
Setelah Ardi berusaha meyakinkan Sabrina jika semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan akhirnya sang istri pun akhirnya merasa sedikit lebih tenang dari yang sebelumnya namun mata Sabrina yang sebelumnya terasa sangat mengantuk kali ini menjadi terang benderang.
“Mas yang pindahin aku ke sini ?” tanya Sabrina kepada sang suami penasaran.
Karena seingat Sabrina sendiri sebelumnya dia sedang tidur bersama Sari dan juga Intan di rumah sang bibi yang berada tepat di sebelah rumah.
“Hmmmm.” Ucap Ardi dengan suara agak sedikit berat dengan mata yang masih tertutup sambil memeluk Sabrina sang istri.
“Kenapa ?” tanya Sabrina penasaran kenapa sang suami memindahkannya.
Toh juga besok pagi mereka juga akan bertemu kembali.
“Karena mas tidak bisa tidur jika kamu tidak ada di sini !” jawab Ardi jujur kepada Sabrina.
Mendengar penjelasan sang suami seketika wajah Sabrina menjadi merah seperti tomat matang.
“Mas ?” ucap Sabrina memanggil sang suami.
Karena memang saat ini matanya terasa sudah tidak mengantuk lagi.
“Apa sayang ?" tanya Ardi.
"Kamu menginginkannya ?” tanya Ardi lagi sambil mengecup pipi sang istri.
“Apa sih mas ? bukan !” ucap Sabrina seketika menjadi malu mendengar ucapan sang suami.
Kemudian berusaha menjauhkan dirinya dari sang suami namun Sabrina kalah kuat dari Ardi yang seketika mengeratkan pelukannya.
“Lantas ?” tanya Ardi kepada sang istri seketika membuka matanya.
“Bagaimana kondisi mamanya Intan ?” tanya Sabrina penasaran dengan kondisi mbak Endah.
“Sudah di tangani oleh dokter dan saat ini masih di rumah sakit.” Jawab Ardi menjelaskan.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan sang suami.
“Apa sebelumnya juga pernah terjadi ?” tanya Sabrina lagi sedikit penasaran.
__ADS_1
“Hmmmmm.” Jawab Ardi singkat.
“Kasihan ya mas dengan Intan dan juga mamanya !” ucap Sabrina lagi karena dia merasa ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada keluarga Intan tersebut.
“Ya tetapi kita juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ini merupakan urusan rumah tangga mereka.” Ucap Ardi lagi.
“Hmmmm jika aku punya suami seperti papanya Intan aku tidak akan tinggal diam ! langsung tak cabut pusaka keramat nya !” ucap Sabrina ikut terpancing emosi.
“Ssshhhh.” Ucap Ardi seketika bergidik ngeri mendengar ucapan Sabrina.
“Iya coba saja mas bayangkan ? dari kecil kita di sayang dan tidak pernah di perlakukan dengan kasar tiba-tiba menikah dan punya suami yang suka main tangan seperti itu ! kalau aku sih nggak akan tinggal diam.” Ucap Sabrina terus terang di depan sang suami.
“Mas mau jika nanti punya anak perempuan di perlakuan seperti itu oleh suaminya ?” ucap Sabrina lagi bertanya kepada sang suami.
“Ya nggak lah ! mas sendiri yang akan menghajar suaminya !” jawab Ardi lagi.
“Bagus ! jangan sampai mas berbuat kasar seperti itu sama istri mas !” ucap Sabrina lagi mengingatkan sang suami agar tidak berlaku kasar seperti tetangga mereka tersebut.
“Tapi mas kan tidak seperti itu sayang !” ucap Ardi tersenyum sambil menatap Sabrina sang istri yang berada di sampingnya.
“Awas saja kalau nanti mas seperti itu !” ucap Sabrina melototkan matanya ke arah Ardi.
Sedetik kemudian Ardi pun sudah berada di atas sang istri dan membisikkan sesuatu di telinga sang istri, sedangkan Sabrina berada di bawah kungkungan Ardi sang suami.
