
Sepeninggal Ardi Sabrina menaruh handuk yang tadi sempat di bawanya pada sebuah kayu yang terbentang secara vertical, kemudian dia melirik ke segala arah untuk memastikan jika tidak ada orang di sekitar tempat tersebut.
Tidak ingin mengulur-ngulur waktu setelah memastikan kondisi dan keadaan di sekitar aman Sabrina pun segera membersihkan tubuhnya secepat mungkin karena hari sudah mulai semakin gelap.
Di tempat lain….
Sari tengah duduk di sebuah kursi sambil di interogasi oleh Bu Siti dan juga Sinta.
“Sari jawab jujur mas mu ada di mana sekarang ?” tanya bu Siti kepada Sari dengan nada sedikit tegas.
Sari semakin bingung menjawab pertanyaan bu Siti karena jika dia memberitahu yang sebenarnya sudah bisa di pastikan Ardi akan memarahinya.
“Iya ma sebentar !” teriak Sari berusaha mengalihkan perhatian agar dia bisa pergi dari sana.
Dia berpura-pura mendengar jika sang mama tengah memanggilnya untuk menghindari agar dia tidak menjawab yang sebenarnya dan juga agar dia tidak berbohong.
“Ibu maaf aku harus pergi !” ucap Sari buru-buru melipir dari sana.
Bu Siti pun menghembuskan napas kasarnya karena dia merasa kesal tidak mendapat informasi apa pun dari sang keponakan.
“Ibu bagaimana ini ? mas Ardi.” Ucap Sinta seakan merengek kepada bu Siti.
“Kamu tenang ya ibu akan pastikan kamu menikah dengan anak ibu Ardi !” ucap bu Siti sambil mengelus lengan Sinta.
“Hmmm.” Ucap Sabrina sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan bu Siti.
Sementara itu Sari yang baru saja sampai di rumahnya segera mengambil air minum di dapur lalu buru-buru meminumnya sampai habis.
“Ada apa ?” tanya sang mama kepada Sari.
Mendengar pertanyaan sang mama Sari pun meletakkan gelas yang sudah kosong tersebut di atas meja kemudian menarik napas dalam.
“ Apa ada hubungannya dengan mas mu ?” tanya sang mama.
Sari pun menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan sang mama.
“Apa mereka belum pulang ?” tanya sang mama lagi.
“Belum.” Ucap Sari singkat.
“Apa ibu mu tahu mas Ardi ada di mana ?” tanya sang mama lagi.
“Belum.” Jawab Sari lagi.
Kemudian ibu dan anak tersebut sama-sama terdiam karena tidak tahu harus bagaimana lagi membuat bu Siti sadar jika apa yang di lakukannya tersebut tidak baik dan bisa menerima Sabrina sebagai istri dari anaknya.
Di sisi lain…
__ADS_1
Seorang pria paruh baya tengah duduk di kursi kebesarannya dengan sangat gusar, pikirannya menjadi sangat kacau akibat kesalahan yang dia perbuat.
Tok… tokkk terdengar pintu ruangan di ketuk dari arah luar.
“Masuk !” ucap pria paruh baya tersebut dari arah dalam.
Pintu ruangan tersebut pun terbuka dari balik pintu muncullah seorang pemuda tampan dengan postur tubuh yang cukup tegap.
“Bagaimana Rey ? apa kah sudah ada kabar mengenai Sabrina putri ku ?” tanya pria paruh baya tersebut yang tidak lain adalah papa Yuda kepada pemuda yang bernama Reyhan tersebut.
Reyhan pun menyerahkan sebuah amplop yang berisikan bukti-bukti yang dia dapat dari orang suruhannya tersebut kepada Pak Yuda kemudian Reyhan pun ikut duduk di kursi yang terletak di seberang meja Pak Yuda.
Pak Yuda pun segera mengambil amplop yang di berikan oleh Reyhan tersebut lalu membukanya dengan sedikit tergesa-gesa.
“Kamu yakin dia sekarang berada di sana ?” tanya Pak Yuda kepada Reyhan memastikan keberadaan sang putri.
“Saya yakin om ! karena info ini saya dapat dari orang yang selama ini saya andalkan dan informasinya selalu akurat.” Ucap Reyhan sangat yakin dengan informasi yang dia dapatkan.
Mendengar penjelasan Reyhan Pak Yuda seketika termenung sembari tengah berpikir, melihat hal tersebut Reyhan buru-buru membuyarkan lamunan Pak Yuda.
“Om !” panggil Reyhan.
Mendengar Reyhan memanggilnya Pak Yuda pun membuyarkan lamunannya.
“Ada apa Rey ?” tanya Pak Yuda kepada Reyhan.
“Apa ada masalah ?” tanya Reyhan lagi kepada Pak Yuda.
