
Sabrina yang baru saja masuk ke dalam rumah usai kembali dari rumah sang bibi yang berada tepat di sebelah heran saat melihat sang ibu mertua sedang menerima telepon dengan mimik wajah yang cukup serius.
“Apa yang sebenarnya terjadi mas ?” ucap bu Siti bertanya kepada seseorang yang berada di seberang telepon tersebut.
Terdengar jawaban yang tidak begitu jelas dari seberang telepon tersebut, sedangkan bu Siti fokus mendengar penjelasan dari orang yang menghubunginya tersebut.
“Iya baiklah nanti aku akan ke sana bersama mas Agus.” Ucap bu Siti.
Kemudian sambungan telepon pun di putuskan bu Siti pun meletakkan ponsel genggamnya di atas meja.
“Mbok ! mbok Ya !” panggil bu Siti.
Namun tidak ada tanda-tanda mbok Ya menyahut panggilan bu Siti.
“Mbok !” teriak bu Siti kembali.
“Di mana sih mbok Ya.” Ucap Bu Siti yang tampak panik dan cemas. Sabrina pun memutuskan menawarkan bantuan kepada sang ibu mertua.
“Ada apa bu ? ibu butuh bantuan.” Tanya Sabrina mulai khawatir melihat sang mertua.
“Mbok Ya mana ? di mana mbok Ya ?” ucap bu Siti tanpa sadar kepada Sabrina.
“Sebentar aku lihat dulu.” Jawab Sabrina kemudian berlari ke arah dapur dan juga ke halaman belakang untuk mencari keberadaan mbok Ya.
Beberapa detik kemudian Sabrina pun kembali ke tempat di mana sang ibu mertua tadi berada.
“Tidak ada bu.” Jawab Sabrina.
“Bagaimana ini ?” ucap bu Siti tambah panik.
“Ada apa bu ? ibu bisa katakan mungkin aku bisa bantu.” Jawab Sabrina menanggapi ucapan
sang ibu mertua.
“Ayah tolong panggil kan Ayah sekarang !” jawab bu Siti masih dengan paniknya.
Tanpa banyak bertanya lagi Sabrina pun pergi ke kebun mencari keberadaan sang ayah mertua, karena sudah menjadi bagian dari keluarga sang suami Sabrina pun sudah mengerti dan paham di mana harus mencari keberadaan sang ayah mertua tersebut.
….
Beberapa jam kemudian saat ini jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam suasana di rumah cukup sepi hanya ada Sabrina seorang diri, karena sore tadi sang mertua dan juga Ardi sang suami tengah pergi ke rumah saudara.
“Apa yang harus aku lakukan ?” ucap Sabrina berbicara dengan dirinya sendiri.
Karena dia sendiri bingung harus melakukan apa sedangkan matanya masih belum mengantuk untuk segera tidur.
Pelan-pelan dia pun melangkahkan kakinya berjalan ke arah luar rumah menuju ke beranda.
“Sari dan bibi pasti sudah tidur.” Ucap Sabrina sambil melirik ke arah rumah yang berada di sebelah.
__ADS_1
Sabrina pun memutuskan duduk di anak tangga rumah panggung tersebut sambil menatap langit malam yang di hiasi bintang-bintang, angin malam berhembus menerpa anak rambut milik Sabrina menambah suasana semakin estetik.
Semakin larut udara menjadi semakin dingin karena sudah tidak tahan dengan dinginnya udara malam Sabrina pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah, namun langkahnya berhenti saat mendengar suara sepeda motor mendekat.
Sabrina pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang, sudut bibirnya tersenyum sangat tipis hampir tidak terlihat saat mengetahui jika suami dadakan nya tersebut kembali.
Setelah sepeda motor yang di tumpanginya tersebut pergi Ardi pun buru-buru menaiki anak tangga menuju ke beranda rumah.
“Dari mana ?” tanya Ardi saat sampai di depan Sabrina.
“Tidak dari mana-mana hanya ingin cari angin saja.” Ucap Sabrina menanggapi pertanyaan Ardi.
“Ayah dan Ibu di mana ?” tanya Sabrina sambil melihat ke arah jalan untuk mencari keberadaan sang mertua.
“Aku pulang sendiri.” Ucap Ardi dengan wajah yang tampak lesu.
“Apa urusannya belum selesai.” Tanya Sabrina dengan ragu-ragu.
