
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam Ardi baru saja sampai di rumah setelah mengantarkan tetangganya ke rumah sakit, satu persatu Ardi melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumah tersebut.
Ardi masuk ke dalam rumah setelah mbok Ya membukakan pintu rumah untuknya dan kemudian Ardi berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum karena dia merasa sangat haus.
“Bagaimana keadaan Endah mas ?” tanya mbok Ya yang tiba-tiba muncul.
Ardi pun memutar tubuhnya menghadap ke arah mbok Ya.
“Sudah di tangani oleh dokter mbok ! kita tunggu saja kabarnya besok.” Ucap Ardi menjelaskan.
“Jadi sekarang masih di rumah sakit ?” tanya mbok Ya lagi.
“Iya.” Ucap Ardi menganggukkan kepalanya.
“Semoga saja keadaannya lekas membaik ! kasihan putrinya.” Ucap mbok Ya lagi.
Ardi pun menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan mbok Ya.
“Intannya di mana mbok ?” tanya Ardi lagi.
“Ada di rumah bu Farida mas.” Jelas mbok Ya.
“Dengan istriku ?” tanya Ardi lagi.
“Betul mas.” Ucap mbok Ya menanggapi ucapan Ardi.
Ardi pun mengangguk paham mendengar penjelasan mbok Ya, kemudian dia pun berjalan melangkahkan kakinya menuju ke kamar berniat untuk segera beristirahat.
Ardi pun membuka pakaian yang tadi di pakainya lalu menggantinya dengan pakaian yang bisa membuatnya tidur dengan nyaman, Ardi merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu berusaha memejamkan matanya namun seketika kantuknya menghilang dan tidak bisa tidur.
Dilihatnya sisi ranjang yang biasa di tiduri oleh sang istri tampak kosong dan dingin, dengan lembut dia mengelus-elus bantal yang biasa Sabrina gunakan hal tersebut membuat Ardi semakin tidak mengantuk dan tidak bisa tidur.
Sudah setengah jam Ardi membolak balikkan posisinya tidur namun tak kunjung bisa tertidur dan mengantuk lalu Ardi pun bangkit dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dilihatnya di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur namun dia tidak melihat ponsel genggam milik Sabrina.
“Apa dia membawa ponsel miliknya ?” ucap Ardi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kemudian Ardi pun mendapatkan ide untuk menghubungi Sabrina melalui sambungan telepon, dengan tidak sabaran Ardi pun mengambil ponsel miliknya lalu mengutak-atik layar ponsel tersebut kemudian memencet icon memanggil untuk menghubungi sang istri.
__ADS_1
Setelah berhasil tersambung namun tidak ada jawaban dari sana Ardi pun memutuskan untuk menghubungi kembali nomor kontak milik sang istri, senyum Ardi terbit saat panggilannya di angkat dan tersambung.
“Sayang kamu sudah tidur ?” ucap Ardi.
Namun tidak terdengar jawaban dari seberang telepon yang terdengar hanya suara napas yang teratur.
“Sayang !” panggil Ardi lagi.
“Berisik ! istri mas sudah tidur pulas !” ucap seseorang yang suaranya Ardi kenal.
“Sari ini kamu ?” tanya Ardi lagi.
“Hmmmm.” Ucap Sari menanggapinya dengan malas.
“Tunggu mas akan ke sana sekarang ! tolong kamu buka pintunya !” ucap Ardi.
“Malas orang lagi ngantuk ini !” ucap Sari.
“Ayo lah ! kamu mau mas gedor-gedor pintu rumah sampai tetangga pada bangun ?” ancam Ardi.
“Ganggu saja ! iya-iya aku bukain !” ucap Sari lagi.
“Buru mas !” ucap Sari kesal dengan sang kakak karena mengganggu tidurnya.
Ardi pun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kamar sang adik dan melihat di sana Sabrina tengah tertidur pulas dengan di temani oleh Intan.