“Sayang boleh ya ?” ucap Ardi memohon kepada sang istri menagih haknya sebagai suami.
Tidak sabar menunggu persetujuan dari sang istri Ardi pun seketika mengecup leher sang istri dan mulai menelusuri area kekuasaannya inci demi inci dengan sanga lembut, membuat Sabrina seakan berada di awang-awang saking nikmatnya.
Malam yang sangat dingin mereka lalui berdua dengan saling berbagi kehangatan satu sama lain hingga pada akhirnya keduanya tertidur lelap karena aktivitas yang mereka lakukan ditambah lagi dengan cuaca saat ini sangat dingin dan sangat mendukung.
…….
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi kali ini Sabrina tengah mengajak sang ibu mertua untuk berjalan-jalan menggunakan Kursi roda sambil berjemur untuk mendapatkan manfaat dari cahaya matahari pagi.
“Habis dari pasar ya bi ?” tanya Sabrina kepada bibi Farida yang saat itu baru saja turun dari becak motor langganan keluarga mereka.
“Iya sayang ! soalnya hari ini bibi ada pesanan.” Ucap sang bibi sambil menunjukkan kantung belanjaannya yang cukup banyak.
__ADS_1
“Lagi pada ngapain ?” tanya sang bibi lagi saat melihat sang kakak ipar juga di sana sambil duduk di atas kursi roda.
“Oh ini lagi mengajak ibu berjemur ! karena cahaya matahari pagi banyak sekali manfaatnya untuk ibu yang sedang sakit.” Jelas Sabrina.
“Betul sekali ! tidak hanya untuk yang sakit saja untuk kita yang sehat juga banyak manfaatnya agar tubuh kita lebih sehat lagi.” Ucap bibi Farida ikut menimpali.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan sang bibi tersebut.
“Mbak sangat beruntung memiliki menantu seperti Sabrina ! seharusnya mbak bisa cepat pulih karena telah di rawat sepenuh hati oleh Sabrina.” Ucap bibi Farida kepada sang kakak sambil tersenyum.
“Ya sudah bibi ke dalam dulu !” ucap bibi Farida kepada Sabrina sambil menepuk pelan gadis tersebut.
Sabrina pun tersenyum menanggapi ucapan sang bibi sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian bibi Farida pun berpamitan kepada bu Siti sang kakak ipar dan berjalan menuju ke rumahnya sambil menenteng kantung belanjaannya.
“Mbak sepertinya sudah cukup untuk ibu berjemur !” ucap mbok Ya yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya.
“Iya mbok.” Jawab Sabrina menganggukkan kepalanya mengerti.
Kemudian Sabrina pun mendorong kembali kursi roda milik sang mertua ke arah rumah.
“Sebentar ya mbak ! mbok akan panggilkan bapak dulu soalnya mas Ardi sudah pergi ke ladang dari tadi setelah menggendong ibu turun !” ucap mbok kepada Sabrina.
Karena mereka membutuhkan tenaga laki-laki untuk menggendong sang mertua kembali ke atas rumah, karena rumah tersebut memiliki tangga jadi agak sulit untuk mendorong kursi roda tersebut menaiki anak tangga.
Sabrina pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan mbok Ya.
Kemudian mbok Ya pun tergopoh-gopoh menaiki anak tangga untuk meminta bantuan sang majikan untuk menggendong bu Siti majikan perempuannya tersebut.
“Kita tunggu sebentar ya bu !” ucap Sabrina dengan ramah kepada sang ibu mertua.
Namun sang mertua hanya diam menanggapi ucapan Sabrina karena memang beliau agak kesulitan untuk berbicara.
Tidak menunggu lama akhirnya sang ayah mertua pun datang dan menggendong sang istri menuju ke dalam rumah sedangkan Sabrina bertugas membawa kursi roda milik sang mertua tersebut ke dalam rumah.
“Terima kasih ya nak !” ucap pak Agus kepada Sabrina karena telah membantu merawat sang istri.
__ADS_1
Sabrina pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan sang ayah mertua yaitu Pak Agus.
Bersambung…