Karena dia takut jika nanti Ardi merasa tersinggung dengan pertanyaannya.
“Belum.” Ucap Ardi menggelengkan kepalanya.
Sabrina pun hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Ardi.
“Mau minum kopi ?” ucap Sabrina menawarkan Ardi sang suami secangkir kopi.
“Sebentar ya aku buatkan.” Ucap Sabrina.
“Terima kasih sayang.” Ucap Ardi sambil tersenyum.
Sabrina hanya tersenyum nyengir mendengar ucapan Ardi tersebut kemudian dia pun balik kanan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju ke arah dapur untuk membuatkan segelas kopi untuk Ardi.
“Dia bilang apa ?” ucap Sabrina berbicara sendiri.
“Sayang ? apa aku salah dengar ?”tanya Sabrina kepada dirinya sendiri.
“Tidak… tidak ! ini pasti aku salah dengar.” Ucap Sabrina menggelengkan kepalanya sambil tangannya fokus membuat secangkir kopi.
Usai meracik secangkir kopi Sabrina pun menuangkan air panas ke dalam cangkir tersebut agar bubuk kopinya tersebut larut.
Satu cangkir kopi telah siap di sajikan Sabrina dengan sangat hati-hati membawa kopi tersebut ke beranda depan di mana Ardi tengah duduk.
“Ini kopinya !” ucap Sabrina kepada Ardi sambil meletakkan kopi tersebut di atas meja.
“Terima kasih sayang.” Usap Ardi santai.
Entah dia sadar atau tidak saat mengatakannya hal tersebut sukses membuat kening Sabrina berkerut untuk yang kedua kalinya.
“Sa…” ucap Sabrina ingin protes.
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan ucapannya Ardi sudah lebih dulu memotong ucapan Sabrina tersebut.
“Oh iya ini.” Ucap Ardi sambil merogoh saku celananya.
Kemudian dia mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya ke tangan Sabrina.
“Uang apa ini ?” tanya Sabrina bingung.
“Uang yang aku janjikan akan di ganti.” Terang Ardi kepada Sabrina.
“Tidak usah.” Ucap Sabrina menolak uang yang di berikan oleh Ardi tersebut.
“Tidak ada penolakan.” Ucap Ardi sambil memaksa agar Sabrina mau menerima uang yang dia berikan tersebut.
“Padahal tidak harus di ganti juga kok.” Ucap Sabrina kepada Ardi.
Mau tidak mau dia pun akhirnya menerima uang yang diberikan oleh Ardi tersebut kepadanya.
“Dan ini untukmu !” ucap Ardi lagi kepada Sabrina sambil menyerahkan sejumlah uang.
“Lagi ? untuk apa aku tidak butuh !” ucap Sabrina kepada Ardi.
“Sekarang kamu istriku dan saat ini kamu sudah menjadi tanggung jawabku, ini adalah kewajibanku.” Ucap Ardi menjelaskan.
“Aku punya uang sendiri kok.” Ucap Sabrina masih tidak mau menerima uang yang diberikan oleh Ardi kepadanya.
“Aku tahu kamu memiliki banyak uang ! tapi ini adalah hakmu.” Ucap Ardi sambil tangannya terus menyodorkan uang tersebut kepada Sabrina.
Namun Sabrina masih belum bereaksi sama sekali tangannya sangat berat untuk menerima uang yang diberikan oleh Ardi kepadanya.
“Kamu malu ?” tanya Ardi kemudian.
“Malu kenapa ?” ucap Sabrina mengkerutkan keningnya.
“Siapa tahu malu karena uang ini diberikan oleh laki-laki yang berasal dari kampung sepertiku.” Jawab Ardi asal.
“Tidak sama sekali aku tidak berpikir seperti itu.” Ucap Sabrina buru-buru menanggapi ucapan Ardi tersebut.
“Jika kamu memang tidak berpikir seperti itu silahkan di ambil ! ini merupakan hakmu dan kewajibanku sebagai suamimu.” Jelas Ardi.
Dengan sedikit berat hati akhirnya Sabrina pun menerima uang yang diberikan oleh Ardi tersebut kepadanya.
“Terima kasih.” Ucap Sabrina.
“Hmmm.” Ucap Ardi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Suasana hening seketika karena sepasang suami istri tersebut sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Bersambung…
__ADS_1