Ardi pun segera memasukkan ponsel milik Sabrina yang berada di atas meja kecil di samping ranjang lalu dengan cepat dia pun menggendong sang istri dan membawanya dari sana menuju ke rumah.
Saat sampai di kamar Ardi pun dengan hati-hati meletakkan sang istri di atas ranjang lalu Ardi pun berjalan ke rah pintu untuk mengunci pintu kembali lalu kemudian Ardi kembali melangkahkan kaki menuju ke kamar dan tidak lupa agar keamanan dan kenyamanan terjaga dia pun menutuk kembali pintu kamar serta menguncinya.
Ardi berjalan menuju ke ranjang dan dengan hati-hati dia pun naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana tepat di samping sang istri, Ardi pun mengubah posisinya menghadap ke arah Sabrina dan tersenyum melihat sang istri yang tengah tidur dengan pulasnya lalu Ardi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga sang istri lalu Ardi pun memejamkan matanya sembari memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut.
Jarum jam terasa berputar dengan cepat saat ini jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi, udara semakin terasa dingin membuat sepasang suami istri tersebut semakin mengikis jarak demi mencari sebuah kehangatan.
Hujan tiba-tiba turun deras tanpa memberikan pertanda terlebih dahulu, beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh yang menggelegar membuat Sabrina kaget dan terbangun dari tidurnya.
Dilihatnya suasana di sekitar yang tidak asing baginya.
__ADS_1
“Apa aku sedang bermimpi ?” ucap Sabrina pelan memandangi suasana di sekelilinya.
Karena seingatnya semalam dia tidur di rumah sang bibi bersama Sari dan juga Intan namun kenyataannya dia saat ini berada di kamar yang biasa dia tempati semenjak menikah dengan Ardi.
Kemudian dia melihat Ardi sang suami juga ada di kamar tersebut sedang tertidur dengan pulas.
“Ah sudahlah ! lebih baik tidur lagi.” Ucap Sabrina kemudian hendak merebahkan tubuhnya kembali.
Namun hal tersebut dia urungkan karena dia kaget tiba-tiba saja suara petir menyambar.
Sabrina pun berteriak seketika kemudian dengan spontan menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.
Hal tersebut membuar Ardi yang tidur tepat di sampingnya seketika terbangun karena mendengar suara teriakan sang istri.
“Ada apa ?” tanya Ardi yang tiba-tiba sudah duduk di samping Sabrina.
Sabrina yang melihat Ardi terbangun seketika memeluk erat tubuh pria yang sudah menjadi suaminya tersebut.
Ardi pun merasakan ketakutan sang istri lewat eratnya Sabrina sang istri memeluknya, suara petir yang cukup kuat kembali terdengar membuat Sabrina semakin memeluk erat sang suami.
“Tenang ya jangan takut ada mas di sini !”ucap Ardi mengelus lembut punggung sang istri agar Sabrina sedikit lebih tenang.
Namun Sabrina semakin erat memeluk sang suami bahkan pelukannya hampir membuat sang suami sesak saking eratnya pelukan Sabrina.
“Aku takut mas !” ucap Sabrina ketakutan.
“Tidak akan terjadi apa-apa kok ! ini Cuma suara petir ! tidak usah takut ya.” Ucap Ardi lagi agar Sabrina sedikit tenang.
Sabrina menggelengkan kepalanya.
“Tidak aku takut ! aku tidak suka suara petir !” ucap Sabrina lagi.
Ardi pun berusaha pelan-pelan melepaskan pelukan Sabrina.
“Tenang ya ! tidak usah takut… tidak akan terjadi apa-apa !” ucap Ardi dengan lembut menjelaskan kepada sang istri.
Sabrina hanya diam namun tampak sangat jelas dari wajahnya jika dia masih merasa ketakutan seakan akan suara petir membuatnya trauma.
__ADS_1
Bersambung…