Hanya cerita masa lalu.” Ucap Sabrina seakan menolak untuk menceritakan kepada sang suami.
“Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin menceritakannya kepada ku.” Ucap Ardi paham.
“Bagaimana denganmu ?” tanya Sabrina balik.
“Apanya ?” jawab Ardi.
“Apa kamu sebelumnya pernah pacaran ?” tanya Sabrina.
“Pacar ? aku tidak punya !” jawab Ardi yakin.
“Masak sih ? apa tidak ada wanita yang kamu sukai ?” tanya Sabrina lagi mengorek informasi.
“Ada !” jawab Ardi pasti.
Entah mengapa hati Sabrina seakan tidak terima jika Ardi pernah menyukai seseorang, setelah itu Sabrina pun kembali menatap air yang turun melalui atap rumah tersebut untuk mengalihkan perhatiannya.
“Apa kamu tidak ingin tahu wanita mana yang aku pernah sukai ?” tanya Ardi kembali.
“Siapa ?” tanya Sabrina tidak berani menatap ke arah Ardi.
“Kamu !” jawab Ardi yakin.
Sabrina hanya diam dan tidak mau terlalu mendengarkan nama gadis yang pernah di sukai oleh Ardi tersebut.
Namun sesaat kemudian Sabrina pun tersadar dengan ucapan Ardi yang menyebut bahwa dirinyalah wanita yang pernah di sukai oleh Ardi tersebut.
“Gombal !” ucap Sabrina menanggapi pernyataan Ardi tersebut.
Ardi pun tersenyum melihat reaksi Sabrina yang tidak mempercayai ucapannya, Ardi pun menggeser tempat duduknya ke arah Sabrina lalu memeluknya dari samping.
Bersambung….
__ADS_1