“Kalau begitu bagus dong om ! secepatnya kita akan bertemu dengan Sabrina.” Ucap Reyhan semangat.
“Tapi saya tidak yakin apakah Sabrina benar-benar ada di sana ?” ucap Pak Yuda sedikit murung.
“Kenapa om ?” tanya Reyhan tidak mengerti.
Karena biasanya informasi yang dia dapat tersebut tidak mungkin salah.
“Karena sejak bercerai dengan mamanya Sabrina sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan mamanya apalagi bertemu dengannya dan om tidak yakin jika dia akan bertemu apalagi tinggal dengan mamanya.” Terang pak Yuda kepada Reyhan.
“Tidak ada salahnya kita ke sana om !” ucap Reyhan meyakinkan Pak Yuda.
“Iya kamu benar ! kita harus ke sana apa pun hasilnya!” ucap Pak Yuda lagi kepada Reyhan.
“Hmmm “ ucap Reyhan menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Pak Yuda.
Sementara itu…
Udara semakin dingin Sabrina yang baru saja selesai mandi tengah mengenakan pakaiannya di dalam kamar yang tadi mereka gunakan, sedangkan Ardi sendiri tengah sibuk menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka berdua.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Ardi pun selesai menyiapkan makan malam untuk mereka dan segera menatanya di atas meja makan, usai pekerjaannya beres Ardi pun masuk ke dalam kamar.
“Sayang sudah selesai ?” tanya Ardi kepada Sabrina saat sampai di dalam kamar.
“Hmmmm.” Jawab Sabrina sambil terus merapikan rambutnya menggunakan sisir.
“Tunggu aku !” ucap Ardi sambil mengambil handuk di dalam lemari yang ada di sana.
“Ha ? mau ke mana ?” tanya Sabrina tidak mengerti.
“Makan malam ! aku mandi dulu !” ucap Ardi lalu tanpa aba-aba dia mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi sang istri.
Mulut Sabrina menganga seketika mendapat perlakukan tersebut dari sang suami, usai mengecup pipi sang istri dengan tanpa beban Ardi pun segera meninggalkan Sabrina di dalam kamar menuju ke kamar mandi, sedangkan Sabrina usai Ardi menghilang dari balik pintu seketika mendaratkan pantatnya di pinggir ranjang sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
“Apa boleh semanis ini !” ucap Sabrina kegirangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun kegirangannya seketika buyar saat dia teringat dengan kabar orang tuanya terutama sang papa yang menurutnya telah dimanfaatkan oleh istri barunya tersebut.
Dengan tergesa-gesa Sabrina mengaktifkan ponsel genggam miliknya lalu dengan cekatan mengutak-atik layar ponselnya tersebut untuk melakukan panggilan telepon.
“Ziva angkat dong Zi !” ucap Sabrina cemas karena panggilannya tidak kunjung di jawab oleh Ziva sahabatnya tersebut.
Setelah mencoba menghubungi sang sahabat beberapa kali akhirnya panggilan Sabrina pun tersambung.
“Zi ini gue !” ucap Sabrina saat terdengar suara Ziva di seberang telepon.
“Ya ampun Sa ke mana aja lo ? lo baik-baik aja kan ? gue hubungin berkali-kali juga nggak bisa gue pikir kita sudah beda alam !” ucap Ziva.
"Lo nyumpahin gue ?" tanya Sabrina.
“Bukan nyumpahin Sasa ! habisnya lo sih nggak bisa di hubungin ! eh lo di mana sekarang ?” tanya Ziva lagi sebelum pertanyaannya di jawab oleh Sabrina.
“Mau gue jawab yang mana dulu ni ?” tanya Sabrina kepada Ziva karena menodongnya dengan banyak pertanyaan.
“Iya iya terserah lo mau jawab yang mana dulu.” Ucap Ziva lai.
“Kabar gue baik ! untuk di mana keberadaan gue sekarang gue belum bisa cerita sama lo ! gue janji nanti gue akan ceritakan semuanya sama lo dan untuk saat ini waktunya tidak cukup karena ceritanya sangat panjang.” Jelas Sabrina.
“Lo udah nggak anggap gue sahabat lo lagi ?” tanya Ziva sedikit kesal karena Sabrina tidak terus terang kepadanya.
“Bukan seperti itu Zi ! lo adalah sahabat terbaik gue ! jika nanti waktunya tiba gue akan cerita semuanya sama lo, dan untuk saat ini gue butuh bantuan lo Zi ?” ucap Sabrina kepada Ziva.
“Bener ya ?” tanya Ziva memastikan.
“Iya gue janji !” ucap Sabrina lagi.
“Oke ! lo butuh bantuan apa ?” tanya Ziva lagi kepada Sabrina.
__ADS_1
Suasana hening seketika yang terdengar hanya suara helaan napas Sabrina.
Bersambung….